
Keduanya melakukan itu dengan makna terdalam, saling menumpahkan rasa dan mendamba. Wei melepaskan ciumannya perlahan lalu mengelap bibir Hana yang basah. Dia menyudahi pergerakan itu walau sebagai laki-laki dia menginginkan lebih.
Wei tak mau merusak sesuatu yang harus dijaganya mulai sekarang.
Wei merogoh sakunya mengeluarkan kotak yang sudah disiapkannya. Lalu mengeluarkan isi kotak itu.
Dia menarik tangan Hana dan memasukan cincin itu ke jari manis tengah Hana. Lalu mencium jari-jari Hana dengan penuh rasa.
Hana merasa bahagia sekali. Malam ini seolah menjadi malam yang bertaburan bintang di hatinya. Melihat laki-laki yang dicintainya kini. telah resmi menjadi miliknya.
Begitu pula Wei, sangat bahagia sekali begitu rasa yang belum pernah hadir di dalam dadanya kini seolah sedang menari-nari mengungkapkan rasa bahagianya.
"Hana.. aku minta kamu bersabar ya! Aku hanya butuh kamu selalu ada di sisiku. Kalau suatu hari kamu menemukan sesuatu yang buruk ada padaku, aku harap kamu bisa bertahan. Aku tidak meminta apapun, hanya meminta darimu tinggal lah bersamaku dan bersabar lah!" Wei yang tahu kondisi dalam keluarganya merasa khawatir kalau Hana tidak akan tahan tinggal bersamanya. Jauh berbeda memang dengan kondisi keluarga Hana yang hangat juga lebih frendly.
Wei hanya membutuhkan seseorang yang akan tinggal dengan dirinya, menguatkan dirinya di saat lemah bukan orang yang cantik ataupun kaya. Wei butuh dukungan moril untuk bisa bertahan.
Hana mengangguk setuju.
"Baiklah. Aku akan pulang dulu. Kamu beristirahat ya!" Wei tak ingin terlalu lama di rumah Steve karena harus kembali ke rumah sakit khawatir ibunya mencari.
"Iya kak. Kakak hati-hati. Kalau kondisi ibu sudah baikan, aku akan datang menjenguk kak." Ucap Hana yang berniat menjenguk calon mertuanya.
"Iya." Wei mengecup kening Hana sebagai perpisahan. Hana memejamkan matanya,frasa damai mendapatkan perlakuan dari Wei.
"Sebentar saya panggilkan kak Steve ya!" Hana hendak menggerakkan kursi rodanya.
"Biar aku dorong masuk sambil berpamitan." Ucap Wei sambil mendorong kursi roda ke ruang tengah.
Steve sedang menonton, tadi dia menyalakan televisi sambil menunggu Wei dan Hana yang sedang berbincang.
"Kak.. kak Wei mau pulang." Ucap Hana begitu sudah ada di ruangan tengah atau ruang keluarga.
"Oh iya.. " Steve lalu berdiri.
"Bagaimana kondisi ibumu Wei?" Steve tadi belum sempat menanyakan kondisi Ibunya Wei yang sedang di rumah sakit.
"Sudah agak baik. Tadi waktu aku kesini mama sedang tidur ditemani Sely." Terang Wei.
"Oh.. Sukurlah. Semoga lekas kembali sehat ya!" Steve lalu bersalaman begitu Wei menyodorkan tangannya sebagai salam perpisahan.
"Iya. Terima kasih."
"Hati-hati di jalan Wei!" Ucap Steve memberi saran.
"Iya baik. Kalau begitu aku pamit dulu." Wei berpamitan.
"Iya. Mari kuantar!" Steve mengantar sampai pintu depan rumahnya. Lalu Wei melambaikan tangannya dan berlalu menaiki mobilnya keluar dari rumah Steve. Wei kembali ke rumah sakit untuk menemani ibunya.
"Sudah pergi kak.... kak Wei nya?" Tanya Hana yang belum masuk ke kamarnya.
"Sudah. Dia langsung pergi lagi ke rumah sakit. Ayo sekarang kamu tidur dan mimpi indah." Ucap Wei sambil tersenyum, senang melihat adiknya bahagia.
"Iya kak. Maaf ya merepotkan kakak jadinya." Hana merasa tidak enak, menyebabkan Steve begadang hanya untuk menunggu Hana dan Wei berbincang.
