Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Tidak ada sial


__ADS_3

Hana masih syok. Sementara Wei dibawa ke rumah sakit untuk ditangani luka-luka nya.


"Dokter Alvian, bagaimana dengan kondisi Hana?" Steve langsung mendekati dokter Alvian.


"Sepertinya Hana mengingat kejadian kecelakaan yang pernah menimpanya. Dia terus-menerus mengatakan kecelakaan itu." Dokter Alvian yang pernah menangani Hana sudah kembali bekerja di Jakarta.


"Oh begitu ya?" Steve yang mengetahui pelaku yang menabrak Hana terdiam.


"Apakah kamu mengetahui pelakunya?" Tanya Alvian penasaran.


"Mmm.. Cuman Hana sendiri yang tahu." Jawab Steve menyembunyikan identitas pelaku nya.


Apa Hana mengingat Wei?


"Sudahlah! Hana perlu waktu untuk tenang. Apalagi kecelakaan Wei tepat di depannya. Dia pasti syok berat menghadapi kenyataan orang yang dia cintai terkena kecelakaan di depan matanya." Ujar dokter Alvian menenangkan Steve yang pernah juga menjadi pasiennya.


"Iya Terima kasih dok. Apa kami bisa masuk ke ruangannya?" Tanya Steve ingin bertemu Hana.


"Sebaiknya jangan. Biarkan obat penenangnya bekerja dengan baik. Nanti kalau sudah bangun baru bisa ditemui." Jawab dokter Alvian.


"Oh iya.. ngomong-ngomong Hana sudah bisa berjalan ya?" Dokter Alvian baru mengetahui perkembangan kondisi Hana. Dia merasa senang melihat Hana bisa berjalan.


"Iya dok. Meski belum bisa lama. Katanya masih suka lelah." Ucap Steve pada dokter Alvian.


"Gak pa-pa sabar saja! Itu juga sudah perkembangan yang luar biasa. Hana memang wanita hebat." Puji dokter Alvian yang banyak tahu kondisinya waktu itu.


"Iya betul. Dia memang wanita kuat." Steve mengiyakan apa yang dikatakan dokter Alvian.


"Eh.. ngomong-ngomong katanya Wei akan menikah dengan Hana? Apa itu betul?" Dokter Alvian yang masih berteman dengan kang Gavin sering bertemu di Bandung. Kebetulan tiap week and dokter Alvian pulang ke sana untuk me jenguk ayahnya.


"Seharusnya memang begitu. Tapi.. ya.. sekali lagi Hana diuji. Wei membatalkan pernikahannya." Steve menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Batal? Kenapa bisa?" Dokter Alvian yang sejak dulu sudah dekat dengan Hana kaget mendengar berita itu.


"Ibunya tidak setuju dengan pernikahan mereka. Jadi Wei memutuskan untuk membatalkan pernikahan." Terang Steve yang terlihat kecewa.


"Sabar! Hana orang baik. Dia pasti akan mendapatkan orang baik juga." Dokter Alvian menepuk bahu Steve untuk menguatkan mentalnya menghadapi ujian kali ini.


"Terimakasih dok!" Steve tersenyum tipis. Ada rasa getir dihatinya melihat ujian yang datang pada Hana. Akankah Hana menemukan orang yang akan mencintainya dengan tulus?


Di lain tempat Wei terbaring di atas blankar dengan beberapa luka yang sudah diperban.


"Sudah mama bilang perempuan itu pembawa sial. Belum juga menikah, ada-ada saja musibah yang terjadi." Ibunya Wei menggerutu kesal melihat keadaan Wei yang tak berdaya.


"Ma.. jangan begitu. Tak ada manusia yang diciptakan pembawa sial. Kecelakaan itu murni takdir ma. Meski kita sudah hati-hati kadang orang lain yang tidak hati-hati." Sely tak mau ibunya berkata kasar. Khawatir ada orang yang mendengarnya.


"Kamu tidak mengerti Sely. Sejak kecil ibunya meninggal. Terus ayahnya, tak lama kemudian Daniel dan ibunya. Nah sekarang kakakmu kebagian sial juga. Apa namanya kalau Hana itu sila?" Mamanya tetap tak menerima saran dari Sely. Dia terus menyalahkan Hana.


