
Malam itu Sandi mendapatkan informasi sesuai janji Tono. Ada rasa ketakutan yang dirasakan Sandi ketika mengetahui nasib Hana. Karena kenyataannya Wei bukanlah suami Hana.
Sandi mengirimkan pesan singkat pada Hana sebelum memasuki restoran untuk makan malam.
Setelah itu Sandi mematikan telponnya.
Malam ini Sandi tak bisa menghindar, karena sudah menjadi kebiasaan ayah Sandi mengadakan acara makan bersama ketika pertama kepulangannya di rumah.
"Sandi.. " Ayahnya Sandi memanggilnya, karena sejak tadi dia melihat anaknya terlihat tidak fokus.
"Ya pih?" Sandi menatap ayahnya.
"Sejak tadi papih lihat kamu banyak melamun. Ada masalah?" Dia mencoba memancing Sandi untuk berbicara.
"Tidak pih." Sandi berusaha menyembunyikan masalahnya di depan ayahnya.
Di tempat yang sama ibunya Sandi menatap inten. Dia menduga Sandi sedang memikirkan Hana.
"Sandi, papih mau tanya sama kamu."
"Kamu tahun ini mau menyelesaikan ujianmu atau kamu memilih tahun depan?" Tiba-tiba ayahnya menanyakan hal itu. Padahal Sandi dan ibunya belum bicara sedikitpun mengenai masalah sekolahnya. Sontak Sandi dan ibunya merasa kaget mendengar pertanyaannya.
Bagaimana ini? Waduh gawat! Apa mamih sudah cerita sama papih? Gumam Sandi dalam hati.
"Pih...Sandi.." Belum selesai Sandi bicara ayahnya langsung memotong.
"Sandi.. jangan kau pikir papih gak tahu kelakuan kamu selama ini. Kamu gak bisa lulus tahun ini kan?"
Deg.
Sandi dan ibunya kaget bukan kepalang. Ternyata ayahnya Sandi sudah tahu tanpa mereka berbicara lebih dahulu.
"Maafin mamih pih! Mamih yang salah. Mamih yang lalai selama ini." Ibunya Sandi menunduk. Dia tahu konsekwensi dari kelalaiannya.
"Ini semua gara-gara mamih selalu memanjakan Sandi. Akhirnya begini." Ayah Sandi kelihatan kesal dan marah.
"Maafin Sandi pih! Ini tak ada kaitannya dengan mamih. Ini murni kesalahan Sandi. Jangan hukum mamih karena kesalahan Sandi pih!"
"Terus mau kamu bagaimana? Papih gak bisa lagi toleransi sama kamu. Kamu terpaksa sekarang harus mengikuti keinginan papih. Tahun ini kamu harus lulus. Papih sudah siapkan segalanya. Dan kamu harus kuliah tahun ini juga mengambil manajemen bisnis di Australia. Papih gak mau hidup kamu acak-acakan gara-gara mengejar cinta."
"Tapi pih.. "
"Gak ada tapi, mamih juga harus tegas sama Sandi. Jangan karena sayang malah menjerumuskan Sandi ke jalan yang salah. Mamih pikir karena papih sibuk papih lepas tanggungjawab? Kalian menyangka papih gak tahu apa-apa? Kalian gak ada bedanya!'
"Tapi pih mamih gak salah. Ini asli Sandi yang salah."
"Kalau kamu mengerti kamu yang salah, maka tebus kesalahan kamu! Papih gak mau masa depan kamu terlunta-lunta seperti sekarang."
"Pih... maafin mamih!"
"Mamih... papih juga sayang sama Sandi. Kalau Sandi benar dewasa seharusnya dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Kalau kamu kaya gini, mana mau wanita menerima kamu yang kekanak-kanakan. Kamu harus tampil dewasa Sandi!"
Ibunya Sandi menatap Sandi yang sedang tertunduk. Dia tak tahu harus bagaimana lagi menolongnya. Suaminya sudah tahu segalanya, dia tak bisa mengelak lagi.
"Mulai sekarang jangan berhubungan lagi dengan perempuan itu! Fokus belajar! Urus bisnis papih! Jangan harap kamu kabur atau semau kamu lagi! Cukup papih bersabar selama ini mendengar kelakuanmu."
Sandi dan ibunya tertunduk tak ada yang berani bicara. Keduanya merasa bersalah.
