Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Daniel begitu tenang


__ADS_3

Daniel melihat seseorang yang berjalan mengendap-endap lalu membekap perawat. Laki-laki yang satunya lagi mendorong kursi roda yang diduduki Hana.


Daniel segera menghalangi jalannya kursi roda. Hana terlihat ketakutan.


Inikah orang suruhan ibu? Mereka menyamar sebagai petugas medis


Dia secepat kilat mengeluarkan senjata setelah Daniel menahan lajunya kursi roda.


Dan akhirnya suara itu membuat orang kaget.


Dor


Dor


Dor


Daniel memegang bagian yang tertembak. Dan akhirnya terkulai lemas.


Daniel masih melihat wajah Hana walau masih samar. Walau ada rasa sakit di bagian dadanya, tapi hatinya begitu bahagia Hana memeluk dirinya setelah sekian lamanya dia merindukan Hana seperti ini.


"Hana.." Tangannya ingin sekali mengusap wajah yang dirindukannya. Tapi bayangan cahaya itu kian memudar dan akhirnya Daniel tak sadarkan diri.


####


"Halo."


"Iya. Halo."


"Apakah ini benar dengan ibunya tuan Daniel?"


"Iya. Betul."


"Maaf Bu, kami mau menginformasikan putra anda sedang kritis di rumah sakit XXx di kota B. Harap ibu bisa segera datang."


Deg


Dadanya merasakan sesak dan mulutnya menganga. Dia tak percaya putranya semata wayang kini sedang kritis. Waktu seolah berhenti berputar menghentikan kesadarannya. Dia tak percaya apa yang baru saja didengarnya.


Wajahnya memucat, seketika badannya limbung lemas tak berdaya. Melorot jatuh ke lantai.


"Itu tidak mungkin... tidak mungkin... " Bicaranya meracau kepalanya menggeleng-geleng.


"Halo.. Halo... " Suara diseberang telepon masih aktif.


Tut


Tut


Tut


Akhirnya terputus karena tak juga mendengar jawaban.


"Nyonya... sadar nyonya." Sekertarisnya menepuk-nepuk pipinya agar segera sadar dari pingsannya.


"Ahh... " Dia melenguh.


"Nyonya sadar!" Sekertarisnya menatap dengan wajah cemas.


"Apa yang terjadi denganku?" Ibunya Daniel ternyata pingsan setelah menerima kabar kondisi putranya tadi.


"Anda pingsan selama 30 menit." Terangnya.


"Bantu aku untuk duduk!" Sekertarisnya membantu ibunya Daniel bangun lalu duduk di atas sofa yang ada di ruangannya.


"Ini nyonya minum dulu, biar anda lebih baik." Dia menyodorkan secangkir air putih ke tangan ibunya Daniel.


Masih dalam keadaan lemas, tangannya bergetar menerima gelas itu lalu meneguk sedikit air dari gelas yang diberikan sekertarisnya.


"Anda mau dipanggilkan dokter nyonya?" Tawar Sekertarisnya.


"Tidak. Aku hanya ingin pergi menemui putraku." Bibirnya bergetar dan air mata nya menetea dari kedua kelopak matanya.


"Anda tidak cukup kuat nyonya. Lebih baik anda ke dokter dulu agar keadaan nyonya bisa stabil." Saran Sekertarisnya.


"Tidak. Aku akan kesana melihat putraku." Suaranya begitu pelan dan tatapannyabegitu kosong.


"Baik nyonya. Akan saya panggilkan sopir anda. Saya sarankan anda naik kursi roda khawatir kondisi anda masih lemas." Sekertarisnya sudah siaga setelah tadi melihat kondisinya ibunya Daniel pingsan. Di dorongnya wanita itu ke pintu lift dan dibantunya untuk naik mobil.


"Hati-hati nyonya. Saya doakan kondisi putra anda kembali pulih." Sang sekertaris menutup pintu setelah ibunya Daniel duduk di dalam mobil.


Mobil itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata untuk bisa segera sampai di rumah sakit dimana putranya ditangani.


Sesampainya di rumah sakit wajahnya kian terlihat tidak tenang. Kini sang sopir yang membantunya mendorong kursi roda itu menuju ruang ICU.


Kondisi Daniel masih koma akibat organ tubuh yang terkena peluru jarak dekat.


Wajahnya menatap kosong dengan tangan yang sesekali meraba kaca yang menghubungkan antara dirinya dan ruangan dimana Daniel dirawat.


'Daniel anakku, kau kah itu?" Suaranya begitu parau. Airmata kesedihan sejak tadi tidak berhenti keluar. Kini dia hanya bisa meratapi penyesalan setelah melihat Daniel terbaring tak berdaya.


Sementara itu Hana dan keluarganya sudah berkumpul di ruangan perawatan sekarang ada penjagaan garis polisi yang tidak boleh sembarangan masuk.


"Dokter Aldi, apakah kondisi Hana sekarang syok?" Wei melihat Hana hanya terbaring tanpa mau bisa diajak bicara. Hanya Steve yang bisa berkomunikasi dengan Hana paska kejadian penembakan Daniel.


"Iya. Secara kondisi mental Hana baru saja mau pulih. Ditambah kejadian insiden penembakan yang terjadi di depan matanya, tentu jiwanya terguncang.


