
Sepanjang hari Steve hanya melamun. Beberapa pekerjaannya jadi terbengkalai. Bagaimana caranya dia menyampaikan berita ini pada Hana?
Wei sendiri tak mampu menemui Hana. Karena jika dia langsung mengatakannya, pastilah Hana tidak siap.
"Ya.. aku terpaksa mengambil keputusan pahit ini. Tak akan kubiarkan Hana cinta buta. Masih banyak laki-laki yang baik di dunia ini bukan hanya Wei. Dia harus menerima kenyataannya agar dia bisa menentukan arah hidupnya ke depan.
Steve pulang ke rumah. Lebih cepat lebih baik.
Karena persiapan pernikahan telah mereka susun. Jangan sampai terlambat untuk menyampaikan pada Hana.
Tak lama kemudian Steve sampai di depan rumahnya.
"Steve.. tumben masih siang kamu pulang nak?" Tuan Hans yang sedang menikmati kue buatannya dengan istri agak heran Steve sudah tiba di rumah.
"Ada hal penting yang harus aku sampaikan yah." Steve ikut duduk di kursi santai belakang rumah.
"Mmm... tentang apa?" Tuan Hans mengubah cara duduknya. Dia menegakkan tubuhnya dan melihat serius ke arah Steve.
"Pernikahan Hana yah." Raut wajah Steve terlihat serius. Pastinya ada hal yang serius mengenai pernikahan Hana.
"Coba katakan pada ayah nak! Ada apa?" Tuan Hans siap mendengarkan curhatan anaknya, Steve.
"Apa aku harus menunggu Hana? Hana dan Caterina kemana yah?" Steve tak melihat kedua adiknya.
"Mereka sedang ke salon. Lagi perawatan." Jawab ibunya Caterina.
"Apakah ini penting sekali Steve?" Tanya tuan Hans.
"Sangat penting yah."
"Ceritakanlah! Nanti mungkin ayah bisa bantu." Terang tuan Hans meyakinkan Steve.
"Baiklah yah. Tadi aku bertemu dengan Wei." Steve menghela nafas.
"Wei.. memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Hana ayah." Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari bibir Steve. Berat rasanya harus memendam amanah ini.
"Apa???" Tuan Hans dan istrinya langsung kaget mendengar kabar dari Steve. Itu seperti petir di siang bolong. Apa yang dikatakannya bisa membuat jantungnya berhenti berdetak.
Seketika badan tuan Hans lemas tak berdaya. Dia mengurut dada beberapa kali. Menetralkan segala pikirannya.
Tuan Hans menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.
"Ini serius kan Steve?" Tuan Hans kembali bertanya. Meyakinkan apa yang baru saja Steve ucapkan.
"Betul yah. Ini bukan main-main." Jawab Steve.
"Apa alasan Wei membatalkan pernikahannya. Apa ditunda atau memang dia tidak akan menikahi Hana?" Tuan Hans harus benar-benar paham.
"Ini dibatalkan ayah. Wei tidak akan menikahi Hana. Alasannya Wei telah dijebak." Dengan wajah gusar Steve menyampaikan berita yang diterima dari Wei.
"Dijebak? Maksudnya bagaimana ini? Ayah jadi pusing mendengarkannya." Tuan Hans selain kaget sekarang malah agak kesal dengan alasan yang baru diterimanya. Wei seperti mempermainkan hidup Hana seenaknya.
"Dari semula aku sudah khawatir yah.. bahwa ibunya Wei tidak mengizinkan Hana menikah dengan Wei. Dan dugaanku memang benar. Sebelumnya Wei tidak terus terang, bahwa ternyata ibunya Wei mengizinkan mereka menikah dengan satu syarat."
"Syarat apa itu?" Tuan Hans tak sabar menunggu.
"Ternyata Wei dipaksa menikahi Riana jika mau menikahi Hana. Kalau dia tidak mau, pernikahannya harus dibatalkan." Ucap Steve pada tuan Hans.
"Siapa Riana?"
"Dia pengusaha juga. Dia sudah lama menyukai Wei. Tapi dari dulu Wei tak menerima cintanya Riana. Tapi Riana itu orangnya keras kepala yah. Jadi segala cara dia lakukan untuk bisa bersama Wei. Apalagi sekarang Hana keadaan fisiknya tidak sempurna. Jadi dia memanfaatkan keadaan untuk mendekati ibunya Wei.
