Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Rahasia


__ADS_3

Sandi penasaran membuka surat-surat itu. Tak ada satu kata pun yang dia lewatkan untuk dibacanya. Sampai amplop-amplop itu habis dibacanya.


"Jadi dia pernah dirawat di rumah sakit jiwa? Ini kasus besar, dia dalam bahaya." Sandi bicara sendiri.


"Aku harus cepat mencarinya! Kenapa selama ini dia terlihat tenang-tenang saja." Sandi merasa bersalah karena selama ini banyak menyusahkan bu Restu, bahkan sangat merepotkannya. Padahal dia sendiri punya masalah besar.


Ah kenapa aku menjadi bodoh sekali. Kenapa aku tega sekali membuat dia kerepotan. Maafkan aku bu Restu...


Sandi menatap seluruh ruangan itu. Dia berjanji dalam hatinya, dia akan melindungi bu Restu. Dia tidak akan lagi menyusahkannya. Sandi meninggalkan rusun bu Restu dengan seribu penyesalan. Dia akan mengerahkan kemampuannya menemukan bu Restu. Katanya bu Restu sudah absen tak masuk ke sekolah berdasarkan info dari beberapa teman dekatnya. Pasti sesuatu sedang terjadi padanya. Sandi mamacu mobilnya ke arah yang menurutnya bisa memberi informasi keberadaan bu Restu.


###


"Jam berapa ini?" Hana memicingkan mata penasaran melihat jam dinding. Kantuk masih bergelayut.


"Jam sebelas lebih." Apa Steve belum pulang? Semua tampak sepi di rumah itu. Lampu-lampu sudah dipadamkan. Baru saja Hana berdiri dari sofa, pintu terdengar dibuka. Hana melihat ke arah pintu, terlihat bayangan seseorang masuk dalam keremangan. Dia berdiri tak melanjutkan langkahnya.


"Siapa itu?" Karena pandangannya kurang jelas, Hana menyipitkan matanya sambil bertanya.


"Ehem.. ehem.. " Steve berdehem memberi isyarat.


"Aku Steve." Dia berjalan mendekat sambil menunduk, menyembunyikan matanya yang mabuk juga bau rokok yang tajam.


"Oh Steve. Baru pulang?" Hana menatapnya.


Steve mengangguk tak berani mengangkat wajahnya. Mulutnya pun ditutupinya dengan sebelah telapak tangannya.


"Aku masuk kamar dulu ya." Hana berjalan meninggalkan ruangan merasa tidak nyaman bertemu Steve dengan keadaan seperti itu. Walau Steve berusaha menyembunyikannya, tapi bau rokok sangat sensitif tercium oleh Hana.


Sebenarnya darimana dia? Aku mencium bau rokok yang tajam. Kalau bertemu seseorang atau kencan mana mungkin pulang seperti itu? Dia sepertinya mabuk juga. Ah.. aku harus menghindar. Karena orang mabuk susah ditebak. Lebih baik aku menghindarinya.


Hana mengunci kamarnya. Tak membiarkan dirinya dalam keadaan bahaya. Walau dia sudah dekat dengan Steve, tapi sekarang malah Hana merasa dirinya tidak aman. Hatinya penuh waspada.


#Sebulan kemudian#


"Sudah satu bulan aku mendiami rumah ini tanpa banyak kegiatan. Selain ke dokter untuk kontrol kesehatan, hari-hari ku dihabiskan dengan diam di rumah. Apalagi kalau bukan nonton tv atau membaca buku di taman. Jenuh pastinya, iya. Makanya mulai hari ini aku berniat memulai kegiatan dengan mengerjakan pekerjaan rumah." Gumam Hana dalam hatinya.


"Pagi nyonya Kim!" Hana terlihat ceria.


"Pagi!" Jawab nyonya Kim sambil memantau kegiatan di dapur.


"Bolehkah aku membantumu?" Hana mendekatinya.


"Jangan-jangan!" nyonya Kim melambaikan tangannya, mencegah Hana melakukan aktifitas di dapur. Dia khawatir jika ada apa-apa, Wei akan memarahinya.


"Tapi.. " Kening Hana mengkerut.


"Anda duduk saja!" Wajah nyonya Kim terlihat melebarkan ke sekeliling takut ada yang melihatnya memperlakukan buruk Hana, nanti ada yang melaporkannya pada Wei.


"Please! Saya bosan." Hana tertunduk lesu.