"Baik pih! Sandi akan nurut dengan semua keinginan papih." Sandi tak ingin ayahnya marah panjang, apalagi harus menyalahkan ibunya yang tak salah apa-apa.
"Sekarang kalian makan! Jangan ada lagi rahasia yang kalian sembunyikan! Papih tak ingin kamu bertindak bodoh lagi! Kamu harus menata diri kamu sendiri demi kebaikan kamu juga!"
Ruangan itu sekarang menjadi saksi bisu antara janji Sandi pada ayahnya. Makan malam terasa hambar. Semuanya menjadi tegang akibat membicarakan masalah Sandi.
Di lain tempat Hana bersama Wei sama-sama canggung.
Hana sungguh merasa kebingungan. Di saat begini kemana dia harus pulang. Dia menatap ke jendela tanpa tahu apa yang harus dilihat. Pikirannya kosong. Kalau benar Wei bukan suaminya, kenapa dia harus pura-pura menyamar menjadi suaminya.
Pikirannya seperti benang kusut setelah menerima pesan dari Sandi. Sungguh Hana merasa tertipu. Sandi sulit dihubungi.
Tanpa terasa matanya berkaca-kaca. Hana menyeka ujung kelopak matanya sebelum air matanya jatuh.
__ADS_1
Wei yang fokus menyetir sepertinya menangkap aura kesedihan.
"Hana... ada yang sedang kau pikirkan?" Wei melirik Hana sebentar mengamatinya yang terlihat sedari tadi hanya terdiam dan wajahnya selalu memandang ke samping.
"Ah tidak... " Hana berbohong, padahal dalam hatinya ingin sekali dia bicara ya.
"Hhmmm... " Wei tak mau memaksa, dia diam tak berani bertanya kembali.
Mobil yang ditumpangi Hana kini sampai di depan rumah Steve. Tapi Wei tidak memarkirkan ke dalam rumah, tepatnya di pinggir jalan.
"Maaf Hana... aku tak bisa mengantar ke dalam. Aku harus kembali ke kantor. Ada yang harus aku bereskan segera."
"Baik." Hana mengangguk. Dia membuka sabuk pengamannya lalu beranjak ke luar membuka pintu. Tapi belum sempat dia keluar tangannya ditarik kembali, dalam hitungan detik badannya terhuyung duduk di kursi, tiba-tiba dagunya disentuh tangan Wei. Sesuatu mendarat di bibir Hana dengan cepat.
Hana tak mampu menolak, pikirannya seperti buntu. Wei segera melepaskan tangannya yang telah menahan pergerakannya Hana, Wei menatap lekat wajah Hana.
"Istirahatlah! Steve mungkin akan bersamaku malam ini." Wei menatap Hana yang masih terdiam menerima aksinya.
"Iya." Hana mengangguk dan langsung keluar. Dia seperti bingung menghadapi masalahnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah Steve tanpa menoleh lagi ke belakang.
Tatapan Wei mengikuti Hana sampai masuk. Setelah bayangan Hana hilang, barulah dia pergi melajukan mobilnya menuju kantor.
Aneh kenapa dia tak menoleh ke belakang.
Steve lebih dahulu sampai di kantor, sejenak Steve melupakan masalahnya. Dia sibuk mengurusi masalah di kantor yang data komputernya sudah diretas. Beberapa teknisi sudah sibuk memperbaiki data perusahaan. Tapi ini terbilang sulit sekali karena virusnya tergolong baru dan mempunyai tingkat kesulitan yang cukup berat.
"Bagaimana ini Wei? ko bisa data perusahaan kita diretas? Padahal kita sudah menyewa Nico buat perlindungan cyber." Steve menatap Wei yang baru saja datang.
"Kita coba kerahkan para tenaga ahli yang kita punya untuk menyelamatkan data-data penting! Sepertinya kita kecolongan. Ada seseorang yang masuk ke dalam. Virusnya tidak bisa dihentikan, kecuali oleh pembuatnya."
"Baik!" Steve sibuk mengatur beberapa orang dalam ruangan itu sambil mengamati perkembangan pekerjaan para ahli IT di perusahaan Wei.
