Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Saksi hidup


__ADS_3

"Tidak," jawab Wei pendek.


"Tapi mobilnya aku lihat ada disini." Mata Daniel masih mengamati mobil Riana yang terparkir tepat di depan Daniel berdiri.


"Oh.. tadi aku yang bawa. Kebetulan tadi dia datang ke rumah mengunjungi ibu. Pulangnya aku dipaksa mengantarkannya." Jelas Wei panjang lebar.


"Oh, " jawab Daniel sambil mengangguk mengerti, padahal yang diajak bicaranya pun tak ada di hadapannya. Daniel meneruskan langkahnya menaiki lift yang ada di area baseman apartemen.


Rupanya Riana mengikuti saran ku. Syukurlah.. Semoga dia berjodoh dengan Wei dan aku bisa berhubungan dengan Hana tanpa kendala.


Tak lama kemudian Daniel sampai di depan pintu apartemen Wei. Dia memijit belt. Pintu terbuka terlihat Wei masih dengan pakaian rapih. Dia belum sempat mengganti pakaian karena baru sampai di apartemen nya. Sejak meninggal ayahnya Wei lebih banyak tinggal di mansion utama ketimbang di apartemen. Karena masa berkabung ibunya belum lama. Terkadang dia merasa kesepian, terpaksa Wei tinggal sementara di mansion utama. Dikarenakan ada janji dengan Daniel, dia kembali ke apartemen.


"Masuklah!" Wei mengajak masuk Daniel. Langkahnya diikuti Daniel lalu mereka duduk bersama di atas sofa yang ada di ruangan tamu. Apartemen mewah Wei yang tak jauh dari lokasi kantor memudahkan Wei untuk pulang pergi kerja. Sebenarnya Wei lebih senang tinggal di apartemen ketimbang di mansion karena jaraknya cukup jauh dari lokasi Wei bekerja.


"Mau minum?" Wei menawari minum sambil berjalan ke arah kitchen.


"Yang ringan saja!" Pinta Daniel yang tidak mau disuguhi minuman beralkohol.


"Bagaimana sudah ada kabar mengenai Hana?" Daniel memulai pertanyaan mengenai keberadaan Hana.


"Belum. Aku sudah menyuruh beberapa anak buahku untuk menyelidiki keberadaan Hana. Tapi hasilnya nihil." Wei menyodorkan minuman kaleng soda dingin ke tangan Daniel. Daniel menerima minuman itu lalu membuka penutup kalengnya dan tak lama kemudian minuman itu masuk ke mulutnya. Ada rasa segar memenuhi tenggorokannya. Daniel menenggak beberapa kali lalu menyimpan kaleng itu di atas meja yang ada di depan sofa.


"Nih bacalah!" Daniel menyodorkan amplop coklat yang dia dapatkan dari agen rahasia yang telah disewanya.


Wei membuka amplop tersebut dan membacanya dengan teliti. Keningnya berkerut mengamati poin demi poin yang tertera dalam kertas itu.


Bagaimana dengan perasaan Daniel? Catatan kejahatan ini merujuk pada ibunya sendiri. Apa yang terlintas dalam pikirannya.


Wei diam sejenak, memikirkan Daniel yang telah membawa catatan itu padanya. Dia tak bisa membayangkan perasaan Daniel yang harus mengeksekusi ibunya sendiri. Walau itu kejahatan ibunya pastinya hati kecilnya ingin melindungi orang terdekatnya.


"Daniel.. kau tak apa-apa?" Wei berkata pelanggan sambil menoleh pada Daniel yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa. Kelihatan raut wajah lelahnya dan Wei tak tega melihat sahabatnya dalam keadaan payah seperti sekarang ini.


"Aku harus bagaimana lagi? Aku sudah cukup membiarkan ibuku dalam kejahatan. Dan aku tak bisa menahannya lagi untuk berbuat lebih." Daniel melirik Wei dengan tatapan penuh pikiran.


"Baiklah. Kita akan mencari bukti lain Daniel. Dan kau pun harus waspada! Aku tak tahu apa yang akan dilakukan ibumu sekarang setelah dirinya merasa terancam. Bahkan kita pun harus menemukan Hana dan dokter Alvian sebagai saksi hidup. Karena bukti saja tidak cukup. Kemarin aku sudah berbicara dengan kolegaku mengenai hal ini. Kebetulan dia orangtua murid Hana juga, sedikit banyak dia mau membantu kita menuntaskan masalah ini. Tapi... " Wei menghentikan pembicaraannya.


