Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Berdamai


__ADS_3

"Ada apa dengan Hana? Jangan-jangan kamu tidak bisa menjaga Hana, lalu Hana melarikan diri?" Daniel menaruh curiga. Menebak-nebak apa yang telah terjadi pada Hana.


"Sudahlah, aku tutup telponnya jika tak ada hal penting!" Wei merasa pusing. Kemampuan berpikirnya sedang menurun. Dia malas berdebat apalagi dengan Daniel. Pikirannya terlalu lelah akhir-ahir ini. Masalah yang datang bertubi-tubi, sedangkan Wei bekerja sendirian tanpa bantuan Steve. Rasa ketergantungannya selama ini cukup besar pada Steve. Karena selama ini Steve banyak membantunya baik masalah pribadi ataupun masalah kantor.


"Jangan dulu ditutup! Aku minta maaf Wei. Aku... bermaksud baik ingin bertemu denganmu." Daniel yang tadinya berkata tegas berubah pikiran. Dia tak ingin tujuannya jadi terputus gara-gara Wei tak mau berbicara dengannya.


"Baik, temui aku di kantor, sekitar 1jam lagi!" Wei akhirnya mengalah. Dia berpikir ada baiknya bertemu dengan Daniel. Karena pencarian Hana membutuhkan bantuannya juga. Karena sekarang Sandi tak mungkin membantunya begitu pun Steve.


"Ya baik, sampai ketemu!" Perasaan Daniel agak sedikit lega. Wei akhirnya mau bertemu dengannya.


kling


kling


kling


Suara notifikasi di Handphone Wei terdengar jelas. Wei segera membukanya.


"Wei... aku telah mengirimkan beberapa email padamu. Siapa tahu kamu bisa membantu Hana. Untuk saat ini aku tak bisa membantunya. Aku titip dia padamu. Ingat! ini bukan berarti aku menyerah padamu!" Sebuah pesan dikirim Sandi. Dia berpikir Wei bisa membantu disaat sekarang.


"Dasar bocah!" Wei berkata pelan.


Disaat begini saja bocah itu gak hilang sombongnya. Heran


Wei membuka beberapa email, diantaranya masalah pekerjaan dan yang paling mengejutkan email yang dikirim oleh Sandi.


Apa ini? Ini seperti catatan medis. Ya ampun ini seperti bukti kejahatan yang dibuat seseorang. Maksud bocah itu apa? Dari mana dia mendapatkan bukti ini?


kling


kling


kling


Suara notifikasi kembali masuk.


"Kalau kau membutuhkan bantuan, aku kirimkan beberapa temanku, diantaranya Vania. Ayahnya seorang polisi, mungkin bisa membantumu dalam mencari dokter Alvian sebagai saksi hidup. Dia yang telah mengirimkan email itu. Aku tak tahu dimana sekarang. Dulu dia bertugas sebagai dokter di rumah sakit jiwa dimana Hana pernah dirawat. Tepatnya bukan dirawat tapi sengaja dimasukan kesana."


Wei menutup mulutnya, pikirannya sedang beredar. "Kira-kira siapa yang tega berbuat seperti itu pada Hana, dan tujuannya buat apa?" Wei berkata dalam hatinya.


Wei berjalan keluar dari rusun berniat kembali ke kantor. Sementara dua pasang mata sedang mengawasi gerak-gerik Wei dari kejauhan. Sengaja kedua orang itu menguntit karena diperintahkan seseorang.


Daniel lebih dulu sampai di kantor Wei. Dia menunggu di satu ruangan tamu VIP setelah sekertaris Wei mendapat mandat.


Wei bergerak masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya ada Daniel.


"Wei." Daniel berdiri menyambut kedatangan Wei.


"Duduklah!" Wei duduk di samping Daniel. Dia sedikit menyandarkan badannya di kursi. Tangannya memegang kening. Ada rasa lelah jiwa yang dirasakan Wei saat ini. Baru kali ini dia merasa bebannya begitu berat mungkin karena Steve tak ada.


"Apa kabarmu?" Daniel melirik ke samping. Dia melihat wajah sahabatnya agak kusut.


"Baik" Wei menjawab datar. Sudah kebiasaannya Wei bersikap dingin, tertutup. dan susah ditebak.


"Maaf aku.. memaksamu untuk bertemu!" Daniel berbasa-basi untuk mengawali bicara pada Wei.


