
"San... gue mau tanya sebenernya barang yang dibawa mereka penting banget? Sampe mereka ngerampok gitu!" Raffa memulai bicara. Sandi terlihat diam mematung semenjak Hana dan Vania dijemput supir rumahnya. Sandi tak mampu menjawab yang sebenarnya pada Raffa.
"Disebut penting gue gak bilang. Disebut gak penting gue juga gak tahu." Sandi menghempaskan tubuhnya dan mengangkat kakinya ke atas meja tempat tunggu pasien.
"Lho ko bisa gitu San? Kalau urusannya sama pistol itu mah urusan kriminal San. Bisa bahaya. Terus planning elu gimana?" Raffa menyandarkan tubuhnya dan memandangi wajah temannya yang sedang selonjoran.
"Hhh... " Sandi menarik nafas lalu membuangnya kasar. "Gue juga bingung." Sandi memejamkan matanya mencoba menyembunyikan kebingungannya.
"Elu cerita deh sebenernya isinya apa sih? Narkoba?" Raffa menebak-nebak isi kotak dan ransel yang dicuri dari mobil Sandi.
"Gila lu!" Sandi menatap ke arah Raffa, lalu kembali menyandarkan kepalanya ke sofa memejamkan matanya dengan penuh pikiran.
"Elu beneran ga mau cerita San?" Raffa menatap serius ke arah Sandi yang sejak tadi membisu tak mau menceritakan masalahnya. Biasanya Sandi suka terus terang tapi hari ini Sandi berbeda sekali.
"Ah udah lah Raff.. biar gue yang urus! Mulai sekarang jangan pedulikan gue kalau kalian gak mau celaka!" Sandi bangkit lalu melangkah ke luar kamar perawatan Rafa untuk mencari udara segar.
"Lah... " Ragfa melongo melihat Sandi meninggalkannya. Raffa menggelengkan kepala. Tak habis pikir ada apa dengan Sandi.
Diluar kamar pasien, Sandi merenung menatap kosong ke tembok rumah sakit. Dia benar-benar bingung. Apa yang harus dilakukannya.
Tiba-tiba dia mengeluarkan handphonenya menelpon seseorang.
"Ton... elu udah dapat kabar?"
"Kabar dikit. Tadi gue udah masuk kantornya, tapi baru nyampe resepsionis doang. Gue cuman iseng tanya-tanya tentang lowongan kerja."
" Ya elah gimana sih lu, ko nanya lowongan kerja?"
"Eh emang gampang gitu masuk ke pintu keamanan? Disini ketat banget. Gue udah keliling nyari celah, semuanya ada cctv. Itu resiko banget. Gue pikir harus ada yang masuk ke dalam dulu, baru bisa akses data." Tono menjelaskan rencananya.
"Terus gimana ada lowongan?" Sandi baru mengerti.
"Katanya sih ada, buat ganti office boy yang baru keluar. Gue coba pake nama lain buat ngelamar kerja. Kayanya besok gue mulai test.
"Ya terserah elu. Kabari gue secepatnya! En hati-hati juga, jangan sampai ada apa-apa!"
"Iya!"
Sandi menutup telponnya. Terlintas dalam pikirannya untuk mengunjungi satu tempat. Dia melangkah menuju area parkir. Dan setelah menancap gas mobilnya, dia mengarahkan setir menuju station kereta api. Ada yang akan dicari di stadion kereta api sesuai petunjuk surat Hana yang telah dibacanya waktu itu.
Setelah sampai, dia mencari loker penyimpanan barang. Dia mencari-cari nomor yang dia ingat dari surat yang dikirimkan seseorang pada Hana. Entahlah terbersit dalam pikiran Sandi, kejadian Raffa ada hubungannya dengan surat-surat itu. Barangkali ada orang yang ingin mencuri bukti-bukti untuk dihilangkan. Akhirnya 1089 angka itu tepat di depan mukanya. Tanpa menunggu lama dia mengeluarkan satu benda pipih besi dari saku celananya. Benda itu biasa dia pakai untuk kepentingan darurat, membongkar lubang kunci.
Klek
Lokernya terbuka. Sandi menatap isi loker yang terbuat dari besi itu. Isinya kosong melompong.
