Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Dia Datang


__ADS_3

Wei segera keluar dari apartemennya menuju rumah Steve. Sepanjang perjalanan pikirannya berjalan-jalan banyak memikirkan masalah. Dia juga tak habis pikir harus terlibat jauh dengan Hana.


Tak lama kemudian mobilnya sampai di depan rumah Steve. Dia melihat Steve sudah ada di luar gerbang rumahnya. Wei merasa heran melihat raut wajah Steve yang sedikit semrawut.


Wei masih menunggu akan kemana Steve pergi.


###


Tling


Bunyi notifikasi masuk. Sandi mengusap layar handphone. Dia membuka pesan.


"Apa obrolan tadi sudah cukup bagimu?" Pesan dari Hana muncul.


"Untuk sementara aku tak bisa menjawab." Sandi belum bisa menyimpulkan apa Steve ada kaitannya dengan penembakan. Tapi kalau dia terlibat mungkin dia tidak akan syok seperti reaksinya tadi. Apalagi dia bersikeras untuk melapor ke polisi. Tapi Sandi pun tak bisa menyimpulkan seratus persen, dia tak terlibat. Sandi butuh bukti yang kuat. Siapa orang di balik penembakan itu. Terus kenapa harus mencuri barang-barang Hana.


Tling


Suara itu masuk kembali.


"Untuk sementara jangan terlalu mencolok! Satu lagi jangan bikin ulah! Tidurlah! Besok kita akan pergi ke rumahmu pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah."


"Iya."


Sandi berfikir, mungkinkah memikirkan hal yang sama dengannya?


Hana kenapa hidupmu serumit ini? Apakah aku harus melanjutkan mengikuti alur hidupmu? Tapi siapa lagi yang akan membantumu jika aku tak terlibat menjagamu?


###


Steve mengeluarkan sebatang rokok, lalu memantikkan api. Pelan-pelan dia menyesap rokok itu lalu mengepulkannya ke udara. Pikirannya begitu kalut. Dia menyesap lagi lalu mengepulkannya lagi. Sampai tak terasa dia sudah menghabiskan satu bungkus.


Dia baru teringat, kalau Hana tak suka dengan rokok. Jika dia buru-buru masuk, bau rokok pasti akan tercium. Dia berjalan ke arah gerbang rumah ingin sekedar mencari udara malam di luar.


Tid... Tid.. Tid


Suara klakson mobil terdengar dari dalam mobil yang diparkir depan rumahnya. Lampu menyala berkedip. Steve menyipitkan matanya, memperhatikan mobil yang baru saja datang. Dia berjalan terus mendekati.


"Kau, Wei.. " Steve memanggilnya. Dia baru melihat jelas dari jarak dekat ternyata Wei datang.


Ada hal apa dia mendatangiku? Kemarin-kemarin aku memintanya datang malah tak datang. Dia benar-benar tak bisa ditebak pikirannya.


"Masuklah!" Wei menyuruh Steve masuk.


"Ada yang ingin kau bicarakan?" Steve menoleh. Karena tak biasanya Wei mendatangi rumahnya kalau memang tidak penting sekali.


Wei melihat ke arah Steve. Pandangan mereka untuk beberapa waktu beradu. Wei menatap dari atas sampai ke bawah memperhatikan keadaan Steve seperti banyak masalah. Mengamati Steve lamat-lamat, keningnya mengernyit.


"Hhmmm... dulu kamu pernah kehilangan sebuah kalung di kolam renang?" Wei tiba- tiba ingin membahas benda itu, ada rasa penasaran menelisik pikiran Wei saat ini. Rasanya kalung yang dia temukan dari kotak itu ada hubungannya dengan Steve. Karena kalung itu mirip kepunyaan Steve.


"Iya, semenjak jatuh aku tak pernah memakainya lagi. Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" Steve merasa aneh. Kenapa Wei menanyakan benda yang sudah lama disimpannya.


"Oh... kenapa tak memakainya lagi?" Wei mengira mungkin karena Steve tak memakainya, mungkin kalung itu hilang dan ditemukan Hana, karena benda itu ada bersama diary Hana.


"Bukan urusanmu, memakai atau tidak." Steve berbicara ketus lalu memandang ke depan. Pikirannya seolah mengingatkan pada seseorang. Steve tidak mau membahas barang itu, karena mengingatkan kebenciannya.