"Tapi apa?" Daniel kembali melirik Wei pandangan mereka beradu seolah saling membaca pikiran masing-masing.


"Kamu siap jika ibumu suatu saat ditangkap dan dipenjarakan?" Wei memastikan Daniel mengenai ibunya. Karena Wei merasa khawatir jika Daniel berubah pikiran.


"Aku akan melindunginya, tapi tidak akan membiarkan dia melangkah lebih jauh lagi dan mencelakai orang-orang yang tak bersalah."


"Baik. Sementara kita mengumpulkan bukti. Kita harus mencari keberadaan Hana dan dokter Alvian. Jika mereka ditemukan mereka harus dilindungi. Karena tanpa mereka kasus ini tak bisa dilanjutkan." Wei menerangkan panjang lebar.


"Baik.Usahakan pertemuan kita jangan sampai kelihatan. Aku pun ingin istirahat sejenak. Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan agar bisa berpikir lebih tenang." Daniel memberitahukan Wei mengenai statusnya sekarang.


"Apa? Kau tidak becanda kan?" Wei tetlihat kaget mendengar berita itu.


"Tidak. Aku ingin memberi pelajaran pada ibuku. Aku tak lagi menuruti keinginannya. Bahkan beberapa saham sudah aku amankan agar nanti bisa diberikan pada Hana jika Hana sudah kembali. Karena dia berhak memilikinya."


"Hah.. " Wei mengeluarkan nafas kasar. Dia tak menyangka Daniel bisa secepat itu bertindak.


"Malam ini aku bolehkan menginap disini?" Kedua ujung bibir Daniel terangkat, dia tersenyum sambil melirik jahil pada Wei.

__ADS_1


"Tidak." Wei menjawab pendek sambil menenggak minuman soda yang dipegangnya.


"Bukankah kita sudah lama sekali tidak berkumpul bareng?" Senyum Daniel merajuk mengamati mimik wajah Wei yang sedari tetap cool.


Wei terdiam tak menjawab apapun.


"Eh kamu ingat waktu dulu kita sering tidur bareng dirumahku? Sampai nakalnya kita nongton film biru ketahuan Hana? Aku sebenarnya malu bangett... sampai sekarang kadang kalau ingat kejadian itu aku berharap Hana tidak mengingatnya. Eh malah beneran gak ingat semuanya." Pandangan Daniel seolah sedang mengingat masa lalu senyum diwajahnya terlihat jelas dia sedang bahagia.


Wei melirik sebentar, lalu kembali menenggak minuman soda. Kedua laki-laki itu masing-masing sedang memikirkan orang yang sama. Bedanya yang satu bisa bicara terus terang dan yang satu lagi lebih baik memilih diam.


"Eh.. aku penasaran dulu bukannya kamu pernah menerima surat dari seseorang. Kalau gak salah kamu belum menceritakan Identitasnya. Apa wanita itu yang selama ini kamu tunggu?" Tiba-tiba saja terlintas ingatan tentang seorang wanita yang pernah memberi surat pada Wei, dan itu pertama kali Wei bercerita terus terang. Tapi setelah itu ceritanya tak berlanjut.


Uhuk.. Wei tersedak mendengar pertanyaaan Daniel yang sepertinya menohok hatinya. Wei segera membawa beberapa lembar tisu dan mengelap semburan air soda yang dikeluarkan dari mulutnya karena tersedak.


"Wei kamu tak apa-apa? Daniel terkejut juga melihat reaksi Wei yang tersedak setelah mendengar pertanyaannya.


"Hhmm.. " Wei menjawab pendek.


"Sebaiknya kamu pulang. Besok aku akan mengantar Steve ke bandara." Wei seolah tak ingin Daniel terlalu dekat dan dirinya menjadi tak nyaman. Besok memang dia berencana mengantar Steve ke bandara untuk melepas kepergiannya ke Perancis bersama kedua orangtuanya.