"Ada apa ini?" Suara Steve mengagetkan keduanya.


"Maaf tuan Steve!" Nyonya Kim menunduk.


"Steve.. bolehkah aku membantu mereka memasak? Aku bosan diam di rumah terus, sementara tidak ada kegiatan." Hana merajuk manja.


"Mmm... boleh, asalkan tidak terlalu berat." Wajah Steve masih terlihat berantakan karena bangun tidur.


"Eh.. tapi sebentar. Aku mandi dulu. Kita akan jalan ke luar." Steve berubah pikiran.


"Ya ampun." Hana tertegun melihat suasana Steve berubah-ubah. Heran


Sambil menunggu dia mandi, Hana menyiapkan sarapan pagi ringan. Segelas susu, dan roti panggang isi telur.


Setelah meneguk segelas susu dan menggigit roti yang telah dibuat, Steve lantas mengajak Hana jalan ke luar dengan mobilnya.


Lima belas menit kemudian, sampailah mereka di depan sebuah Mall X.


"Ayo! Kita belanja. Kamu boleh belanja apa saja. Nih pakai!" Steve menyodorkan satu kartu debit.


"Tidak.. tidak! Hana menolak pemberiannya.


"Ambilah!" Steve menarik tangan Hana lalu menyimpan kartu itu di telapak tangan dan melipatnya.


Hana terdiam. Tak enak menerima semua kebaikan Steve sedangkan Hana sendiri punya suami. Bagaimana caranya Hana menanyakan keadaannya? Satu bulan ini Hana sudah berusaha bersabar. Walau dia asisten pribadinya tapi tetap saja Hana gak enak hati.


"Steve.. aku.. "


"Iya.." Manik mata beningnya menatap Hana.


"Aku mau cari makan." Hana segera mencari alasan untuk mengajaknya bicara.


"Mau makan apa?" Steve begitu perhatian. Ada perasaan damai jika sedang bersama Hana.


"Steak." jawab Hana pendek.

__ADS_1


"Hhmm.. sebentar. Nanti kita cari dulu di area mall yang ada steaknya ya!" Dia membuka hp nya.


"Oh lantai 3. Kita kesana!"


"He'em."


Apa aku pernah mengenal tempat ini sebelumnya? Sesekali Hana melihat aneka barang yang dipajang beraneka ragam dan merk. Sampai di satu toko barang mewah, disana dipajang aneka berlian. Sekelebat Hana melihat punggung seseorang laki-laki yang mirip dengan suaminya dari belakang. Langkahnya sengaja diperlambat, sedangkan Steve melangkah lebih dahulu tanpa sadar telah meninggalkan Hana di belakangnya. Dengan perasaan deg-degan Hana sengaja memundurkan langkah pura-pura jongkok membetulkan tali sepatu sportynya. Dia menajamkan ke arah dalam. Sedikit-sedikit dia menggeserkan badannya agar bisa melihat wajah seseorang di dalam toko.


"Membalik donk! Please.. " Dia bergumam dalam hati.


Hana berkelut dengan doa. Rasa keinginan tahuannya begitu besar.


"Hana."


Deg


Suara panggilan itu benar mengagetkannya. Steve sudah ada di samping berdiri dengan melihat ke bawah.


"Eh ini.. tali sepatu.. " Hana tergagap sambil pura-pura membetulkan tali sepatunya.


"Biar aku membantumu!" Steve ikut jongkok


"Gak usah.. sudah bener ko." Hana begitu cemas takut Steve mengetahui kebohongannya. Dia duduk jongkok semata- mata ingin menutupi alasannya penasaran dengan laki-laki yang sedang berdiri di etalae itu.


Hana langsung berdiri tapi hatinya masih penasaran. Dia mencuri-curi pandang lewat ujung matanya melihat siapa yang ada di dalam sana. Tetapi tangan Steve langsung menarik cepat pergelangan tangannya menggenggam dengan keras.


"Aw.. sakit.. lepasin!" Hana mengibaskan tangannya berusaha melepaskan genggaman Steve yang cukup kuat.


Steve melepaskannya, tapi mata Steve serius melihat Hana. Sementara Hana mengusap-usap tangannya yang agak berbekas merah dan sakit.


"Maafkan! sakit ya?" Steve mendekat berusaha melihat pergelangan yang barusan digenggaman nya begitu kuat. Terlihat ada rasa penyesalan.


Hana cemberut, lalu melengos berjalan ke depan tanpa menghiraukan Steve yang masih dibelakang.


