Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Cinta terkubur


__ADS_3

Steve begitu bahagia melihat perkembangan Hana yang sudah bisa berjalan walau hanya beberapa langkah. Itu patut disyukurinya. Sebuah anugerah yang tidak bisa dibeli dengan apapun bahkan jika harus ditukar dengan uang pun nilai sehat itu sangat berharga.


"Kakak.. kok menangis?" Hana heran melihat kedua mata Steve berkaca-kaca lalu menetes.


"Ini air mata kebahagian kakak, Hana. Kakak sangat senang melihat kamu bisa berjalan kembali.


"Terimakasih kak... selama ini kakak sudah menjaga Hana dengan baik." Ucap Hana terharu mendengar perkataan Steve yang begitu bahagia melihatnya bisa berjalan.


"Hana.. lusa ayah sama mama juga Caterina akan datang ke Jakarta." Ucap Steve sambil menyiapkan beberapa salad.


"Oh ya?" Mata Hana melebar, dia begitu senang akan kabar kedatangan keluarganya ke Jakarta.


"Mmm.. Kakak sudah memberitahu ayah mengenai tanggal pernikahan kamu. Mama dan ayah akan membantu menyiapkan segalanya Hana." Ucap Steve sambil tersenyum melihat wajah Hana yang sedang berbinar.


"Wah... aku jadi tidak sabar begini kak.. " Hana menghentikan makannya malah menopang dagu melamun


"Eh malah melamun bukannya menghabiskan makanan." Steve melihat makanan yang Hana ambil masih cukup lumayan banyak.


"He he.. aku jadi inget kang Gavin kak.. Boleh kita mengundang mereka nanti kak?" Ternyata Hana teringat sepasang suami istri yang telah menolongnya waktu itu yang nota bene adalah masih saudara sepupu muridnya.


"Boleh. Undang saja kira-kira yang mau kamu undang!" Ucap Steve.


"Tapi kak.. aku tak mau mengundang relaksi bisnis. Cukup orang-orang yang dekat dan nyaman saja sama aku. Lagian aku tak mau membuat pesta meriah. Aku pengen pernikahan ala taman saja kak. Halaman belakang cukup kan untuk acara pernikahan Hana?" Hana melihat Steve menunggu persetujuan.


"Ya tergantung.. kamu mau mengundang berapa orang. Kalau sekitar seratus sih cukup." Steve memberikan gambaran untuk kapasitas tampung halaman belakang rumahnya.


"Wah.. ngakk segitu kak... masa iya segitu banyak." Hana tak mau terlalu banyak orang yang datang ke pernikahannya. Yang penting pernikahannya khidmat bukan harus banyaknya tamu.


"Ya.. itu bukan tadi kamu bertanya kakak cuman memberitahu kamu mengenai kapasitas tampung halaman belakang." Steve sudah menghabiskan makan malamnya bersama salad.


"He he iya kak. Oh iya kak.. boleh aku meminta kakak untuk merahasiakan kemajuan kesehatan aku kak?" Tiba-tiba Hana menginginkan kemajuan kesehatannya dirahasiakan.


"Mmm.. kenapa? Bukankah itu hal yang baik?" Steve agak menerangkan kedua alisnya melihat Hana serius. Apa alasan Hana sampai harus merahasiakannya.


"Mmm.. ya mau aja kak. Aku ingin membuat suprise nantinya. Aku ingin tahu bagaimana reaksi suamiku jika aku sehat seutuhnya kak. Aku ingin menahan diri dulu untuk tidak memberitahukan kabar ini dari yang lain. Cukup kakak seorang yang tahu." Ucap Hana berbisik.


"Rara sudah tahu kamu bisa berjalan?" Steve berbisik.


"Belum kak.." Jawb Hana pelan.


"Ya sudahlah kalau keinginan kamu seperti itu kakak ikut saja. Yang penting kamu bahagia Hana." Steve berdiri mencuci tangannya.


"Kakak sudah makannya?" Hana menatap Steve.


"Ya. Kamu masih belum juga?" Steve melihat isi piring Hana masih belum juga berkurang.


"Ih... temenin aku kak." Hana merajuk manja.


"Iya.. Kakak temenin." Steve kembali duduk setelah mencuci tangannya.


