
"Kakak galak banget! Kayanya style CEO sudah dapet tuh!" Caterina memajukan bibirnya, manyun.
"He he.. iya ntar kamu diajak kalau urusan kak Hana selesai. Jangan cemberut begitu! Cantiknya luntur nanti!" Hana mengusap Caterina.
"Hana istirahat lebih awal! Besok kita harus berangkat. Aku gendong ke kasur ya!" Steve menawarkan untuk mengangkat tubuh Hana dari kursi roda ke tempat tidur.
Hana mengangguk. Lalu melingkarkan tangannya ke leher Steve. Lalu Steve membaringkan Hana di kasur.
"Terimakasih kak!" Hana tersenyum.
"Sama-sama." Stve menarik selimut dan menutupi badan Hana sampai ke dada. Keduanya saling melempar senyuman.
"Catrin.. tidur!" Steve melihat ke arah Caterina yang sedang memandang ke luar jendela. Mengamati orang-orang yang baru saja bubar dari Mushola.
"Sebentar aku lagi liatin kak Nadia.. " Aku mau lihat dia dulu."Sepasang netra Caterina sedang difokuskan melihat perempuan-perempuan bercadar yang baru saja menyelesaikan kajian malam di Mushola.
Steve mengikuti Caterina melihat ke luar jendela.
"Mana mungkin kamu tahu! Semuanya ketutup gitu!" Steve masih mengamati pergerakan orang-orang yang baru keluar dari Mushola mengikuti Caterina.
"Ih kakak sotoy. Aku tahu lah! Tuh yang pake kerudung hijau. Itu pasti kak Nadia." Wajah Caterina terlihat senang melihat orang yang dicarinya keluar.
"Masa?" Aneh Steve malah ikut-ikutan memperhatikan orang yang baru ditunjuk Caterina.
"Gak percaya? Nih aku telepon ya! Dia kalau mengangkat berarti aku bener kak." Caterina menekan nomor yang dituju.
"Tuh kan beneran. Dia kak Nadia. Kak Steve gak percayaan sih!" Caterina merasa menang.
"Kok bisa sih?" Steve masih merasa heran dengan tebakan Caterina.
"Coba aja kakak gaul sama mereka nanti juga tahu satu-satu walau wajah mereka tertutupi. He apalagi kalau kakak punya istri seperti mereka. Walau banyak perempuan yang memakai cadar kakak bakal tahu mana istri kakak." Caterina dengan polosnya mengatakan hal itu pada Steve. Padahal mereka sama sekali tidak sama karena berbeda keyakinan.
"Masa?" Ssteve menatap wajah adiknya itu dengan heran. Masih belum bisa mempercayai apa yang Caterina katakan.
"Kakak mau percaya? Mau menikah sama mereka? Mau Catrin kenalin kak?" Caterina mengulang kepolosannya tanpa pikir panjang.
"Catrin! Steve menaikan suaranya. Merasa tidak pantas Caterina berkata seperti itu.
"Eh lupa! He he kakak mesti mualaff dulu kalau mau menikah sama mereka." Caterina masih belum menyadari bahwa perkataannya adalah suatu prinsipel yang tak boleh dikatakn sembarangan.
"Caterina.. " Steve menaikan beberapa oktaf.
Caterina terdiam. Dia menyangaka Steve tersinggung atas perkataannya.
"Maaf." Caterina berkata lirih sambil menunduk. Matanya seperti berkaca-kaca.
Steve terdiam.
Caterina turun dari kursinya lalu berjalan ke arah tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya ke samping sambil meringkuk.
Caterina seperti ingin menangis. Dia hening tak bicara lagi. Mungkin ada rasa kaget mendengar Steve seperti membentaknya. Seumur ini belum pernah Caterina mendengar Steve marah ataupun membentaknya.
Steve berjalan mendekati ranjang Caterina lalu duduk di tepian kasur.
"Maaf barusan kakak terlalu keras bicara sama kamu!" Steve menyadari adiknya tersinggung atas sikapnya barusan.
Caterina masih terdiam membelakangi Steve.