"Mungkinkah ada seseorang yang memiliki barang yang sama dengan mu?" Wei mencoba bertanya lagi meski Steve kurang merespon dengan baik.


"Apa??? " Steve kaget wajahnya menatap tajam Wei.


Maksudmu apa menanyakan kalung itu?"


Steve merasa Wei sudah memasuki area privasinya.


"Apa benda itu bisa dibeli dimana saja?" Wei terus mencoba bertanya tak peduli Steve keberatan. Dia harus mencari jawaban yang pasti.


"Apa maksudmu Wei?" Steve menghela nafas.


"Ya kalung itu mungkin bisa ada lebih dari satu, karena dijual bebas." Wei memberikan opini lain untuk memancing Steve berbicara.


"Setahuku kalung itu dipesan untuk pernikahan orangtuaku. Kalung itu ada satu pasang. Yang ada padaku itu punya ayahku." Mata Steve memandang ke sebelah kiri, bibirnya menggigit telunjuk tangannya. Sebenarnya dia tak ingin seorang pun membahas masa lalunya.


"Oh... jadi ada dua ya? Yang satunya lagi mana?" Wei bersikukuh ingin menanyakan benda itu.


"Bisakah kita tak membahas hal itu Wei? Aku mau turun dan kembali ke dalam." Wajahnya tak begitu senang setelah membahas benda itu.


"Tunggu, jangan dulu pergi! Aku ada sesuatu yang ingin ditunjukkan padamu." Wei mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya


Steve memandang ke arah Wei. Tiba-tiba jantungnya terhenyak.


"Kenapa ada padamu? Darimana kau dapatkan kalung itu?" Suara Steve lirih. Hatinya seperti tersayat mengenang benda itu.


"Apa kau mau melihatnya?" Wei menyodorkan barang itu.


Steve menerimanya. Dia mengamati kalung yang baru saja diterimanya. Hampir tak ada bedanya dengan kalung yang dia miliki. Pandangannya tertuju pada sebuah benda yang menggantung pada rantai kalung itu. Perlahan dia membuka benda itu. Benar saja. Foto kedua orangtuanya.

__ADS_1


ada menempel pada dindingnya.


"Kenapa kalung ini ada padamu?" Steve menatap Wei. Manik matanya terlihat berkaca-kaca.


Wei menarik benda itu, lalu melihat isi yang dibuka Steve.


"Ini ibumu?" Wei mengamati foto yang ada di dalamnya. Wei sudah lama kenal dengan keluarga Steve. Tapi foto itu tak mirip sama sekali dengan ibunya. Setahu Wei orangtua Steve orang Perancis... Hhhmmm dia baru sadar. Wajah blasteran itu mungkin perpaduan dua orang yang ada di foto itu.


"Ya itu foto ibuku." Steve kembali mengambil nafas lalu mengeluarkannya dengan kasar. Orang yang sangat dia rindukan. Namun dia telah pergi meninggalkannya.


"Lalu dimana ibumu sekarang?" Wei sangat penasaran.


"Dia sudah lama pergi" Steve menyeka matanya.


"Maksudmu meninggal?"


"Hhhmmm... "


"Oh maafkan aku Steve!" Wei menangkap wajah sedih Steve.


"Sudah malam. Aku ingin kembali ke dalam. Tapi aku ingin tahu darimana kau dapatkan kalung itu?" Steve melihat tajam wajah Wei.


"Nanti kita bahas. Pergilah, dan istirahatlah!"


"Aku pergi dulu." Steve melenggang dengan langkah lunglai. Belum beres masalah yang satu datang lagi yang lain.


"Ya ampun kenapa dengan dia? Bukannya membahas Hana malah yang lain." Dia bergumam dalam hati. Pikiran Wei yang sulit ditebak terkadang membuat Steve tak peduli. Selama ini dia hanya berkutat dalam pekerjaan. Jarang menanyakan sesuatu yang lebih privasi, apalagi ikut campur. Baru kali ini dia dibikin pusing sama urusan Wei. Sedangkan Wei sendiri terlihat santai dan dingin, cuek.


Kring... Kring.. kring


Suara telepon masuk di handphone Steve. Dia menatap layar dan segera mengangkatnya.


"Halo, ayah?"


"Halo Steve, apa kabar nak?"