"Tapi kan Wei tidak mau, apa harus ibunya memaksakan kehendak? Mereka sudah dewasa bisa menentukan jalan hidupnya masing-masing. Kenapa harus mempersulit keadaan? Bukankah mereka juga sudah berusaha memeriksakan diri mereka ke dokter? Keduanya kan sehat?" Tuan Hans tak bisa menerima begitu saja perlakuan Wei dan keluarganya yang dengan mudah mempermainkan masa depan Hana.
"Masalahnya Wei dijebak untuk berhubungan intim yah. Jadi.. itu sudah tidak sehat lagi urusannya. Menurut aku lebih baik Hana tidak jadi menikah. Bisa kebayang tidak sama ayah kalau mereka jadi menikah, lalu kehidupan rumah tangganya terus direcoki dan diganggu. Itu akan membuat Hana menderita juga yah." Terang Steve mengungkapkan pendapatnya.
Tuan Hans diam. Dia merenungi apa yang baru Steve ungkapkan.
"Ada baiknya tahu dari sekarang sih yah. Baik dan buruknya keluarga Wei. Menikah itu bukan hanya perkara cinta semata. Tapi keadaan keluarga pun itu penting. Mereka bisa saja goyah di tengah jalan. Bukankah itu pernah terjadi dengan pernikahan ayah dengan ibunya Hana?" Nyonya Maria ikut memberikan pendapat.
Tuan Hans menoleh pada istrinya. Dia manggut-manggut. Tangannya kini mengusap-ngusap dagu.
"Baiklah. Apa yang kalian katakan ada benarnya. Yang ayah bingung.. bagaimana cara menyampaikannya pada Hana? Karena itu bukan perkara mudah untuk diterima Hana." Ucap tuan Hans.
Benar juga. Disini Hanalah yang menjadi pikiran. Jadi atau tidak jadi bagi mereka tidak masalah. Tapi dengan Hana? Itu bukan perkara mudah. Selama ini Hana sudah melewati banyak ujian yang hampir saja merenggut jiwanya. Baru saja datang kegembiraannya sekarang malah datang perkara baru. Apakah Hana akan kuat? Semuanya tidak ada yang tahu.
Di lain tempat Hana dan Caterina tertawa riang. Setelah dari salon mereka menyempatkan diri makan di cafe.
"Wah rasanya ingin segera lihat kakak jadi pengantin." Caterina malah yang tak sabar menantikan hari itu akan tiba.
__ADS_1
"Ishh.. ini siapa yang menikah sih?" Hana mengambil minuman yang tadi sudah dipesan. Lalu menyeruputnya pelan-pelan, dia sangat menikmati legitnya latte yang telah dipesannya.
"Mmm... ya kakak lah.. masa aku? Aku kan belum punya calon. He he." Caterina terkekeh. Dia pun mengikuti Hana mengambil cangkir yang berisi kopi cappuccino dan menyeruputnya di balik cadar.
Deg
Pandangan Hana sekilas melihat seseorang yang sedang berjalan berdua lalu masuk ke area seberang cafe. Dia memasuki ruangan tertutup di tempat itu. Hana dan Caterina duduk di lantai dua tepatnya di pinggir kaca yang bisa memandang lalu lalang pejalan kaki juga kendaraan yang melewati cafe itu.
"Wei.. bersama siapa? Apa aku mengenal perempuan itu? Kenapa dia bergelayut manja di tangan Wei?" Hana bertanya-tanya dalam hati mengenai apa yang baru saja dilihatnya. Hatinya seperti tidak tenang.
"Kak.. kak Hana.. kok melamun? Makanannya nganggur dari tadi." Caterina menegur Hana yang malah memandang keluar tanpa berkedip.
"Eh.. iy iya." Hana menjawab gugup.
"Ada apa kak? Apa yang baru kakak lihat?" Caterina seperti bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Hana.
"Tidak.. tidak ada apa-apa." Hana berbohong.
"Apa kakak melihat kak Wei?"
Deg
"Apa kamu melihatnya juga Caterina?" Hana penasaran apakah dirinya saja yang melihat Wei.
"Hhmm." Caterina tidak menjawab panjang. Dia khawatir kakaknya Hana terlalu banyak beban jika bicara yang sesungguhnya.
