
Sandi dan Steve menunggu di kursi tepat di depan ruang operasi berlangsung. Mereka saling membisu. Perang dingin sedang berlangsung
Sementara dua orang lelaki yang sama-sama tampan dan terlihat perlente, kini sedang berbicara serius di halaman rumah sakit. Tatapan mata yang saling menajamkan kini beradu pandang. Ah ternyata ada dua pasang yang sedang Perang. Dingin dan panas.
"Kamu berani-berani nya menemui Hana!" Wei mengecilkan suaranya dan mendekatkan wajahnya pada Daniel dengan nada ancaman. Setelah tahu Daniel menyusul Hana ke sekolah.
Daniel terdiam tak berani membantah Wei karena menyadari kesalahannya. Tapi dia masih tak bisa menerima kenapa Hana begitu ketakutan melihat dirinya. Berbeda ketika Hana bertemu Steve dan Sandi. Padahal Hana sama sekali tak mengenal mereka berdua. Berbeda dengan Wei yang semenjak sekolah suka datang ke rumah Daniel. Hana sudah mengenal Wei dari dulu. Jadi Daniel sampai sekarang masih bertanya-tanya kenapa Hana menghilang? Apakah penyebabnya? Apakah karena takut bertemu dengannya?
Daniel sama sekali tidak mengetahui trauma Hana. Sejak Daniel diketahui menyukai Hana sebagai 'kekasih' ibunya Daniel sering menyiksa Hana jika ketahuan Hana dekat dengan Daniel. Tapi Daniel tidak tahu kejadian tentang penyiksaan itu. Karena ibunya melakukan hukuman itu secara sembunyi-sembunyi.
"Maafkan aku!" Daniel tertunduk dia tak ingin pertengkaran dengan Wei berlanjut panjang, apalagi dia menyadari kesalahannya pada Hana. Saat ini yang dia butuhkan adalah penjelasan.
"Aku ingin bicara baik-baik. Kenapa Hana takut padaku?" Rona wajah Daniel berubah seketika. Wajahnya seperti memelas.
Wei mendelik, dia menjauhkan pandangannya. Dia tak tahu harus menjelaskan darimana.
"Wei.. tolonglah! Aku tak mengerti dengan semua yang telah terjadi dengan Hana. Aku bersedia untuk mengorbankan apapun untuknya?" Daniel menghiba. Seumur hidupnya belum pernah dia melakukan hal serendah ini. Tapi Daniel tak ingin kehilangan Hana untuk kedua kalinya.
Wei menatap tajam, manik matanya mengamati Daniel. Dia sedang mengamati apakah Daniel jujur? Walau Wei sangat tahu siapa Daniel, tapi kali ini dia tak ingin berspekulasi. Dia tak ingin gegabah mengambil keputusan.
"Seberapa besar kamu akan mengorbankan diri?" Wei menantang Daniel, tatapannya masih sama. Ada ketidakpercayaan dalam diri Wei. Manik matanya mengamati serius mimik Daniel.
"Aku bersedia melepas semuanya." Daniel berkata serius.
"Benarkah?" Wei dengan egoisnya menindas Daniel dengan kata-kata. Karena Wei tahu pasti perusahaan yang sedang Daniel pimpin sekarang adalah perusahaan yang dimiliki ayahnya Hana. Daniel sama sekali tak mempunyai hal atas kepemilikan perusahaan itu. Apakah Daniel berani melepas semuanya? Karena tanpa diminta pun perusahaan itu memang milik Hana.
Hah.. menyebalkan. Muka badak. Apa yang akan kau lepaskan? Sejak awal kau tak memiliki apapun.
"Sayang sekali aku tidak mempercayai mu!" Wei melengos meninggalkan Daniel yang masih termangu di depan halaman rumah sakit.
Wei berjalan menuju UGD. Disana terlihat Sandi bersama Steve sedang duduk menunggu. Keduanya terdiam tanpa ada yang berbicara. Mereka seperti kaku. Dingin.
"Wei... " Steve berdiri menghampiri Wei.
"Apa yang kau bicarakan dengan Daniel?" Steve bicara pelan setengah berbisik.
Wei menatap wajah Steve. Dia terdiam. Seperti itulah Wei. Kadang sulit ditebak. Sangat sulit untuk terbuka.
"Duduklah!" Wei menepuk bahu Steve untuk duduk kembali.
Wei duduk di samping Sandi sedangkan Steve di samping Wei. Ketiga laki-laki itu serius terdiam.
