
Nah loh... ada yang muncul. Akhirnya tau juga penampakan Steve kaya gimana. Kita dapet nyomot dulu di warung depan. Nanti kalau emaknya nanyain kita pinjem sebentar ya. 😄
"Wei... apakah kamu sudah mendapatkan informasi? Ini sudah sore loh! Kenapa Hana belum juga kembali?" Steve tidak tenang.
Melihat gerak-gerik Wei rasanya dia terlalu tenang. Steve tidak bisa diam saja mengetahui keberadaan Hana yang diculik dan belum bisa kembali.
"Hhmm.. tenang Steve! Nanti juga balik sendiri." Wajah Wei datar. Dia masih berkutat di atas meja kerjanya, sibuk dengan lembaran-lembaran kerja yang sedang dibacanya.
"Tenang gimana Wei? Aneh banget kamu! Ko bisa kamu tenang?" Steve cemas. Dia bolak-balik sambil menggigit jari telunjuknya. Dia merasa kecewa pada Wei yang sudah menitipkan Hana, tapi malah dia yang terlihat paling tenang.
Apa dia ingin cuci tangan, Apa?
"Aku sudah minta bantuan polisi dan beberapa orang buat mencari Hana. Toh dia pergi bukan bersama orang asing. Dia sekarang bersama muridnya ko. Jadi kita gak usah khawatir!"
"Ishh..mana mungkin bisa tenang Wei! Aku gak habis pikir, mau kamu gimana sih? Apa kamu ingin lepas tanggung-jawab?" Steve kesal sekali dengan sikap Wei yang terlampau cuek.
"Hei..Emang kamu tahu siapa yang membawa Hana? Atau anak-anak yang waktu pernah bertemu denganmu?"
"Tidak."
"Mereka yang sulit dijamah hukum." Wei melihat ke arah Steve.
Steve mendekati meja kerja Wei. "Maksudmu?"
"Anak yang cewek yang pernah marahin kamu itu, anaknya pejabat polisi. Yang membawa Hana di gerai itu juga anak pejabat mentri X. Jadi kamu sanggup berhadapan dengan mereka?"
"Wei... meski mereka anak pejabat, gimana kalau Hana malah dicelakai! Kamu yang buat masalah, tapi kenapa yang jadi bingung ko jadi aku? Kamu bisa-bisanya santai. Apa emang kamu berniat lepasin Hana ke tangan orang lain, biar kamu bisa bebas? Minimal kamu bicaralah lebih dahulu, jadi aku gak salah paham. Kalau kamu diam aja, aku jadi salah menilai kamu seperti itu."
"Steve... Sudahlah!" Wei dengan wajah lesu rupanya tak mau berdebat lagi.
"Baiklah... aku akan mencarinya sendiri. Aku akan hadapi apapun resikonya, siapa pun orangnya." Steve melangkah meninggalkan Wei yang masih termangu melihat sikap Steve.
Wei..kamu tega banget membiarkan Hana sepeti itu. Aslinya aku kecewa Wei..walau aku sudah bekerja selama ini denganmu, aku tahu dimana kamu sungguh-sungguh mana yang setengah hati.
Steve mengepalkan tangannya dan memukul stir yang sedang dikendarainya. Dia bergerak menuju kantor polisi.
"Selamat sore pak!" Steve menyapa bapak polisi yang sedang bekerja. Disana tertulis bagian pengaduan.
"Iya sore. Ada yang bisa kami bantu?"
"Maaf Pak, bolehkah saya bertanya masalah perkembangan kasus penculikan yang terjadi di Mall X."
"Iya baik. Nanti saya lihat dulu berkasnya." Polisi yang ada di depannya menggerakkan kursor pada keyboard komputer. Matanya fokus melihat layar komputer, dan berhenti mengambil nafas setelah berkas yang dicatat ditemukan. Ternyata ada yang harus dipertimbangkan dari kasus itu.
"Maaf.. untuk kasus ini saya tidak punya kewenangan." Dia berbalik menatap Steve.
"Maksudnya apa pak?"
"Laporan kehilangan minimal dua kali dua puluh empat jam. Ini belum bisa dikatakan kasus penculikan. Terus mereka juga bersama orang yang dikenal dan sudah ada laporan bahwa mereka tidak menculik. Jadi orang yang dibawa pun aman."
