
Wei yang sudah hari ini merasa kelelahan pulang dalam keadaan lemas. Sampai di rumahnya dia tak lagi mengurus beberapa dokumen. Sekertaris nya terpaksa harus menginap di rumah Wei. Dua hari mengantar kepergian Steve dan berakhir di rumah sakit membuat beberapa pekerjaan menumpuk.
"Si bos numben tidur lama. Tapi aku lebih senang dia kembali. Jadi aku tak pusing sendirian memikirkan menyelesaikan pekerjaan. Masalahnya bukan aku tak bisa, tapi tetap aja harus acc dia." Reihan sekertaris Wei bergumam sendiri. Semenjak Steve keluar, pekerjaannya jadi double. Biasanya untuk beberapa masalah teknis Steve lebih cekatan menangani. Kadang dia seperti tangan kedua Wei.
"Rei kamu menginap disini?" Ibunya Wei membuka pintu ruangan tempat dimana Wei mengerjakan tugas. Dilihatnya Rei masih mengerjakan beberapa dokumen padahal waktu sudah menunjukkan jam 8.
"Eh iya nyonya. Banyak pekerjaan yang belum selesai. Biar saya membantu menyelesaikan selagi tuan Wei beristirahat." Reihan tersenyum sambil melemaskan badan memberi hormat pada nyonya tuan besar.
"Ya sudah, nanti biar pelayan menyiapkan kamar tamu untuk kamu beristirahat. Tapi jangan lupa makan dulu! Kamu terlihat belum makan, kan?"
"Iya nyonya, Terima kasih atas tawarannya." Rei kembali membungkuk.
"Ya sudah, sebentar lagi diantar kesini saja makannya." Ibunya Wei menutup kembali pintu ruangan kerja.
Kemana saja dia kemarin. Pulang-pulang tidur seperti habis begadang berhari-hari.
Ibunya Wei menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanan ke ruangan Reihan dan merapihkan kamar tamu yang akan dipakai. Dia masih heran melihat Wei tidur nyenyak tanpa peduli dengan pekerjaannya. Bukan Wei yang tidak gila kerja. Anehnya setelah tak ada kabar beberapa hari, ibunya melihat Wei nampak lesu dan kelelahan. Dia membiarkan Wei tertidur dan tak berani membangunkannya.
Setelah tidur Wei terbangun. Dia melihat weker di atas nakas tempat tidurnya. Waktu menunjukkan jma setengah dua belas malam. Tapi perutnya begitu perih. Setelah kepulangannya dari kota B Wei langsung ke kantor, dan memilih pulang lebih awal ke mansion utama tempat ibunya tinggal bersama adiknya. Dia ingin istirahat dan membawa Reihan ke rumah agar bisa bekerja di rumah.
Tadi setelah mandi Wei tidak kuat mengantuk sehingga melewatkan makan siang dan makan malam. Pastilah perutnya terasa perih dan menagih untuk diisi.
Dia turun ke lantai bawah. Dilihatnya lampu-lampu sudah padam tandanya penghuninya sudah terlelap tidur. Wei berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Ada beberapa makanan cepat saji dan makanan yang di stok di dalam kulkas. Dia memilih ayam tepung dan kentang beku. Dia menggoreng ayam tepung dan kentang untuk mengisi perutnya yang lapar.
"Kamu bangun Wei?" Suara itu tiba-tiba tedengar disela Wei menyuapkan ayam dan kentang.
"Eh ma, belum tidur?" Wei melihat ibunya yang sedang berjalan ke arah panci yang masih teronggok di atas kitchen.
"Mama, juga lapar. Tadi nunggu kamu turun tak turun juga. Biar mama siapkan sop buat kita makan bersama." Ibunya Wei membawa mangkuk sop dan menghangatkan ke dalam microwave.
"Gak usah ma. Ini juga cukup!" Wei tak mau merepotkan ibunya di tengah malam.
"Kamu butuh stamina yang bagus. Tengah malam makanan berminyak kurang bagus untuk dicerna. Sop lebih bagus untuk kamu yang sedang kecapean." Tidak sampai lima menit sop sudah terhidang di depan Wei.
