Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Welcome


__ADS_3

Dokter Aldi segera masuk ruangan ICU memeriksa keadaan Hana. Monitor membaca pergerakan detak jantung Hana yang meningkat. Dokter Alvian juga Steve yang berada di samping Hana ikut merasa cemas.


Genggaman Hana sedikit demi sedikit dirasakan Steve melonggar diiringi dengan suara monitor detak jantung Hana kembali tenang. Semua orang yang ada disitu boleh menghela nafas, tenang.


"Keadaan Hana membaik. Kalau sudah 24 jam perkembangannya membaik, Hana boleh dialihkan ke ruangan perawatan." Terang dokter Aldi.


"Syukurlah. Saya sangat senang mendengar keadaan Hana semakin membaik." Rasanya Steve seperti menemukan aura positif pada dirinya setelah sekian lama menyimpan perasaan bersalah pada Hana.


"Ya terus berdoa ya! Keajaiban Allah Swt sangat mungkin bagi siapa saja yang dikehendakiNya." Dokter Aldi kembali memotivasi keluarga pasien.


"Baik Dok!" Bibir Steve terlihat terangkat, di tersenyum menatap Hana. Dia kembali mengelus punggung tangan Hana dengan penuh perhatian.


"Dok, lihat!" Salah satu perawat memberitahu dokter Aldi.


"Matanya mengerjap."


Semua mata memandang tertuju pada Hana.


Pelan-pelan mata Hana bergerak. Sesekali mengerjapkan matanya lalu menutup kembali karena menahan silau lampu di ruangan ICU.


Karena matanya mungkin sudah lama menutup bisa jadi cahaya lampu pun menjadi terasa sensitif di bola mata Hana.


Perlahan-lahan bola mata Hana terbuka. Matanya masih menyipit, Sama-sama Hana melihat bayangan disekitar ruangan ICU. Sedikit demi sedikit akhirnya bola mata Hana bisa terbuka lebar dan bisa melihat jelas apa saja yang ada disekitarnya.


"Hana siuman." Dokter Aldi memperhatikan sejak tadi merasa begitu senang bahwa pasiennya bisa bangun.


Dokter Aldi segera bersujud syukur. Ya dokter Aldi yang terkenal religius tak lupa bersujud jika mendapatkan kebaikan atau kabar gembira. Bukan hanya keluarga pasien saja yang senang jika pasien membaik, dokter Aldi pun selalu dokter yang menanganinya akan merasa bahagia jika pekerjaannya sukses bisa membantu pasien kembali pulih.


"Sebentar saya akan memeriksa Hana." Dengan cekatan dokter Aldi memeriksa semua yang menurutnya standar pemeriksaan pasien paska koma.


"Alhamdulillah akhirnya bangun juga Hana." Dokter Aldi menyapa Hana dengan senyuman lega.


Hana hanya menatap tanpa memberi respon. Satu persatu Hana mengamati orang yang ada di ruangan ICU.


"Dokter Alvian.... " Suaranya masih terdengar lemah, tapi masih terdengar jelas.


"Hana... " Dokter Alvian sontak mendekati Hana, menatap netra Hana dengan penuh kegembiraan.


"Kamu mengenaliku?" Dokter Alvian merasa bahagia Hana masih mengenalnya.


"Iya." Suaranya lirih.


"Dimana saya dokter? Kenapa saya ada disini?" Suaranya yang masih lemah memaksakan diri untuk bertanya.


"Kamu ada di rumah sakit. Karena kamu pingsan kemarin." Terang dokter Alvian.


"Hana... " Steve yang sedari tadi mematung tiba-tiba bibirnya memanggil Hana.


Hana hanya memandangnya dengan penuh tanda tanya.


"Kamu mengenalnya?" Dokter Aldi sedang menguji ingatan Hana.


Hana menatap lama Steve. Bola matanya seakan mengingat-ingat.


"Tidak."


Steve sedikit membelalakkan matanya. Tak percaya Hana tak mengenalinya. Sejurus kemudian Steve menatap pada dokter Aldi. Dokter Aldi mengerti bahasa isyarat yang sedang diberikan Steve.


"Hana.. Ini Steve, kakakmu. Apakah kamu mengingatnya?"


Hana menggelengkan kepala. Dia sama sekali tak mengenali Steve.


"Sabar ya! Hana masih harus menjalani pemeriksaan kembali mengenai ingatannya." Dokter Aldi menepuk pundak Steve.