"Ma.. " Wei menoleh ke arah ibunya.


"Ya Wei?" Ibunya segera mendekati Wei. Ditatapnya anaknya yang dicintainya dengan tatapan sendu dan sedih. Setelah kematian suaminya nyonya Rosa memang sangat tergantung pada Wei. Bagaimana jadinya kalau Wei meninggal? Hancur sudah harapan keluarganya, generasi penerus keluarganya.


"Menurut mama.. Hana itu benar pembawa sial. Siapapun yang dekat dengannya pasti tidak beruntung. Mama tak mau keluarga kita kebagian sialnya. Sekarang kamu harus mengerti apa yang sudah mama katakan. Makanya mama tak mau berhubungan dengan dia. Kecelakaan itu bukan salahmu, tapi memang kamu terkena sialnya.


"Ma.. tolong jangan berkata seperti itu. Mama tidak mau aku tersakiti kan? Dengan mama berkata seperti itu, itu sangat menyakiti perasaan ku ma." Ingin sekali Wei menumpahkan kesedihannya. Mendengar ibunya terus saja mengumpat Hana seperti itu, Wei merasa terluka.


Wei yang sudah mulai mencintai Hana kini dipaksa untuk berpisah. Untuk melepaskan Hana seperti itu saja dadanya terasa sesak. Ditambah ibunya terus bersikap begitu, Wei sungguh bersedih.


Wei merenung. Mungkin ini jalan Tuhan. Kalau pernikahan bersama Hana dilanjutkan, Hana akan terluka banyak. Meski dalam hati Wei tidak rela berpisah, tapi dia pun tak rela kalau hati Hana nantinya banyak tersakiti. Tuntutan keluarganya terlalu besar pada Hana.


Di rumah sakit yang sama di ruangan yang berbeda, Hana sudah terbangun dari obat penenang nya.


"Kak.. dimana aku?" Hana belum menyadari bahwa dia sekarang sedang berada di rumah sakit.

__ADS_1


"Kamu sedang di rumah sakit." Jawab Steve yang dari tadi menunggu di ruangannya. Setelah tadi bicara dengan dokter Alvian, Steve sudah diizinkan masuk ke ruangan Hana.


"Kenapa aku ada disini kak?" Netra Hana melihat pada Steve.


"Kamu tadi pingsan. Terus sama Caterina dibawa ke ruang sakit." Jawab Steve sambil. memandang adiknya yang masih linglung belum seratus persen kesadarannya kembali setelah syok.


"Caterina mana?" Hana menanyakan keberadaan adiknya itu.


"Ada. Sebentar kakak panggilkan ya!" Steve keluar dari ruangan Hana dan memberitahukan pada keluarganya bahwa Hana sudah sadar.


Mereka berempat masuk beriringan ke ruangan dimana Hana.


"Hei.. bagaimana kabar kakak?" Caterina lebih duluan menyapa pada Hana.


"Baik. Kakak baik." Jawab Hana tersenyum.


"Apa kabar nak? Apa ada yang terasa sakit?" Tuan Hana mengelus kepala Hana.


"Tidak ayah. Aku tidak sakit. Cuman agak lemas dan tak bertenaga." Terang Hana memberitahukan kondisinya.


"Itu berarti kamu harus banyak makan. Biar tenaga kamu kuat." Ucap tuan Hana menyemangati.


"Eh.. ini mama membawa makanan. Kamu mau coba sayang?" Nyonya Maria menawarkan makanan pada Hana.


Hana tersenyum lalu mengangguk.


"Baiklah biar Caterina saja yang menyuapi kakak ma." Caterina mengambil wadah yang sedang dibuka ibunya.


"Baiklah. Tapi nanti jangan lupa salah masuk mulut." Ucap nyonya Maria bercanda.


"Gak pa-pa kalau salah masuk mulut. Asal jangan salah jodoh ma." Caterina terkekeh menimpali candaan ibunya.

__ADS_1


"Mmm dasar adik kakak ini.." Steve menguyel-nguyel kerudung Caterina.


"Ih.. kakak.. jadi kusut. Ayo tanggung jawab benerin!"


__ADS_2