"Tak apa.. kakak ikut bahagia. Semoga Wei bisa menjagamu sampai akhir ya!" Ucap Steve memberi semangat pada Hana.
"Iya kak.. terimakasih." Hana tersenyum ke arah Steve.
"Wah kakak.. jadi sedih sekarang." Steve menghela nafas kasar sembari menatap kosong ke depan membayangkan sesuatu yang bakal terjadi ke depan.
"Sekarang tidurlah! Kamu pasti bermimpi indah." Ucap Wei sambil mendorong ke kamar Hana.
"Baik kak.. sekali lagi terimakasih!" Han tersenyum bahagia.
"Sama-sama. Wah.. cincinnya indah sekali." Steve melihat sebuah cincin tersemat di jari manis Hana.
"Kakak mau lihat?" Hana dengan bangga memperlihatkan cincin itu pada Steve.
"Ah.. kakak jadi iri Hana.. " Steve pura-pura merengutkan wajahnya.
__ADS_1
"Ayoo.. sekarang kakak sudah harus sudah mencari calon istri." Ucap Hana menyemangati Steve sambil mengalungkan tangannya di leher Steve ketika Steve mengangkat Hana ke kasur.
"Hhmm.. iya. Nanti kalau kamu sudah benar-benar menikah, kakak baru mau mencari calon istri." Steve belum merasa tenang jika Hana belum menikah.
"Eh.. ngomong-ngomong kakak memang belum pernah punya pacar?" Hana penasaran. Karena semenjak Hana mengenal Steve belum pernah sekalipun Steve menceritakan kisah pribadinya.
"Kamu pengen tahu cinta pertama kakak?" Steve menatap adiknya dengan tatapan sendu.
"Iya." Hana sangat antusias mendengar cerita Steve. Padahal ini sudah hampir jam 12 malam.
"Cinta pertama kakak adalah kamu Hana." Steve tersenyum, sebenarnya dia malu mau menceritakan hal ini pada Hana.
"Wah.. kakakk... masa iya mencintai adik sendiri?" Hana agak heran mendengar cerita itu.
"Ya.. cinta monyet kakak... ketika pertama kali bertemu kamu. Kamu masih ingat kan waktu kakak satu sekolah dengan kamu?" Bayangan masa itu seolah diputar kembali.
"Ih.. kakak... itu kan masih kecil. Masa kakak sudah suka-sukaan sama perempuan?" Hana agak malu-malu mengingat masa itu.
"Iya.. kakak belum pernah menyukai seseorang sebesar suka kakak sama kamu. Ya.. walaupun waktu abg pernah juga sih suka-sukaan tapi kakak tidak berani menjalin hubungan dengan siapapun. Kakak banyak menolak cewek-cewek lho!" Steve bangga pernah banyak disukai perempuan.
"Kenapa kak?" Hana penasaran.
"Ya seperti kamu lah. Kamu juga menyukai laki-laki seperti Wei sudah sejak lama kan? Dan tidak pernah menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Ya kita mempunyai kesamaan rupanya. Kita tipe orang setia. Ha ha.. " Steve memuji dirinya sendiri sambil tertawa.
"Nah.. yang kedua.. dasar harus ketemu kamu!" Steve mencubit pipi Hana gemes.
"Ih.. sakit kak.. " Hana memegang pipinya yang baru saja dicubit Steve.
"Kakak jatuh cinta beneran sama kamu, pas pertama kali kakak menjemput kamu di rumah sakit. Kakak.. melihat kamu mirip seseorang. Ya.. mirip ibu kita Hana. Waktu itu jantung kakak berdebar-debar. Belum pernah kakak merasakan jantung kakak seperti itu, sampai... kakak agak frustasi mendengar kenyataan bahwa kamu adalah adik kakak." Wajah Steve berubah sedih. Mengingat dia sangat dalam mencintai Hana dan tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Hana adalah adiknya yang pernah dibencinya karena dianggap bersalah atas kematian Ibunya.
"Wah.. kakak sampai sejauh itu ya.. menyukai itu?" Lirih Hana mendengar cerita Steve.
"Iya.. kakak, sampai melakukan percobaan hal konyol. Untung kakak selamat dan masih bertemu kamu. Sekarang kakak sangat sayang sama kamu dan berharap sayang kakak sama kamu akan abadi dalam ikatan persaudaraan." Mata Steve berkaca-kaca menahan haru.
