
"Kagak usah kaget gitu juga kali? Tuh mata loncat kalau lu kagetan gitu!" Raffa mengamati beberapa temannya yang baru dapat kabar bahwa bu Restu gak bakal ikut perpisahan.
"Beneran lu Raff? Bu restu kagak bisa hadir?" David sebagai ketua panitia malah telat info.
"Kalau gak percaya tanya aja sama bu Emilia! Sudahlah elu pada... jangan pada bersedih! Judulnya juga perpisahan bukan pertemuan. Jadi ya wajar aja kalau ada yang duluan mau pisah." Dengan santai Raffa mengulum permen lolipop kesukaannya.
"Ya elah... gue jadi gak semangat gini... padahal gue udah nyiapin puisi buat bu Restu.. jadi gue pusinya buat siapa donk kalau orang nya kagak ada?" David tertunduk sedih. Beberapa teman-temannyanya pun terlihat berbisik-bisik mungkin sama halnya dengan David, mereka kecewa sekaligus bersedih.
"Udah lu bikin puisi baru aja buat gue! Jadi lu kagak menyia-nyiakan bakat lu yang hallu itu!" Raffa menyeringai menggoda David yang lagi BT.
"Ini kawan sama lawan sama aja gendengnya. Emang lu punya jasa apa sama gue?" David memajukan bibirnya, manyun.
"Eh.. lu pada suka gak inget ya!Jasa gue sama lu banyak sekali. Eh David... coba lu inget-inget siapa yang mempopulerkan nama elu ke seantero SMA kita, kalau bukan gue?" Raffa melingkarkan tangannya ke bahu David dengan santai.
"Ya itu mah bukan jasa, itu mah pembulian namanya." David menoleh ke Raffa, menolak argumentasinya Raffa.
"Ya.. elu.. sampe zaman gini aja, elu kagak ngarti mana buli mana jasa. Heran gue mah sama elu. Pantesan otak elu kagak ningkat-ningkat level. Susah ngomong sama elu mah. Bawaannya snewen aja!" Raffa melepaskan tangannya mengeluarkan permen lolipop nya dari mulut. Dia menatap ke depan. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, Raffa pun sebenarnya sedang bersedih. Ya bagaimana tidak bersedih, dua tahun kebersamaan dengan bu Restu banyak kisah yang dilaluinya bersama. Apalagi gengnya paling banyak merepotkan bu Restu.
Beberapa teman-temannya tertawa lepas mendengar celotehan Raffa yang suka melawak. Sedikit banyak menghibur rasa kecewa beberapa teman-temannya.
"Raff... beneran bu Restu kagak bisa datang besok?" David mengulang kembali pertanyaan, sambil menatap wajah Rafa. Sepertinya dia berharap berita yang dibawa Raffa itu tidak benar.
"Ya.. Siap-siap aja elu bawa tisu yang banyak. Kalau elu lihat bu Restu datang, elu bisa nangis juga kan? Kalau kagak datang elu bisa mewek sepuasnya... ha ha.. "
Semua kembali tertawa mendengar jawaban Raffa.
"Ya elah elu ditanya serius bawaannya ngocol bae." David kembali mengedepankan bibirnya manyun.
"Gue serius David!" Raffa memukulkan permen lolipopnya ke kepala David.
"Aww.. Elu.. gimana, sakit tau!" David mengusap kepalanya yang terkena permen lolipopnya Raffa.
"Gini aja, daripada elu baperan.. mending elu bikin planing buat acara besok yang paling berkesan dan paling gak bisa dilupain. Gimana?" Raffa menatap bola mata David menyakinkan temannya yang super kepop biar tidak putus asa.
"Lah elu punya ide?" David membalas tatapan Rafa.
"Ngapain gue jauh-jauh dari gubuk datengin lu pada... kalau gue kagak ada ide. Jangan sia-sia kan langkahku menuju kesini donk!" Raffa menepuk dada sambil membusungkan dada.
"Sombong amaaattt.. " Teman-temannya menyoraki Raffa. Yang disoraki malah cengengehan tertawa.
"Bocoran donk!" David mendekatkan wajahnya ke Rafa.
