
"Baik. Pelan-pelan saja tuan Hans. Setiap orang punya ujian dan cobaan. Tidak semua kuat seperti Hana. Kebetulan dokter Alvian sahabat saya sejak sekolah dan beliau yang membantu Hana keluar dari rumah sakit jiwa. Sepertinya ini ada unsur kejahatannya juga tuan Hans. Mungkin Allah Ingin Hana selamat dan belum waktunya meninggal. Beberapa kali percobaan pembunuhan tapi Hana selalu selamat. Mungkin sekarang kita menjaga Hana dengan maksimal karena keadaannya tidak seperti dahulu. Hana secara kesehatan fisik dan psikisnya sedan dibawah titik terendahnya." Dokter menyampaikan apa yang dia tahun pada tuan Hans ayahnya Steve.
"Iya dokter saya mengerti. Kalau memungkinkan demi keselamatan Hana saya akan membawanya ke Perancis saja jika Hana sudah kuat diajak bepergian." Tuan Hans sepertinya berencana membawa Hana ke Perancis.
"Ya, yang penting sekarang Hana harus dipulihkan terlebih dahulu tuan Hans. Masalahnya Hana tidak bisa dibawa pergi dalam waktu dekat ini. Saya masih harus melakukan penelitian tentang kesehatan Hana." Tetang Dokter Aldi.
"Baik dokter. Saya mohon bantuannya." Wajah ayah Steve kian satu. Mungkin kelelahan dan banyak pikiran.
"Mari tuan Hans. Kita akan mengantarkan Hana ke ruangan perawatan. Biar anda bisa beristirahat bersama disana." Dokter Aldi beranjak dari ruangannya menuju ICU bersamaan. dengan tuan Hans.
Tak lama berselang, mereka berdua sampai di ruangan ICU. Beberapa perawat dan dokter memberi hormat. Selanjutnya salah satu dokter berbicara dengan dokter Aldi. Mereka membicarakan laporan terkini mengenai kondisi Hana. Mereka juga sudah menyiapkan prosedur kepindahan ke ruangan perawatan.
"Mari tuan Hans, kita temui Hana dan Steve. Mereka pasti senang bisa sekamar sekarang." Dokter Aldi berjalan diikuti tuan Hans.
"Assalamu'alaikum. Bagaimana kalian sudah istirahatnya?" Dokter Aldi selalu ramah dengan semua pasiennya.
"Sudah dokter. Ayah disini? Ayah sudah istirahat?" Steve merasa kasihan melihat ayahnya sibuk mengurus dirinya juga Hana. Dia sedikit mengkhawatirkan kondisi ayahnya.
"Sudah nak! Tadi pas kamu tidur disini, ayah sudah istirahat di ruangan." Ayah Steve tersenyum bahagia melihat kondisi Steve lebih ceria dari sebelumnya. Mungkin kondisi psikisnya sudah berangsur-angsur membaik karena beban bersalahnya kini sudah kurang setelah bertemu Hana.
"Wah segeran ya? Nih sekarang kalian sudah bisa satu ruangan. Hana boleh senang karena sekarang sudah diperbolehkan pindah ke ruangan perawatan." Dokter Aldi memberi kabar sambil memeriksa beberapa hal yang penting dari alat-alat yang masih dipasang di badan Hana.
"Beneran dokter?" Hana melirik ke dokter Aldi.
"Iya, masa mau disini terus? Hama mau pindah kan?" Dokter Aldi tersenyum menghibur Hana.
"Iya dokter. Saya mau. Apalagi bisa seruangan dengan kakak dan ayah saya. Saya tidak kesepian." Jawab Hana yang merasa senang dikelilingi orang-orang yang walaupun asing tapi mereka seperti dikirim Tuhan untuk dirinya di waktu yang tepat.
"Wah. Sepertinya ada yang kurang deh!" Dokter Aldi mencoba menggoda Hana. Menurutnya Hana harus terhibur sebelum menerima kabar terburuknya.
"Apa dokter?" Hana mengernyitkan dahi.
"Pacar kamu belum nengok ya?" Dokter Aldi sengaja menggoda Hana.
"He he saya tidak punya dokter." Hana tersenyum tipis, malu menerima candaan dokter Aldi.
"Wah masa secantik kamu belum punya pacar?" Dokter Aldi kembali bertanya bercanda riang.
