Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Persaingan


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" Hana akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Di saat jantungnya pun masih berdebar.


Perlahan-lahan Sandi mengangkat wajahnya. Wajahnya agak memerah karena perasaan yang baru saja terjadi. Sandi mengedipkan matanya beberapa kali. Bibirnya tersenyum tipis. Dia masih menahan nafasnya yang masih belum tenang.


"Aku... tak ingin laki-laki lain menyentuhmu lebih dulu. Terlepas kamu merasa terpaksa melakukannya atau... " Sandi merasa malu untuk mengatakannya.


Pandangan Hana bergerak kesana kemari. Benar-benar canggung. Tapi Hana merasa ini adalah sebuah kesalahan. Dia tak begitu nyaman bahkan dia tak bisa menggambarkan apa yang terjadi barusan. Sampai semuanya jelas, Hana tak ingin bermain-main dengan perasaannya. Anehnya dirinya selalu kecolongan dari Sandi.


"Hhhmm... begini. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk saat ini. Yang jelas informasi yang aku dapatkan sampai sekarang bahwa statusku masih wanita bersuami. Untuk mencari kebenarannya biar aku sendiri yang mencarinya. Dan.. akan masa laluku, aku hanya mengingat bahwa aku bernama Hana. Dan mengenai pekerjaanku seorang guru, aku akan mempertanggung jawabkannya. Dan satu lagi... tentang kita. Aku... butuh waktu." Hana berdiri meninggalkan Sandi.


"Hana.. tunggu aku!" Sandi mengikuti langkah Hana dengan cepat. Begitu pun dengan Hana terus melangkah tak menghiraukan panggilan Sandi.


"Hana... " Sandi menarik tangan Hana dari belakang melihat Hana sikap Hana yang sedang galau.


Hana membalikan badan. Sorot matanya terpancar kekesalan.


Sandi mengalah. "Baik! Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap. Tapi biarkan aku untuk menjagamu. Aku janji kita akan jaga jarak. Tapi aku tak akan membiarkan laki-laki mana pun menyentuhmu sedikit pun. Jadi aku akan ikut tinggal bersamamu di rumah Steve." Sandi tetap bersikukuh dengan sikapnya pada Hana.


"Hah?" Hana melebarkan matanya, masih heran dengan sikap Sandi yang begitu keras kepala.


"Ayo turun!" Sandi melepaskan tangannya.


Hana terlihat masih melongo. Ini benar-benar di luar dugaan. Dia sama keras kepalanya. Hana tak bisa berkata apa-apa lagi, selain mengalah.


Hari sudah beranjak malam. Sandi memutuskan untuk mengantarkan Hana sambil berpamitan pada ibunya.


"Mih aku berangkat dulu ya!" Sandi berpamitan menciumi pipi ibunya, di samping kanannya sudah ada tas travel bag dan ransel miliknya.


Ibunya Sandi hanya menganggukkan kepalanya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Hatinya belum bisa menerima kalau Sandi akan pergi tinggal di rumah Steve. Tapi bagaimana lagi, kalau dilarang malah Sandi akan menjauh. Sedangkan ibunya Sandi hanya punya Sandi satu-satunya sebagai keluarga.


Ibunya Sandi anak tunggal sedangkan kedua orangtuanya sudah meninggal.


Sandi tahu ibunya tak ingin ditinggalkannya. Selama ini dia selalu kesepian. Ayahnya Sandi yang sudah jadi pejabat sibuk dengan urusan pemerintah, belum bisnis usahanya di bidang batubara pun sangat menyita waktunya. Ayah Sandi jarang ada di rumah. Kalau pun ada bisa dihitung jari dalam satu bulan. Sandi tak kuasa melihat ibunya sendirian.


Waktu masa mudanya lebih banyak dihabiskan dengan menemani ibunya. Makanya Sandi selama ini sering bikin ulah semata-mata dia hanya ingin bermain dengan teman-temannya.


"Mih... aku akan pulang ko tiap hari buat nemenin mamih makan." Sandi menatap manik mata ibunya kian berkaca-kaca. Sandi memeluk erat lalu melepaskannya, tak mau ibunya terlarut sedih.


"He'em" Lagi-lagi ibunya berkata pendek.


"Tante... saya pulang dulu!" Hana berpamitan sambil memeluk ibunya Sandi. Ibunya Sandi membalasnya dengan pelukan erat cukup lama.