"Lah kumat penyakit lu Dav. Sini gue bisikin!"
"Jangan jail lu yah! David takut Raffa menjahilinya.
"Serius, gue gak jail. Lu mau tau apa mau tau banget? Penawaran gue gak bisa diulang." Raffa serius bicara sama David.
"Oke! Lu mau bisik apa?" David mendekatkan telinganya ke mulut Raffa.
Raffa berbisik ke telinga David. Teman-temannya jadi ikut-ikutan penasaran dengan idenya Raffa. Mereka semua menajamkan telinga merapat ke Raffa.
Terlihat sesekali David menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang baru dibisikkan ke telinganya. Namun sayang beberapa temannya yang merapatkan badan harus menelan kecewa, karena tak bisa mendengar dengan jelas apa yang direncanakan Raffa.
"Dasar kepooo lu semua!!!" David mengatai mereka teman-temannya yang tadi mencuri-curi dengar pembicaraan antara David dan Raffa.
"Lah... kan elu raja kepoo!!" Semua menyoraki David. Mereka kembali mengatakan kepo pada David.
"Cukup gue aja yang kepo kawan-kawan! Jangan ikuti langkah gue yang sesat! Atau kalian semua terkutuk jadi pangeran kodok!" David mengutuk teman-temannyanya.
"Huhhhhh!" Mereka melengos dan kembali mengerjakan tugas masing-masing.
David dan Raffa tertawa lepas. Mereka mencoba berbahagia di saat hari-hari terakhir mereka dalam kebersamaan.
"Jadi semua sudah siap Raff?" David memastikan rencana Rafa sudah matang.
"Sudah dong! Ntar malem tenda-tenda udah terpasang. Gue sudah minta izin sekolah juga buat ngadain penjamuan buat anak yatim. Semua hadiah sudah dibeliin Vania. Juga kado buat semua guru sudah disiapin. End jika lu mau pada ngasih pribadi silahkan aja. Gue ingin acara perpisahan angkatan kita berbeda dengan yang laen. Lu setuju kan? Raffa menoleh melihat David.
"Gue mah setuju banget! Wah gue gak nyangka eung... acara ini bisa bermartabat. uhuk.. uhuk.." David pura-pura menangis.
__ADS_1
"Simpan air mata buaya elu buat nanti. Takutnya sumur se Jakarta pada kering bisa nyedot dari ingus lu!" Rafa kembali tertawa menggoda David.
"Emang gue apa? Sumur artesis? Ha ha ha.. " Keduanya tertawa kembali.
"Ya udah gue caww dulu. Nanti kabarin gue kalau ada apa-apa ya!" Rafga berpamitan meninggalkan semua temannya yang sedang asik mengerjakan tugas buat suprise perpisahan besok.
"Ya met ketemu besok!" David tos dengan Raffa mengakhiri perjumpaan mereka.
Rafa melajukan motor menuju rumah Sandi. Dan 20 Menit kemudian motornya sampai di depan gerbang rumah Sandi. Pintu gak lama kemudian terbuka setelah melewati pos pengamanan.
"Selamat siang tante" sapa Raffa pada ibunya Sandi ketika masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan ibunya Sandi ada di ruang tengah menuju lantai dua, dia sedang menata bunga di vas.
"Siang Raffa! Apa kabar?" Balas ibunya Sandi dengan senyuman ramah.
"Sandi nya ada tante?" Raffa duduk terlebih dahulu di depan ibunya Sandi untuk berbasa-basi sambil menanyakan keberadaan Sandi.
"Ada di atas sama Vania. Naiklah! Mungkin sudah ditunggu Sandi." jawab ibunya sambil asik memotong batang-batang bunga yang akan ditata di vas bunga.
"Baik tante, saya permisi dulu ya tante!" Rafa berdiri dari kursi lalu melangkah menuju tangga lantai dua.
Tok.. tok.. tok
Pintu ruangan kerja Sandi diketuk Raffa.
"Masuk! jawab Sandi dari dalam ruangan kerjanya.