Mereka menjadi sibuk setelah mendapatkan laporan bahwa data perusahaan jadi error tak bisa dipakai. Dan kemungkinan besar ada orang yang telah meretasnya dari dalam. Padahal Wei sudah lebih awal mengantisipasi kemungkinan peretasan. Kali ini tidak disangka, karena si peretas berhasil masuk ke induk data yang ada di pusat gedung itu sendiri.
Tentu ini sangat membahayakan perusahaan Wei. Dia harus secepatnya mngantisipasinya. Apalagi kalau para investor tahu, bisa-bisa sahamnya jatuh.
Wei masuk ke dalam kantornya lalu mengambil handphone. Dia sedang mencurigai seseorang yang dianggapnya paling bertanggung jawab.
Wei menekan nomor seseorang.
"Sandi.. kau lagi dimana?"
"Wah wah... sejak kapan kau peduli aku?"
"Jangan becanda! Aku tahu ini kerjaanmu kan?"
"Kalau iya mau apa?"
"Jangan main-main Sandi! Kamu datang sekarang juga ke kantorku! Bereskan ulahmu itu!" Wei mencoba menahan emosi. Dia tahu anak itu tak bisa dikasari apalagi diancam.
"Waduh... waduh... marah nih?" Sandi dengan santainya memancing emosi Wei.
"Baik.. siapa takut. Aku akan kesana, tapi ada syaratnya?" Sandi seolah diberi lampu hijau.
"Kamu sedang bernegosiasi?" Wei dengan cepat menangkap maksud Sandi.
"Ya.. Kira-kira begitulah." Sandi dengan angkuhnya bisa mengalahkan Wei.
"Apa maumu?"
"Lepaskan Hana! Aku tahu kau bukan suaminya."
"Tak bisa!" balas Wei dengan tegas.
"Oke! terserah kamu, jika kamu ingin perusahaan mu tercinta jatuh di pasar saham." Sandi tertawa licik.
"Tak kan kubiarkan kamu menguasai Hana!"
"Baik. Aku sudah mengatakan padanya bahwa kamu bukan suaminya. Coba lihat siapa yang menguasainya!"
tut.. tut.. tut
__ADS_1
"Sial dia menutup telponnya." Wei merutuk.
Steve masuk ke ruangan Wei. Sekilas Steve mendengar pembicaraan Wei dengan Sandi.
"Wei... apakah Sandi pelakunya?" Steve berkata lirih.
Wei kaget akan kedatangan Steve di belakangnya. Karena fokus berbicara dengan Sandi kedatangan Steve sampai tak terdengar.
"He'em." Wei menjawab pendek.
"Ada apa sampai dia berani meretas perusahaanmu? Apa kalian ada masalah dengan Hana?"
"Ya kira-kira begitu!" Wei mengusap wajahnya kasar.
"Wei.. bisakah kamu melepaskan Hana?" Steve berkata lirih. Entah kenapa tiba-tiba Steve merasa harus membahas Hana.
"Apa maksudmu?" Wei menatap Steve, wajahnya terlihat galau.
"Katakan padaku! Siapa pemilik kalung yang kamu pegang? Jangan katakan kalau itu milik Hana yang tinggal di rumahku!" Wajah Steve yang putih seketika merah.
"Steve... bisakah kamu tidak membahasnya sekarang!" Wei menatap Steve.
"Tidak Wei... aku tak mau masuk permainanmu lagi!"
"Please Steve! Aku janji akan menceritakannya padamu setelah masalah di kantor ini beres."
"Tidak Wei... aku tak mau lagi kerja padamu! Aku tak mau lagi terlibat dengan urusanmu yang rumit! Jadi aku akan pergi sekarang juga!" Steve keluar dari ruangan Wei dengan membawa kemarahan. Tak mungkin Sandi melakukan hal besar ini kalau Wei tak memulai kesalahan terlebih dahulu. Steve segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Steve kembali ke rumahnya.
Tak lama kemudian Steve sampai di rumahnya dengan wajah kusut seperti benang yang sulit ketemu ujungnya.
Hana masih termangu di ruang keluarga. Dia sedang menunggu Steve.
Hana berdiri menyambut Steve. Dia berharap malam ini Steve bisa menjelaskan padanya mengenai Wei.
Tapi harapannya meleset. Dia melihat tatapan marah, kebencian berkumpul menjadi satu ada di wajah Steve.