"Hhmm. Beneran dokter!" Hana menjawab sambil menatap wajah dokter Aldi.
"Baik. Sebentar lagi mungkin ya dia datang. Nah itu dia!" Dokter Aldi menunjuk seseorang yang baru saja masuk ke ruangan ICU. Sontak semua mata memandang ke arah pintu.
"Kenapa memandangku seperti itu?" Dokter Alvian yang baru saja masuk merasakan keanehan dari orang-orang yang ada di dalam ruang ICU. Mereka semua menatapnya dengan tatapan yang sama.
"Tidak apa-apa kan Hana?" Dokter Aldi mencoba mencomblangi mereka berdua.
"Ha?" Hana hanya melongo mendapat pertanyay dari dokter Aldi.
"Sudahlah! Nanti kita lanjutkan di ruangan. Perawat tolong pindahkan Han ke ranjang yang baru dan buka alat-alatnya!" Dokter Aldi memerintahkan kepada beberapa perawat untuk merapihkan alat-alat yang tadi sudah dibongkar dan mengangkat badan Hana yang lumpuh untuk dipindahkan ke ranjang baru.
"Biar aku saja yang mengangkatnya." Dokter Alvian menawarkan diri untuk mengangkat Hana.
"Wah ada sukarelawan nih!" Dokter Aldi tersenyum sambil mengedipkan mata ke arah dokter Alvian.
__ADS_1
"Bukan begitu. Hana sebelumnya juga pernah aku angkat. Jadi apa salahnya aku membantunya lagi." Jawab dokter Alvian untuk mengatasi kesalahan pahaman.
"Wah.. Hana masih ingat pernah digendong dokter Alvian?" Dokter Aldi sepertinya hari ini lagi senang menggoda.
"Iya dokter. Sebelumnya saya pernah digendong sama dokter Alvian waktu dulu sakit." Hana yang tak begitu curiga dengan candaan dokter Aldi menjawab jujur dan datar.
Steve dan ayahnya saling menatap. Mereka belum mengerti arah pembicaraan antara dokter Alvian dan Hana. Selama ini Steve baru tahu kalau Hana hanya mengajar dan belum tahu seluk beluk apa yang menimpa Hana selama ini.
Ayahnya hanya memberi isyarat mata. Entah Steve mengerti atau tidak, dia terdiam. Sepertinya Steve menyimpan seribu tanya.
"Hati-hati!" Dokter Aldi memberi saran.
"Wah.. benar saja. Seperti Hana dan Alvian cocok ya." Sepertinya usaha dokter Aldi benar-benar serius untuk mencomblangi mereka berdua.
"Apaan sih. Suka Ge er gitu!" Alvian menepis gosip yang sedang mengudara di ruangan ICU.
"Mari, tuan Hans kita ke ruangan!" Beberapa perawat telah mendorong blankar Hana. Dan kursi roda Steve pun telah dibantu oleh perawat. Tuan Hans, dokter Aldi, dokter Alvian berjalan mengikuti di belakang.
Blangkar tak lama kemudian sampai di depan pintu ruangan.
"Bu restu... " Seseorang terdengar memanggil. Tiga orang berjalan mendekati blangkar Hana. Semua berhenti mendengar panggilan itu. Rupanya mereka sudah menunggu didepan ruangan perawatan sebelum blankar tiba di depannya.
"Raffa.. " Hana menyapa Raffa.
"Bu Restu... akhirnya anda bisa sadar." Raffa terlihat senang begitupun dua orang yang mengiringinya, Gavin dan Sari.
"Mari kita masuk dulu!" Dokter Aldi yang tadi ada di belakangnya menyuruh perawat untuk kembali blangkar.
Para perawat ke luar ruangan setelah mereka selesai melakukan tugas.
"Apa kabar bu Restu?" Sari mendekati ranjang Hana menyapanya dengan suara lembut.
"Baik." Hana menatap asing pada Sari seolah belum pernah melihatnya.
"Alhamdulillah kami ikut gembira melihat bu Restu kembali sadar." Gavin walau matanya agak menunduk seperti biasanya, tapi dia berusaha menujukkan bahwa dia sedang berbicara pada Hana.
"Terimakasih!" Hana membalas ramah sapaan mereka.
"Raffa kenapa kamu disini? Bukannya kamu sedang sekolah? Kamu datang sama siapa?" Hana mengedarkan pandangan di sekitar ruangan.
