Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Dunia baru


__ADS_3

Setelah menerima tawaran pak Gavin. Hana pergi mengikuti mereka yaitu menaiki mobilnya pak Gavin juga istrinya menuju rumahnya.


Tak berselang lama mobil yang dikendarainya sampai di depan sebuah rumah yang cukup bagus. Walau tidak mewah, rumah itu lumayan luas. Hana masih menatap asing pada rumah yang baru saja dilihatnya.


"Hayu bu Restu, kita sudah sampai!" Sapa Sari yang terdengar anggun walau dia berbicara dibalik cadarnya.


"Iya teh Sari." Hana mengikuti orang-orang yang memanggilnya 'teh Sari'.


Hana mengikuti langkah suami istri itu masuk ke rumahnya.


"Ayo bu Restu duduk dulu! Mungkin anda masih lelah karena baru sampai di kota B." Sari mempersilahkan Hana untuk duduk-duduk di ruang tamu. Sementara pak Gavin masuk ke dalam ruangan dan tak terlihat muncul kembali.


Seorang ART kemudian membawa nampan dan menjamu Hana dengan teh manis juga aneka cemilan yang sengaja di suguhkan di atas meja.


"Ayo bu Restu dicicipi!" Sari mempersilahkan Hana untuk menerima jamuannya. Setelah beberapa saat mereka mengobrol, Sari berpikir tamu dihadapannya sudah datang jauh pastinya jam segini sudah lapar juga, karena hari sudah bergeser dari siang menuju sore.


"Bu Restu, saya tinggal dulu ya sebentar! Saya mau menyiapkan makan siang untuk makan bersama. Pastinya bu Restu juga belum makan sejak kedatangan bu Restu di kota B." Sari hendak meninggalkan ruangan tamu dan berniat menjamu tamunya makan siang sekaligus menyiapkan makan untuk suaminya.


"Jangan repot-repot teh Sari, saya bisa membelinya nanti." Hana malu untuk merepotkan keluarga muda sekaligus bos barunya ini.


"Tidak bu Restu, saya tidak merasa direpotkan. Anda kan tamu, kami wajib menjamu tamu yang sedang tandang ke rumah kami." Jawab Sari dengan rendah hati.


"Saya tinggal dulu ya!" Sari berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Hana tak berani menolak. Di sana ART sudah siap menata meja seperti biasanya ketika majikannya pulang pas jam makan tiba.


"Akang sudah makan?" Sari menatap suaminya yang sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Belum."


"Akang mau makan sekarang?" Yang ditanya tidak segera menjawab. Dia seperti berpikir.


"Ade ambilkan makan untuk akang ke piring. Biar akang makan disini saja. Ade sama bu Restu makanlah bersama! Kasian sepertinya bu Restu sudah lapar. Karena dia langsung datang dari Jakarta." Pak Gavin menyuruh Sari membawa makanan untuknya dan makan terpisah. Karena makan bersama dengan bukan muhrim rasanya tidak nyaman buat pak Gavin yang sudah terbiasa menjaga jarak dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Pendidikan yang diterima oleh Gavin sejak lahir memang sangat ketat, bahkan mengenai pergaulan dengan non muhrim. Dia benar-benar menjaga pandangan dari yang bukan hak nya.


"Iya kang, sebentar ade siapkan!" Usia Sari yang terpaut 5 tahun lebih tua tidak menghalangi Gavin untuk memanggilnya 'ade' meski umur pak Gavin lebih muda. Secara umur pak Gavin memang lebih muda dari istrinya tapi secara sikap dia lebih dewasa dari umurnya. Sari pun secara batin lebih senang ketika suaminya memanggilnya 'ade'. Dengan begitu dia dianggap lebih diayomi apalagi Gavin memang orangnya lebih dewasa daripadanya.


Tak lama kemudian piring yang sudah lengkap dengan lauk pauk dan air hangat sudah Sari siapkan untuk makan siang suaminya.


"Ini kang makannya. Apakah ada yang bisa ade ambilkan lagi?" Tawar Sari pada suaminya dengan lemah lembut.