"Tak apa, kebetulan aku juga ingin bicara padamu." Wei melirik wajah Daniel yang terlihat antusias.


Keduanya terdiam. Masing-masing menunggu siapa yang akan memulai. Sejenak melihat mimik masing-masing lalu kembali menatap ke depan.


Tak lama kemudian pintu diketuk, sekertaris Wei masuk dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan. Dia menyuguhkan di atas meja.


"Minumlah!" Wei mempersilahkan Daniel untuk minum. Dia pun menyeruput minuman yang sudah disuguhkan. Lalu menghela nafas dengan keras, melirik ke arah Daniel.

__ADS_1


Daniel tersenyum, membayangkan masa-masa mereka ketika dulu selalu bersama di SMA.


"Kapan-kapan kita kemping ke pantai seperti dulu. Aku kangen masa itu Wei." Daniel tersenyum sambil membayangkan masa itu. Masa kebersamaannya bersama Wei semasa muda.


"He'em. Apa yang mau kau katakan sebenarnya?" Wei melirik Daniel yang sedang menerawang. Dia tahu Daniel sedang memendam masalah, sama halnya dengan dirinya. Dari dulu Daniel orangnya terbuka, kalau ada masalah pasti dia akan bercerita pada Wei.


"Wei.. aku mohon maaf ya! Selama ini banyak merepotkanmu! Aku tak ingin karena masalah yang kita hadapi sekarang malah memecahkan persahabatan kita." Daniel melirik, badannya bersandar santai pada kursi sofa. Keduanya sama-sama memposisikan duduk dengan rileks.


"He'em." Wei menjawab pendek. Dia sedang menunggu inti dari pembicaraan Daniel. Biasanya gaya bicara Daniel memang seperti itu jika mau bicara curhat.


"Apa kau sedang banyak masalah Wei? Aku akan setia mendengarkan. Bukannya tadi kau mau berbicara padaku?" Daniel mengubah niatnya, dia ingin Wei berbicara terlebih dahulu sebelum dirinya bicara terus terang tentang keinginannya.


"Ya?" Wajah terkejutnya sempat mengangkat alisnya sebentar sambil menoleh ke arah Daniel.


Wei menegakkan badannya lalau. mengusap wajahnya kasar, lalu menoleh ke arah Daniel yang masih menyandarkan badannya sambil santai di sofa.


"Aku tak tahu lagi mencari Hana kemana? Tapi aku butuh bantuanmu."


"Maksudmu?" Giliran Daniel kaget lalu menyeimbangi Wei duduk tegak sambil memperhatikan Wei dengan seksama.


"Hana menghilang pergi dari rumah Steve, dia juga resain dari sekolah. Aku sudah memeriksa ke beberapa tempat yang mungkin saja dia kunjungi. Tapi hasilnya nihil." Wei menghela nafas lalu mengeluarkannya dengan pelan.


"Maksudmu Hana melarikan diri?" Alis Daniel terangkat matanya melebar, dia membutuhkan jawaban dari apa yang dikatakan Wei barusan.


"Aku tak tahu, apakah dia melarikan diri atau diculik?"


"Diculik? Siapa yang menculiknya?" Wajah Daniel bertambah berkerut semakin bingung dengan apa yang dikatakan Wei.


"Kalau aku tahu mana mungkin aku masih duduk disini!" Wei merasa Daniel begitu bodoh.


"Kira-kira ada yang kamu curigai?" Alisnya mengkerut, matanya menyipit sedang menatap inten Wei.


Wei sejenak terdiam.


"Akankah kamu menerima jika aku sekarang mengatakannya?" Wei menatap Daniel. Berharap jika dia mengatakannya Daniel tidak kecewa ataupun malah berbalik membenci.


"Beberapa waktu kebelakang, orang suruhan ibumu mencuri barang Hana, bahkan menggeledah rusunnya. Yang paling parah dia juga menembak muridnya Hana."


"Apa?" Daniel kaget. Seketika badannya jadi tidak bertenaga. Mungkinkah itu yang dulu pernah Wei katakan sewaktu di rumah sakit? Daniel seakan tidak percaya. Tapi Daniel mengenal betul siapa Wei. Dia orangnya teliti sebelum bertindak sejak dia mengenalnya dahulu.