"Coba ceritakan apa yang sebenarnya yang terjadi pada Hana!" Wei menoleh ke arah Sandi. Tapi yang dilihat sama sekali tak menghiraukannya, cuek. Sebentar melirik lalu kembali melihat ke depan.
Wei mengusap kasar wajahnya. Dia menoleh ke arah Steve.
"Apa kabar ayah mu Steve?"
"Hhmm baik Wei."
Dari kejauhan Daniel menatap ketiga orang laki-laki yang sedang duduk di depan ruang UGD. Daniel tak berani mendekat. Seribu pertanyaan memenuhi pikirannya. Rindu berat yang tertahan oleh keadaannya. Ingin rasanya dia menghambur memeluk Hana menumpahkan segala rindu yang selama ini dipendam. Rindu yang amat menyiksa. Hatinya begitu semangat ketika orang yang dinantinya kembali. Tapi begitu melihat dia ketakutan, hatinya serasa sedih, pilu.
"Hana maafkan aku! Aku yang membuat kamu menjauh. Aku akan menebusnya dengan cara apapun. Aku ingin menghabiskan hidupku denganmu." Daniel tak menyadari kesalahannya pada Hana. Janji itu seperti angin yang berhembus tanpa isi.
Seorang perawat keluar dari dalam ruangan. Dia melihat pada kursi yang telah berisi. Lalu memperhatikan satu persatu.
"Adakah disini walinya?" Mata itu bergiliran menatap pada laki-laki yang sedang duduk.
Wei berdiri dari kursinya.
"Saya... " Dia mengacungkan lima jari tangannya, mengaku sebagai walinya.
"Baiklah, mari ikut saya!" Perawat itu melihat Wei mengangkat kedua ujung bibirnya, tersenyum.
"Aku ikut!" Sandi berdiri dari kursinya. Dengan cepat Steve menarik tangannya, melarang mengikuti Wei ke dalam ruangan dokter.
"Duduk disini! Ngapain kamu ikut ke dalam?" Steve melihat Sandi dengan wajah agak kecut dan berkata dengan tegas.
"Lah dia kenapa ke dalam?" Sandi menoleh ke arah Steve. Menolak ajakan Steve.
"Issshhh... " Steve berdiri. Matanya melotot menatap Sandi giginya menggertak kesal.
"Kamu duduk! Atau aku panggilkan security?" Steve menarik tangan Sandi. Memaksanya duduk kembali. Sandi menepis tangan Steve.
Keduanya duduk kembali. Sandi menoleh ke arah Steve. Steve kembali melotot. Sandi menekuk muka rasa kesalnya tak bisa disembunyikan.
__ADS_1
Tapi Sandi kembali menoleh ke arah Steve.
"Awas ya! Kalian bersekongkol membohongi Hana! Akan kubalas perbuatan kalian! Sandi mengacungkan telunjuk jarinya ke arah wajah Steve.
Steve yang tadinya duduk santai seakan tersulut emosinya. Dia menegakkan badannya dan menepis telunjuk jari Sandi. Dia kembali melotot.
"Kalau bukan di rumah sakit, mulut songongmu sudah kusumpal dari tadi." Steve menekankan suaranya. Walau dia kesal dia sadar ini sedang ada di rumah sakit.
Sandi kembali diam. Kedua telapaknya mengusap rambutnya ke belakang. Dia menarik nafas kasar dan membuangnya dengan kasar pula.
Dia berdiri meninggalkan tempat duduk. Rasanya seperti panas, padahal suhu AC di dalam ruangan rumah sakit begitu dingin. Mereka seperti menabuh perang dalam diam. Emosi mereka bermain. Lebih baik bagi para lelaki itu untuk bertarung dii ring daripada harus adu mulut dan menahan emosi.
Sandi mencari tempat yang agak sepi. Dia mengeluarkan handphone menekan nomor seseorang.
"Ton.. gimana sudah ada perkembangan?" Sandi menanyakan sesuatu pada Tono.
"Tunggu saja setelah malam nanti!" Tono mematikan handphone nya tanpa basa- basi.
"Iss... dasar!" Sandi mengumpat melihat sikap Tono yang mematikan handphone nya tanpa permisi. Dia memasukkan kembali handphone nya ke dalam saku celana.
Sandi menatap ke depan. Tanpa sengaja matanya menangkap Daniel yang sedang memperhatikannya. Dua pasang mata beradu lalu sorot matanya berubah seperti saling memprovokasi.
