Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 74


__ADS_3

"Kenapa kau tidak memberitahu kami kalau kau sudah tiba sayang? Papa dan Mama kan bisa menjemputmu, kalau tidak kan ada sopir yang akan menjemputmu ke Airport." ucap Nyonya Bianca saat sang putri tiba.


"Lara tidak apa-apa kok Mah, yang penting sekarang Lara sudah berada di sini Di Antara Kalian, Lara kangen banget kenapa sama kalian,"


"Sama sayang, Mama juga kangen,"


"Lara pengen Papa manja Lara seperti biasa, Pa, Papa kok diam saja sih? tidak seperti biasanya?"


"Papa juga tentu kangen sama kamu Nak, tapi ada sesuatu yang ingin Papa katakan padamu Apa itu Pah?" tanya Lara begitu serius.


"lni tentang Khalid,"


"Khalid…?" Lara sedikit terkejut dengan nama pria yang di cintainya dalam diam itu, lelaki yang tiba-tiba saja menghilang selama kurang lebih satu tahun, dan kini Papanya mengatakan akan membicarakan tentang Khalid? oh ayolah apakah ia masih mencitai dan mengharapkan lelaki itu kembali dengannya.


"Dia melamarmu dia ingin menjadikanmu istrinya,"


"Apa melamarku? dan ingin menjadikanku istrinya?" Lara sedikit terkejut dan membulatkan matanya.


"Iya,, sayang apa kau tidak menyukainya tanya?" Nyonya Bianca.


"Bukannya aku tidak menyukainya Ma, Tapi kalian tahu aku itu sangat sangat senang sekali saat mendengar kabar bahagia ini, karena kalian tahu tujuan dan keinginanku pulang ke sini hanya untuk menikah, dan ternyata lelaki brengsek yang menghilang selama setahun ini dengan tiba-tiba datang melamarku, aku juga sedang merindukannya Ma, Pa," ucapnya menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Maaf jika selama ini aku menyembunyikan hubunganku dengannya dari kalian, karena saat itu aku belum menentukan perasaanku padanya,"


"Apa kau yakin akan bahagia bersamanya bukankah kau tahu masa lalunya seperti apa?" tanya Nyonya Bianca mengelus ujung kepala Sang Putri.


"Mah, kalian jangan takut. Lara kan bukan wanita sembarangan yang harus menangis karena sakit hati, coba saja Jika dia berani macam-macam padaku. Aku yang akan membuatnya menangis dan menyesali apa yang dilakukannya padaku."


"Sayang putriku, Apakah aku akan menikah untuk menjadi petarung pada suamimu?" ucap Nyonya Bianca sedikit bergidik mendengar ucapan putri nya itu.


"Sebelum kamu memutuskan semuanya ada baiknya kau mendengar apa yang harus kami katakan ini Nak" sela dokter James.


"Seminggu sebelum kedatangan Khalid, teman Papa sudah datang kemari untuk menjodohkanmu dengan putranya, dan kau tahu putranya itu seorang dokter dan mempunyai dua orang anak kembar, dan kami pun menyetujuinya tanpa berbicara dulu denganmu sebaiknya setelah menemui Khalid kau juga menemuinya jika kau tidak suka katakan padanya kalau Perjodohan Di Antara Kalian dibatalkan, biar mama dan papa yang akan berbicara pada dokter Anthony dan Nyonya Cleo.


"Papa juga sudah menjelaskannya kepada Khalid dan dia menyetujuinya itu semua tergantung padamu kau menyetujuinya atau tidak, Semua pilihan ada di tanganmu,"

__ADS_1


Flashback On.


"Maaf anak muda bukannya aku tidak setuju kau menjadi pendamping Putriku, tapi kau terlambat, seminggu yang lalu ada yang sudah meminang Lara,"


"Jadi Om mengingkari apa yang pernah Om ucapkan dulu,?"


"Aku tidak pernah mengingkari apa yang sudah Aku katakan, tapi kaulah yang terlambat, sebagai orang tua Aku tidak ingin melihat Putriku menanti di dalam ketidak pastian,"


"Baiklah Om, tapi beri Aku kesempatan, membuktikannya, Aku ingin Lara melihat di antara kami,"


"Baiklah, lakukan jika kau bisa, dan biarkan Lara yang menilainya, dan memilih siapa cocok di antara kalian yang akan jadi pendampinya,"


"Baiklah Om akan Aku pasti kan Lara hanya melihatku saja." Ucap Khalid penuh percaya diri.