"Iya makasih ma!" Wei menyiduk sop iga yang masih mengepul. Terasa enak di perut setelah beberapa sendok masuk ke dalam perutnya.
"Kamu darimana aja, dinas luar?" Ibunya Wei tidak sempat menerima kabar dalam beberapa hari ini tentang keberadaan Wei.
"Iya ma?" Wei yang masih menyiduk sendok masih belum konek dengan pertanyaan mamanya.
"Sudahlah! Makanlah! Mama mau tidur." Ibunya Wei bangkit dari kursi.
"Ma.. Maafkan aku!" Wei mengehentikan suapannya dan menaruh sendok di atas piring.
Ibunya Wei melihat raut muka anaknya yang sedikit tertunduk menatap makanan dengan tatapan kosong.
"Setelah makan, tidurlah! Jika mau bicara masih ada besok pagi. Kamu istirahatlah!" Ibunya Wei melangkahkan kaki menuju kamarnya. Walaupun dia tahu Wei ingin bicara, tapi lebih baik ditunda sampai besok. Karena bicara itu penting tapi harus melihat keadaan. Bicara di saat kondisi badan lemah memudahkan seseorang untuk stress.
Wei menghentikan makannya. Dia berdiri lalu beranjak pergi ke ruangan kerja. Lalu membuka laptop dan memeriksa pekerjaannya. Beberapa file ternyata sudah diselesaikan oleh Reihan.
"Cowok nyentrik itu ternyata kerjanya cepat juga. Dia pasti lelah juga ngeberesin kerjaan yang sempat tertunda." Wei bicara sendiri. Matanya jeli sekali mengamati satu persatu pekerjaan yang sudah diselesaikan Reihan. Wei yang terkenal perfeksionis jarang sekali merasa cocok dengan pekerjaan orang lain.
Setelah selesai mengamati, Wei mematikan laptop lalu kembali ke lantai dua. Ya ke kamarnya, dia merogoh benda pipih di atas nakas. Membuka beberapa pesan yang belum terbalas termasuk pesan dari Steve.
"Hana sudah siuman, semua ingatannya telah kembali. Tapi sayang dia hanya mengingatku saat kami masih kecil. Cuman sayang dia mengalami kelumpuhan paska operasi. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa. Entah taqdir, entah aku harus meminta seseorang untuk bertanggung jawab."
__ADS_1
Deg
Setelah membaca pesan itu, pikiran Wei merasa melayang. Badannya terasa tak menapaki bumi. Dia tahu apa yang dimaksudkan Steve dengan pesan itu. Ya kalau bukan karena kecelakaan itu, mungkin Hana masih bisa berjalan seperti biasanya. Perasaan bersalahnya kini bertambah.
Wei hanya bisa diam memikirkan apa yang harus diperbuatnya esok hari. Karena yang selama ini tahu rahasia kejadian itu hanya Steve dan Wei itu sendiri. Tak bisa disangka bahwa tempat dia menyimpan rahasianya adalah kakak korban sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana rasa kecewa Steve mengetahui semuanya. Apalagi selama ini Wei begitu dingin menanggapi Hana, dan malah menyerahkan Hana pada Steve sebelum dia mengetahui bahwa dia adalah saudaranya.
Walau tak dipungkiri dia sendiri menyukai Hana. Tapi perlakuan Wei memang tidak seperti dibilang suka. Dia begitu cuek, bahkan ketika Steve berusaha untuk menasehatinya dia malah seenaknya bicara apatis. Bahkan saat dia mendekati Hana pun, itu bisa dibilang hanya untuk menyelamatkan perusahaan takut dia dilaporkan pada polisi.
Apa jadinya ketika dia harus mengambil alih tanggungjawab pada Hana. Bagaimana dengan tanggapan keluarganya? Bagaimana kalau yang lain tahu bahwa dia yang menabraknya? Bagaimana masa depan perusahaannya jika dia harus mengambil alih tanggungjawab pada Hana? Akankah ibunya setuju?
Apalagi sudah ada Riana yang inten pendekatan dengan ibunya. Laporan dari sekertarisnya, Diana kerap kali mendatangi kantor juga ibunya. Karena ada satu yang tak bisa ditolak permintaannya jika itu sudah meminta, yaitu permintaan ibunya.