"Kak.. kapan kakak mempunyai waktu luang?" Hana bertanya sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Untuk apa? Apa kamu membutuhkan kakak menemanimu?" Steve tahu kesibukan Hana ke depannya pastinya akan merepotkan dirinya.


"Mmm..aku ingin berkunjung ke makam mami dan papi kak.. Hana rindu banget." Hana tak bisa menahan rindu pada orang tuanya yang kini sudah tiada.


"Ya.. besok. kita kesana. Kakak akan mengantar kamu sambil pergi ke kantor." Steve membuka layar handphonenya sambil menemani Hana makan.


"Kak... boleh aku bertanya?" Hana melihat pada Steve yang sedang berselancar di layar handphonenya.


"Mmm... " Jawab Steve.


"Kak... kakak pernah punya pacar gak?" Pertanyaan Hana tentu saja membuat kaget Steve.


"Uhuk.. uhuk.. uhuk.


Steve terbatuk-batuk saking kagetnya.


"Nih.. minum!" Hana memberikan segelas air minum pada Steve.

__ADS_1


Glek.. glek.. Steve menelan air minum yang diberikan Hana.


"Kamu bikin kaget kakak saja!" Steve melihat Hana.


"Kak.. jawab dong!" Hana penasaran. Karena selama ini dia tak pernah melihat Steve dekat dengan siapapun.


"Gak mau. Kakak gak mau jawab." Steve langsung berdiri dan melangkah ke ruang keluarga untuk menyalakan televisi.


"Ih.. kakak... aku juga pengen tahu kakak punya pacar atau tidak?" Hana bicara agak keras agar Steve mendengarnya.


Steve hanya diam. Matanya hanya melihat layar televisi sedangkan ingatannya sedang mundur ke belakang. Mengingat masa-masa muda dahulu.


Hana segera menyudahi makannya meski belum selesai. Hana mendorong kursi rodanya otomatis menuju ruang keluarga.


"Kak.. kok kakak diam saja? Apa kakak selama ini gak laku?" Hana mencoba memancing supaya Steve menceritakan tentang dirinya. Selama ini Steve seperti tertutup.


"Ngapain kamu bertanya-tanya tentang itu Hana? Gak ada gunanya. Lagian kakak. juga gak punya pacar." Steve yang kini sudah menginjak 31tahun sudah waktunya mencari pasangan juga.


"Ya.. aku ingin saja mendengar kakak bercerita padaku. Kapan lagi kita mempunyai kedekatan? Nanti aku kan menikah, lalu dibawa suamiku. Jadi aku ingin sebelum aku meninggalkan rumah ini, kakak bisa bercerita padaku. Jangan terus-terusan kakak yang mendengar keluh kesah kakak padaku." Ucap Hana.


"Ya... aku bingung harus menceritakan apa. Sepertinya tidak ada yang penting dalam hidup aku Hana. Selain kamu, Caterina, ayah dan mama." Lagi-lagi Steve sangat tertutup untuk satu hal itu.


"Yah.. kakak... " Hana seperti kecewa.


"Aih... gitu aja langsung baperan. Sini kamu duduk!" Steve menepuk-nepuk kursi yang masih kosong di sampingnya.


Hana pun duduk di samping Steve.


"Nah.. gitu duduk manis ya!" Steve kembali melihat acara di televisi.


"Ih... kakak.. Dikira aku, kakak mau bercerita." Hana menoleh ke samping melihat wajah Steve dari dekat.


"Kakak cuman menyuruh kamu duduk! Bukan mau bercerita.. he he" Goda Steve sambil tertawa terkekeh berhasil menggoda Hana.


"Sebel ah!" Bibir Hana mengerucut.


"Ya udah... kamu tadi mau bertanya apa?" Steve pura-pura lupa.


"Aku baru tahu kamu kalau lagi manyun gitu, bikin gemeshh... " Steve mencubit pipi Hana.


"Oke.. oke.. seharusnya aku tidak bercerita padamu." Steve menyandarkan badannya ke belakang sofa duduk santai ingin memulai menceritakan kisah cintanya yang sudah lama terkubur.


"Kamu tahu, cinta pertama aku siapa?" Steve tersenyum tipis kalau mengingat hal itu. Rasanya ada geli juga malu.


