Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Semangat cetak gol


__ADS_3

"Mama menyetujui kalian menikah. Tapi ingat syarat mama." Netra ibunya Wei melihat tajam pada Wei. Hanya Wei saja yang tahu apa maksud perkataan ibunya. Hana melihat ke samping. Dia melihat wajah Wei berubah murung.


Sekarang Hana yang merekatkan tangannya memberi dukungan moril pada Wei. Meski tidak tahu apa-apa, Hana yakin apa yang dibicarakan ibunya Wei pasti membebani Wei sekarang ini.


"Ya.. syukur-syukur Hana langsung cepat mempunyai anak. Kamu harus mengerti, bahwa kami membutuhkan penerus keluarga. Kalau bisa jangan menunda kehamilan." Ibunya Wei melihat Hana.


Hana membalas dengan senyuman. Hana tahu kata-kata itu sedang ditujukan padanya. Dia pun bertekad semoga Tuhan berkenan untuk segera mengaruniakan anak padanya. Agar menjadi pelengkap kebahagiaan dalam keluarganya.


"Hana minta doanya ma. Semoga bisa cepat hamil. Sehabis ini Hana bersama Wei akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kami." Hana dan Wei sudah merencanakan matang. Wei tak ingin ibunya memaksa drinya menikah lagi agar mempunyai anak segera.


"Baik. Mamah kasih waktu enam bulan. Jika masih tidak hamil. Terpaksa Wei harus mengikuti keinginan mama." Ucap ibunya Wei tegas.


"Ma.. " Sally tahu ibunya terlalu keras bicara. Kurang pantas jika seorang ibu terlalu menelan seperti itu. Karena Sally pun perempuan, dia akan merasakan sakit hati jika diperlakukan begitu oleh mertuanya.


"Tak apa-apa. Kita berdoa dan berikhtiar saja ya Hana." Wei memberikan dukungan pada Hana agar tetap semangat menjalani pernikahan bersamanya. Dia tahu perkataan ibunya akan kurang berkenan di hati Hana. Dia tak mau Hana jadi terbebani.


"Iya.. semangat... Aku selalu semangat." Jawab Hana tersenyum menyambut hangatnya Wei memberikan dukungan.


"Ayoo kak... semangat bikin anak. Sekalian pas brojol 4 kak.. Aku mau ikut ah ke rumah sakit nonton kakak jadi cheerleader." Sally menyemangati Hana juga Wei.


"Kalau brojol 4 kasihan dong kak Hana. Dia cape ngeden nya.. " Wei tersenyum melihat Hana. Hana yang sedang ditatap berona merah, malu.


"Wah... makanannya sudah datang, mari kita makan. Jangan lupa berdoa ya.. " Wei malah tambah semangat mendengar Hana juga Sally menyemangati dan mendukung.


"Ayo ma.. semangat ma.. " Wei tersenyum pada ibunya. Dia tak mau menyakiti hati dan perasaan ibunya yang kini sudah ditinggalkan ayahnya.


Semua menikmati makan siang itu dengan khusyu.


Waktu berlalu acara makan siang pun selesai. Hana berpamitan pada calon ibu mertuanya juga calon adik iparnya.


"Ma.. saya pamit dulu! Saya mohon doanya ma." Hana mencium tangan ibunya Wei lalu bergilir pada Sally saling berpelukan.


"Hati-hati ya kak. Semangat berjuang membuat anak. He he.. " Sally terkekeh menggoda Wei dan Hana begitu berpisah diparkiran.


"Eh.. anak Abg kenapa semangat empat lima gini, curiga menyusul nih... " Hana terkekeh juga.


"Gak pa-pa.. aku punya paket kilat kok. Sudah sedia calon yang mengantri tinggal. pilih-pilih acak corak. Tinggal restu dari mama dan kakak.. langsung naik pelaminan." Sally tidak sungkan bicara seperti itu pada Hana juga Wei. Biasanya dia agak jaim ketika bicara dengan Wei juga ibunya, tapi begitu kedatangan Hana, Sally langsung akrab.


"Ya ampunnn.. Sally.. " Wei agak melebarkan matanya kaget, melihat rekai Sally seterbuka itu.


"Belajar yang bener! Kuliah aja belum kelar sudah mau merit." Ibunya Wei menegur Sally takutnya malah serius beneran menikah.