"Baik-baik ya sayang!" Ibunya Sandi melepaskan pelukannya. Ibunya Sandi merasa Hana seperti anaknya sendiri. Apalagi kalau Sandi ditakdirkan bersamanya Hana mungkin akan menjadi menantunya.


Hana mengangguk.


Ibunya mengantarkan mereka sampai mobil berlalu ke luar rumah. Ada perasaan yang sepi menyelinap. Tapi dia harus siap. Suatu hari pasti masanya akan datang. Jika Sandi sudah ada jodohnya, dia akan meninggalkannya juga dan menjalani keluarga seperti layaknya yang lain


Mobil yang dikendarai Sandi sampai sudah di garasi depan rumah Steve. Mereka turun bersama memasuki rumah itu.


Dan di dalam, Steve sedang menunggu kedatangan Hana. Ketika terdengar suara mobil datang di garasi rumahnya, Steve melangkahkan kakinya ke halaman luar.


"Hana.. akhirnya kau pulang?" Steve menyambutnya di depan halaman depan. Hatinya sangat gembira melihat kedatangan Hana. Bagi Steve, Hana sudah seperti bagian dari hidupnya. Dia sudah merasa nyaman dekat dengannya.


"Iya." Suara Hana agak lemas. Dia tahu sebentar lagi akan diberondong pertanyaan Steve. Dia mudah merasa lelah. Pikirannya seakan belum siap menampung masalah berat.


"Lah.. kenapa bocah ini ada disini Hana?" Mata Steve agak melotot alisnya terangkat, melihat Sandi dengan membawa tas dorong.


"Mulai sekarang aku akan tinggal disini, keberatan?" Sandi tanpa takut menjawab pertanyaan Steve.


"Isss.. kau!" Ujung bibir Steve terangkat. Dia menilai bocah ingusan di depannya benar-benar mengesalkannya.


"Sudahlah Steve!" Hana melenggang ke dalam. Dia tak ingin mendengar pertengkaran dua laki-laki itu di depannya.


"Hana tunggu!" Steve mengikutinya dari belakang diikuti langkah Sandi.


"Aku ingin istirahat dulu!" Hana berhenti sejenak di depan pintu kamarnya. Memberitahukan pada Steve.


"Oh iya." Steve tak berani bicara lagi. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Padahal ada yang masih ingin dibicarakannya dengan Hana.


"Kamarmu dimana?" Sandi dengan tenangnya duduk di sofa.


"Kenapa?" Steve meninggikan suaranya.


"Ya sudah... kalau kau tak mau, aku tidur bersama Hana." Sandi mengangkat kakinya ke meja. Dan dengan perasaan angkuh menatap tajam ke arah Steve.

__ADS_1


"Isss... menyebalkan. Tuh disana!" Steve mengarahkannya dengan menggerakkan kepala.


"Baik... Aku butuh istirahat juga!" Sandi berdiri membawa tas bawaannya. Lalu sejenak berdiri disebelah Steve.


"Aku tak biasa tidur bersama laki-laki satu ranjang." Sandi berbisik di telinga Steve. Seolah sedang memprovokasinya.


"Hei.... " Wajah Steve berubah jadi garang.


Sandi melenggang dengan senyumnya yang puas. Dia senang sekali menggoda siapa saja, apalagi musuh. Kali ini dia akan membuat rencana. Ya.. diamnya adalah geraknya. Dalam diam ada sejuta rahasia.


Sandi langsung masuk ke kamar Steve dan berbaring di ranjangnya.


"Ah... aku akan bersabar disini untukmu" Dia berkata dalam hatinya. Tak lama kemudian Sandi merasa mengantuk lalu tertidur.


###


Steve masih di ruangan keluarga. Dia berjalan mondar-mandir. Raut wajahnya terlihat kusut. Tak habis pikir kenapa hidupnya jadi runyam begini. Sejak Wei menyerahkan Hana padanya, dia mengira hidupnya akan damai-damai saja. Tapi tak disangka. Semuanya bakal seperti ini.


Dia mengeluarkan handphone dan menekan salah satu nomor.


"Wei.. "


"Ya. Ada apa?"


"Mulai malam ini... aku akan tidur di apartemen mu."


"Apa? Lalu Hana?"