"Siapa kak?" Hana menoleh pada Steve. Steve balas memandang Hana


"Ya kamu?" Steve majukan dagunya menunjukkan jawabannya pada Hana.


"Kok aku sih kak?" Hana menautkan dia alisnya. Tak percaya kenapa jawabannya bisa dirinya.


"Aku menyukai kamu sejak awal Hana. Ketika kamu selalu tersenyum manis ketika menunggu mami kita datang. Rasanya kamu adalah wanita tercantik yang aku tahu. Sejak itu aku jatuh hati sama kamu. Tapi..sayang rasa suka aku berubah jadi benci ketika aku mengetahui bahwa kamu adalah anak yang lahir dari rahim ibuku. Dari situ aku mulai tidak menyukai semua perempuan, khawatir perempuan yang aku sukai adalah saudaraku semua. Hal itu cukup lama membekas di hatiku.


"Sampai suatu saat, aku jatuh cinta lagi dengan seseorang, yaitu wanita teranggun, tercantik juga paling menarik di hatiku. Aku tidak menyangka kehadirannya mampu menggetarkan kembali hati aku yang sempat terkubur lama." Steve menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


Ya waktu melihat dia rasanya hatiku selalu berbunga-bunga, merasakan senang dan bahagia. Aku merasa jatuh cinta yang amat sangat padanya."


"Pada dasarnya di perempuan yang baik. Dia baik pada semua orang termasuk pada kakak. Tak aneh jika banyak laki-laki yang menyukainya. Terkadang kakak sangat cemburu padanya karena selalu saja ada laki-laki yang memang mendekatinya, meski dia selalu menjaga jarak.


Senyumnya selalu terlihat manis di mata kakak. Tapi kakak tak berani menyampaikan rasa suka kakak padanya karena kakak sangat malu dan tidak berani."


"Kenapa kakak malu? Apakah dia tahu kalau kakak menyukainya?" Tanya Hana penasaran. Perempuan yang bagaimana yang kakaknya sukai waktu itu.


"Mmm.. kakak malu karena dia tidak tahu kalau kakak pemeluk nasrani sedangkan dia berjilbab Hana." Steve juga aneh kenapa harus menyukai gadis itu dari sekian gadis cantik yang ada di dunia ini.


"Ohh.. jadi kakak malu kalau dia tahu siapa kakak yang sebenarnya? Terus tidak beraninya kenapa kak?" Hana mencoba menebak-nebak apa yang dimaksud tidak berani.


"Mmm... dia anak dosen kakak. Jadi kakak agak sungkan jika harus dekat dengannya."


"Terus gimana? Apa perempuan itu sama baiknya pada orang lain, lantas kakak ke ge-eran gitu?" Cerita Steve belum tuntas bahkan ini baru dimulai, tapi Hana begitu tidak sabar menunggu Steve bercerita lagi.

__ADS_1


"Ya.. kakak menyukainya dalam diam. Sampai suatu saat kakak ada tugas dari kampus untuk survei pasar dan kami satu team. Dari situ kedekatan kakak sama dia jadi inten."


"Entah karena kakak menyukainya, kakak sering memberikan perhatian lebih samapi-sampai kakak selalu antar jemput dia kalau ke kampus."


"Terus?"


"Kaya tukang parkir saja kamu. Terus.. terus." Steve sengaja menggoda Hana.


"Ya.. kan ceritanya rame. Aku jadi penasaran mendengar kelanjutannya." Ucap Hana mendengarkan Steve bercerita dengan serius.


"Ya.. dia tidak berani menolak perlakuan kakak seperti itu. Bahkan orang-orang kampus mengira kami menjalin hubungan spesial. Dari sana tak ada laki-laki yang berani mendekatinya lagi."


"Itu kakak sama dia sudah saling mengungkapkan tidak? Atau hanya sekedar jalan bareng


Soalnya Hana dengar kakak cuman diam-diam menyukainya begitupun dia tak berani menolak ajakan kakak. Berarti kalian belum sempat jadian dong?"


"Iya. Apa yang kamu katakan seratus persen bener Hana. Kakak maupun dia tak berani memulai untuk mengungkapkan saling suka atau jadian. Tapi sikap kami menunjukkan bahwa kami sedang menjalani sebuah hubungan."