"Wah? Steve mau kemana? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Bukankah Steve asistenmu?" Daniel menegakkan badannya lalu berbalik menatap Wei dengan inten. Penasaran dengan apa yang sedang terjadi dengan Wei.


"Steve butuh hiburan, aku rasa dia sudah cukup lama juga berpisah dengan kedua orangtuanya. Jadi apa salahnya kalau Steve memutuskan untuk kembali ke Perancis. Lagian disana juga ada perusahaan keluarga yang harus dia kelola. Aku tak bisa terus menahannya." Wei menunduk. Sebenarnya dalam hati kecilnya Wei begitu sedih harus melepaskan Steve ke Perancis. Selain pekerjaan akan banyak menumpuk, tapi ada hal lain yang membuat Wei begitu merasa kehilangan. Baginya Steve sudah seperti keluarganya sendiri. Apalagi sekarang sudah jelas identitas Steve dan Hana yang bersaudara. Tapi sangat disayangkan Steve memilih untuk berpisah bahkan menurut penilaian nya Steve lebih tak ingin menemui Hana


lagi. Lalu siapa yang akan peduli pada keberadaan Hana sekarang? Steve saja sebagai saudaranya seperti tak mengharapkannya.


"Hhmm.. " Daniel terdiam.


"Apa?" Daniel terhenyak.


"Kenapa? Kamu kayak yang kaget gitu?" Wei melihat Daniel dengan rasa penasaran. Jarang-jarang Wei menaruh ingin tahu pada gosip atau kabar yang kurang manfaat. Tapi setelah pertemuannya dengan Riana juga melihat sikap Daniel, sepertinya ada hal yang ingin dia tanyakan lebih jauh pada Daniel. Padahal dia sendiri tadi sudah menyuruh Daniel untuk pulang.


"Ah.. aku tak tahu apa yang dibicarakan Riana padamu. Bukankah Riana sudah lama menyukaimu? Kenapa aku harus menikahinya?" Sekarang Daniel yang merasa harus tahu dengan maksud pembicaraan Wei barusan.


"Hhmm.. entahlah. Tadi Riana menceritakan katanya dia dijodohkan denganmu. Ya, pastinya kalian akan segera menikah bukan?" Wei melirik sebentar lalu kembali menatap ke depan dengan pikiran menerka-nerka.


"Kenapa kamu menjadi bodoh sekali Wei? Sekali-kali peka lah sedikit pada wanita! Apakah kamu mengerti tujuan Riana memberitahumu hal itu?" Daniel menghela nafas, kadang kesal juga menghadapi sikap Wei yang dingin dan kadang tidak begitu peka terhadap perasaan wanita.


"Mana aku tahu kalau dia tidak cerita." Dengan muka datar Wei tak mengambil pusing apa yang dimaksud Daniel dengan sikap Riana.


"Makanya sekali-kali pacaran lah biar tahu bagaimana harus bersikap dengan wanita!"


"Ah seperti ahlinya saja kamu bicara!" Wei menepis argumen Daniel. Ego Wei memang selalu tinggi dan tak mau terlihat lemah.


"Hah.. begini Wei.. kalau aku mau terjemahkan, sebenarnya Riana cinta banget kan sama kamu. Meski aku gak ngasih tahu kamu sendiri pastinya tau kan? Nah.. kenapa Riana memberitahu perjodohannya? Dia sebenarnya menginginkan kamu itu cemburu." Daniel panjang lebar menerangkan maksud sikap Riana pada Wei.


"Kenapa aku harus cemburu?" Wei menghempaskan badannya dan memejamkan mata. Pikirannya terlalu berat memikirkan semuanya dalam satu waktu. Dia ingin merehatkan sejenak matanya dan relaks.


"Ya ampun. Memangnya aku gak tahu kamu cemburu? Dengan melihat sikap kamu barusan itu sudah menunjukkan kecemburuan seorang laki-laki."


"Diamlah! Lebih baik kamu pulang!" Wei melirik lemah menatap Daniel.


"Baik. Sebaiknya kamu membuka hatimu buat Riana. Jangan pura-pura menolak!" Daniel menyeringai licik. Menertawakan Wei yang terlihat lemas

__ADS_1


Sebuah bantal sofa tak lama mengenai muka Daniel setelah Wei Melemparkannya karena kesal.