"Kan.. mama pengen cepet cetak anak ma. Aku sudah siap kok kalau mama tidak sabar kaya tadi." Sally langsung menjauh takut kena semprot ibunya.


Tak lama kemudian Hana dan Wei tiba di rumah sakit. Sepanjang jalan keduanya tersenyum bahagia.


"Kita akan berpisah ruangan, kamu tidak apa-apa diantar Rara?" Wei men-sejajarkan tubuhnya menghadap Hana.


"Gak pa-pa." Hana tersenyum manis.


"Baiklah. Tenang dan rileks sayang! Aku akan ke ruangan sana ya!" Wei menunjuk satu ruangan yang akan dimasukinya. Yaitu ruangan khusus untuk mengecek kesehata **** nya.


"Iya. Terima kasih." Hana menatap netra Wei dengan penuh kasih.


Cup


Wei mendaratkan ciumannya.


"Baiklah. Nanti kita bertemu lagi." Wei menggenggam tangan Hana lalu menciumnya dengan penuh rindu. Sesudah itu dia melepaskannya perlahan dan berdiri lalu melambaikan tangannya. Dia membalikkan badannya dan masuk ke ruangan pemeriksaan.


Kursi roda Hana pun di dorong Rara menuju ruangan lain. Untuk memeriksakan dirinya juga kesehatan rahimnya untuk persiapan pernikahan.


Dada Hana cukup berdebar-debar begitu dokter masuk ke dalam. ruangan.


"Nona Hana?" Dokter itu memanggilnya sesuai daftar yang tertera di sebuah kartu pendaftaran.


"Iya dokter." Jawab Hana dengan tangan yang agak berkeringat.


"Tenang ya nona Hana. Kita akan memeriksa sepeutar alat reproduksi juga kondisi indung telur yang Anda miliki. Saya senang anda sudah menyiapkannya dengan matang sebelum menikah. Jadi kalau ada penyakit, bisa diantisipasi sejak dini." Ucap dokter kandungan perempuan memberi motivasi.


"Baik.. kita naikkan nona Hana ke atas ya!" Di sana sudah ada perawat. Rara dan perawat mengangkat tubuh Hana untuk dibaringkan di atas kasur tempat pemeriksaan.

__ADS_1


"Tenang ya ambil nafas!" Dokter membawa alat-alat yang diperlukan lalu memulai kerjanya.


Setelah hampir satu jam barulah Hana selesai diperiksa.


"Kita tunggu dulu hasilnya ya! Sedang dicek di laboratorium. Anda boleh menunggu di ruang tunggu yang telah disediakan!" Dokter pun menyudahi pemeriksaannya.


"Biak dokter." Hana dibantu Rara kembali duduk di kursi rodanya.


"Nona Hana.. haus?" Rara memberikan sebotol air minum mineral pada Hana.


"Terimakasih." Ucao Hana membuka botol itu dan meneguknya. Ketegangannya berangsur-angsur berkurang seiring air minum yang diberikan Rara.


"Berapa lama kita akan mengetahui hasilnya Rara?" Hana menoleh ke arah Rara.


"Tadi kata dokter sekitar sepuluh menit. Nanti kita akan dipanggil ke dalam nona Hana." Rara memberitahukan Hana.


"Oh.. " Hana melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sambil menunggu panggilan Hana menjawab pesan-pesan yang telah masuk diantaranya dari Steve. Dia menanyakan tentang pertemuannya dengan calon mertuanya juga bagaimana pemeriksaan kesehatan dirinya.


Hana mengabarkan baik-baik saja pada Steve. Tapi belum bisa mengabarkan hasil pemeriksaannya.


Dia sangat bersemangat untuk terapi juga. Bahkan kondisi kelumpuhan Hana membaik. Sekarang selain sudah bisa menggerakan jari-jari kakinya Hana pun sesekali bisa mengangkat kakinya sendiri. Dia rajin dan semangat berlatih fisioterapi. Bahkan beberapa ramuan kuno rajin Hana konsumsi untuk menunjang kesehatannya. Seperti gingseng dan obat-obatan herbal. lainnya.


"Nona Hana." Seorang perawat memanggilnya.


"Mari nona kita masuk!" Rara mendorong kursi roda masuk ke ruangan dokter.


Dokter Sinta sudah siap membacakan hasil pemeriksaan Hana.