"Sial! Apa mereka sudah tahu? Apa mereka mengambilnya?" Sandi bergumam dalam hati. Mencurigai aksinya. Sandi berfikir, ini seperti tebak-tebakan. Hana banyak menyimpan rahasia dan itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu.
Dia masih menatap ke dalam. Tapi sekelebat idenya melintas. Dia melebarkan jari-jari tangannya, meraba-raba ke seluruh dinding loker.
Tak disangka ada benjolan kecil. Dia merasakan seperti menyentuh sesuatu. Jari-jarinya menyasar bagaimana mencabut benda yang menempel.
Terasa ada siltif yang melekatkan benda itu pada loker. Dia mencari ujungnya dan akhirnya bisa melepaskan benda itu.
"Apa ini? Cuman sebuah pulpen?" Sandi menatap benda itu lamat-lamat. Apa maksud dia menaruh benda itu di loker. Tapi tanpa menunggu lama Sandi langsung menutup kembali loker itu. Dan pandangannya beredar mencurigai, siapa tahu dia diikuti.
Dia kembali ke mobilnya. Sepanjang perjalanan matanya menaruh curiga. Dia harap tak ada yang mengikutinya. Dia kembali menancap gas mengarahkan mobil ke rumahnya.
Begitu masuk semuanya sepi.
"Mih... " nama itu yang biasa dipanggil ketika dia sampai rumah.
"Apa?" Ibunya Sandi menyembul dari belakang punggung Sandi.
"Mana Vania sama Hana?" Sandi menoleh ke belakang. Mencari dua wanita yang tadi diantar supirnya.
"Gak ada." Ibunya Sandi menjawab dengan datar.
"Maksudnya gak ada, gimana mih?" Sandi menatap pada ibunya, tak percaya dua wanita itu tak ada di rumahnya.
"Mereka gak ada datang kesini ko!" ibunya Sandi mengangkat kedua alisnya.
"Ya ampun.. " Sandi menepuk jidatnya. Saat ini Sandi sudah tak bisa protes atas dua wanita itu. Dia bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya, penasaran memeriksa benda yang baru saja ditemukan di loker stasion kereta api.
"Eh San.. makan dulu!" Ibunya Sandi menatap Sandi yang berlalu naik ke kamarnya.
__ADS_1
"Iya nanti."
"Hhhmmm... ada saja!" Ibunya berlalu, dia pun enggan menanggapi Sandi.
Sandi sangat penasaran dengan pulpen yang dibawanya dari loker. Dia menatap lamat-lamat. "Maksudnya apa?" Dilihat dari tampilannya tidak begitu mewah, biasa saja. Dia mengamati dengan teliti mungkin ada tombol rahasia. Tak ada juga.
Dia menyimpannya dalam laci. Mungkin suatu hari barang itu bermanfaat.
###
Hana termenung di depan kaca rias seusai mandi sore. Dia menggerakkan jarinya untuk menghubungi Sandi. Tujuannya ingin memberi tahu kalau dirinya kembali pulang ke rumah Steve. Pikirnya keputusan yang diambilnya sudah tepat. Terlepas karena dia adalah wanita yang bersuami dan harus bisa menjaga dirinya.
Yang ditelpon tak juga mengangkat. Dia meninggalkan pesan untuk memberi kabar agar Sandi tidak mencarinya.
Malam menjelang, terdengar suara mobil terparkir. Pintu terbuka. Seseorang muncul tak terduga di depan pintu.
"Sandi... " Hana melongo. Orang yang tadi susah dihubungi ternyata muncul di depannya.
"Steve sudah pulang?" Sandi mengedarkan pandangan mencari Steve.
"Belum." Hana menggelengkan kepala. "Kenapa kamu disini?"
"Bukannya yang seharusnya bertanya itu aku? Kenapa kau masih juga tinggal disini?" Sandi meninggikan suara. Dia berlalu ke kamar Steve sambil memendam kekesalannya pada Hana.
Hana menoleh ke kamar Steve. "Semoga tidak terjadi apa-apa!"