"Aku pusing! Hana membawa bocah ingusan itu. Aku gak tahan dengan gayanya yang belagu."


"Apa?" Diseberang sana Wei merasa terprovokasi.


"Iya. Hana baru saja pulang membawa anak itu. Dia membawa tas dan berniat tinggal disini. Kenapa jadi begini Wei?" Steve benar-benar bingung.


"Sudahlah... kau jangan kemana-mana! Tinggal di rumahmu dan jangan biarkan anak itu macam-macam pada Hana!"


"Wei... ini gak main-main! Kamu... ah! Apa kamu gak bisa jujur aja Wei? Biar urusan ini gak panjang. Aku lebih baik mengerjakan pekerjaan kantor daripada ngurusin yang satu ini. Bikin kepalaku pusing!"


"Aku bilang.. kau tetap disitu, mengerti!" Wei sepertinya agak marah. Belum pernah dia bicara seperti itu sebelumnya.


Di seberang sana Wei masih berbicara dengan sedikit meninggikan volume suaranya memanggil-manggil nama Steve.


"Sial! Dia berani mematikan teleponnya." Sekarang giliran Wei mondar-mandir di depan meja kerjanya. Dia bingung harus mengambil sikap. Apakah dia harus berterus terang sekarang pada Steve apa yang sebenarnya sedang dia perjuangkan.


Ah...sekarang bukan waktu yang tepat.


###


Steve masuk ke kamarnya. Dia hendak membawa selimut dan bantal cadangan di lemari. Tapi suara lemari membangunkan Sandi yang sudah terlelap lebih dahulu.


"Kau mau kemana?" Sandi bangun dan menyandarkan badannya. Matanya masih sipit dan tangannya asik mengucek memperjelas pandangan.


"Kemana saja aku ingin. Toh ini bukan urusanmu! Ini rumahku! Steve ketus.


"Hei... bercanda! Jangan kau anggap serius! Sudah tidur saja disini!" Sandi mengajak Steve untuk tidur bersamanya.


"Hei siapa kamu? Berani-beraninya mengatur hidup gue!" Steve marah.


"Baiklah... aku akan pindah ke kamar Hana." Sandi bangkit dari kasur.


"Eh awas ya!" Steve langsung mendekati Sandi.


"Kenapa kau keberatan jika aku tidur dengan Hana? Sebelumnya aku juga pernah tidur dengannya." Sandi berbohong. Selama ini dia hanya tidur di rumah susunnya jika kemalaman karena ditangkap polisi. Sama sekali tidak tidur bersama. Sandi hanya menggertak saja.


"Baik. Aku akan tidur disini! Jangan salahkan jika kamu terjatuh atau... " Steve menghentikan bicaranya. Dia tahu betul kebiasaan tidurnya yang biasa menendang kesana- kemari.


"Tidak. Aku tidak akan menyalahkanmu. Yang ada akan menidurimu." Lagi-lagi Sandi menggoda Steve.


"Isss.. dasar mesum!" Steve bergerak ke ranjang dan mengambil selimut yang dipegang Sandi. Dia memiringkan tubuhnya ke arah berlawanan.


Sandi membaca pikiran Steve. Sebenarnya dia tak enak hati menggodanya terus menerus. Dia ingin berdamai.


"Aku akan tidur si sofa saja. Kau tidur disini!" Sandi segera melompat dari atas kasur. Lalu melangkah mendekati sofa yang ada di kamar itu. Sandi segera menarik selimut berbaring dan meneruskan tidurnya.


Steve menatap Sandi. Tak habis pikir dengan bocah ingusan itu. Dia mengingat-ingat perkataannya yang tadi.

__ADS_1


"Benarkah Hana pacaran sama bocah itu? Kalau iya... ya ampun! Apa saja yang telah dilakukannya?" Steve segera mendekap guling yang ada di depannya lalu berbaring. Matanya sulit di pejamkan. Memikirkan sesuatu yang di luar nalarnya.


###


Sinar matahari terbit sudah masuk ke balik celah tirai-tirai, menghangatkan seisi rumah.


Hana sudah merapihkan diri setelah tadi mandi terlebih dahulu. Dia berjalan ke area dapur. Beberapa pelayan sudah memulai aktivitasnya sebelum para majikannya terbangun.


"Ada yang bisa ku bantu?" Hana mendekati nyonya Kim yang sedang mempersiapkan beberapa piring.