"Marah ya? Maafin ya gadis kue coklatku!." Steve berusaha menggoda Hana agar tak lagi cemberut.


Haha membuang pandangan karena kesal.


"Hei.. ini steaknya disini!" Steve memegang bahu Hana dan mendorong ke dalam restoran steak yang ada di Mall.


"Apaan sih?" Hana berlagak ketus.


"Katanya mau makan steak." Steve mencoba merayu.


"Jangan gitu! Aku laper nih.. perutku udah bunyi." Steve memelas.


"Ya udah.. " Akhirnya Hana duduk di kursi mengalah, mengingat kebaikannya Steve tak sebanding dengan kesalahannya. Hana mengurungkan niatnya untuk marah.


"Pelayan.. " Steve melambaikan untuk memenuhi pesanan.


Tak berselang lama, hidangan diantar pelayanan menuju meja. Steve tersenyum lebar melihat semua hidangan yang sudah ditata rapih di atas meja.


"Wah kayanya enak nih... yuk buruan kita icip! udah ga sabar." Dia memegang garpu dan pisau dengan cekatan memotong steak.


"Gimana enak?" Senyumnya manis sekali. Steve mengunyah dibarengi wajahnya yang berbinar-binar.


"He'em." Hana mengangguk mengiyakan.


"Steve.. " Hana mencoba pada niat semula.


"Hhh.. " Dia masih asik mengunyah makanan yang disantapnya.


"Aku sebenernya gak enak tinggal di rumahmu. Ini sudah satu bulan. Aku juga tidak enak menerima ini." Hana kembali menyodorkan kartu debit yang diberikannya tadi.


"Aku juga gak enak kalau kita terus bersama. Nanti gimana kalau pacar kamu lihat? Bisa salah paham." Hana mengungkapkan isi pikirannya.


"Aku ga punya pacar ko." Steve menjawab cepat.


"Ya mungkin sekarang, kalau nanti ada yang suka gimana?"


"Santai saja."


"Maksudku, begini... " Hana menghela nafas. Tak putus harap.


"Aku sangat berterima kasih sekali, kamu sudah baik sama aku. Terlepas kamu diperintahkan atau bagaimana, aku tetap tak bisa begini terus. Aku tak mau jadi beban siapapun. Sebenarnya aku ingin sekali bicara sama Wei sebagai suamiku. Aku juga mengerti dia super sibuk sampai gak ada waktu barang semenit pun berkabar. Aku tak ingin menuntut apapun atas semua yang terjadi. Pikir ku.. kita harus berpisah"


Deg


Ada rasa sakit menimpa hati Steve, ketika mendengar kata berpisah.


"Berpisah? maksudmu?" tatapannya Steve menjadi serius. Terlihat riak sedih di wajahnya.


"Kembalikan aku pada keluargaku!. Sampai saat ini kenapa tak ada satu pun dari keluargaku yang menjenguk. Apa mereka tak tahu keadaanku?" Beribu pertanyaan ingin dimuntahkan Hana yang selama ini ditahannya.


Steve mengusap kasar wajahnya, lalu bernafas berat.

__ADS_1


"Begini Hana... " dia mengatur nafas.


"Aku tak keberatan kamu tinggal denganku. Itu semua demi kebaikan bersama."


"Maksudnya kebaikan bersama yang mana? Aku.. tak baik-baik saja." Tiba-tiba suasana hati Hana jadi melow.


"Maafin aku ya! Maksudku begini. Wei sekarang sedang mengalami hari-hari yang berat setelah ditinggalkan orangtuanya. Kebetulan kejadiannya berbarengan dengan kecelakaan yang kamu alami. Wei tak bisa fokus sampai kamu sendiri berangsur pulih. Kamu lebih aman tinggal di rumahku. Agak kurang baik jika kamu tidak tenang, itu bisa mempengaruhi ingatanmu. Yang dilakukan Wei adalah yang terbaik untuk semuanya."


"Tapi aku mau keluar dari rumahmu! Aku ingin tinggal sendiri dulu. Dimana aku bisa melakukan apa saja tanpa dilarang dan diawasi. Aku juga ingin sembuh, tapi kalau hanya di rumah terus aku tak bisa berpikir."


"Hana.. kalau kamu tinggal sendiri, itu justru bakal mengancammu. Tak ada orang yang menjagamu kalau ada apa-apa."