Sandi berjalan mendekati Daniel. Tanpa disangka satu pukulan melayang mengarah ke muka Daniel. Daniel terkejut dengan sikap Sandi yang arogan badannya mundur beberapa langkah ke belakang. Batang hidungnya terkena pukulan keras Sandi. Tetesan darah keluar dari lubang hidungnya, terasa menggelitik indra perasaan Daniel. Lalu dengan spontan tangannya mengusap cairan yang hampir saja masuk ke dalam mulutnya.
Sandi tidak berhenti malah melayangkan pukulan demi pukulan tak memberi waktu pada Daniel untuk melakukan perlawanan. Akhirnya Daniel terjungkal dan jatuh di lantai dengan luka babak belur.
Orang yang melihat perkelahian segera berteriak memanggil security dan beberapa orang lagi berusaha menahan amukan Sandi yang akan kembali menyerang Daniel yang sudah jatuh. Sandi mempunyai tenaga ektra besar dalam berkelahi. Selain dia mahir beladiri, kemampuan bertarungnya sering terasah karena banyak hidup dijalanan dan berkelahi.
Steve yang mendengar keributan segera berdiri lalu menghampiri kerumunan.
"Ya ampun dasar bocah songong!" Steve menatap Sandi yang sedang ditahan oleh beberapa orang. Badannya meronta-ronta. ingin lepas dari genggaman orang-orang yang berusaha menahannya.Wajahnya penuh amarah, nafasnya terlihat tersenggal-senggal.
Steve menatap ke bawah. Dilihatnya Daniel yang sudah babak belur.
"Kau... Daniel. Isssh. " Steve tak mampu berbicara lagi. Dia menurunkan tubuhnya ikut duduk berjongkok. Steve melirik ke arah Sandi kepalanya menggeleng, tak habis pikir dengan kelakuan Sandi dan Daniel.
"Apakah mereka berkelahi di rumah sakit ini?
Steve bergumam dalam hati. Terlepas siapa yang memulai dan apa yang memicu keduanya, Steve menganggap ini kejadian memalukan.
Tak lama kemudian tim media membawa blankar, badan Daniel segera diangkat dan didorong menuju ruangan perawatan.
Setelah mendapatkan perawatan dan pengobatan, Daniel terbaring. Seluruh mukanya terasa sakit bekas hantaman pukulan Sandi.
Steve duduk di samping Daniel mengamati luka-lukanya sambil bergumam lirih, "memalukan!"
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? Bukannya impas?" Daniel bicara sambil meringis.
"Tak habis pikir dengan bocah songong itu." Steve tersenyum sinis.
"Siapa dia?" Daniel tak mengenali Sandi.
"Kamu lupa?" Steve menatap wajah Daniel.
Daniel mengelengkan kepala.
"Dia yang... aah.. kesal sekali sama bocah itu!" Steve tak melanjutkan bicaranya.
Daniel mengerutkan dahi. Sebelah tangannya mengelus batang hidungnya yang diperban.
"Oh... aku ingat. Bukannya dia yang menculik Hana?" Suara Daniel meninggi.
"Ya ampun, Kenapa aku sampai lupa? Kenapa dia gak dimasukin penjara saja waktu itu?" Daniel mengernyitkan dahi.
"Emang kamu berani?" Steve mengangkat alisnya.
"Lah... kenapa gak berani?" Daniel merasa heran.
"Apalagi dia sudah dua kali berkasus."
"Dia bukan dua kali berkasus. tapi tak terhitung kasusnya." Sandi mendengus kesal.
"Baguslah kalau begitu." Daniel seperti menemukan ide. Seluruh kesaksiannya seperti hilang ketika idenya muncul.
"Emang apa yang akan kau lakukan?" Steve penasaran.
__ADS_1
"Aku akan melaporkannya biar dia dipenjara, dan jera!" Daniel tersenyum licik.
"Hadeuhhh... Bukannya dia dipenjara. Bisa-bisa izin usahamu dicabut." Steve menghempaskan tubuhnya lalu memejamkan mata.
"Apa maksudmu? Aww..." Daniel meringis ketika mulutnya terbuka terlalu lebar. Ujung bibirnya yang terkena pukulan terasa sakit karena sedikit tertarik.
"Kamu belum tahu bocah itu siapa? Dia anak petinggi tahu! Kebal hukum di negeri ini!"