"Duduklah! Biar saya siapkan teh hangat untuk anda."


"Steve belum bangun?" Hana mengedarkan pandangan.


"Sebentar lagi mungkin. Karena ini hari senin, biasanya tuan Steve berangkat lebih awal."


"Oh kebetulan!" Hana mengangguk.


"Anda sudah rapih, ada rencana keluar di pagi hari?" Nyonya Kim menghentikan aktivitasnya sejenak. Memperhatikan Hana yang sudah berpakaian rapih seperti bersiap-siap untuk pergi.


"Ya aku akan keluar. Sekalian nanti sarapan pagi, aku akan meminta izin pada Steve." Hana bicara santai sambil menyeruput teh hangat yang tadi disodorkan nyonya Kim.


Nyonya Kim melanjutkan pekerjaannya lagi. Menata meja dan menyiapkan beberapa roti yang sudah dipanggang.


Di tempat lain terlihat Steve sudah mengancingkan baju kemejanya dan menata rambutnya di cermin. Karena ini hari Senin biasanya dia berangkat lebih awal dari hari- hari biasanya.


Sesekali dia melirik Sandi yang masih tertidur di sofa. Steve menarik nafas lalu menghembuskan nya dengan kasar, "Dasar anak mamih, jam segini masih aja bermimpi!"


"Hei, jangan mengumpat orang yang lagi tidur! Aku hanya tak ingin menggangu sarapanmu." Sandi menjawab umpatan Steve. Sedari tadi dia memang sudah bangun. Tapi ada sesuatu yang direncanakannya. Dia menunggu Steve terlebih dahulu menyelesaikan urusannya.


"Hhmmm... " Steve melangkah ke luar kamar. Rasanya melayani omongan Sandi membuat moodnya menjadi buruk.


"Pagi Hana.. Sudah sarapan?" Steve menarik kursi lalu duduk di samping Hana. Sekilas matanya memperhatikan penampilan Hana.


"Baru, mau. Lagi menunggu kalian siap. Sandi mana?" Hana menoleh ke belakang.


"Bocah manja!" Steve mendengus kesal.


"Eh Hana.. apa kamu mengenal dia dengan baik? atau mungkin kalian... " Steve berhenti bicara tak melanjutkannya. Takut salah paham.


"Ya aku sedikit mengingatnya. Oh iya Steve... Aku berencana berangkat ke sekolah lagi. Aku sudah hampir dua bulan absen tanpa kabar. Aku akan menyelesaikan tugas dan kewajibanku sebagai guru, yang mungkin terabaikan."


"Oh begitu? Tapi kalau hari ini aku tak bisa mengantarkanmu. Mungkin kalau besok lusa aku bisa izin." Steve memberitahukan Hana.


"Tak apa. Aku akan minta Sandi mengantarkan. Aku juga akan meminta bantuannya untuk mengumpulkan beberapa data yang masih belum bisa kuingat."


"Tapi... apa dia bisa dipercaya?" Steve menoleh ke sebelah Hana.


"Kenapa pagi-pagi sudah bergosip?" Sandi muncul sudah dengan penampilan rapih.


Hana dan Steve cukup kaget dibuatnya. Keduanya terdiam.


"Kenapa berhenti?" Sandi menarik kursi dan duduk bersebrangan. Menatap Hana dan Steve silih berganti.


"Hana aku pergi dulu!" Steve berdiri hendak meninggalkan ruang makan.


"Kenapa gak sarapan dulu?" Hana menoleh ke belakang. Terlihat Steve mengabaikan roti yang sudah dihidangkan juga susunya.


"Hilang selera." Steve melenggang tanpa menghiraukan Hana.


"Apa perlu kuantarkan?" Sandi berteriak dibarengi senyum puas telah menggodanya.


"Sandi... " Hana melotot.


"He he maaf... "


"Jaga sikap!"


"Baik.. " Bibirnya manyun. Sandi mengunyah roti dan sesekali menenggak susu.


Raut wajah Hana sedikit tak ramah. Melihat sikap Sandi yang begitu kekanak-kanakan.


Sandi menyodorkan tablet ke depan Hana. Dia mengamati Hana yang masih cemberut.


"Disitu sudah ada beberapa data. Sebelum aku mengantarmu. Baca teliti!"

__ADS_1


__ADS_2