"Tapi.. " Hana tak bisa menahan gejolak hatinya yang sedang berkecamuk. Bulir-bulir air mata berkumpul diujung kelopak matanya. Tak bisa menahan lagi air mata yang ingin jatuh.


"Hana.. maafin aku sama Wei! Aku berjanji nanti aku akan bicara padanya. Sekarang jangan nangis dulu! Mending makannya dihabisin! Habis ini kita jalan-jalan lagi ya!"


Hana terdiam, menyeka beberapa air mata yang sudah turun dengan tisu.


Selepas makan, Steve masuk ke area satu toko bermerk luar. Disana terpajang baju- baju bermerk asing juga perlengkapannya. Dia memilihkan baju, sepatu juga tas yang cocok buat wanita. Lalu menyuruh para pelayan membungkus barang yang sudah dipilihnya. Dia bermaksud membelikan semua barang itu untuk Hana. Tapi Hana kelihatannya tak berminat dengan semua barang yang dibeli Steve. Steve menatap Hana lamat-lamat. Sebulan ini dia negitu dekat dengan Hana. Ada perasaan lain yang mulai tumbuh dihatinya, bahkan mendengar Hana ingin berpisah hatinya serasa diiris.


Steve mendekati Hana yang sedari tadi diam membisu.


"Hana... aku mengerti keinginanmu. Nanti aku coba bicara sama Wei ya!" Dia bicara lembut.


"Aku juga ingin bicara padanya!" Mata Hana berkaca-kaca.


"Iya nanti habis ini kita beli handphone baru. Maafkan aku! Dia menggeserkan duduknya lebih dekat.


Hana mengangguk.


Steve dan Hana memasuki gerai Handphone. Terlihat Steve sangat antusias memilihkan barang.


"Yang ini kamu suka? Ini handphone terbaru, warnanya juga cocok buat perempuan." Steve menerangkan spesifikasi bla bla...


"Gimana kamu suka?"


"Hhmm" Hana masih terdiam. Matanya berkaca-kaca bukannya bergembira. Malah jadi sedih.


"Hei.. ada yang salah ya?" Steve merasa bersalah dengan wajah sedih Hana.


Hana menggelengkan kepala.


"Apa semua ini perintah suamiku?"


"Maksudnya?" Steve menatap wajah Hana lebih tajam. Dia menilik manik-manik mata Hana.


"Sudahlah!"


"Sini.. sini duduk dulu!." Steve menarik nafas.


"Aku tidak tahu kenapa kamu bersedih. Tapi aku berusaha bagaimana supaya kamu tidak bersedih. Mungkin kamu ingin ketemu Wei ya?"


"Tidak juga... "


"Jadi kenapa?"


"Aku banyak merepotkanmu ya Steve?"


"Gak lah! " Steve terlihat bingung. Susah juga memahami wanita. Steve agak pura-pura tenang. Padahal dia bingung sekali. Karena baru kali ini dia menghadapi situasi sulitnya memahami. perasaan perempuan.


###


"San.. jalan yuk!" Tono berusaha ngajak Sandi jalan.


"Males ah, gue lagi nanggung nih." Sandi yang punya hobi ngeheck lagi asik dengan kode-kode di depan laptopnya.


"Ayolah San!" Tono sedikit memaksa.


"Ah ngapain lu.. maksa-maksa gue? Lagi tanggung nih!" Sandi gak mau meladeni Tono.


"Yah.. elu. Katanya mau cari info." Tono menyambar jaket di samping Sandi, melangkah keluar.


"Eh tunggu! iya gue ikut elu deh." Sandi jadi teringat sesuatu. Kemarin-kemarin dia menyuruh Tono mencari informasi mengenai bu Restu. Pasti kali ini dia sudah mendapatkan informasinya. Dia langsung mengikuti Tono dan meninggalkan pekerjaannya.


Sandi tak banyak berbicara sepanjang dia menyetir mobilnya. Dia tahu karakter Tono yang pendiam dan tak suka banyak bertanya. Dia hanya mengikuti langkah Tono kemana saja.


"Kita jalan ke mall X. Akhirnya Tono memberi arahan.


Setelah memarkirkan mobilnya. Sandi melihat Tono menelpon seseorang. Lalu dia menoleh ke arah Sandi mengajak masuk mall dengan sekali isyarat dan Sandi pun mengikutinya.


"Tuh!" Tono mengangkat sudut bibirnya menunjuk ke dalam gerai.


Deg


"Bu restu... "

__ADS_1


__ADS_2