"Baik ayah."


"Kamu tidak lagi sakit kan? Suaramu terdengar lemes gitu." Suara Steve mudah ditebak. Orang di seberang sana merasakan sesuatu yang berbeda.


"Tidak ayah, aku baik-baik saja. Mungkin karena lelah saja."


"Kau dimana sekarang nak? Terdengar kaya suara jengkrik." Karena Steve masih di luar rumah dan kebetulan di halaman rumahnya yang rimbun banyak jengkrik-jengkrik bersuara kalau malam tiba. Suara itu jelas terdengar dalam telepon. Ayah Steve begitu perhatian, tak lupa dia tiap hari menelpon walau hanya sekedar menanyakan kabar tentang dirinya.


"Iya yah, ini dihalaman depan. Sebentar lagi aku masuk ke dalam."


"Apa ke Jakarta???" Jantung Steve seperti mau meloncat. Dia beneran kaget. Irama jantungnya seketika terdengar lebih keras dari biasanya.


"Kenapa kaget sayang? Bukannya tiap tahun kita rutin akan mengunjungi makam ibumu? Atau kamu jangan-jangan lupa ya?"


"Oh.. enggak ko ayah... aku gak lupa..." Steve menjawabnya dengan sedikit gugup.


"Baiklah, besok aku akan jemput ayah ke bandara. Kira-kira ayah kapan sampai?"


"Gak usah dijemput, mamah mu ingin kita berdua nginap di hotel. Jadi nanti ayah kabari lagi kalau sudah sampai hotel."


"Oh baiklah yah. Hati-hati di jalan salam buat mamah ya!" Steve mengakhiri telponnya.


Jantung Steve mulai agak sedikit tenang setelah mendengar kedua orang tuanya akan menginap di hotel. Apa jadinya kalau mereka menginap di rumahnya. Apa yang harus dikatakan kepada mereka kalau mereka melihat orang asing ada di rumahnya.


Steve bergerak masuk ke dalam rumah.


"Darimana?" Hana duduk di sofa sambil melihat acara tv. Sebenarnya hanya untuk alasan saja dia menyalakan tv. Dalam hatinya dia penasaran kemana Steve pergi. Karena Sandi mengabari Steve belum masuk kamar semenjak tadi dia meninggalkan ruang makan.


"Cari angin." Sandi tertunduk, lalu menghempaskan diri ke sofa.


"Kamu sendiri belum tidur?" Steve menoleh ke sebelah Hana.


"Belum. Tadi sudah mengerjakan tugas. Tapi cape pengen hiburan dulu." Hana sedikit berbohong.


"Istirahat lah! Besok pagi harus ke sekolah lagi kan?"


"Iya, tapi sebelumnya aku akan ke rumahnya Sandi dulu."


"Ada apa?"


"Ada urusan sama kedua orangtuanya mengenai sekolah Sandi."


"Ohh. Eh Hana, sampai kapan anak itu tinggal disini? Aku agak risih harus sekamar dengannya. Bukannya dia orang kaya, kenapa harus tinggal disini sih?"


"Hhhmmm.. tak tahu. Oh iya Steve... " Hana menghentikan bicaranya.


"Iya, ada apa?"


"Boleh aku bertanya tentang suamiku?"

__ADS_1


"Hhmmm.. ya. Tanyakanlah!"


"Sebenarnya dia pergi kemana? Terus kenapa sampai sekarang dia tak menghubungiku. Sampai kapan aku harus tinggal disini?" Wajah Hana terlihat sedih.


"Dia.. sedang banyak urusan Hana. Jangan khawatir, dia selalu menanyakanmu ko. Karena kamu tinggal sama aku disini, dia jadi tenang. Mungkin kalau urusannya sudah beres dia akan menjemputmu." Steve mengarang cerita. Dalam hatinya dia merasa kasian pada Hana. Sampai kapan dia akan membohongi Hana. Bagaimana kalau suatu hari Hana tahu kebenarannya.


"Hana... " Steve menatap tajam. Dia mengamati manik mata Hana.


"Ya." Hana memandang Steve. Pandangannya kini beradu.


Tangan Steve memegang bahu Hana. Ada perasaan berat dalam diri Steve sekarang. Tapi dia tak ingin jika suatu hari Hana mengetahui kebenarannya, Hana jadi membencinya. Ada perasaan yang tumbuh di hati Steve yang lambat laun menjadi besar. Tapi dia tak ingin melukai siapapun. Mungkin karena mereka sudah dekat seperti keluarga.