"Cukup de, ini sudah lebih dari cukup. Jazakillah khoir." Gavin menerima piring dan air yang dibawakan Sari lalu melahap makanan itu dengan tidak lupa membaca doa. Sari berlalu dari hadapan suaminya pergi ke ruang tamu.

__ADS_1


"Maaf ya bu Restu harus menunggu. Mari kita makan bu." Sari mengajak Hana untuk makan bersama di ruangan makan.


"Duh maaf ya teh Sari jadi merepotkan. Saya jadi malu." Hana benar-benar malu menerima tawaran mereka. Padahal mereka baru saja kenal, tapi mereka begitu ramah dan baik.


"Tidak apa-apa bu Restu. Menghormati tamu dan menjamu tamu itu banyak pahalanya. Jangan sungkan, yuk nanti keburu dingin makanannya!" Sari mengajak Hana untuk pergi ke ruang makan. Disan sudah terhidang beberapa lauk pauk juga sayuran. Hana yang memang sudah keroncongan begitu melihat makanan di meja seolah air liur nya akan menetes.


"Mari bu dicobain masakannya!" Sari mempersilahkan Hana untuk mencoba masakan yang sudah terhidang di meja. Sari yang sedari tadi memakai penutup cadar, menyingkapkan cadarnya ke atas. Hana yang tadinya lapar malah matanya teralihkan dengan wajah Sari yang sekarang terlihat jelas di depannya.


"Wah teh Sari cantik banget ya!" Hana tanpa sadar mengucapkan kekagumannya pada Sari.


"Laa haula walaa quwwata illa billah. Hendaknya ketika kita melihat kekaguman ucapkanlah MasyaAllah bu Restu." Bibir Sari melengkung tersenyum menatap Hana yang baru saja mengucapkan kekaguman pada kecantikan alami yang dimiliki Sari. Ya kulitnya yang putih bersih, juga memang cantik, membuat siapa saja takjub melihat kecantikan Sari.


"Oh ya.. maaf saya awam teh Sari. Bahkan untuk melafalkanya saja sepertinya saya harus belajar sama teh Sari." Hana yang masih asing mendengar kata-kata itu bicara terus terang. Baru saja bertemu dengan Sari, Hana berpikir sepertinya dia harus berguru.


"Iya, maaf bu Restu kalau nada bicara saya kurang berkenan!" Sari berusaha membuat nyaman Hana dengan meminta maaf atas kata-kata barusan.


"Oh ga pa-pa teh Sari, kayanya saya harus banyak belajar dari teh Sari deh. Karena terus terang saja walau KTP saya beragama Islam saya tidak tahu bagaimana harus bersikap dan beribadah. Saya benar-benar awam. Bahkan saya harus berpikir kembali, sebenarnya apa yang sudah saya anut selama ini." Hana baru kepikiran sekarang mengenai status agamanya yang selama ini dianutnya. Bahkan sebelum kecelakaan apakah dia benar-benar beragama Islam atau yang lainnya. Karena yang tertera di ktp memang Islam tapi dia tak pernah sekali pun berdoa atau bersikap seperti yang Sari lakukan.


Sari yang mendengarkan penuturan Hana mengernyitkan keningnya, kurang paham apa yang baru saja diucapkan Hana barusan.


"Iya mari sama-sama belajar! Saya juga masih banyak belajar bu. Nanti juga suka ada pengajian rutin bu Restu yang diadakan suami saya. Semua penghuni kontrakan yang kebetulan akhwat semua biasa rutin seminggu sekali mereka kajian bersama disini. Bu Restu nanti ikutan ya!" Wajah Sari yang ramah selalu terbuka pada siapapun. Dia tersenyum ramah mengajak Hana untuk mengikuti kajian yang rutin diadakan di rumahnya setiap satu pekan sekali. Sari mengajak Hana tanpa canggung, meski Hana tidak memakai jilbab.