"Catrin.. kakak minta maaf. Bukan maksud kakak marah sama kamu. Cuman kakak gak mau kamu bicara seperti itu. Bagaimana kalau kata itu terdengar oleh kak Nadia. Kesannya itu melecehkan Catrin... Kakak gak mau kamu salah paham!" Steve mengelus lembut rambut Caterina.
Hana yang sejak tadi memperhatikan hanya terdiam.
"Catrin.. kakak mohon maaf ya!" Steve memeluk Caterina dari belakang. Steve malah ikut berbaring dengan Caterina. Dia merangkul adiknya yang manja. Steve merasa bersalah. Dia baru menyadari kalau sekarang dia harus lebih berhati-hati bicara sama adiknya. Ya perasaan perempuan itu halus sekali. Jadi kalau tersinggung sedikit saja pastinya akan mengurai air mata.
"Hhhmmm kamu pengen punya kakak ipar seperti apa sih Catrin?" Steve berbicara pelan di dekat telinga adiknya. Dia tahu Caterina belum tidur. Dia berusaha mengakrabkan diri. Walaupun Steve sudah dewasa dan Caterina sudah remaja sama sekali tidak merasa canggung untuk berdekatan seperti itu. Ya maklum budaya barat mereka lebih kental sehingga kebiasaan-kebiasaan seperti itu tidak aneh dan dianggap wajar.
__ADS_1
Caterina masih terdiam.
"Mmh.. sampai sekarang kakak belum punya pacar lho! Kamu mau cariin kakak pacar?" Steve berusaha merayu Caterina agar tidak lama cemberut.
Caterina membalikkan tubuhnya menghadap Steven.
"Maafin aku kak! Aku yang salah kok." Bibirnya masih manyun walau baru saja Caterina meminta maaf pada Steve.
Steve merangkul erat badan Caterina yang ramping ke dadanya.
"Kakak maafkan. Untuk adik cantik seperti kamu apa sih yang tidak buat kakak." Steve lalu melonggarkan pelukannya.
"Mmhh.. aku belum mengerti apa yang baru saja kakak katakan. Mungkin karena usiaku belum dewasa jadi aku bicara sesuai dengan yang ada dipikiranku saja." Caterina menyadari kesalahannya.
"Begini adikku yang cantik. Semenjak kita tinggal disini kamu mungkin lebih kenal dekat dengan mereka. Apa yang dikatakan mereka, apa yang dilakukannya sepertinya menarik perhatianmu. Kamu tahu kenapa? Karena keyakinan mereka itu berbeda dengan kita. Karena perbedaan itu juga kamu tertarik ingin mengetahui lebih dalam. Kalau sama gak mungkin kamu tertarik ingin tahu. Ya lingkungan mereka buat kita terasa asing. Tapi begitu mereka menunjukkan kebaikan mereka kita merasa nyaman sehingga kamu dengan mudah meniru ataupun mengadopsi apa yang biasa mereka lakukan." Steve yang secar umur lebih dewasa bisa memberikan kejelasan tentang apa yang mereka yakini.
"Terus tidak boleh gitu kak lalu kita meniru mereka?" Caterina masih belum paham banyak.
"Mmh.. kalau kebaikan secara sosial sih syah syah aja diikuti. Kalau secara keyakinan harusnya kamu bisa membentengi diri. Jadi tidak mudah terprovokasi dengan paham mereka."
"Mmmhh.. tapi kak aku heran ya. Kita kristiani tapi jarang ya ke gereja. Bahkan kita juga jarang membaca Alkitab. Berbeda dengan mereka. Aku lihat mereka bisa lima kali membaca Al-Quran. Ya paling sedikit mereka sekali dalam sehari. Apa kita perlu juga seperti mereka?" keluarga Caterina yang selama ini menganut paham liberal memang jarang sekali datang ke gereja dan tidak memaksa putra-putrinya untuk lebih fanatik.
"Mmh.. iya. Tapi kamu juga harus didampingi sama pastur. Ntar salah mengerti." Steve memberi tahu Caterina yang masih polos.
"Aku mau lebih rajin biar seperti mereka. Tapi.. kenapa ya kak. kok aku seperti nyaman kalau sedang mendengarkan Alquran. Apa aku salah jika aktif mendengarkan ceramah mereka?"