"Kamu tahu arah pintu keluar? Atau mau aku tunjukkan!" Wei mengusir Daniel agar tidak terus-terusan mengoceh dan memperoloknya.


"Baik tuan cool. Aku akan keluar tanpa diantar dengan syarat, 'kamu jangan lagi menolak Riana' oke!" Daniel tertawa terkekeh-kekeh menertawakan sahabatnya yang sudah kesal dengan ocehannya sejak dari tadi.


"Terserah kamulah!"


"Baik. Aku pulang dulu jangan lupa syaratku tadi!" Daniel dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu sambil tersenyum panjang.


Wei melonggarkan dasi lalu menariknya dari kerah kemeja. Dia mencoba membuka kancing kemeja dan jas yang masih menempel pada badannya. Lalu dia bergerak menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya yang sudah lengket sejak tadi.


Wei terbaring di atas bathtub sambil menikmati air hangat dengan aroma terapi. Sedari tadi Wei merasa kelelahan. Lelah fisik dan lelah pikiran. Bayangkan saja pekerjaannya sekarang jadi menumpuk semenjak Steve meninggalkan pekerjaaan. Belum beberapa masalah di kuar pekerjaan yang harus dia tangani. Matanya menerawang ke atas langit-langit dalam kamar mandi.


Kenapa hidupku jadi rumit begini? Apakah aku harus menjalani hidup bersama Riana yang mungkin saja beresiko rendah ketimbang mengejar cinta pada Hana? Apa aku harus mencoba membuka hati seperti apa yang dikatakan Daniel?


Wei kembali memejamkan matanya. Dan tak lama kemudian dia bangkin membilas bekas sabun yang masih menempel di badannya. Selesai dari membersihkan sabun dia membawa handuk dan membungkus setengah badannya dengan handuk mandi.


Kring


Kring


Kring


Suara handphone berbunyi, Wei mengambil handphone dan segera mengusap tanda hijau.


"Halo."


"Wei aku sudah di depan pintu." Suara Riana ada diseberang telpon.


"Hah?" Wei kaget mendengar Kedatangan Riana yang tiba-tiba saja ada di depan pintu. Bukannya tadi dia sudah mengantarkannya. Kenapa sekarang dia sudah ada disini lagi. Belum sempat Wei menjawab panjang, terdengar bunyi kode pintu apartemen dipijit dan tak lama kemudian pintu terbuka.


Dua pasang netra beradu dan saling menatap. Riana yang tak sengaja melihat penampilan Wei yang setengah badan dililit handuk dan Wei merasa mati kutu melihat penampilan Riana dengan balutan seksi baju merah dengan belahan rendah dan mengekspos bagian paha yang jenjang dengan jelas membuat naluri kelaki-lakian muncul.


Riana yang terlihat agresif maju melangkah terus mendekati Wei. Lalu tanpa disadari Wei sesuatu terjadi dengan cepat. Bibir Riana mendarat begitu saja.


Wei yang masih sadar diri mendorong Riana sampai terpental jatuh di lantai.


"Aw.. Wei.. " Riana meringis merasakan sakit.


"Oh maafkan aku!" Wei yang merasa kaget tentu saja tidak disari dia telah menyakiti Riana karena jatuh terpental.


"Mari aku bantu!" Wei mengukurkan tangannya untuk menarik badan Riana yang masih ada di lantai karena dorongan Wei tadi.


Riana menyambut tangan Wei lalu dia bangkit dari lantai.


"Duduklah! Aku akan berpakaian dahulu!" Wei berjalan menuju ruang ganti pakaian.


Tak lama kemudian Wei datang kembali setelah berpakaian lengkap ala rumahan, baju kaos dan celana bahan katun yang ringan yang biasa dia pakai ketika di rumah. Wei berjalan menuju kitchen dan mengambil dua botol minuman dingin dan disimpannya di depan Riana.


"Kenapa kembali kesini?" Wei tak berani menatap wajah Riana. Kejadian barusan sebetulnya belum siap dia terima. Walau Wei sempet berfikir untuk menjalin hubungan dengan Riana, tapi dia ingin berjalan perlahan-lahan.


"Hhmm... aku mau mengambil mobilku." Riana pun tertunduk malu.

__ADS_1


__ADS_2