"Jadi urungkan saja niatmu melaporkannya! Bisa-bisa malah kamu yang dipenjara karena diputar balikkan!" Steve menatap Daniel yang melotot dengan heran mendengar penjelasannya.
"Gitu ya?" Nyali Daniel terasa menciut.
"Steve... aku... mau tanya boleh?"
"Tanya apa?" Steve agak malas.
"Kamu kan deket tuh sama Hana. Kamu bisa tanyakan gak kenapa dia takut sama aku?"
Steve membuka mata menatap lamat-lamat wajah Daniel.
"Aku gak tahu, aku gak pernah nanya sama Hana."
"Ishhh... kamu serumah apa gak pernah ngobrol?"
"Aku gak kepo... " Steve kembali memejamkan mata.
"Tolonglah Steve... aku tadi pagi sudah ke kantor Wei, tapi dia sama sekali tak memberi jawaban. Makanya aku datang ke sekolah Hana."
"Oh jadi Hana pingsan gara-gara elu Daniel? Sial!" Sandi merutuk. Wajahnya jadi kesal sama Daniel.
Steve kira pembuat ulahnya Sandi, eh malah Daniel. Pantesan bocah songong itu memukulnya.
"Elu ngapain sih bikin gara-gara?" Steve kesal.
"Kamu gak ngerasain bagaimana kau bertahun-tahun nyari Hana. Bagaimana aku harus menahan rindu sama dia. Aku gak mau kehilangan dia lagi." Daniel bicara mengalir tanpa bisa dicegah. Emosinya membuncah tanpa bisa ditahan lagi.
Steve melongo melihat Daniel meluapkan perasaannya. Steve masih gak percaya. Apa yang dikatakan Daniel itu kangennya seorang kakak apa rindunya seorang kekasih?
Steve yang punya sifat kalem juga tak suka kepo, mendadak penasaran.
"Daniel.. kamu kan kakaknya? Mana mungkin kamu... suka sama Hana kan?" Steve berbicara agak hati-hati. Menurutnya ini daerah sensitif.
"Betul aku kakak tirinya. Tapi aku benar mencintainya sebagai kekasih?"
"Ya ampun." Steve menelungkupkan kedua telapak tangannya.
"Ini gila!" Steve bangkit dari tempat duduknya. Lalu melangkah pergi dari ruangan Daniel.
"Steve.. Steve... " Daniel berteriak sambil meringis.
Tapi yang dipanggilnya terus saja berjalan mengacuhkannya.
Steve terdiam. Dia menyandarkan diri di tembok. Tak habis pikir dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Sejak kedatangan Hana hidupnya jadi runyam. Banyak masalah yang menjadi benang kusut dalam hidupnya.Tadinya dia tak ingin ikut campur dengan semua masalah Hana. Tapi satu persatu masalah itu malah mendekat padanya.
"Ya Tuhan... apa maksud semuanya ini?" Steve menelungkupkan kembali kedua telapak tangannya, dia mengusap wajahnya, lalu bernafas kasar. Seketika wajahnya kusut.
Steve berjalan melangkahkan kakinya menuju ruang security lalu mengetuk pintu. Dia harus menyelesaikan satu persatu masalah agar tak menambah runyam. Bagaimanapun sekarang Steve terbawa dalam masalah itu, karena Hana.
Tok.. Tok.. Tok.
"Iya masuk! Seseorang mempersilahkan masuk pada Steve.
"Silahkan duduk!"
Steve duduk. Lalu menatap orang yang ada di depannya. "Maaf Pak! Saya... mau bicara tentang perkelahian tadi."
"Iya silahkan! Security rumah sakit sedikit ramah.
"Kami ingin membebaskan Sandi, laki-laki yang tadi bapak tahan. Biarkan kami menyelesaikan secara kekeluargaan. Ini masalah intern kami, jadi kami akan menempuh cara damai." Steve berbicara serius.
"Oh baik! Kami mendukungnya. Jika suatu saat anda membutuhkan kami untuk melaporkan pada polisi, kami siap membantu."
"Baik Pak! Saya ucapkan banyak terima kasih atas kebijaksanaan bapak. Sekali lagi saya mohon maaf atas nama saya pribadi juga atas nama keluarga sudah merepotkan bapak!" Steve terdengar basa-basi agar masalahnya tak berkepanjangan.
Bapak tadi berdiri lalu membuka kunci pintu.
__ADS_1
"Silahkan anda bebas. Ingat, jangan buat keributan lagi!"
"Terima kasih pak!"