"Terus bagaimana kok menggantung begitu kak? Kalian kuat juga mempunyai hubungan tanpa. status kaya begitu. Gak takut apa kalau dia ada yang mendahului mengajak jadian? Kan sayang kak?"


"Mmm... akhirnya kakak yang mulai."


"Mulai gimana kak?" Hana kembali menautkan kedua alisnya.


"Mmm kakak menciumnya Hana. Itu ciuman kakak yang pertama dan yang terakhir."


"Waduh.. kok. begitu?"


"Mmm... menurut kakak. sih normal-normal saja kan jika seorang pria mencium seorang wanita yang disukainya apalagi kita sama tahu, bahwa kita juga saling menyukai. Tapi tidak bagi dia. Dia merasa kakak sudah melecehkannya. Dia marah dan sejak hari itu dia selalu menghindari kakak."


"Kakak tidak bisa berpisah dari dia. Meski dia menghindar, kakak selalu mendekatinya bahkan kakak mengejar dia karena takut kehilangan."


"Sampai dia pun mungkin merasa lelah karena tak bisa menghindar lagi. Akhirnya dia mengajak kakak menjkah."


"Wooo... amazing... terus-terus." Hana begitu antusias mendengarkan kisah cinta kakaknya.


"Ya.. kakak. sempet bingung juga. Kakak selama ini tidak jujur dengan status agama kakak. Dia pasti akan mempermasalahkannya jika harus menikah dengan kakak."


"Lah.. terus gimana dong?" Hana penasaran dengan kelanjutannya.


"Ya kakak diajak ke rumahnya. Terus ditanya deh sama orang tuanya tentang kesiapan kakak menikah."


"Terus kakak jawab bagaimana?" Ucap Hana ingin segera tahu kelanjutannya.


"Kakak bilang siap menjkah kapanpun. Tapi kakak pun harus jujur akan keadaan kakak. Akhirnya kakak berterus-terang akan keadaan kakak. Dan akhirnya semua orang yang ada di ruangan itu spontan melibat kakak heran."


"Terus?"


"Ya bagaimana lagi. Orangtuanya langsung menolak dan menyuruh kakak menjauhi anaknya. Kakak tidak bisa menerima kenyataan bahwa kakak harus beralih kepercayaan dari apa yang selama ini kakak anut. Meski kakak juga bukan penganut yang baik, tapi kakak tetap tidak mau menerima ajakannya untuk menikah kalau syaratnya sampai harus mengubah kepercayaan kakak. Ya akhirnya kita berdua berpisah."


"Oh.. gitu ya kak? Apa dia sudah menikah?" Hana ingin tahu kelanjutan nasib perempuan itu.


"Kakak tidak tahu. Sejak perpisahan kami, kakak tidak menemukan lagi di kampus. Ketika kakak datang ke rumahnya juga rumahnya sudah kosong. Kakak tidak tahu apa yang terjadi dengan dia dan keluarganya. Sampai sekarang tidak ada kabar lagi." Steve terlihat merenggut seperti menyesali sikapnya waktu itu.


"Mmm... kalau boleh tahu, kakak masih mencintainya tidak kak?"


"Hah?" Steve malah melongo.


"Kakak masih cinta tidak sama dia?"


"Aku... tidak tahu Hana. Tapi sejak saat itu kakak tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain kamu. Sampai kakak pun malah hampir jatuh cinta sama kamu. Untung Tuhan segera menunjukkan identitas kamu. Jadi kakak... " Steve berhenti bicara tidak mau melanjutkan pembicaraannya kembali.


"Ya sudah.. kakak jangan terlalu stress... move on kak.. kakak coba deh kencan sama perempuan. Barangkali cocok kan bisa menikah. Kakak juga sudah cukup umur untuk membina keluarga." Hana menyemangati Steve.


"Mmm.. sudah malam. Kita sebaiknya istirahat Hana." Waktu menujukan jam sepuluh lebih.


"Iya kak." Steve mendorong kursi roda Hana ke kamarnya.


Steve berjalan ke kamarnya lalu membaringkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


"Ah... kenapa juga aku keingetan dia ya? Mmm gara-gara Hana sih." Steve menatap ke langit-langit.


__ADS_2