"Tak apa. Aku senang melihat kamu sudah sadar." Steve kembali tersenyum tulus. Dia mengerti keadaan Hana. Mungkin amnesianya bertambah. Walau Steve berharap Hana mengingatnya dia tak bisa memaksakan kehendak.


"Kamu ingin bertemu dengan ayahmu?" Dokter Aldi mengajukan pertanyaan.


"Ayah?" Hana mengernyitkan dahi. Bola matanya mengerjap-ngerjap.


"Ayahku sudah meninggal dokter!" Hana merasa heran. Dia ingat betul kalau ayahnya sudah meninggal.


Semua orang saling menatap.


"Perawat, tolong panggilkan tuan Hans. Barangkali dia ingin melihat putrinya!" Dokter Aldi menyuruh perawat memanggil ayahnya Steve masuk. Dokter Aldi sedang mengumpulkan informasi perkembangan Hanya untuk penelitiannya.


Tak lama kemudian ayahnya Steve masuk dan matanya tertuju pada perempuan yang sedang terbaring di atas ranjang pasien.


"Hana... " Ayah Steve begitu terharu melihat Hana sudah bisa membuka matanya. Dia lalu mendekati Hana.


"Kamu sudah sadar nak! Ayah senang sekali melihatmu." Ayah Steve yang sudah lama sekali tidak melihat Hana sangat bahagia melihat anak dari istrinya kini sudah siuman.


"Hana, kamu mengenalinya?" Dokter Aldi kembali bertanya.


Hana menatap laki-laki paruh baya yang sedang dihadapannya. Dia tak mengenalinya sedikitpun.


"Tidak dokter, maaf!" Hana merasa bersalah.


"Tak apa. Mungkin besok-besok ingatanmu akan pulih. Jadi kamu bisa mengingatnya."

__ADS_1


"Wah senengnya ya banyak yang menunggu. Ayo sehat ya Hana!" Dokter Aldi mengerti dengan kebingungan Hana, dilihat dari tatapannya yang masih mengamati orang-orang yang ada disekitarnya. Dia berusaha mencairkan suasana


"Iya dokter." Hana tersenyum dengan muka lesu masih merasakan lemas.


"Eh Hana. Kamu mau istirahat dulu?" Dokter Aldi bertanya pada Hana. Khawatir dia masih lemah dan membutuhkan istirahat.


"Tidak dokter. Saya ingin ditemani disini." Entahlah, dalam hati Hana sekarang, perasaannya ingin ditungguin tidak mau sendirian di ruangan ICU yang begitu menyeramkan buat Hana.


"Oh baiklah! Kalian bisa berbincang-bincang ya! Nanti kalau mau tidur jangan ditahan ya! Kamu masih butuh istirahat yang cukup biar cepat pulih."


"Iya doktet!" Hana menjawab pelan.


"Kalau begitu saya bersama doktet Alvian pamit dulu ya! Nanti saya akan berkunjung lagi kesini pada jam kunjungan." Terang doktet Aldi memberitahu.


"Iya dokter. Terimakasih atas bantuan anda." Ayah Steve mengucapkan terimakasih.


Dokter Aldi dan dokter Alvian berlalu dari hadapan Hana setelah selesai memeriksanya. Tak lupa mereka memberikan arahan kepada perawat dan dokter jaga.


Steve dan ayahnya duduk di samping Hana.


Hana yang masih asing dengan keberadaan Steve dan ayahnya merasakan kecanggungan.


"Saya mohon maaf, jika saya belum mengingat anda berdua." Hana berkata lirih.


"Tak apa-apa Hana. Ayah merasa bahagia sekali kamu sudah sadar. Jangan jadi beban, nanti sedikit demi sedikit juga akan ingat." Tuan Hans ssdang memberikan dukungan.


Hana kembali memegang tangan Steve seolah meminta dukungan.


"Kakak. Saya senang mempunyai kakak baru. Sebelumya saya juga mempunyai kakak." Walaupun wajahnya masih terlihat pucat, dia begitu cantik ketika tersenyum.


"Hhmm... kakak juga sama. Kakak punya adik baru ketemu." Steve tersenyum menghibur.


"Kalian tidak marah kan, jika saya meminta bantuan kalian menemani saya disini?" Hana memperlihatkan wajah tak enak hati pada Steve dan Ayahnya.


"Tidak Hana. Malah kami yang senang." Ayah Steve kembali membesarkan hati Hana.


"Sebetulnya saya... takut dengan rumah sakit. Apalagi harus sendirian."