"Sekarang mari kita makan! Nanti setelah makan akan saya antarkan ke kamar kost an." Hana menyiduk nasi bersama lauk pauk ke dalam piringnya.


"Iya teh." Hana mengangguk.


Hana yang baru saja bertemu dan mengagumi Sari, pandangannya sesekali melihat Sari. Apa yang dilakukan Sari begitu menarik perhatiannya. Mulai dari pakaian yang dia pakai, cara bicaranya, juga apa yang baru saja dilihatnya sebelum makan. Dia melihat Sari berdoa dengan khusyu tanpa terburu-buru langsung makan.


Anggun. Sudah cantik, baik lagi.


Hana bergumam dalam hati dan ujung ekornya sesekali mencuri pandang pada Sari selagi dia sedang menyantap makanan yang ada di piring. Karena merasa Hana sedang merperhatikannya Sari sesekali tersenyum ke arah Hana.


"Bu Restu sudah lama mengajar?" Untuk mencairkan suasana, Sari bertanya pada Hana tentang asal usul Hana. Ya ada baiknya Sari mengorek informasi tentang siapa Hana karena dia adalah orang asing yang baru saja bertemu. Walau suaminya sendiri sudah memberitahu sebelumnya tentang identitas Hana yang tertera di CV yang dilampirkan pada surat lamarannya.


"Saya dua tahun mengajar di sekolah Sma." Hana tanpa keberatan menjawab pertanyaan Sari.


"Bagaimana pengalaman mengajar anak-anak Sma bu?" Sari kembali bertanya.


Yang ditanya tak segera menjawab. Hana malah merenung memikirkan bagaimana dia harus menjawabnya. Karena ingatan masa itu tidak ada dalam memorinya.

__ADS_1


"Maaf teh... saya belum bisa menjawab pertanyaan teh Sari. Bukan karena tidak mau, tapi saya tidak mengingatnya." Mata Hana menatap polos.


"Oh." Sekarang giliran Sari yang merasa aneh. Nampak alisnya mengerut menerjemahkan isi hatinya yang sedang tak mengerti.


"Iya teh. Baru-baru ini saya mengalami kecelakaan dan kepala saya mengalami gangguan. Ingatan saya agak terganggu. Jadi saya belum bisa mengingat bagaimana rasanya saya mengajar." Terang Hana pada Sari. Karena Hana pikir saat ini dia harus berterus-terang apa yang sudah menimpanya. Dari pada berbohong atau pura-pura, malah membuat kecurigaan.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun.. " Sari terlihat bersimpati pada apa yang telah menimpa Hana.


"Lalu bagaimana dengan keluarga bu Restu?"


Hana terdiam menghentikan suapannya. Sari menatap tajam perubahan wajah Hana dengan cepat.


"Maaf, saya juga tidak mengingat siapa keluarga saya teh." Hana terlihat sedih. Bayangan beberapa waktu kebelakang tiba-tiba hadir dalam pikirannya. Sari menangkap kesedihan di raut wajah Hana. Dia tak tega untuk melanjutkan pertanyaannya.


"Sudahlah bu Restu. Anggaplah kami keluarga. Bukankah semua muslim itu bersaudara? Jauh diluar sana masih banyak orang yang bernasib di bawah kita. Bu Restu jangan bersedih ya! Disini banyak teman-teman yang baik InsyaAllah." Sari berusaha memberi dukungan pada Hana saat ini. Hana merasa terharu dengan apa yang dikatakan Sari. Padahal dia baru saja kenal. Bagi Hana, Sari begitu mempesona. Terlebih sekarang dia diperlakukan baik seolah sudah kenal lama.


"Terima kasih teh Sari. Panggil saja saya Hana jangan bu Restu." Hana lebih nyaman kalau namanya dipanggil Hana bukan Restu. Dibalik permintaannya itu, Hana berharap dengan dipanggil 'Hana' ingatannya sedikit demi sedikit akan kembali pulih.


"Wah.. kenapa saya harus memanggil Hana?" Sari agak terkejut dengan permintaan Hana. Sejenak Sari berpikir, ternyata terlalu banyak teka-teki dan kejutan dengan identitas orang yang ada di depannya.