"Saya kan yang mengantarkan ibu kesini bersama kang Gavin juga teh Sari." Raffa menjelaskan alasan kenapa dia ada di rumah sakit.
Semua saling menatap. Mungkin sedang mencerna apa yang sedang diingat Hana.
"Ohh.. jadi kamu yang mengantarkan saya kesini? Sandi dan Vania mana?" Hana menanyakan Sandi dan Vania yang biasa terlihat bersama. Raffa mengerutkan dahinya. Raffa merasa bu Restu bicaranya tidak singkron.
"Maaf Bu kan Sandi sudah kuliah ke Australia dan Vania ke kota S melanjutkan pendidikan kepolisian. He tinggal saya yang kuliah disini." Nada bicara Raffa agak diperlambat. Di sedang mengamati Hana. Apakah bicaranya akan nyambung atau agak ngaco.
"Lah sudah kuliah? Bukannya kalian belum ujian. Kenapa sudah kuliah?" Hana sekarang yang terheran-heran. Mendengar penjelasan Raffa, Hana tidak mengerti kenapa murid-muridnya sudah masuk kuliah? Padahal Hana masih mengingatnya belum ujian akhir.
"Sudahlah! Hana perlu istirahat. Jadi semuanya harap tenang. Biar Hana mengingat sedikit-sedikit dulu ya!" Dokter Aldi mengingatkan para pengunjung untuk tidak banyak berinteraksi dahulu dengan Hana. Hana baru saja sadar diharapkan untuk bisa istirahat maksimal untuk memulihkan pisik dan psikisnya.
"Iya dokter." Mereka serentak menjawab.
__ADS_1
"Tak apa-apa dokter, saya malah senang banyak orang berkunjung." Hana menimpali. Ada rasa khawatir dalam diri Hana mereka akan menjauh dan meninggalkannya. Hana paling takut masuk rumah sakit mengingat dia pernah lama dikurung di rumah sakit.
"Iya ga pa-pa, nanti kalau kamu sudah sehat betul. Sekarang kamu harus banyak istirahat dahulu kan masih lemes!" Dokter Aldi menasehati Hana yang terlihat masih ingin ngobrol dengan para pengunjung.
"Baiklah dokter, tapi jangan mengusir mereka ya dok! Kan nanti saya kesepian." Wajah Hana merengut seperti anak kecil.
"Iya. Hana tidak boleh cape dulu ya!" Dokter Aldi memberi nasehat.
"Oh iya Hana, saya membawa puding. Kamu mau mencicipinya?" Sari menawarkan puding yang telah dibuatnya dari rumah. Sengaja Sari membawa beberapa makanan untuk Hana agar bisa membantu pemulihan.
"Dokter, apa saya boleh mencobanya?" Hana menatap dokter Aldi apakah dia sudah diizinkan untuk mencobanya.
"Boleh. Hana boleh sudah boleh makan. Tapi makanannya yang lembut dulu ya! Biar gampang dicerna dan diserap tubuh." Dokter Aldi memberi saran.
"Asikk. Kebetulan saya lapar banget." Hana terlihat begitu senang ketika dokter Aldi memberi izin.
Sari membuka sebuah kantong yang isinya berbagai macam makanan ada puding, cake, juga bubur hangat kaldu ikan salmon tidak lupa buah-buahan segar yang sudah dibungkus rapih yang tadi sudah disimpan rapih di atas meja.
Sari mendekati Hana lalu membuka wadah puding dan menyuapi Hana sedikit demi sedikit yang selingi obrolan ringan antara Hana dan Sari.
Sementara itu para lelaki, Raffa, Gavin, Steve, Tuan Hans, juga dokter Alvian duduk di ruangan terpisah dengan Hana yaitu di ruang tamu yang terdapat sofa. Hanya dokter Aldi yang sudah tak ada di ruangan itu karena ada beberapa pekerjaannya yang masih harus diselesaikan.
Ya di ruangan VVIP bukan hanya kamarnya yang luas tapi benar-benar lengkap isinya mirip apartemen. Ada ruang tamu untuk menjenguk ada juga ruangan untuk menginap keluarga pasien. Berikut pelayanan ekstra perawat yang selalu siap Dua puluh empat jam hadir di depan ruangan VVIP.
"Tuan Hans, anda kelihatan lelah." Gavin melihat orang tua paruh baya itu memucat. Wajah lelahnya sudah tak bisa disembunyikan lagi.