"Nona Hana.. setelah pemeriksaan yang dilakukan tadi, semuanya menunjukan bahwa kondisi Anda baik dan sehat. Anda tidak usah khawatir pada kelumpuhan Anda. Kondisi Anda semuanya sehat tidak ada tanda-tanda yang membahayakan. Semoga setelah menikah nanti Anda segera dikaruniai momongan. Yang penting jaga kesehatan dan tidak stress ya!" Ucap dokter Sinta.


"Terimakasih dokter." Hana tersenyum lebar mendengar hasil dari pemeriksaan dokter Sinta.


"Saya ucapkan selamat ya!" Dokter Sinta mengucapkan selamat pada Hana.


"Terimakasih dokter. Saya senang sekali mendengarnya." Rara memegang bahu Hana memberikan dukungan atas kabar yang baru saja didengarnya.


"Baik. Sekali lagi selamat. Semoga pernikahan kalian lancar dan semoga cepat hamil ya!" Dokter Sinta berdiri menyalami Hana.


"Terima kasih dokter atas doanya." Dokter Sinta mengangguk tersenyum.


Kursi roda pun didorong Rara ke tempat lobi. Ternyata Wei sudah menunggu di sana. Wajah tampannya semakin manis begitu Wei tersenyum tulus pada Hana. Begitupun Hana, dia membalas senyuman Wei dengan manis.


"Bagaimana kata dokter sayang?" Sekarang Wei terang-terangan memanggilnya dengan Hana dengan sebutan sayang.


"Baik.. ini hasilnya. Kamu mau membacanya?" Hana menyodorkan satu amplop coklat yang berisi hasil pemeriksaan.


"Baik. Nanti kita baca di rumahmu ya! Biar enak sambil ngobrol." Ucap Wei mengajak Hana untuk kembali pulang ke rumahnya sambil merencanakan matang pernikahan juga membaca hasil pemeriksaan mereka berdua.


"Baik." Jawab Hana senang.


"Biar aku dorong kursinya Ra!" Wei ingin mendorong kursi roda. Rara mengangguk memberi hormat dan berjalan di belakang keduanya mengikuti langkah Wei.


Tak lama kemudian Hana dan Wei sudah sampai di rumah.


"Eh.. kakak Steve... " Hana kaget Steve sudah pulang. Steve menyambut mereka berdua di pintu utama.


"Iya aku sengaja pulang tak. sabar ingin mendengar berita baik dari kalian berdua." Steve ikut senang mendengar hasil kondisi Hana tadi lewat pesan yang dikirimkan Hana.


"Kok yang tidak sabar itu jadi kamu Steve?" Wei terkekeh menertawakan Steve.


"Eh.. pasti dong. Aku yang harus pertama tahu, kalau tidak kamu akan aku pecat jadi adik ipar." Steve tertawa.


"Aih.. kakak... " Hana agak mengerucutkan bibirnya tak senang mendengar candaan Steve. Meski hanya bercanda tapi Hana tak mau berpisah lagi dengan Wei.


"Waduh... ada yang marah nih.. belain sang pacar?" Steve menjembil pipi Hana gemas.


"Kakak.. sakit... " Hana mengelus pipinya yang barusan dicubit Steve.


Semuanya masuk ke ruang keluarga.

__ADS_1


"Bagaimana hasilnya aku ingin menyidang kalian berdua!" Wajah Steve dibuat serius.


"Oke.. siapa takut nih!" Wei memberikan hasilnya yang ada di amplop coklat.


Steve menerima amplop itu lalu menarik kertas yang ada di dalamnya. Lalu membaca rincian yang tertera di atas kertas putih yang diberikan dokter tadi.


"Hasilnya bagus.. Jadi kamu siap jadi ayah nih?" Steve memasukan kembali ke dalam amplop coklat.


"Oke." Wei melingkarkan jempol dan telunjuknya sebagai simbol Oke.


'Kakak mau lihat punya aku?" Hana menyodorkan amplop coklat pada Steve.


"Mau dong!" Steve menerima amplop pemberian Hana dan membacanya. Sepasang bola matanya ada yang berubah begitu membaca hasil akhir dari laporan itu.


"Selamat adikku." Steve memeluk Hana erat, terharu dengan hasil yang baru saja dibacanya. Hana yang mendapatkan pelukan Steve agak terperangkap. Matanya hanya melongo.