"Ya.. sudah.. sekarang tidurlah! Kakak.. sebentar lagi akan kesepian ditinggalkan sama kamu. Rasanya kakak jadi kangen sama ayah dan mama juga Caterina." Steve menarik selimut menutupi badan Hana.
"Selamat malam ya!" Steve beranjak dari tepi ranjang.
"Selamat malam juga kak." Hana tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Steve membalas dengan tersenyum dengan raut bahagia melihat Hana.
Malam berlalu, Steve dan Hana kembali ke peraduan menemui mimpinya masing-masing.
Sementara itu Wei merasa lega setelah menyatakan keinginannya untuk menikah dengan Hana. Sepanjang perjalanan ujung bibirnya selalu terangkat ke atas, tersenyum simpul entah apa yang sedang dibayangkan dalam pikirannya.
Setelah memarkirkan mobil Wei kembali ke ruangan dimana ibunya dirawat.
"Bagaiman mama Sel?" Wei menanyakan keadaan Ibunya pada Sely
"Tadi mama sempat bangun, menanyakan keberadaan kakak. Tapi aku bilang kakak sedang keluar ada keperluan dulu."
"Ohh.. "
"Kakak cape? Istirahat! Besok kakak kan kerja? Mama juga tidur. Jadi kakak bisa istirahat. Biar adek tidur di samping mama." Ucap Sely tidak tega melihat kakaknya kelelahan.
"Sebaiknya kamu juga tidur. Sofa itu cukup luas untuk kita berdua. Kakak sebelah sana kamu sebelah sini. Kita tidur saja! Mama juga tidur lelap." Imbuh Wei.
"Baiklah.. " Sely akhirnya menyetujui ide Wei. Dilihat wajah ibunya sudah tidur dengan tenang.
Keduanya tidur di sofa karena terlihat ibunya sudah lebih baik.
Keesokan harinya, Wei bangun lebih pagi. Dia sudah mencuci mukanya dan bersiap untuk pulang ke rumah karena akan mempersiapkan diri berangkat ke kantor. Sementara itu Sely sedang membantu ibunya sarapan pagi.
"Ma.. Tidak apa kalau Wei pulang dulu?" Ucap Wei berpamitan.
"Iya.. pergilah. Mama juga sudah baikan. Kamu tenang saja. Mama cuman kelelahan saja, tidak ada yang serius." Ucap ibunya Wei.
"Baiklah. Jaga mama ya Sel! Kalau ada apa-apa telepon kakak! Nanti sopir akan me. bawakan baju ganti kalian kesini." Wei sudah menelepon pelayan di rumah agar menyiapkan keperluan Sely dan ibunya.
__ADS_1
"Iya kak. Jangan khawatir!" Sely telah siaga menjaga ibunya setelah kematian ayahnya, dirinya lah yang menemani nyonya Rose agar tidak kesepian.
Wei meninggalkan rumah sakit dan bergegas kembali untuk bersiap-siap pergi ke kantor.
Tok
tok
tok
Suara ketukan di pintu kamar rumah sakit terdengar, tak lama kemudian ada seseorang yang masuk dengan buket bungan dan keranjang buah di tangannya.
"Eh Riana.. " Ibunya Wei tersenyum melihat Riana datang.
"Apa kabar ma? Bagaimana sekarang sudah baikan?" Riana menyimpan buket dan keranjang buah di atas nakas.
"Ya.. sudah agak mendingan." Jawab Ibunya Wei.
"Mama sendirian?" Riana tak melihat ada orang lagi di ruangan itu.
"Sama Sely. Tadi ada dia keluar dulu. Katanya ingin ke kantin."
"Oh.. " Jawab Riana sambil mengangguk.
"Bagaimana kabarmu nak? Apa bisnisnya dan pekerjaannya lancar?" Tanya nyonya Rose pada Riana.
"Baik ma. Semuanya baik-baik saja. Wei pergi ke kantor ma?" Riana tak melihat Wei.
"Iya. Tadi semalam menginap di sini bersama Sely. Anak itu memang rajin sekali. Apalagi setelah kematian ayahnya. Tanggungjawab dan pekerjaannya menjadi banyak." Nyonya Rose menghela nafas. Bayangan suaminya tiba-tiba hadir. Dia berkaca-kaca merindukan sosok suaminya yang telah meninggal.