"Mendengarkan itu ilmu. Kalau salah itu kamu memahaminya dengan tidak benar. Jadi jangan sampai kamu salah dengar. Mending kamu rajin baca Alkitab deh. Biar kamu bisa ada pembanding." Steve cepat mengalihkan pembicaraan.
"Iya aku mau mulai rajin ke gereja. Tapi harusnya sih kakak juga rajin!" Serah Caterina.
"Iya. Kita bareng-bareng. Sekarang kita tidur. Kakak udah cape!" Steve memejamkan matanya.
"Kakak mau tidur disini?"
Malam semakin larut. Semua penghuni bumi berselimutkan kantuk menuju peraduan yang paling damai yaitu dunia mimpi.
Pagi-pagi keluarga Steve sudah terbangun bersamaan adzan subuh berkumandang. Mereka segera membereskan beberapa pakaian juga benda-benda kepemilikannya yang sudah dipak rapih.
"Hana mau mandi? Biar kakak bantu ke kamar mandi. Nanti Caterina akan membantu kamu disana ya!" Steve sudah bangun lebih dulu untuk membantu keperluan Hana.
"Iya kak. Maafkan aku jadi merepotkan!" Hana tidak enak hati harus ketergantungan pada Steve untuk mengangkut tubuhnya kemana-mana.
"Gak pa-pa kakak rela kok! Kakak harus mendampingi kamu sampai sembuh." Steve segera mengangkat tubuh Hana ke kamar mandi untu membersihkan badan juga beberapa hajatnya selama di kamar mandi.
"Terima kasih kak!" Hana tersenyum menatap wajah Steve dari dekat.
"Sama-sama. Kakak keluar dulu ya! Kamu mau ditemani di dalam sama Caterina?" Tawar Steve.
"Gak usah kak! Semuanya sudah Caterina siapkan kok! Nanti kalau aku membutuhkan bantuannya aku akan memanggilnya." Tolak Hana karena semua yang dibutuhkannya sudah tersedia diatas kursi di dalam kamar mandi.
"Baiklah. Nanti panggil kakak ya kalau mandinya sudah selesai." Steve berlalu keluar dari kamar mandi.
"Baik." Jawab Hana singkat.
Sementara Wei lun sudah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Dia menekan nomor Steve untuk memastikan kapan kan berangkat ke Jakarta.
"Steve. Kamu sudah siap?"
"Sebentar lagi. Kita lagi packing barang. Sama mau pamitan sama keluarga kang Gavin. Baiklah aku sekarang kesana. Sekitar 15 menit aku sampai. Biar kita bareng-bareng berangkat."
"Oh iya jam berapa rapat dewan direksi akan dimulai?" Wei yang sudah tahu sebagian informasi menanyakan pada Steve jam rapat yang akan diikuti Hana.
"Katanya Jam 10. Aku akan berangkat langsung ke perusahaan. Dan ayah akan ke Villa. Jadi biar tidak terlalu melelahkan bagi Hana jika berangkat lebih pagi. Ada waktu untuk istirahat sebelum rapat."
"Oke. Aku akan mengantarkan kalian sampai perusahaan. Aku khawatir jika ada apa-apa sesampainya kamu disana."
__ADS_1
"Baik. Aku ucapkan terimakasih kasih Wei atas bantuanmu."
"Sama-sama. Semoga lancar."
"Iya. Aamiin." Steve segera menutup teleponnya.
Keluarga Hana segera berpamitan sambil berpelukan dengan Sari juga Gavin. Merek mengucapkan terimakasih atas bantuan juga kebaikan mereka selama keluarga Hana tinggal di kota B.
"Iya hati-hati di jalan! Jangan lupa kembali lagi kesini ya jika kamu ke kota B." Sari memeluk erat Hana.
"Teh Sari juga mampir ke Jakarta! Aku pastinya akang kangen sama teh Sari juga keluarga." Hana mengeratkan pelukannya pada Sari.
"Iya cepet sembuh ya!" Sari memberikan dukungan moril pada Hana.