"Ah.. kenapa kakak gak tenang begini." Hana mengusap rambutnya kasar.
"Aku telepon saja ya?" Hana seperti linglung bicara sendiri.
"Tenang kak. Jangan tergesa-gesa! Kalau kakak tidak tenang nanti malah kakak nanti dapat masalah." Caterina menoleh kiri kanan khawatir para pengunjung terganggu dengan ocehan kakaknya yang sedang panik.
"Tapi.. kakak tak bisa tenang Caterina."
"Coba kirim pesan saja kak! Nanti kita ngobrolnya di rumah saja. Biar tidak ada yang melihat kakak bertengkar. Maklum zaman sekarang orang-orang lebih tertarik untuk mempublikasikan kejadian di sekitarnya. Nanti kalau kakak viral bagaimana?" Caterina memberi saran.
"Mmm baiklah kakak kirim pesan saja! Kakak ingin tahu kakak Wei sedang dengan siapa. Apa dia akan berbohong atau akan jujur." Imbuh Hana yang sangat cemas melihat calon suaminya menggandeng seorang perempuan cantik dan seksi. Mereka seperti sepasang kekasih.
Hana : Halo kak Wei.
Wei : Hai Hana.
Wei : Biasa saja.
Hana : Kakak sedang di mana?
Wei : Sedang di luar
Hana : Sendirian?
Wei : Tidak
Hana : Dengan siapa?
Wei : Dengan teman
Hana : Perempuan?
Wei langsung tidak enak hati. Seperti Hana melihat keberadaannya saat ini.
Berkirim pesan sejenak terhenti. Hana dan Wei, keduanya sedang menatap layar handphone.
Tut
Tut
Tut
Hana menelpon. Dia ingin tahu jawaban Wei. Kenapa terakhir dia bertanya Wei tidak bertanya.
Mana mungkin kak Wei menjawab jika di sisiNya ada seorang perempuan. Aku pengen tahu sejauh mana kak Wei jujur padaku.
"Tiana aku ke toilet dulu." Wei berdiri dari tempat duduknya. Hendak keluar dari ruangan yang sejak pagi dipesan Riana untuk makan siang bersama Wei. Wei ingin menjawab panggilan dari Hana tapi dia tak mungkin menjawabnya di depan Riana.
"Jangan lama ya!" Riana tersenyum bahagia. Kini Wei sepenuhnya miliknya. Tak akan ada wanita lain yang akan merebutnya. Selain video yang menjadi bukti, Riana mengaku bahwa dia sudah tidak perawan lagi karena disentuh Wei.
"Halo Hana.. " Wei mengangkat telepon dari Hana.
"Kak Wei.. kenapa jawabnya lama?" Hana sedang menginterogasi Wei karena mencurigainya.
__ADS_1
"Aku kebelet pipis. Ini baru keluar dari toilet." Wei membuka keran air agar terdengar Hana.
"Mmm.. "
"Kamu lagi dimana?"
"Aku lagi ngopi sama Caterina."
"Dimana?"
"Di depan restoran Jepang xxxx." Hana sengaja menyebutkan nama restoran Jepang yang ada di depan cafe yang sekarang disinggahinya.
"Tunggu di sana! Aku keluar sekarang." Wei sudah curiga bahwa Hana melihatnya. Wei melangkah keluar restoran itu. Dia memandang ke seberangnya. Dia berharap Hana melihatnya.
"Kak.. itu kak Wei." Ucap Caterina yang sama-sama sedang melihat ke luar.
"Hana.. kamu masih disana? Apa kamu melihatku? Kalau kamu melihatku, keluarlah! Aku ingin bertemu." Ucap Wei masih di sambungan telepon.
"Baik sekarang aku keluar." Hana langsung menutup sambungan.
"Caterina.. kamu bisa pulang sendiri? Ada yang harus dibicarakan kakak dengan kak Wei.
"Bisa kak. Tenangkanlah!" Caterina sudah hafal alamat yang berada di Jakarta. Dia pun sudah tahu cara memesan taxi online.
"Baiklah kakak pergi dulu. Nanti kalau sudah sampai kabari kakak!" Hana berpesan pada Caterina agar mengabarinya jika sudah sampai di rumah.