Wei mengetikkan sesuatu pada pesan yang dikirimkan Steve.
"Aku akan kembali ke rumah sakit secepatnya." Untuk sementara waktu dia hanya mampu mengirimkan pesan itu.
Setelah membaca pesan itu, Wei sulit memejamkan kembali matanya.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara kamar Wei diketuk. Wei terperanjat bangun. Rupanya waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi. Tadi malam dia baru bisa memejamkan matanya menjelang subuh. Wajar saja kalau jam 7 Wei masih tertidur.
"Maaf tuan Wei, apakah anda akan berangkat ke kantor?" Reihan masuk lalu berdiri tak jauh dari ranjang Wei.
"Jadwalkan ulang untuk hari ini. Adakah meeting yang tidak bisa di tunda?" Wei menatap Reihan atas jadwalnya hari ini.
Wei mendengarkan dengan seksama satu persatu apa yang dibacakan Reihan dari tablet agendanya.
"Baik, tunggu 1jam dari sekarang. Aku akan bersiap-siap." Wei turun dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi.
Reihan pun melangkah mundur untuk menunggu di bawah sambil memeriksa beberapa file yang mesti dia siapkan untuk materi rapat dan meeting dengan klien.
Setelah rapih memakai stelan jas dengan tatanan rambutnya gaya blonde Wei turun dari lantai dua untuk sarapan. Di meja makan sudah tersedia roti dengan isi keju dan segelas susu.
Ibunya Wei seperti biasa akan menunggu di meja makan sampai Wei selesai makan jika Wei sedang ada di mansion.
"Kamu bangun kesiangan Wei?" Manik matanya memperhatikan setiap gerak-gerik putranya yang jarang sekali bangun kesiangan.
"Iya, ma." Wei menggigit roti yang sudah siap terhidang.
"Ma, sebenarnya aku ingin bicara dengan mama. Tapi.. mama janji tidak akan marah." Wei menatap ibunya yang duduk bersebrangan.
"Bicaralah!" Ibunya Wei menatap lekat sejak Wei turun dari tangga.
Wei menarik nafas panjang, lalu mengembuskan nafasnya perlahan. Untuk mengambil. ketenangan bagi dirinya memulai bicara pada ibunya.
"Mama, penasaran kenapa aku waktu ayah meninggal terlambat datang?" Wei melihat wajah ibunya dengan penuh harap, ibunya akan siap menerima berita yang selama ini disembunyikannya.
"Ya, mungkin waktu itu mama penasaran. Tapi setelah mendengar dari Sekertaris ayahmu, mama tak lagi mempertanyakan soal keterlambatan kamu datang ketika ayahmu meninggal. Memangnya apa yang terjadi?" Manik matanya fokus menatap Wei.
"Sebenarnya.. waktu itu aku menabrak orang ma." Wei akhirnya harus mengatakan hal ini untuk menyelesaikan masalah yang pernah dia buat sebelumnya.
__ADS_1
"Apa?" Berita itu membuat jantung mamanya berdetak lebih cepat. Di kaget, wajahnya berubah cemas.
"Iya, ma. Bahkan orangnya mengalami kelumpuhan." Wei berusaha sedikit demi sedikit menceritakan pada mamanya kejadian yang telah menimpanya.
"Terus? Dimana sekarang?" Dengan wajah cemas, ibunya Wei berusaha menyiapkan dirinya atas kemungkinan berita terburuknya.
"Dia di rumah sakit ma. Dan dia anaknya tuan Roy sahabat papa." Wei menundukkan pandangan.
"Maksudmu Daniel? Bukannya dia.. " ibunya Wei menghentikan bicaranya sambil mengingat-ngingat baru lama ini rasanya dia pernah mendengar nama Daniel disebut-sebut.
"Bukan ma, anaknya tuan Roy yang pernah menghilang yang pernah papa ceritakan. Daniel anak tirinya." Wei kembali menatap ibunya.
"Apa?" Dia mengangkat sebelah bibir yang atasnya dengan dahi mengkerut.
"Terus, bagaimana kamu menyembunyikan berita ini? Kamu bisa saja dituntut Wei!" Ibunya terlihat cemas sekali. Bagaiman kalau berita ini sampai tersebar. Ko bisa Wei merahasiakannya. Dan baru menceritakan padanya hari ini.