"Mama jangan sedih gitu! Nanti kesehatan mama jadi menurun. Mama harus banyak healing, biar tidak fokus dengan kematian ayah." Saran Riana pada Nyonya Rose sambil memegang kedua tangannya sebagai bentuk penguatan moril untuk ibunya Wei.
"Iya.. mama sepertinya banyak di rumah. Jadi pikirannya mentok. Coba kalau ada cucu, sepertinya rumah kita akan ramai." Ibunya Wei menatap Riana. Ada sesuatu yang sedang diharapkan pada Riana.
Riana tertunduk malu. Sejauh ini Wei tak ada kemajuan dalam mendekati dirinya. Sedangkan Riana pun agak canggung jika terlalu agresif mendekati Wei.
"Mama...sebenarnya Wei sudah melakukan lamaran pada Hana." Ucapan itu terdengar kecewa.
"Apa?" ibunya kaget mendengar berita bahwa putranya sudah melakukan lamaran.
"Kapan?" Dengan lemas nyonya Rose menanyakan waktu lamaran putranya.
"Tadi malam ma." Tanpa diduga Riana memasang mata-mata yang sangat dekat dengan Hana.
"Bukannya tadi malam dia ada di sini?" Nyonya Rose heran. Dia masih mengingat-ingat kejadian tadi malam. Dia baru teringat, waktu dia terbangun dia sempat menanyakan keberadaan Wei pada Sely adiknya Wei, katanya Wei sedang ada urusan. Mungkinkah waktu itu Wei pergi ke rumah Hana?
"Tenang saja. Mama sudah membuat syarat untuk Wei. Asal kamu bersabar. Apakah kamu keberatan jika kamu menjadi istri kedua?" Ibunya Wei tahu betul karakter anaknya yang cukup keras atas pilihannya. Dia tidak mungkin untuk dilarang menikahi Hana.
"Tak apa. Asal saya bisa menikah dengan Wei, saya rela dimadu." Cinta Riana begitu besar untuk mendapatkan Wei menjadi suaminya.
"Baik.. mama akan atur pernikahan kalian. Jangan sampai Wei mendaftarkan pernikahan Hana." Ibunya Wei menginginkan Riana menjadi menantu sahnya. Agar kelak keturunannya bisa mewarisi semua kekayaan yang diberikan oleh ayahnya.
"Terimakasih kasih ma. Mama sudah mau membantu saya." Riana memeluk Ibunya Wei dengan erat. Dia sangat bahagia mempunyai calon mertua yang mendukungnya.
Dilain tempat Sely sedang menelpon Wei. Mengabarkan kondisi ibunya. Ada kemungkinan bahwa sore ini bisa segera pulang.
"Baiklah.Tunggu kakak pulang ya! Biar kakak yang menjemput mama." Wei senang mendengar kondisi ibunya yang membaik.
"Iya kak saya tunggu." Sely pun bangkit dari tempat duduk hendak membayar pesanan. Setelah selesai membayarnya Sely berjalan menuju ruangan dimana ibunya dirawat.
Begitu sudah di depan pintu, Sely mendengar percakapan di dalam ruangan. Dia tidak segera masuk malah menguping pembicaraan ibunya dengan seorang perempuan.
"Apa? Kenapa mama tega sekali pada kak Wei? Kenapa mama memaksa kak Wei untuk menikahi wanita itu?" Sely mengerutkan dahinya tak habis pikir dengan Ibunya.
Sely ikut kecewa dengan sikap ibunya yang ingin menjodohkan kakak Wei dengan perempuan yang ada di ruangan itu. Telinga Sely semakin panas. Dia tak mau berlama-lama di luar lalu mengetuk pintu kamar agar kedua wanita itu tidak terkejut dengan kedatangan. Sely masuk, dia memasang muka pura-pura tidak tahu.
"Eh Sely.. apa. kabar?" Riana tersenyum melihat kedatangan calon adik iparnya.
"Baik kak. Kakak apa kabar?" Sely membalas sapaan Riana. Walaupun hatinya kesal dia tidak menunjukkan kekesalannya. Dia ingin tahu banyak tentang Riana. Kalau dia memperlihatkan ketidaksenangan pastinya dia akan mendapatkan protes.
__ADS_1