"Iya kak. Hati-hati kak! Semoga urusan kakak lancar." Imbuh Caterina mendoakan Hana. Kedua perempuan ini tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan pernikahan yang sebentar lagi digelar.
Hana turun dari cafe untuk menemui Wei.
"Kak Wei.. " Hana melambaikan tangannya dari seberang Wei berdiri.
"Hana.. " Mata Wei terbelalak begitu melihat Hana berdiri sempurna di seberang jalan. Wei memindai Hana dari atas ke bawah dan kembali ke atas. Dia seakan tidak mempercayai apa yang dilihatnya sekarang.
Kamu bisa berdiri Hana?
Wei bergumam.
"Kak Wei.. Hana kembali memanggil Wei.
"Tunggu di sana!" Wei hendak menyebrang namun tiba-tiba mobil berkecepatan tinggi melintas dan menabrak Wei hingga terpental ke belakang.
Brukk
Badan Wei menghantam tembok trotoar dan menimbulkan suara.
"Ahhhh.... " Bersamaan dengan jatuhnya badan Wei di trotoar Hana menjerit. Semua orang terperanjat lalu tak selang berapa lama banyak orang berkumpul mengitari Wei.
Hana menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Tak percaya melihat kekasihnya ambruk di depan matanya akibat tertabrak mobil yang sedang melintas.
"Kak Hana... " Caterina langsung memeluk kakaknya yang syok. Hana terus-menerus menggelengkan kepalanya. Satu ingatan seperti hadir di kepala Hana. Kejadian yang menimpa Wei membuat Hana dejavu. Dia teringat sewaktu tertabrak mobil. Ingatan itu kembali hadir. Kini Hana mengingat kejadian itu. Dan Hana pun mengingat jelas sekarang siapa yang telah menabraknya.
"Kak Wei... kamu kan yang telah menabrakku waktu itu?" Lirih Hana dengan bibir bergetar.
"Kak.. sadar kak.. kita pulang saja! Biar kepolisian yang mengantarkan kak Wei ke rumah sakit. Kakak butuh istirahat." Caterina segera memesan taxi.
Tak lama kemudian taxi pun berhenti tepat di depan cafe. Caterina memapah Hana yang masih syok. Seluruh badannya seperti btidak bisa dikendalikan. Semuanya bergetar, dan bibirnya terus-menerus menyebut Wei.
"Kak.. kak Steve... tolong. Aku sedang dalam perjalanan. Kak Hana syok.. aku tak tahu harus bagaimana. Kakak dimana?" Caterina menelpon Steve. Dia menyangka kakaknya masih berasa di kantornya.
"Kakak sudah di rumah. Kamu pulang saja! Bawa kak Hana ke rumah dulu. Biar nanti kami yang akan membawanya ke rumah sakit." Steve kaget mendapatkan kabar Hana syok. Entah syok kenapa Caterina tidak bisa menceritakan dengan detail.
"Baik kak... sepuluh menit lagi mobil tadinya sampai. Kakak tunggu di depan rumah agar bisa memapah Kak Hana." Caterina meminta bantuan Steve untuk menangani Hana.
"Baik.. Kakak ke depan." Steve langsung menutup sambungan teleponnya.
"Ada Steve?" Tuan Hans ikut cemas.
"Hana yah. Kata Caterina dia syok. Kita ke depan saja!" Steve bangkit dari tempat duduknya diikuti tuan Hans dan istrinya nyonya Maria.
Ketiga orang itu menunggu di depan pagar rumahnya menunggu taxi yang sedang dipakai Caterina.
"Nah.. itu Caterina." Steve menghampiri taxi.
"Kak Hana.. pingsan." Caterina langsung mengabarkan kondisi Hana setelah tadi syok lalu Hana terkulai lemas.
"Baik.. kamu geser sedikit. Biar kakak yang mengangkat tubuh kak Hana." Caterina pun bergeser memberikan ruang untuk Steve agar bisa mengangkat tubuh Hana masuk ke dalam rumah.
"Apa yang terjadi nak?" Nyonya Maria agak cemas dadanya terasa sesak melihat Hana terkulai pingsan.
__ADS_1
"Nanti aku ceritakan di dalam ma." Caterina memeluk ibunya lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Sedang tuan Hans membantu Steve membuka pintu yang dilewatinya.