"Iya ma. Aku berusaha menutupinya dahulu waktu itu dengan menitipkannya di rumah Steve. Aku berencana kalau kondisi perusahaan sudah stabil akan membawanya berobat tanpa ada yang mengetahuinya. Tapi.. " Wei menghentikan bicaranya.
"Tapi apa?" Ibunya masih penasaran dengan kata-kata Wei.
"Steve adalah kakaknya Hana. Aku sekarang jadi bingung ma." Wei mengusap kasar wajahnya.
"Maksudmu Steve asistenmu, kakaknya Hana? Hana anaknya tuan Roy? Ko... bisa?" Ibunya Wei bertambah bingung. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mengingat apa yang dia tahu. Setahunya tuan Roy hanya mempunyai putri satu dan anak tiri satu.
"Iya ma. Istri tuan Roy sebelumnya pernah menikah dengan orang Perancis. Mama masih ingat kan Steve asistenku?"
"Iya, mama pasti ingatlah! Dia kepercayaanmu kan?
"Iya. awalnya dia juga tidak mengetahui bahwa Hana adiknya. Tapi dia baru mengetahui akhir-akhir ini ma, setelah tahu Hana mempunyai kalung pemberian ibunya yang sama-sama dimiliki Steve." Wei menjelaskan panjang lebar.
"Terus bagaimana tanggapan Steve setelah tahu dia adiknya, dan apakah dia tahu rahasia ini?" Ibunya Wei masih mencemaskan berita selanjutnya.
"Iya ma. Satu-satunya orang mengetahui rahasia ini adalah Steve. Setelah dia mengetahui bahwa Hana adiknya... " Wei kembali berhenti bicara lagi.
"Dia menuntutmu?" Ibunya menebak apa yang sedang terjadi pada anaknya sekarang.
"Ma... "
"Apakah mama mengizinkan jika aku menikahinya?"
"Apa? Oh my God!" Ibunya Wei menutup mukanya dengan dua telapak tangannya. Lalu membukanya lagi, menatap wajah putra kesayangannya yang sedang bingung. Dia mengerti betul perasaan anaknya saat ini.
"Ma, mama tahu betul. Kalau aku sampai dituntut. Aku akan berakhir di penjara. Lalu bagaimana dengan perusahaan dan keluarga kita." Wei mengungkapkan isi hatinya agar bisa dimengerti. Saat ini tak ada yang bisa dia lakukan selain mengambil alih tanggung jawab Hana.
Ibunya Wei menarik nafas panjang tidak segera memberikan jawaban.
Sementara dibalik tembok sepasang mata sedang mendengarkan apa yang baru saja dikatakan Wei pada ibunya. Dia menutup mulutnya, kaget dan tak menyangka. Dia diam seribu bahasa. Tadinya dia akan menyampaikan laporan terkait persiapan rapat. Tapi tak disangka dia harus mendengarkan berita besar ini.
"Mama... belum bisa menjawab Wei. Kamu harus memikirkan juga masa depanmu. Kamu harus punya keturunan. Mama lebih setuju kalau kamu menikah dengan Riana. Mama merasa cocok dengannya." Ibunya Wei menatap inten wajah putranya dengan penuh harap.
"Aku juga bingung ma. Mama mohon mengerti posisiku!" Wei terdiam.
"Aku harus ke kantor. Mungkin besok pagi akan pergi ke kota B untuk melihat keadaannya." Wei berdiri dari kursinya.
Reihan yang dari berdiri dibelakang tembok dekat ruang makan segera mendekati Wei. Wei terperanjat dengan kehadiran Reihan yang tak terdengar langkah sepatunya. Wei menduga, mungkin Reihan sudah sejak tadi ada di dekat sana. Wei menatap tajam pada Reihan.
__ADS_1
"Maaf tuan Wei, ini ada yang harus anda tandatangani. Dan beberapa laporan yang harus anda periksa sebelum anda rapat 1jam lagi dengan pihak marketing." Reihan menyodorkan lembaran dokumen perjanjian antara perusahaan Global Grup dengan perusahaan Hongkong untuk Fashion yang akan segera dipasarkan di pasar Hongkong.