"Apa maksudnya?"
"Begini pak.. anak yang membawa bu Hana kan muridnya sendiri. Sudah melaporkan bahwa bu Hana ada di rumahnya. Ini lebih ke urusan intern. Silahkan bapak selesaikan secara kekeluargaan saja!"
"Boleh saya minta alamat muridnya bu Hana?"
"Sebentar." Dia membawa secarik kertas dan menyalinkan untuk Steve.
"Ini pak!" Dia memberikannya pada Steve.
"Oh. Iya Terima kasih pak! " Steve melihat lamat-lamat tulisan yang ada di kertas itu.
"Saya permisi dulu pak." Steve menjabat tangan polisi yang ada di depannya sebagai ucapan perpisahan dan terima kasih.
"Iya. Sama-sama."
Steve kembali menuju mobilnya dan mengarahkan pada alamat yang dituju.
Apa benar yang dikatakan Wei? Lalu darimana dia tahu semuanya? Bukankah selama ini biasanya Wei menyerahkan urusannya padaku? Apakah ada rahasia yang aku tak tahu? Apakah di luar sepengetahuanku dia mencari informasinya sendiri? Apa yang ada di balik semua sikapnya yang dingin dan cuek.
"Ah... kenapa aku jadi secemas ini memikirkan Hana? Steve mengepalkan tangannya memukuli stir.
Tak lama kemudian mobilnya terparkir di depan satu rumah dengan pagar tembok tinggi. Dia kembali melihat secarik kertas yang diberikan polisi padanya. Dan kembali menatap pintu yang tertutup rapat tanpa lubang sedikit pun.
Steve turun dari mobilnya. Baru saja dia membuka pintu, dari arah belakang ada mobil melintasinya hampir saja menyerempet.
"Sial! Untung saja selamat." Steve mengumpat. Mobil itu hampir saja mencelakainya.
Tak disangka ternyata mobil barusan berhenti tepat di depan pintu rumahnya. Steve melihat ada seseorang turun dari mobil mewah di depannya.
__ADS_1
Dia menatap lamat-lamat orang yang membelakanginya. Dia mengamati dengan penuh keinginan tahuan.
"Daniel... " Apa yang sedang kau lakukan? Steve bergumam di hati.
"Steve, kamu sedang apa?"
Keduanya sama-sama heran.
"Aku mau menjemput Hana, kamu?"
"Bukan urusanmu!" Daniel melengos dari hadapan Steve dan menuju pintu gerbang yang tertutup rapat. Hanya speaker penghubung, bel dan CCTV yang ada tepat di depan pintu gerbang itu.
Steve tak menghiraukan sikap Daniel, dia mengerti mungkin Daniel kecewa padanya atas kejadian menimpa Hana. Steve melangkahkan kaki menuju gerbang rumah itu juga.
Sekarang mereka berdua ada di depan pintu gerbang rumahnya Sandi. Salah satunya menekan bel.
###
"Mas Sandi, ada tamu. Apakah saya harus membukakan pintunya?" Seseorang berbicara di mikro phone. Dia adalah petugas keamanan yang ada di rumah Sandi.
"Sebentar!" Sandi yang baru saja dihubungi lewat speaker penghubung antara petugas keamanan rumahnya, menajamkan mata ke arah layar cctv yang berada di depan pintu gerbang.
"Aku tak mengenalnya." Sandi menyidikkan manik matanya.Dia tak mengenal orang yang sedang tersorot kamera.
"Kamu kenal dia?" Sandi menoleh ke arah Hana. Hana menggeserkan kursi mendekatkan pandangannya ke layar cctv. Matanya membulat. Tangannya mendekati Sandi dia memegang sikunya dengan erat.
"Tolong aku! Aku tak ingin bertemu dengannya." Matanya melirik Sandi. Memelas. Hana nampak ketakutan.
"Baik." Sandi kembali mendekatkan mulutnya ke arah mikrophone penghubung dirinya dan penjaga keamanan yang ada di rumahnya.
"Jangan buka pintu!"
"Baik mas Sandi."
Sekelebat mata Sandi melihat ke layar cctv. Lalu menajamkan kembali pandangannya. Terlihat seseorang mendekati orang yang baru saja mengetuk pintu rumahnya.
"Hana... lihat ini?" Sandi melirik Hana.
Hana kembali menatap layar itu. Lalu keduanya saling pandang.