"Wei.. aku sebenarnya ingin tak percaya dengan yang kau katakan, tapi aku tahu kamu tak mungkin berkata begitu kalau tidak ada bukti yang kuat. Wei... bisakah kamu membuktikan bahwa ibuku yang melakukannya?" Suara Daniel seakan melemah. Menelan kepahitan kalau memang benar dia melakukannya.


"Aku ada beberapa bukti. Tapi aku tidak tahu, apakah itu cukup atau tidak." Wei berdiri lalu berjalan keluar ruangan itu. Dia membuka pintu ruangan tempat dia bekerja lalu membawa kotak kepunyaan Hana yang waktu itu pernah dicuri. Dan kembali menuju ruangan yang di dalamnya ada Daniel.


"Lihat dan bacalah! Sebagian lagi ada dalam email seseorang. Kamu bisa mempelajari semuanya. Tapi aku harap jangan sampai ibumu tahu. Sebenarnya aku tak ingin mengusut kasus ibumu. Tapi karena nyawa Hana terancam aku terpaksa akan melaporkannya pada kepolisian." Wei panjang lebar menerangkan apa maksud dan tujuan menunjukan bukti yang dia miliki pada Daniel.


"Tunggu dulu! Aku akan mempelajari dulu. Jangan bertindak gegabah! Kalau memang ini ada kaitannya dengan ibuku dan nyawa Hana, aku akan terjun langsung menangani. Tapi jika kamu terbukti berbohong, maka aku tak akan segan menghancurkan mu." Jawab Daniel dengan penuh emosi.


"Terserah dirimu! Percaya atau tidak kenyataan memang tidak selalu berbuah manis. Apalagi semua yang kau miliki pun bukan seharusnya kau miliki, semuanya milik Hana bukan?" Wei tak takut ancaman Daniel, bahkan dia ingin Daniel menyadari bahwa apa yang dimilikinya adalah bukan miliknya melainkan semuanya milik Hana.


"Ya, aku tahu. Apa yang selama ini aku nikmati. adalah milik Hana. Aku hanya menjaganya sampai Hana benar-benar siap untuk menerimanya."


"Oh ya? hah.. " Wei tersenyum. sinis. Dia tak mempercayai apa yang dikatakan Daniel. Semuanya seperti omong kosong.


"Kenapa kamu tidak percaya?" Mata Daniel membelalak melihat ekspresi Wei seolah sedang menyerangnya.


"Sudahlah, lebih baik baca apa yang ada di hadapanmu!" Wei malas berdebat. Percuma berdebat dengan Daniel, karena dia sendiri juga tidak tahu masalahnya.


Daniel menatap isi dus yang sudah disodorkan Wei. Dia mengamatinya lalu membuka satu persatu amplop yang ada di kotak itu.


Pikirannya mulai mencerna dari surat ke surat lainnya. Sedikit demi sedikit dia mulai mengerti apa maksud isi surat itu. Sesekali dia menghela nafas panjang dan mengeluarkan dengan perlahan. Meski Daniel diam hatinya seperti bergemuruh membaca surat itu. Setelah habis membaca syarat itu, dia beralih membaca sebuah buku diary merah milik Hana. Lembar demi lembar dia lahap tanpa satu kata pun terlewatkan. Dahinya mengernyit, kenapa selama itu dia yang satu rumah tidak mengetahui apa yang menimpa Hana. Detak jantungnya serasa dipompa lebih cepat ketika dia membaca satu persatu penderitaan yang Hana alami. Pikirannya seolah memberontak, tapi pikiran satunya seakan menolak untuk menerima kenyataan.


"Arggghhh... Kenapa selama ini aku menjadi orang tolol dan bodoh!" Dia berteriak. Dia mengusap wajahnya. Menarik nafas kasar. Matanya memerah seolah ada emosi dipendam.

__ADS_1


"Jadi inikah alasan Hana ketakutan padaku?" Daniel menoleh pada Wei yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.


"Bisa jadi. Aku tak pernah tahu pasti. Itu harus ditanyakan langsung pada Hana. Meski ingatan yang lupa, ada beberapa yang diingatnya. Untuk saat ini kita perlu kerjasama menemukan Hana. Apakah kamu bisa Daniel?" Wei menatap manik mata Daniel lekat mencari kejujuran dalam bola matanya.