"Ah sedikit." Ayahnya Steve menyembunyikan apa yang sedang dia rasakan. Khawatir orang-orang menjadi cemas.
"Yah, istirahatlah! Hana sekarang sudah tenang. Jadi ayah bisa beristirahat dulu. Jangan khawatir aku juga sudah baikan. Jadi ayah jangan terlalu cemas." Steve menyuruh ayahnya beristirahat khawatir malah jatuh sakit. Semenjak dirinya dirawat di Jakarta, ayahnya belum beristirahat dengan baik. Paling sesekali dia tertidur di atas sofa itu pun hanya sebentar. Ditambah lagi ketika mendapatkan kabar Hana, sepertinya makan dan tidurnya sudah tak beraturan.
"Tuan Hans, beristirahatlah di rumah kami. Kebetulan di lantai dua rumah kami kosong. Biasanya kami menyediakan buat jamaah ikhwan kalau ada kajian. Jadi tuan Hans bisa istirahat dengan tenang di rumah kami." Tawar Gavin pada tuan Hans. Hati nuraninya seperti terpanggil untuk membantu. Walaupun Gavin tahu bahwa ayahnya Steve terlihat berkemampuan tapi saat ini sepertinya dia butuh dukungan moril. Kalau tidur di hotel selain sendiri kalau ada apa-apa kasihan juga.
"Tapi.. saya khawatir. Bagaimana dengan Hana? Dia kan lumpuh." Tuan Hans menunduk, sepertinya banyak menyimpan kebingungan. Dan tanpa sengaja tuan Hans keceplosan memberi tahu orang yang ada disana. Sontak semua orang kaget, terkecuali dengan dokter Alvian seorang. Dia sudah mengetahui lebih dahulu dari dokter Aldi mengenai kondisi Hana.
Apa lumpuh?" Suara itu terdengar mirip koor paduan suara.
"Sudahlah tuan Hans. Anda perlu mengistirahatkan diri. Saya akan bantu menunggu disini. Jangan khawatir disini juga ada perawat dan pembantu yang Anda sewa. Jadi Hana tidak akan repot karena ada yang membantunya disini." Dokter Alvian segera memberikan solusi agar tuan Hans tidak banyak khawatir.
"Iya ayah. Lagian aku juga disini. Dan kondisi asam lambungku sudah membaik. Jadi aku bisa jaga bareng-bareng disini." Steve berusaha memberikan ketenangan buat ayahnya.
"Iya tuan Hans. Saya lihat Anda seperti kelelahan. Sejenak istirahat dulu. Hana masih membutuhkan anda ke depannya. InsyaAllah saya juga nanti akan meminta bantuan anak-anak untuk berjaga di siang hari dan malam harinya laki-laki bisa bergiliran berjaga disini." Gavin memberi dukungan sekaligus bantuan tenaga. Dia pikir Hana adalah seseorang yang Allah takdirkan untuk ditolongnya.
"Baiklah. Saya ucapkan terimakasih pak Gavin. Maaf saya sekeluarga jadi merepotkan anda." Ayah Steve merasa malu karena sudah banyak berhutang budi pada Gavin. Matanya menyiratkan sebuah permohonan maaf.
"Tak apa tuan Hans, toh Hana juga gurunya Raffa. Dia sudah banyak berbuat baik pada para muridnya, termasuk Raffa. Selayaknya juga saya memperlakukan keluarganya dengan baik." Gavin begitu baik, sifatnya yang suka menolong mudah sekali untuk terenyuh.
"Iya saya ucapkan banyak Terima kasih." Tuan Hans merapatkan kedua tangannya di depan dada sebagai ucapan terimakasih.
"Tapi saya mohon pada anda semua, tolong rahasiakan dahulu masalah kelumpuhannya Hana. Saya takut jika Hana mengetahuinya lebih awal mentalnya tak cukup kuat menerima kenyataan." Tuan Hans khawatir sekali dengan keadaan mental Hana.
"Jangan khawatir, InsyaAllah kita tidak akan banyak berbicara sebelum dokter Aldi sendiri yang menyampaikan." Dokter Alvian memberitahu pada semuanya.
"Raffa, kamu pulang dulu bersama tuan Hans. Nanti akang menyusul naik taxi saja bareng sama teh Sari."
__ADS_1