"Apa kau mengenalnya?"
"Steve... dia pasti ingin menjemputku. Tapi... aku takut pria yang di sebelahnya." Hana kembali memandang wajah Sandi.
"Tapi.. aku harus pulang. Steve pasti khawatir." Hana terlihat cemas, dia seolah meminta tolong.
"Hana... apa kamu tahu siapa Steve dan Wei sebenarnya?" Wajah Sandi agak serius menatap Hana.
"Coba lihat sama kamu! Kamu takut sama laki-laki itu kan? Tapi sepertinya mereka saling kenal. Apa kamu akan percaya begitu saja?" Sandi melihat manik mata Hana. Hana membalas tatapan Sandi. Mereka saling berpandangan dengan raut wajah serius.
"Aku pun tak begitu mempercayaimu!" Kata-kata nya keluar begitu saja dari mulut Hana. Kata-kata itu sedikit banyak menyinggung perasaan Sandi.
"Ya ampun!" Sandi mundur.
Maksudmu? Meminta tolong, tapi kamu tak percaya padaku? Pusing deh!
Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Tak habis pikir dengan cara berpikir Hana. Dia kembali menatap Hana.
"Baik. Jika kamu tak mempercayaiku, aku bisa mendatangkan bukti sebanyak mungkin. Tapi bagaimana dengan laki-laki itu? Atau yang mengaku suamimu? Adakah bukti yang bisa kamu pegang?" Sandi dengan percaya diri mengatakan semuanya.
Jlebb... Hana terdiam.
"Lalu apa yang kau lakukan dengan kartu itu?" Hana menunjuk kartu yang ada di meja kerja Sandi.
"Aku curiga... mereka sudah tahu aku." Sandi mencurigainya.
"Maksudnya?" Hana mengerutkan dahi.
"Aku gak bisa mengakses data mereka. Bisa jadi mereka sudah mengunci akses data karena tahu siapa aku."
"Kenapa harus terkunci?" Hana semakin penasaran.
"Banyak yang kamu tidak ketahui Hana.. makanya akses data mereka terkunci." Sandi mempertegas jawaban.
"Kalau begitu biarkan aku kembali pada Steve!"
"Hanaaa... " Suara Sandi meninggi.
"Dengan begitu aku bisa mencari tahu sendiri. Apa yang sebenarnya dan apa kebenarannya." Hana seperti tak putus asa.
"Hana... jangan gegabah! Disaat kondisi begini jangan tinggal bersama orang asing! Lebih baik kamu tinggal disini. Aku akan berusaha mencari tahu siapa mereka untukmu." Sandi dengan wajah serius mencoba meyakinkan Hana agar tidak kembali ke rumah Steve.
__ADS_1
"Tidak bisa. Aku harus kembali!"
"Hanaa... kenapa sih kamu keras kepala banget. Aku bener mengkhawatirkanmu." Sandi bener-bener kesal. Banyak kekhawatiran yang terlintas dalam benak Sandi.
"Sambungkan mikrophone nya pada Steve. Biarkan aku bicara padanya!" Hana memaksa Sandi.
Dengan berat hati Sandi mengarahkan mikrophonenya pada Hana. Sandi menatap Hana, kesal.
"Steve.. kau dengar suaraku?" Hana mendekatkan mulutnya pada mikrophone.
"Hana... kaulah itu?" Steve mendekatkan wajahnya pada layar kamera, disisi kanan pintu. Dia ingin meyakinkan Hana.
"Iya ini aku... Hana." Hana menjawabnya lembut.
"Apakah kau baik-baik saja Hana?" Steve tampak penasaran dengan keadaan Hana.
"Iya aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku! Steve, pulanglah! Nanti aku akan menyusul." Hana mencoba untuk meyakinkannya Steve agar menunggunya di rumah.
"Tidak Hana, aku akan menunggumu disini." Steve memilih untuk menunggu di depan pintu.
"Hei... kalian mau kutuntut balik sebagai penguntit di rumah orang?" Sandi merebut mikrophone dari Hana. Agak kesal dengan dua orang yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Hei... jangan macam-macam ya! Awas kalau ada apa-apa dengan Hana!" Daniel menggertak Sandi dengan penuh emosi setelah mendengarkan pembicaraan mereka di layar.