"Saya mengingat nama saya sebenarnya Hana. Saya tidak tahu kenapa di kartu Identitas nama saya jadi Restu. Saya belum mengetahui penyebabnya teh. Sepertinya umur saya juga dibawah teh Sari. Bagaimana kalau untuk mengakrabkan, panggil nama saya saja langsung. Kecuali kalau saya sedang mengajar." Bibir Hana sedikit terangkat, tersenyum tipis sambil menatap Sari.


"Oh. Baiklah kalau begitu. Saya akan panggil Hana saja mulai sekarang." Sari tanpa protes menerima permintaan Hana begitu saja. Karakter Sari yang polos juga simple jarang ikut campur urusan orang lain jika memang tidak perlu untuk ikut campur. Sari mengajukan beberapa pertanyaan dikarenakan Hana akan bekerja di lembaga bimbel milik suaminya. Dia berhak mengenal karakter Hana lebih jauh. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkannya.


"Terimakasih teh. Eh teh kemana pak Gavin? Kenapa tidak makan bersama?" Hana penasaran kemana perginya pak Gavin setelah tadi masuk ruangan, Hana tak melihatnya lagi.


"Oh. Suami saya ada di ruang keluarga. Kang Gavin tidak makan satu meja dengan kita untuk menjaga pandangannya." Sari menjelaskan kenapa Gavin tidak bersama di ruang makan. Pikirnya Hana harus tahu biar tidak salah paham.


"Oh begitu ya teh. Apa memang gak boleh ya teh menatap perempuan?" Ini kesempatan Hana untuk bertanya kenapa pak Gavin sejak bertemu dengannya, pandangannya selalu saja menatap ke bawah tidak menatap langsung ke wajahnya. Hana yang belum tahu alasannya cukup penasaran apa yang dilakukan Gavin.


"Bukan tidak boleh. Tapi memang dalam islam menjaga pandangan kepada bukan muhrimnya itu memang harus tetap dijaga. Agar pandangan kita terjaga dari godaan syaitan yang bisa saja syahwat kita tergoda setelah melihat yang bukan muhrimnya. Kalau pada muhrimnya sih tidak apa-apa Hana." Sari menerangkan maksud tujuan dari menjaga pandangan.


"Maksud muhrim itu apa ya teh?" Hana bertambah penasaran. Banyak istilah-istilah yang Hana merasa asing dengan apa yang dikatakan Sari.


"Muhrim itu ada dua macam. Satu muhrim yang tidak boleh dinikahi tapi boleh kita memperlihatkan aurat kita dengan batasan tertentu. misalkan kita boleh tidak memakai jilbab dihadapan mereka tapi masih menutup bagian-bagian tertentu. Misalkan, ayah ibu kita, anak, cucu, kakak adik, dan beberapa yang lainnya yang sudah tertera dalam al-quran. Nanti Hana bisa baca sendiri siapa yang disebut muhrim. Yang kedua muhrim yang sudah dinikahi misalkan suami istri. Dihadapan suami istri aurat kita boleh terbuka tanpa batas. Nah dihadapan muhrim ini pandangan kita boleh langsung menatap ke wajah tidak menjadi dosa kalau kita melihatnya secara langsung." Sari menjelaskan detail pada Hana. Hana yang mendengarkan penjelasan Sari melongo tanpa kedip. Rasanya seperti sedang menerima ilmu baru yang harus disimak benar-benar fokus, takut gagal paham.


"Oh begitu ya teh? Terus kalau seperti saya kan gak pake jilbab apa pandangan saya harus seperti itu juga teh?" Hana masih penasaran.


Sari tak buru-buru menjawab. Dia harus berkata lebih hati-hati takut salah menyampaikan.

__ADS_1


"Begini Hana... mohon maaf tanpa maksud menyinggung perasaan. Menutup aurat bagi muslimah hukumnya wajib." Hana terdiam.


__ADS_2