"Tenang Hana, kita akan disini menemanimu. Nanti ayah akan bilang sama dokter Aldi agar segera dipindahkan ke ruangan."


"Terimakasih ayah! Maaf jadi merepotkan."


"Tidak Hana. Kami bersyukur bisa kembali berkumpul." Sambung ayahnya Steve.


"Kakak, kenapa pakai kursi roda?" Hana mengamati Steve yang duduk berbeda.


"Kakak sakit? Sakit apa?"


"Hhmm sekarang sudah sembuh Hana, begitu melihatmu kakak langsung sembuh." Steve mencengkram tangan Hana lebih erat. Sebenarnya Steve merasa gembira sekali dengan siumannya Hana. Dia bisa mengobati rasa kangennya. Cuman sayang.. rasa kangennya harus diubah jadi rasa sayang seorang kakak kepada adik.


"Wah kakak... bicara begitu menghibur Hana ya? Sepertinya Hana harus cepat sembuh juga ketika melihat kalian." Hana walau dalam keadaan masih lemas, berusaha membalas kebaikan mereka yang telah menghiburnya.


"Iya donk! Hana putri ayah yang kuat, bisa cepat sembuh. Biar kita bisa jalan-jalan." Hibur ayah Steve.


"Baik ayah. Hana akan berusaha."


"Bagus." Ayahnya Steve mengacungkan dua jempolnya.


Kring


kring


kring


Suara Handphone ayahnya Steve terdengar menyala.


"Maaf Hana ayah keluar dulu ya! Mau menjawab telepon."


"Baik. Ayah." Hana menatap punggung ayahnya Steve. Dia merasa wajahnya tak mirip dengannya, malah mirip dengan laki-laki yang ada didepannya.


"Hana. Apa yang sekarang kamu rasakan? Kamu pusing tidak?" Steve merasa khawatir jika Hana yang baru sadar kelelahan dan ingin istirahat.


"Sedikit pusing. Dan lemes banget kak! Sampai susah menggerakkan badan juga." Hana mengeluhkan badannya merasa kaku tak bisa digerakkan sama sekali.


"Kalau begitu tidurlah! Jangan khawatir kakak akan menunggumu disini!" Steve kembali mengusap punggung tangan Hana.


Hana merasakan damai. Dia menatap lembut wajah laki-laki yang ada di depannya lalu tersenyum. Steve membalas senyumannya kembali.


"Kakak, boleh minta tolong!" Hana merasakan tenggorokannya begitu kering.


"Iya Hana." Steve menatap inten pada Hana.


"Saya haus kak." Hana meminta air. Kerongkongan nya terasa kering sekali.


"Baik. Sebentar kakak panggilan dulu perawat." Steve menekan belt untuk memanggil perawat.


Tak lama kemudian perawat masuk ke dalam ruangan.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Perawat mendekat dan menanyakan apa yang bisa dilakukannya.

__ADS_1


"Maaf sus, adik saya haus. Apakah sudah diperbolehkan minum?" Steve sedikit agak mendongakkan kepalanya. Karena posisi perawat berdiri di sampingnya.


"Apakah anda sudah terasa buang angin?" Perawat itu melihat Hana.


Hana terdiam. "Sepertinya belum sus. Tapi saya gak kuat haus." Hana memelas. Hana merasa tersiksa karena kerongkongannya begitu kering dan dia merasa dahaga sekali. Ya sudah terhitung hampir 3 hari dia tergelatak tak sadarkan diri, hanya cairan impusan saja yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Sebentar saya akan tanyakan dulu sama dokter Aldi." Perawat meninggalkan ruangan dan menghubungi dokter Aldi.


"Sabar ya Hana! Mudah-mudahan dokter Aldi memeperbolehkan." Steve mengusap tangan Hana memberikan kekuatan agar bersabar.


Hana hanya mengangguk.


Dokter Aldi masuk ruangan Hana begitu mendapatkan penggilan.


"Wah, Hana haus ya? Apa sudah buang angin?" Dokter Aldi ramah kembali bertanya.


Hana menggelengkan kepalanya. Dia terlihat sedikit muram.


"Yuk kita gerakin badannya biar cepet buang angin. Kalau badannya digerakin nanti akan merangsang tubuh yang lainnya untuk aktif."


"Tapi dok!" Hana mengerutkan dahinya.


"Iya?" Dokter Aldi menatap Hana.


"Saya tidak bisa menggerakkan badan saya. Rasanya sama sekali tidak ada tenaga." Hana mengeluhkan sesuatu.