Di kamar Steve, Sandi mulai memeriksa ruangan itu. Pertama dia mengamati sekelilingnya, memeriksa kemungkinan ada cctv. Setelah memastikan dengan alat bantu, dia menggeledah kamar Steve secara apik. Tujuannya mencari barang yang bisa membantu dia untuk mencari petunjuk. Tapi usahanya nihil. Sandi menghentikan pencarian. Dia berdiri disisi ranjang sembari mondar-mandir menggigit jari telunjuknya. Sandi harus mencurigai siapapun yang ada hubungannya dengan Hana.
Klek.
Pintu terbuka.
Sang pemilik kamar datang. Mata Steve mendelik, dia melengos agak julid melihat Sandi sudah ada di kamarnya. Steve harus bersabar demi Hana. Kenapa harus ada orang asing di rumahnya, malah di kamarnya lagi.
Dasar bocah tak tahu malu
"Sudah pulang?" Sandi sengaja memaksakan ramah basa-basi pada Steve. Sandi masih punya pikiran sehat walau dia tinggal di rumah Steve dia berusaha ramah pada pemiliknya.
Steve melengos menuju ruang ganti pakaian lalu pergi ke kamar mandi. Dia tak menghiraukan sapaan Sandi. Steve sangat malas sekali dekat dengan Sandi.
"Hana sudah makan?" Steve memanggil Hana untuk makan malam.
"Iya." Hana ke luar pintu menyusul Steve ke meja makan.
Sandi mengikutinya. Sandi tak ingin lepas pengawasan dari Hana. Apalagi ada Steve yang selalu intens.
"Gimana tadi disekolah?" Steve menoleh ke sebelah Hana menanyakan kegiatan Hana.
"Kurang baik." Hana menunduk, dia berniat memancing Steve setelah kejadian yang menimpa Raffa.
"Ada masalah?" Steve kembali bertanya sembari memotong steak yang sudah dihidangkan oleh nyonya Kim.
"Muridku ada yang nembak?" Hana ingin melihat reaksi Steve.
"Apa???" Spontan Steve melepaskan garpu dan pisau yang membuat bunyi dentingan keras karena jatuh di atas piring, kaget.
Sandi dan Hana saling menatap. Hana memberi. kode kedipan. Sandi cukup mengerti apa yang dimaksud Hana.
"Iya. Untung lukanya tidak serius." Hana memasukan potongan daging lalu mengunyah daging yang sudah dipotong. Matanya datar dan sepertinya dia menikmati potongan daging steak.
Sandi mengamati mimik wajah Steve. Steve terlihat syok.. dia masih termangu.
"Kamu sudah melapor pada polisi?" Steve menoleh ke wajah Hana. Manik matanya serius
Hana menggelengkan kepala. Dia masih tetap datar.
"Hana... Ini perkara serius! Kenapa tidak melapor?"
"Menurutmu aku harus melapor?" Hana menoleh ke arah Steve. Kini pandangan mereka beradu.
Steve melepaskan pandangannya terlebih dahulu. Dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu kembali menoleh ke arah Hana.
"Hana... apa alasan kamu tidak melapor? Apa yang sedang kau tutupi?"
"Sekarang ceritakan sejujurnya!" Steve berubah jadi tegas. Dia tak ingin Hana menutupi rahasia darinya. Seharusnya kasus ini dia laporkan bukannya menutupinya.
__ADS_1
"Nanti kalau sudah ada jawaban. Untuk sekarang aku tak punya alasan." Hana kembali mengunyah. dengan santai.
"Aduh Hana... Bagaimana kalau besok lusa ada apa-apa denganmu. Pokoknya besok aku akan mengantarkan kamu ke kantor polisi. Dan kamu tak boleh menolak!" Steve berlalu tanpa menghabiskan makan malamnya. Dia berjalan ke luar rumah menuju taman belakang.
"Besok aku akan bicara padamu, sekalian aku akan menemui ibumu!" Hana meneguk air putih dan mengelap mulutnya dengan tisu.
"Ada apa dengan ibuku? Apa tidak bisa bicara sekarang?" Sandi menatap Hana dengan wajah penasaran. Kira-kira apa yang akan dia bicarakan. Kenapa harus menunggu besok.
"Besok saja. Sekarang aku banyak kerjaan!" Hana berlalu dan masuk kamar. Dia segera membuka laptopnya, mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.
Sementara hati Steve bergemuruh. Rasanya hidupnya sekarang di atas perapian, tak mudah untuk tenang.