"Iya aamiin." Hana menjawabnya. Pertemuan dengan mereka barulah kemarin tapi rasanya seperti sudah kenal lama. Akhirnya setelah melepas perpisahan Hana bersama keluarga nya pergi dari kota B kembali ke Jakarta karena ada tanggungjawab yang harus dipikulnya.
Setelah menempuh perjalanan selama 2,5jam Hana pun tiba di Perusahaan Crown yang sudah dirintis leluhur keluarganya.
Semua pejabat dan dewan direksi menyambutnya. Hana yang tak terbiasa dengan lingkungan ini agak merasa gugup. Keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhnya. Sesekali Steve memberikan tisu pada Hana untuk menghapus keringat di sekitar wajahnya. Hana berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan sengaja tersenyum sepanjang dia bertemu muka dan memegang kursi roda agar tidak terlihat gemetar tangannya.
"Silahkan nona Hana untuk beristirahat dahulu!" Pak Harlan mempersilahkan untuk istirahat di satu ruangan. Di meja kebesaran tertulis sebuah tulisan 'Direktur Utama'
"Mungkinkah ini ruang kerja Daniel dahulu?" Hana berbicara sendiri dalam hati.
"Maaf nona Hana. Ada pak Kusuma yang akan menemui anda. Nanti 40 menit lagi kita akan rapat. Semoga anda bisa beristirahat dengan nyaman." Ucap pak Harlan.
Han mengangguk. "Terimakasih!"
Steve menemani Hana dengan style pakaian yang sudah rapih. Dia nampak gagak dan berwibawa. Ditambah wajahnya yang bersih juga tampan sangat menarik perhatian para karyawan terutama sekertaris yang sejak tadi sudah berdiri menyambut kedatangan Hana di perusahaan.
Hana pun tak kalah anggun. Dia memakai pakaian dress semi formal dengan panjang selutut.
"Selamat pagi nona Hana!" Pak Kusuma masuk ke dalam ruangan. Dia didampingi dua asistennya menemui Hana juga Steve.
'Selamat pagi pak Kusuma." Hana tersenyum membalas jabat tangan dari Pak Kusuma juga asistennya.
"Maaf sebelumnya nona Hana. Saya mengganggu istirahat anda. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan berkenaan dengan wasiat tuan Daniel sebelum meninggal. Dan juga beberapa aset ayah anda yang belum saya serahkan selama ini. Saya mohon maaf nona Hana. Saya merasa bergembira sekaligus senang bisa melayani kembali keluarga Roy setelah sekian lama tuan Roy meninggal.
"Sama-sama tuan pak Kusuma. Saya mohon bimbingannya!" Jawab Hana sesopan mungkin.
"Apakah anda sudah siap mendengar wasiat dari tuan Daniel?" Pak Kusuma tak mau menunggu lama untuk segera menyampaikan amanat terakhir Daniel.
"Baik Pak Kusuma. Anda bisa memulainya." Hana mempersilahkan pak Kusuma untuk membacakan surat wasiatnya.
"Surat ini dibuat tuan Daniel bertepatan dengan insiden penembakannya di rumah sakit. Saya merasa sangat sedih sekali setelah mendengar tuan Daniel terkena insiden itu. Ternyata beliau sudah mempunyai firasat buruk sebelum kematiannya. Baik saya akan bacakan surat ini."
"Yang bertanda tangan dibawah ini adalah Daniel Syahputra. Tanpa ada paksaan atau pun penekanan saya menulis surat wasiat untuk saya tinggalkan jika ada sesuatu yang menimpa saya dikemudian hari.
Saya akan melimpahkan semua aset saya untuk adik tiri saya bernama Hana Maulani Dewi sebesar 65 persen dari aset perusahaan. Semua saham sudah di atas namakan Hana dan untuk surat pelimpahan saya akan titipkan pada seorang pengacara yang bernama Kusuma Dewantara.
Jika dikemudian hari terjadi sesuatu dengan saya. Maka aset kepemilikan seperti mobil, rumah, Villa, juga harta berharga seperti emas, berlian juga logam mulia dan uang pribadi yang ada dalam no rekening akan saya atas namakan adik saya bernama Hana Maulani Dewi.
Dan sisanya akan saya sumbangkan.
__ADS_1