"Begini Hana... aku... mau minta maaf."


"Minta maaf? Kenapa harus minta maaf?"


"Ya... sekarang aku hanya ingin minta maaf. Mungkin besok aku akan minta engkau jangan membenciku. Dan mungkin besok lusa aku akan meminta engkau akan tinggal disini!"


"Ha.. ha.. " Hana malah tertawa. Mendengar Steve berkata seperti itu.


"Maaf, kenapa kau tertawa?" Steve melepaskan tangannya dari bahu Hana. Wajahnya kikuk.


"Begini... dulu pernah ada seseorang yang berkata seperti itu juga." Hana seperti mengingat sesuatu.


"Apa?" Steve melirik ke arah Hana.


"Ya laki-laki yang suka memberi kue coklat itu juga pernah berkata seperti itu. Tapi... Hana berhenti bicara. Dia memegang kepalanya.


"Kenapa kamu sakit Hana?" Steve merasa ada yang yang aneh dengan perubahan wajah Hana. Dia terlihat meringis.


"Iya sedikit. Tiba-tiba sakit kepalaku datang." Hana menunduk. Matanya terpejam, merasakan sakit kepala yang hebat.


"Nyonya Kim... " Steve segera memanggil kepala pelayan.


"Iya. Tuan." Nyonya kim segera menghadap, meski dengan pakaian tidur. Karena waktu telah menunjukan jam sebelas malam.


"Bawakan obat Hana di kamar!" Steve menyuruh nyonya Kim membawakan obat Hana yang diberikan dokter.


"Baik tuan!" Nyonya Kim berlalu.


"Kenapa dengan Hana?" Sandi tiba-tiba muncul, mukanya terlihat cemas. Dia menatap Steve dan Hana silih berganti.


"Ini tuan." Nyonya Kim membawa obat dan segelas air putih. Steve menerima obat dan gelas itu.


"Hana minumlah dulu! Biar sakit kepalamu mereda." Steve menyodorkan obat dan gelas pada Hana. Hana segera meneguk obat dan air putih. Dia kembali memberikan gelas itu pada Steve.


"Biarkan aku mengangkatnya!" Sandi menawarkan diri untuk mengangkat Hana. Tapi Steve segera menepis tangannya.


"Aku masih bisa jalan." Hana segera melerai perseteruan kedua laki-laki itu.


"Baiklah kita akan memapahmu!" Sandi berniat berdamai. Tetapi mata Steve mendelik.


###


Pagi-pagi mereka bertiga sudah siap di meja makan.


"Bagaimana Hana, kamu sudah baikan?


"Iya." Hana mengangguk sambil mengunyah roti yang sudah terhidang di meja makan.


"Kamu perlu ke dokter Hana, untuk konsultasi."


"Gak usah. Mungkin aku kurang istirahat saja. Ini sudah tidak apa-apa."


"Iya. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya! Aku duluan berangkat." Steve beranjak dari kursinya pergi mendahului Hana.


"Iya baik."


"Kamu sudah siap Hana?" Sandi menatap wajah Hana.


Hana mengangguk sambil menghabiskan segelas susu yang sayang kalau dibuang begitu saja.


Keduanya berjalan menuju garasi dimana mobil Sandi terparkir di rumah Steve.


Seseorang telah menunggu di depan mobilnya sejak lima belas menit yang lalu setelah kepergian Steve.


"Halo sayang, Apa kabar?"


Deg


Hana terperangah, mulutnya menganga. Melihat seseorang yang ada di depannya. Dia sudah rapih dengan stelan jas ala kantoran dan rambut blondenya yang sudah disisir rapih.


"Wei... " Kata itu akhirnya keluar. Dia masih mematung.


Wei melangkah mendekati Hana. Selangkah demi selangkah. Jaraknya tinggal satu langkah lagi. Hana bergerak mundur. Tapi dengan cepat tangan Wei meraih Hana, menariknya lebih dekat. Dan dia merapatkan tubuhnya lalu melingkarkan tangannya ke pinggangnya.

__ADS_1


"Kenapa? Kaget?" Wei menatap dengan tatapan memanah maniknya.


__ADS_2