"Aku akan berusaha. Aku sendiri yang akan mengorek dari awal kebenarannya. Apa yang terjadi aku harus menyelamatkan Hana. Baik, untuk masalah yang berkaitan dari dalam diri ibuku aku akan tangani. Kamu tangani saja hal lain. Mungkin kamu bisa mencari dokter Alvian."


"Ya aku sudah mencarinya lewat detektif yang aku sewa, semenjak aku menemukan kotak itu. Oh iya.. muridnya Hana juga sudah ada mengontak. Dia mempunyai ayah seorang polisi, dia bersedia membantu kasus Hana. Tapi... " Wei berhenti sejenak.


"Tapi apa?" Daniel menatap Wei penasaran.


"Kamu harus berhati-hati, ibumu bukan orang sembarangan. Bila-bila dia menyuruh beberapa orang menguntit dan akan membahayakan nyawa Hana."


"Baik." Aku tahu apa yang mesti dilakukan! Urus saja urusanmu!"


"He'em."


"Eh aku tak melihat Steve, kemana dia?" Daniel merasa ada keanehan, biasanya kemana Wei pergi pasti disitu ada Steve.


"Steve mengalami goncangan kejiwaan setelah dia tahu kalau Hana adiknya." Wei terpaksa harus membongkar rahasia itu pada Daniel.


"Apa?" Suara Daniel meninggi, alisnya terangkat matanya melebar. Belum selesai rasa keterkejutan Daniel pada surat-surat itu, sekarang ditambah dengan kabar Steve.


"He'em. Sebelum ibunya Hana menikah dengan ayah sambungmu, dia sudah menikah di Perancis tanpa sepengetahuan keluarganya.


"Oh my god! Ini benar-benar memusingkan! Daniel mengusap rambutnya sampai kebelakang, lalu melirik ke arak Wei sebentar lalu dia menatap ke depan dengan pikiran yang semerawut.


"Hah.. Wei sepertinya kalau masalah ini beres kita perlu berlibur." Daniel yang merasakan dadanya kini terhimpit, seolah ingin cepat-cepat mengosongkannya.


"Ya.. semoga masalah ini cepat selesai. Besok aku akan mengantarkan dulu Steve ke bandara. Dia akan ke Perancis untuk sementara."


"Jadi Steve besok ke Perancis? Kenapa dia tak ikut kamu menghawatirkan Hana?" Daniel penasaran dengan Steve yang notabene masih ada kaitannya dengan Hana, bahkan saudara sedarah.


"Jiwanya terlalu lemah, mungkin nanti kalau dia sudah siap mungkin akan kembali ke Jakarta. Untuk sementara dia akan mengambil cuti istirahat sambil terapi."


"Apa separah itukah Steve sampai harus terapi?"


"Ya."


"Pantesan saja Hana begitu nyaman dengan Steve. Mungkin secara insting mereka sudah merasakan sebagai saudara. Tapi masalahnya kenapa Steve mengalami depresi?"


"Ya sejak kecil Steve membenci Hana, karena merasa sudah merebut ibunya dari dia, lagian ketika aku menitipkan Hana padanya mungkin mulai tumbuh rasa suka, jadi pas tahu kenyataan dia sangat terpukul harus menyayangi orang yang dia benci."


"Ya aku mengerti, mungkin suatu saat aku pun akan mengalaminya. Akan sulit memang ketika kita dihadapkan pada orang yang kita sayangi sedangkan satu sisi kita harus berbuat adil."


"Ya, aku hanya bisa mendoakanmu Daniel, semoga kamu bisa netral." Wei sedikit agak tenang. Tapi tetap saja dalam hati kecilnya ada rasa was-was mengingat Daniel harus berhadapan dengan ibunya sendiri.


"He'em." Daniel hanya mengangguk.


kring


kring


kring


Suara handphone Daniel terdengar ada nada panggilan. Daniel menatap layar handphonenya. Dia tak segera mengangkatnya.


"Kenapa tak mengangkatnya?" Wei mengingatkan Daniel yang hanya menatap layar handphonenya.


"Lihatlah!" Daniel memperlihatkan handphonenya pada Wei.


Setelah memperlihatkannya pada Wei, Daniel mengangkat telponnya.


"Halo bu."

__ADS_1


"Siap-siap sekarang ketemu Keluarga Riana."


"Apa?"


__ADS_2