Flashback oof.


"Baiklah Pa, Ma kalau begitu Lara kekamar dulu karena Lara ingin beristirahat Lara capek." Pamitnya.


"Iya sayang istirahatlah." Timpal Nyonya Bianca.


"Iya Papa benar Sekali, semoga kita berhasil,"


*


Sementara itu Lara yang tadinya ingin beristirahat malah tidak bisa tidur, karena fikirannya kini bercabang kemana-mana, ia bahkan bertanya pada dirinya sendiri siapa lagi pria yang akan di jodohkan dengannya yang sudah punya dua orang anak itu.


'Mama bilang kembar, apa Jangan-jangan__!' Lara menjeda kalimatnya saat mengingat sesuatu.


'Oh…tidak kenapa aku harus mengingat lelaki mesum itu? dan tidak mungkin kan kalau dialah oranggnya. Kenapa aku menjadi sangat rindu pada si kembar ya,? dan kenapa juga saat aku disana aku bermimpi tentang mereka yang menjauh dariku padahal waktu itu aku belum bertemu dengan mereka,"


Yah disaat Darandra memeluk tubuh Lara saat Ia tertidur sambil mengigau, sebenarnya saat itu Lara sedang bermimpi bertemu dengan dua orang anak kembar yang terus saja memanggilnya Mamy. Namun karena Lara tidak mau mengakui mereka Lara pun melihat keduanya menjauh dan menghilang, dan di saat itu lah perasaan menyesalnya mulai timbul dan berusaha menggapai kedua anak tersebut.


Sedang asyik memikirkan si kembar Tiba-tiba saja handphone nya berdering.


Drt…dtr…drt…📲

__ADS_1


'Siapa sih?' gumamnya menatap layar handphone nya, saat melihat nomor asing yang terlihat di layar gawai nya.


"Halo…"


"Mamy…Mamy…Mamy kenapa pergi Mamy jahat Mamy jahat…huu huu" tangis si kembar pun pecah, sementara di seberang sana terdengar Darandra yang sedang menenangkan si kembar.


Mendengar suara si kembar yang menangis tersedu-sedu membuat jiwa ke ibuannya pun terusik, Lara memilih bangkit berdiri dan mematikan sepihak telponnya membuat Darandra di seberang sana begitu kesal. Bahkan ia perfikir kalau Lara tidak punya sopan santun main seenaknya saja mematikan telponnya.


"Papa…Mama…Lara keluar dulu ya karena ada yang penting." cicitnya pada kedua orang tuanya memang sedang Asyik bercengkrama di ruang keluarga sambil nonton televisi.


"Kau mau kemana sayang besok jadwal pertemuanmu dengan lelaki calonmu itu di Dayss Cafe, karena baru saja orang tuanya menelpon."


"Baiklah Ma, Pa, Apa Aku boleh pergi sekarang?"


"Pergilah, tapi kau juga harus Hati-hati ya sayang…"


"Iya Ma…bye…" Lara pun segera memesan taxi online untuk segera pergi, ia sengaja memesan taxi online karena tidak mungkin ia menyetir sendiri sampul mencari alamat.


Dan Kurang lebih 30 menit ia pun tiba di tempat yang di tujunya.


Ting tong…ting tong…


Terima kasih Bi" ucap Lara pada saat seorang bibi membukakan pintu untuknya.


"Sayang sebaiknya sekarang kalian bobok sudah berapa kali Daddy jelaskan Auntie Lara itu bukan Mamy kalian."


"Siapa yang bilang Aku bukan Mamy nya? kenapa kau berbicara jahat sekali pada Anak-anakku aku tidak suka!" kedatangan Lara itu pun mampu membuat sikembar terdiam, namun membuat Darandra tersentak dengan ucapannya itu.


"Kau Amara?" Lara menarik tangan Darandra dan berbisik di telinganya.


"Apa kau akan seperti mereka juga? harus Aku berikan pengertian agar kau faham maksudku!" Kesalnya.


"Ayo sini sayang tidur sama Mamy!" serunya membuat Steven dan Stevani sontak membuat si kembar gembira dan setidaknya untuk pertama kali mereka merasa tidur dengan Mamy mereka.


Sedangkan Darandra hanya bisa berdiri mematung pada tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2