"Sekarang juga angkat kaki dari rumahku!" Steve membentak.
Deg
Hana terkejut bukan main mendengar Steve berkata kasar dan mengusirnya. Ada perasaan sakit menyayat dalam hati Hana. Hana yang tadinya berharap besar Steve menolongnya kini malah membencinya.
Hana yang termangu diam seribu bahasa.
"Kenapa masih diam?" Steve kembali berkata kasar.
"Aku... "
"Kamu belum mengerti juga? Apa perlu aku memanggil satpam untuk mengusirmu?" Steve yang biasa lemah lembut, malam itu menjadi kasar. Sebenarnya Steve pun merasa sakit hati dengan sikapnya. Bayangkan saja dia yang sudah dekat selama dua bulan ini dengan Hana, bahkan menaruh iba, atau bisa dijelaskan dia menyimpan perasaan sayang pada Hana, tiba-tiba dia harus mengusirnya dari rumahnya. Dan yang paling sakit adalah memaksa membencinya dan mengusir dari hatinya.
"Baik, aku akan pergi dari sini!' Hana segera pergi ke kamarnya mengemas barang-barang yang perlu dia bawa. Hana hafal betul ketika datang ke rumah Steve dia tak membawa apapun. Semua baju-baju dan perlengkapan yang dia pakai semuanya Steve yang belikan. Hana hanya mengemas laptop dan membawanya dalam ransel yang dia beli dari uang gajinya yang terakhir dari hasil mengajar.
Hana menaruh sebuah kartu debit yang dahulu Steve berikan. Hana belum mempergunakannya sama sekali. Hana segera ke luar dari kamarnya dengan membawa duka. Dia berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh. Kenapa sikap Steve seperti itu bersamaan dengan informasi Sandi tentang status Wei. Sebelum meninggalkan rumah Steve, Hana ingin bertanya pada Steve untuk terakhir kali sambil berpamitan. Tak dipungkiri Steve sudah banyak berbuat baik pada Hana. Kalaupun sekarang Steve berkata kasar seperti itu, Hana mencoba memaafkannya.
"Steve... " Hana mengetuk pintu kamarnya. Karena Hana tak melihat Steve di ruang tengah.
Tak ada respon. Steve terdiam di belakang pintu menahan rasa sedih, kesal dan marah.
"Steve... aku mohon maaf ya! Selama ini sudah merepotkanmu! Aku... belum bisa membalas kebaikanmu Steve... aku pergi dulu!" Hana memutuskan pergi dari rumah Steve walau dalam pikirannya masih memendam banyak pertanyaan. Kenapa Steve tiba-tiba marah dan mengusirnya? Apa ada kaitannya dengan Wei?
Hana berjalan keluar dari gerbang rumah Steve. Malam ini Hana tak mau mengeluarkan air mata kesedihan. Untuk yang terakhir kalinya Hana menatap lama rumah itu. Semoga pikirannya tak melupakan Steve seperti pertemuan pertamanya. Hana yakin bahwa Steve orang baik. Jika malam ini dia mengusirnya, Hana merasakan pantas diusir karena memang dia hanya menumpang belas kasihnya selama ini. Jadi tidak usah terlalu sakit. Sewajarnya Steve mengusirnya karena dia adalah pemilik rumah itu.
Hana berjalan sambil menunggu taxi lewat. Tapi taxi tak kunjung ada. Mungkin karena ini sudah jam sebelas lebih taxi jarang lewat daerah sini. Hana mencoba menghubungi Sandi, tapi nomornya tak aktif. Malam ini tak ada yang bisa dihubunginya. Hana berjalan kaki sendirian menuju keramaian sambil menghubungi taxi online.
Ada perasaan yang menyayat hati, yaitu kebohongan.
Rasa sakit itu telah mengalahkan rasa sedihnya saat ini. Akhirnya Hana mendapatkan taxi online sesudah berjalan sekitar tiga puluh menit semenjak kepergiannya dari rumah Steve.
"Pak antarkan saya menuju losmen paling dekat!"
"Baik mbak."
__ADS_1
Taxi melaju di kegelapan malam sambil membawa mendung di hati Hana. Terjawab sudah keraguan Hana selama ini. Ini lebih baik daripada Hana harus tinggal dengan orang asing.
"Hah leganya... kini aku bisa bebas sekarang."