"Terimakasih kak.. Terimakasih atas kebaikan kakak selama ini." Hana membalas pelukan Steve keduanya meneteskan air mata bahagia. Merasakan kebahagiaan yang tak bisa digambarkan selama ini. Mereka telah melewati banyak rintangan dan tantangan. Akhirnya Hana menemukan cintanya dan akan bersatu membina rumah tangga dengan Wei.


Steve melepaskan pelukannya dari Hana.


"Selamat sekali lagi. Kamu wanita terkuat. Kamu bisa melewati banyak ujian hidup dengan sabar dan kuat." Steve mengelus pipi Hana.


"Sekarang beristirahatlah! Kamu pasti capek. Nanti habis ini kita makan bersama ya! Kakak ada yang mau dibicarakan dengan Wei dulu." Steve menyuruh Hana beristirahat. Badannya jangan terlalu diporsir, khawatir Hana kelelahan.


"Baik Kak.. saya masuk ke dalam kamar dulu!" Hana di dorong Rara masuk ke kamarnya.


"Mmm... lusa orang tua aku akan datang. Mungkin kita mesti mengadakan pertemuan keluarga dulu sebelum acara pernikahan digelar. Untuk mengenalkan orang tua aku sebagai wali Hana pada keluarga kamu Wei." Ucap Steve pada Wei, mengabarkan akan kedatangan orang tuanya pada Wei.


"Baik.. nanti akan aku sampaikan pada ibuku." Ucap Wei senang mendapatkan undangan acara keluarga.


"Baiklah.. kamu pastinya lelah. Calon pengantin sebaiknya jangan terlalu dekat! Takutnya nanti tidak tahan." Canda Steve sambil menepuk bahu Wei.


"Ishhh... kamu!" Wei agak malu mendengar Steve mengatakan hal itu.


"Ya.. kita sama-sama laki-laki dewasa. Pastinya kalau terlalu dekat entar bibir sering reunian. ha ha ha." Steve tertawa.


"Aish... jomblo kok suka ngelantur! Aku pulang dulu! Lama-lama diam disini aku bakalan habis nih!" Pipi Wei merah merona merasa malu.


"Baiklah adik.. jaga diri baik-baik! Jangan lupa banyak olahraga sekarang jangan dulu banyak kerja! Biar nanti malam pengantin bisa kuat urat malunya!" Steve lagi-lagi menggoda Wei.


"Oke.. kakak... " Wei menggelengkan kepalanya. Pergi dari rumah Steve.


Steve mengantarkan Wei sampai depan rumahnya. Wei berlalu mengendarai mobilnya menuju rumah.


"Kak.. Wei kemana kak?" Hana sudah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


"Sudah pulang." Jawab Steve, dia lupa bahwa tadi dia akan mengajak Wei untuk makan bersama.


"Sudah pulang? Kan tadi kakak mau mengajaknya makan? Kenapa pulang?" Heran Hana.


"Eh.. ya Ampun.. aku kok lupa ya! Maafkan aku Hana.. aslinya aku lupa banget." Steve meminta maaf pada Hana karena dirinya lupa akan hal itu.


"Hmmm... dia juga lupa lagi tidak pamitan." Kesal Hana karena kakak dan Wei sama-sama lupa.


"Waduh.. " Steve menepuk jidatnya.


"Maafkan kakak. Semuanya salah kakak Hana. Tadi kakak menyuruhnya cepat pulang. Dia agak kelihatan lelah, kasihan." Steve mencari alasan agar Hana tidak terlalu marah.


"Oh.. begitu kak." Benar saja. Alasan Steve mampu membuat Hana melunak lagi.


"Ya udah.. kita saja yang makan. Kakak udah laper nih!" Steve mendorong kursi roda Hana.


"Kak.. aku ingin melatih kaki aku berjalan sedikit-sedikt." Hana mencegah Steve mendorong kursi rodanya.


"Kamu sudah bisa jalan Hana?" Kaget Steve melebarkan matanya melihat Hana.


"Sedikit-sedikit kak. Walau suka lelah tapi aku suka melatihnya di kamar kak kalau mau mandi atau sewaktu-waktu ingin ke toilet tengah malam.


"Ya ampun Hana.. jangan dipaksakan kalau jalan ke toilet. Khawatirnya licin." Steve baru mengetahuinya.


"Iya kak.. gak mungkin kalau tengah malam aku ingin ke toilet harus membangunkan Rara kak."

__ADS_1


__ADS_2