Setelah mendapatkan izin Raffa masuk. Biasanya Raffa tak begitu formal jika memasuki rumah Sandi. Tapi begitu melihat dua bodyguard siap siaga di depan pintu ruangan Sandi, terpaksa dia mengetuk pintu supaya tidak mendapatkan peringatan.
"Apa kabar bro?" Raffa tos tangan pada Sandi yang sedang duduk di kursi kerjanya ditemani Vania. Lalu duduk di kursi samping Vania.
"Ya beginilah... gue dikurung sementara sebelum keberangkatan ke Ausi."
"Wah serius elu dikurung?" Raffa melirik ke arah pintu sambil berbicara pelan. Takut para bodyguardnya mendengar.
"Gak usah takut! Mereka hanya mengawasi gue aja ko! Elu gak usah takut sama mereka."
"He he tapi serem juga sih liat nya!" Raffa mengangkat ujung sudut bibirnya. tersenyum tipis.
"Berhenti memutar! Gue pusing lihat elu memutar kursi dari tadi!" Bentak Vania yang mencoba bersabar, semenjak tadi melihat Sandi gak bisa diam di kursinya.
"Iya deh! Sorry!" Sandi mengangkat kakinya ke atas meja. Entahlah pergerakan tubuhnya sekan tidak bisa diam, seolah menterjemahkan kegelisahan.
"Terus gimana kabar persiapan perpisahan di sekolah Raf?" Sandi penasaran dengan semua kegiatan persiapan teman-temannya di sekolah menjelang acara perpisahan.
"Semuanya insyaallah beres. David sudah tangani semua. Terus masalah penjamuan anak yatim juga sudah fix. Gak ada masalah. Kamu Vania gimana sudah beres nyiapin hadiah?" Rafa melirik ke samping memastikan tugas Vania.
Vania hanya membulatkan ibu jari dan telunjuk nya tanda semuanya sudah oke.
"San kapan lu pergi ke Ausi? Ya kemungkinan lusa deh." Bola mata Sandi melirik ke Rafa sdangkan kepalanya bersandar santai ke kursi empuk kerjanya.
"Elu kapan ujiannya?" Rafa agak penasaran dengan kelulusan Sandi yang tak mengikuti ujian nasional.
"Gue gak tahu apa-apa Raf, bokap gue yang urusin. Jadi gue tinggal duduk manis aja masuk kuliah di sana."
"Wah kayanya bakal rame khasanah perkuliahan di sana ada lu San!" Mulai Rafa menggoda Sandi.
"Rame lah... memangnya pasar!"
"Eh San.. " Rafa mendekatkan wajahnya ke arah Sandi.
"He'em." Sandi membalas dengan menatap Rafa.
"Elu tau bu Restu resain?"
"He'em"
"Ko elu damai-damai saja?" Tatapan melongo Rafa tertangkap Sandi. Sandi memiliki bola mata Rafa yang sedang penasaran.
"Ah.. elu.. gue bukannya damai. Hati gue ini perlu dikompres.. lagian siapa yang bisa keluar rumah, handphone aja gue gak pegang."
__ADS_1
"Sebegitunya lu.. dibatasi bokap lu?"
"Semuanya terekam."
"Ya.. jadi elu gak bisa perpisahan dong sama bu Restu?"
"Emang kapan gue menyatu sama dia? kompetitornya banyak bro! Orang dewasa lagi! Bokap gue gak setuju hubungan gue sama dia. Katanya gak bakal seimbang! Jadi gue disuruh hijrah ke Ausi!" Sandi memegang keningnya. Rupanya kepentingan memikirkan bucinnya terlampau overload.
"Serius lu pindahan ke Ausi San?" Vania kaget suaranya naik beberapa oktaf. Dia menegakkan badan serius menanggapi perkataan Sandi.
"Iya, gue bukan hanya kuliah disana, bokap sama nyokap gue pindahan juga kesana. Tahun depan bokap gue sudah mau off, dia gak mau lanjut jadi abdi negara ceritanya. Dia mau fokus sama bisnis batubaranya, sebelum gue lulus kuliah dan mindahin tugas ke gue." Kepala Sandi semakin nyut-nyutan.
"Ya... " Rafa sama Vania bersamaan menghela nafas. Sepertinya kedua sobatnya itu agak berat harus berpisah dengan dedengkot gengnya.