Dokter Aldi terdiam. Lalu sebentar kemudian dia menyingkap selimut yang Hana pakai untuk menutupi badannya.


"Coba gerakin jari kakinya ya!" Dokter Aldi memberi perintah pada Hana untuk menggerakkan jari kakinya. Dia menatap kaki Hana.


Semua menatap pada kaki Hana. Lama menunggu tapi Hana tak juga bisa menggerakkan jari-jari kakinya.


Dokter menatap Hana. Netranya terlihat menerjemahkan sesuatu kecemasan.


"Bagaimanapun dokter?" Steve menanyakannya pada dokter Aldi.


"Hhhmm... biar saya bantu ya! Mohon maaf saya angkat kaki Hana untuk menggerakkannya untuk merangsang bagian tubuh yang lainnya aktif, terutama memfungsikan organ dalam biar cepat buang angin." Padahal dokter Aldi sedang mencurigai sesuatu yang akan terjadi pada Hana.


Dokter Aldi mengangkat kaki Hana dan menggerakkannya dengan arah melipat dan menjulurkannya kembali beberapa kali. Kakinya terasa lemas tak bertenaga. Sehingga ketika dokter Aldi menggerakkannya ke kiri dan ke kanan kaki Hana hanya pasrah saja tanpa ada kekuatan sedikitpun untuk merespon apalagi melakukan penolakan.


Mata dokter Aldi selain tertuju pada kaki Hana dia mengamati mimik wajah Hana. Apakah dia merespon sesuatu atau tidak.


"Wah Hana pintar sekali ya. Sepertinya akan cepat buang angin. Sebentar saya akan bantu dengan sedikit cubitan ya, kalau sakit tolong bilang!" Dokter Aldi sedang menguji apakah kaki Hana akan merespon apa tidak dengan tindakannya.


Setelah beberapa kali dicubit, Hana hanya terdiam tidak merasakan sesuatu.


Dokter Aldi mencoba mengetuk-ngetuk kaki Hana sampai ke atas lutut dengan alat bantu.


"Sakit tidak?" Dokter Aldi kembali bertanya.


Hana hanya menggelengkan kepalanya.


Dokter Aldi menduga Hana mengalami sesuatu yang tak diinginkannya.


"Baik! Coba angkat tangannya!" Dia memperhatikan Hana dengan seksama.


Hana terlihat menggerakkan tangannya tapi tidak sampai 10 sengi tangan Hana kembali terjatuh.


"Dokter susah!" Hana mengeluhkan berat sekali untuk mengangkat tangannya.


"Coba gerakan jari-jari tangannya!


Hana terlihat menggerakkannya walau memang sepertinya kesusahan dan tenaganya tidak begitu kuat untuk menggerakkannya dengan cepat.


"Bagus." Dokter Aldi tak mampu mengungkapkan yang sesungguhnya dihadapan Hana. Apa yang sebenarnya yang telah terjadi sekarang yang menimpa Hana.


"Perawat, tolong bantu gerakan kakinya seperti tadi! Kalau Hana merasa pegal baru berhenti." Dokter Aldi menyuruh perawat melakukan gerakan yang sudah dilakukannya tadi.


"Baik dok! Perawat menirukan gerakan yang tadi dokter Aldi lakukan pada Hana.


Dokter Aldi memperhatikan secara teliti respon Hana.


"Dokter haus." Hana kembali mengeluh kehausan.


"Baik. Setelah buang angin nanti Hana boleh minum ya! Sekarang Hana bisa tidak menggerakkan badannya menyamping ke kiri?" Dokter Aldi memberikan arahan.


Hana terlihat mengerahkan tenaganya untuk menggerakkan badannya bergerak ke samping. Tapi usahanya nihil


"Susah dokter!" Hana kembali mengeluhkan kesusahan menggerakkan badannya untuk bergerak ke samping.


"Perawat tolong bantu untuk tidur miring ke kiri!"


"Baik dok!" Tanpa menunggu lama perawat pun menggerakkan badan Hana ke samping. Untungnya badan Hana ramping jadi tetasa ringan untuk digerakkan.


Tak lama kemudian terdengar bunyi sesuatu. Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum. Begitu pula Hana, pipinya merah merona merasa malu, karena dia sudah buang angin di depan banyak orang.


"Alhamdulillah... welcome deh! Sesuatu yang ditunggu sudah keluar. Hana sekarang boleh minum ya! Tapi sedikit-sedikit dulu. Nanti biar perawat bantu untuk menyuapi airnya dengan sendok.


"Terimakasih dokter! Hana tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2