Ada rasa yang tak biasanya. Seumur hidupnya dia hanya mencemaskan dua wanita. Pertama ibunya, yang kedua adalah Hana. Entah apa yang sedang bermain dalam hatinya. Rasa yang tak bisa diterjemahkan. Dia bolak-balik bersilang tangan. Setelah mendengar kejadian di sekolah Hana, rasanya ada sesuatu yang mengganjal.
Dia memutuskan menghubungi Wei.
"Wei.. " Steve menajamkan telinganya.
"Iya ada apa?" Wei terdengar menjawab dengan suara lesu.
"Apa kau di kantor?" Suara Steve agak sedikit gemetar.
"Tidak. Aku sudah sampai di apartemen."
"Wei... " Steve menghela nafas.
"Iya, bicaralah!"
"Aku tak tahu harus bilang apa." Steve mengedarkan penglihatannya, melihat sekelilingnya. Dia takut ada orang yang mendengar pembicaraannya. Setelah dirasa aman, dia melanjutkan bicaranya.
"Wei... barusan Hana bicara padaku. Tadi salah satu muridnya ada yang nembak. Tapi aku merasa aneh... kenapa dia tidak melaporkan kejadian itu pada polisi. Aku tanya kenapa, dia tak menjawab. Disuruh cerita detail pun, dia tak bicara. Aku benar-benar khawatir. Apa yang sedang ditutupinya?"
"Hhhmmm... " Wei terdengar tak begitu kaget.
"Wei... ko kamu tenang gitu?" Steve agak heran mendengar respon Wei.
"Aku kan lagi dengerin kamu." Wei masih datar.
"Ah... aku jadi pusing. Apa saran kamu?"
"Aku belum bisa ngasih saran."
"Gila! Gue bisa gila... di rumah aku sudah gila. Mendengar respon kamu kaya gitu aku bisa lebih gila. Kalian semua memusingkan!" Steve menutup telponnya. "Wei benar-benar keterlaluan. Kenapa dia tega sekali!
Kring... kring... kring...
Bunyi handphone kembali terdengar. Steve menatap layar handphone nya. Terlihat muncul nama bosku. Dia malas sekali menjawabnya.
Kring... kring... kring
Bunyi handphone kembali terdengar. Steve mengabaikannya. Alih-alih dia menjawab, malah dia memilih mematikan daya.
"Dasar!" Steve menggerutu kesal.
Dia terdiam di bangku taman. Menatap lampu-lampu di taman. Dia sepertinya merindukan seseorang yang sudah lama tak dikunjunginya. Ada rindu yang tak mungkin bertemu. Hanya bisa merindu saja. Karena orang yang sedang di rindunya sudah terbujur kaku di tanah.
Dia sedang mengingat-ingat kapan terakhir mengunjunginya? Ya... dia masih ingat. ketika gadis itu menangis lama di depan nisannya. Tapi dia tak berani mendekatinya. Dia berbaju itu dengan ciri khas nya. Kenapa mirip dengan Hana ya?
Di lain tempat.
Wei menatap barang yang belum sempat dia bongkar. Tangannya merogoh kotak yang agak berdebu itu, lalu membukanya.
Disana ada diary bersampul merah menyala dengan pita pink ditengah. Manis
Dia membuka halaman pertama. Dia menatap tulisan itu. Tulisan itu masih sama seperti surat yang pernah dia terima. Surat cinta yang pertama ketika waktu SMP. Dia tersenyum geli mengingat kejadian itu. Ada penyesalan dalam dirinya. Surat itu tak sempat dibalasnya.
Kata demi kata dia baca, Tak terasa habis sudah semua lembaran dalam diary dibacanya. Dia menghempaskan badannya ke belakang sofa. Dia merenung, "apa yang sedang dilakukannya?"
Wei kembali menatap kotak itu. Ada sebuah kalung yang tergeletak dengan sebuah gantungan love. Dimana dia pernah melihat benda itu?
Rasanya seseorang selalu memakainya.
Gak mungkin dia?
Wei bangkit dari sofa. Dia berjalan mondar-mandir, lalu memutuskan untuk bergegas mengambil kunci mobil dan ke luar apartemen.
__ADS_1