"Elu gak usah patah hati gitu, lu berdua bisa kapan-kapan ke Ausi sambil liburan." Sandi melihat mereka silih berganti.
"Tetep aja berbeda bro rasanya!" Rafa agak tak semangat.
"Jangan begitu! Mungkin setelah elu pada... punya dunia mahasiswa elu pada nemuin lagi temen baru yang lebih mengasyikkan. Gue tinggal kenangan buat elu berdua." Sandi menurunkan kakinya yang dari tadi selonjoran ke atas meja.
"Ah.." Mereka berdua merangkul Sandi bersamaan. Melepaskan rasa yang gak lama lagi akan berpisah.
" Ya elah.. kaya ditinggal emak nya saja!" Sandi melepaskan dekapan kedua sobatnya itu. Lalu dia teringat hadiah yang sudah dia persiapkan buat dua sobatnya dalam laci. Dia menggeser kursinya mendekati laci. Dia menarik handle laci dan mengeluarkan dua buah kotak.
Tek
Ada benda yang jatuh kebawah kursinya. Tanpa sengaja Rafa bersama Vania berbarengan menggeser kursi, tujuannya akan membantu Sandi membawakan benda yang jatuh. Tapi malangnya salah satu roda kursi malah melindas benda itu.
"Waduh!" Rafa dan Vania saling menatap agak kaget telah merusak benda itu.
"Yah.. kalian!" Wajah Sandi terlihat menekuk. Kecewa melihat benda itu hancur.
Sandi memungut benda itu, yang sudah retak tak beraturan. Dan tak sengaja terburai karena sudah rapuh.
"Sorii... " Keduanya kompak meminta maaf.
"Ah apa ini?" Ada potongan kertas di dalam pulpen yang sudah hancur retak.
Sandi mencabut kertas itu lalu menariknya agar bisa membaca tulisan yang ada di gulungan kertas kecil itu. Lalu melebarkannya di atas meja.
ketiga orang itu menatap inten tulisan yang ada dalam kertas itu.
"Coba buka email ini, dengan pasword bla.. bla.. "
Vania dan Rafa menatap Sandi dengan tajam. Dari sorot matanya sepertinya mereka sedang mengintimidasi Sandi.
"Gue juga gak tau!" Sandi menghempaskan badannya ke kursi kerjanya. Matanya menyipit sedang memikirkan sesuatu.
"Raf.. gue minta hotspot dong!" Sandi menemukan ide.
"Lah emang sambungan internet lu diputus?" Rafa sedikit berbisik.
"Sstt.. cepetan, keburu mereka tau!" Sandi berbisik dalam hatinya dia deg-deg an. Kalau ketahuan bisa-bisa ketemu orang pun bisa dilarang.
"Iya, nih gue udah hotspot!"
Sandi segera membuka laptopnya dan memulai mengakses email yang tadi ada di kertas. Tiga pasang menatap ke layar komputernya. Mereka membaca dengan seksama isi email itu. Pikiran mereka masing-masing sedang berjalan mengamati isi dari email itu.
"San.. ininko kaya data kesehatan gitu ya.. banyak istilah-istilah kedokteran." Mata Vania tertuju ke Sandi.
"Sst... selesein dulu sampai tuntas." Sandi kembali berbisik.
Lembaran-lembaran kini dibuka dan dibaca dengan teliti. Tiga pasang mata sedang menganalisa maksud tujuan si pemberi alamat email. Dan akhirnya mereka tercengang. Dada mereka sedikit agak takut. Ada was-was yang menyelimuti pikiran ketiga orang yang sama-sama sudah membaca isi email.
"San.. ko horor gini!" Rafa berkata lirih.
"Kaya petunjuk ya San!" Vania menimpali.
"Van, gue kirim lagi ke alamat email kamu ya?" Terbersit ide untuk menyelamatkan isi email itu ke Vania. Sandi merasa aman kalau data itu bersama Vania. Selain bapaknya pejabat polisi. Vania ada rencana melanjutkan kuliah ke sana juga.
__ADS_1
"He'em" Vania tak berani menolak ide Sandi .