"Hei.. Hana... bukankah kau takut sama laki-laki ini? Ayo katakan!" Sandi malah ada alasan untuk menyerang Daniel.
Steve dan Daniel berpandangan.
"Steve... sudah dulu ya! Nanti aku kabari lagi. Tenang aja, aku baik-baik saja ko!" Hana menimpali.
Mikrophone segera dimatikan Sandi. Dia cemberut. Wajahnya terlihat menekuk seperti lipatan kertas. Nafasnya nampak agak berat, menahan emosi yang bergejolak.
"Kamu mau balik ke rumah Steve?" Matanya sedikit mendelik.
"Iya. Ini masalahku. Jadi jangan ikut campur!" Hana mempertegas.
"Masalahmu akan jadi masalahku sekarang. Aku tak akan tinggal diam melihat kamu tinggal bersama orang asing." Sandi merasa bertanggungjawab atas keselamatan Hana.
"Aku akan mencari solusinya. Jadi biarkan aku menangani masalahku sendiri." Hana tetap mempertahankan pendapatnya.
"Kamu jangan keras kepala! Atau kamu tak bisa kembali pada Steve." Sandi tak bisa menahan marah melihat Hana bersikukuh untuk kembali ke rumah Steve.
"Sandi... " Mata Hana terlihat berkaca-kaca. Dia diam menunduk. Ada perasaan yang tak bisa dibendungnya setelah mendengar Sandi membentaknya. Tak berselang lama terdengar isakan.
"Baiklah Hana terserah padamu! Jika kamu menginginkan kembali padanya, silahkan! Aku hanya tak ingin kamu dalam bahaya." Sandi berdiri meninggalkan Hana yang terdiam menunduk sambil sesekali menyeka bulir air matanya.
Sandi masuk ke kamarnya. Ada perasaan sedih terselip di hatinya. Bagaimana pun dia juga laki-laki biasa yang bisa sakit hati jika tak dipercaya oleh orang yang dikasihinya. Apalagi dia memilih orang lain daripada dirinya. Padahal jauh di lubuk hatinya dia sangat khawatir dengan keselamatan Hana.
"Hhh.. " Sandi menghempaskan diri di kasur. Menelungkupkan wajahnya di dalam empuknya bantal. Tangannya dikepal dan dipukulkan ke kasur.
"Aku harus bagaimana Hana?" Dia berteriak mengeluarkan unek-uneknya.
"Apa kamu tak ingin bersamaku?" Sandi berkata lirih.
Betapa besar perasaan Sandi selama ini. Dua tahun bukan waktu yang sebentar menyimpan perasaan cintanya pada Hana. Tapi Hana selalu saja bersikap acuh tak acuh. Sandi berpikir kalau dulu sewaktu sekolah dia bisa menerimanya demi kebaikan Hana. Tapi sekarang sudah terlepas dari ikatan antara guru dan murid.
Hana...apa aku harus mengalah? Aku benar-benar tak tahan melihatmu memperlakukanku seperti ini.
Tapi walau hatinya sakit Sandi tak mampu membiarkan Hana berderai air mata, apalagi kesedihannya itu disebabkan dirinya.
"Baiklah Hana... kalau kamu menginginkan kembali pada Steve apa boleh buat." Sandi berdiri lalu mengemas beberapa pakaian.
"Hah... aku tak akan diam saja melihat laki-laki penipu itu mengelabui Hana." Sandi berkata sendiri.
Sandi kembali ke ruangan kerja menghampiri Hana yang masih duduk di kursi.
"Baiklah Hana... aku akan mengantarmu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?" Hana menatap Sandi dengan wajah lesu.
"Aku akan ikut bersamamu ke rumah itu dan tinggal bersamamu. Bagaimana?"
Hana menatap lamat-lamat manik Sandi.
"Baiklah. Aku pun punya syarat untukmu." Hana tak mau kalah.
"Apa syaratnya?" Sandi mendekatkan wajahnya perlahan-lahan mendekat dan mendekat. Sehingga wajah Hana benar-benar tertutupi.
Detak jantung Hana seolah meloncat cepat. Hawa panas ditubuhnya seperti naik ke ubun-ubun.
Sandi malah mengambil gerakan cepat.
__ADS_1
Tangan Sandi secepat kilat menahan kepala Hana. Sandi mencium bibir Hana. Jantung Hana berdegup kencang.