"Apakah pihak rumah sakit sudah berhasil menangkap penembakan itu?"


"Aku dengar sih sudah, walaupun penjahat itu masuk keruangan pasien dan mengancam untuk menembak. Tapi pihak kepolisian sudah menangkapnya. Sekarang sudah ditahan di kantor polisi menunggu hasil pemeriksaan. Bahkan dokter Alvian sekarang sedang menemani direktur di kantor polisi." Terang Dokter Aldi.


"Oh. Baguslah kalau begitu. Terus bagaimana kondisi Daniel dok?" Wei kembali menanyakan Daniel. Karena tadi setelah Daniel berhasil dioperasi Hana pingsan. Wei tidak bisa mengetahui kondisi Daniel karena langsung membantu Hana bersama Steve untuk dibawa ke ruangan pemeriksaan.

__ADS_1


"Menurut dokter Harist, kondisi kritis. Karena penembakan jarak dekat pelurunya tembus dan mengenai lambung dan dua peluru lagi mengenai tulang. Kita doakan saja semoga Daniel melewati masa kritis. Dokter Harist 24 jam memantau dalam ruangan. Dan tidak boleh ada yang menjenguk dahulu." Terang Dokter Aldi.


"Iya kita berdoa semoga semuanya baik-baik saja."


Kring


Kring


Kring


"Iya halo paman."


"Bagaimana kondisi Hana Wei?"


"Baik paman. Cuman butuh waktu untuk menenangkan diri."


"Paman dan bibi bagaimana?"


"Paman sudah agak lebih baik setelah tadi diinfus. Bibi juga sudah tenang. Untung disini ada teh Sari dan keluarga menemani bibi dan Caterina."


"Bagaimana dengan Daniel?"


"Kritis paman."


"Apakah ibunya sudah datang?"


"Sudah paman. Hana sedang dijaga ketat takut ada hal-hal yang tidak diinginkan."


"Iya. Paman mohon maaf belum bisa kesana."


"Iya paman tak apa-apa. Paman perlu istirahat dahulu. Besok mungkin Raffa akan menggantikan saya. Karena saya akan kembali ke Jakarta paman."


"Iya. Paman bersama bibi juga besok akan menggantikan Steve. Biar gantian berjaga."


"Baik paman. Selamat beristirahat."


"Iya kamu juga jaga kondisi jangan sampai sakit! Sudah dulu ya Wei. Titip Hana sama Steve."


"Iya baik paman."


Keduanya menutup pembicaraan.


"Maaf dokter memotong pembicaraan."


"Oh tidak apa-apa."


"Oh iya dokter, maaf saya mau menanyakan kondisi Hana dok."


"Iya?"


"Apakah kelumpuhan Hana bisa disembuhkan?"


"Hhmm. Kami masih memantau ya. Tadi hasil pemeriksaan lanjutan kondisinya masih lemah, jadi butuh waktu untuk penyembuhan. Untuk pulih... ada kemungkinan 50 persen. Karena kecacatan akibat luka yang disebabkan di kepalanya membuat fungsi sebagian melemah. Jadi Hana membutuhkan terapi khusus stimulan untuk kondisi otaknya juga otot-ototnya jangan sampai lemah." Tetang dokter Aldi.


"Maksudnya?


"Kami semua berdomisili di Jakarta akan kerepotan kalau Hana dirawat disini kalau misalkan bisa dipindahkan ke Jakarta apakah memungkinkan?"


"Bisa saja. Tapi tunggu Hana stabil dulu ya. Soalnya karena insiden ini kondisi Hana jadi drop lagi. Kita tak bisa menjamin kalau Hana dibawa ke Jakarta kondisi fisiknya akan kuat atau tidak."


"Oh iya dok." Wei berpikir sejenak. Jadi usaha Wei untuk melamar Hana belum bisa dalam waktu dekat ini. Harus menunggu Hana stabil.


Dilain tempat Riana panik setelah mendengar berita dari Wei bahwa Daniel kritis setelah insiden penembakan. Hatinya merasa bersalah setelah pembicaraannya yang terakhir kali dengan Daniel di telepon.


Maafkan aku Daniel. Aku tak bermaksud mendoakan kematian padamu. Aku bercanda. Kenapa hal ini terjadi padamu. Apa yang harus kulakukan?


Riana bolak-balik di depan ruangannya. "Apa aku harus menyusul kesana melihat keadaannya. Aku heran kenapa juga Wei ada disana? Apa yang dilakukan Wei?" Riana berbicara sendiri tanpa tahu jawabannya.


Riana segera membawa tas lalu keluar ruangan menuju tempat parkiran. Untuk memenuhi rasa kepenasaranannya dia perlu datang sendiri ke sana. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Sampai insiden besar ini harus terjadi.


Setelah dua jam mengemudi akhirnya Riana sampai di kota B tepat nya dia sedang memarkirkan kendaraannya di depan rumah sakit


Riana turun dari mobil dan berjalan menuju loby rumah sakit.


Dia duduk di bangku lalu menekan nomor seseorang dari Handphonenya.


"Wei ini aku sudah di loby rumah sakit." Riana mengabari Wei tentang keberadaannya.


"Apa? Kamu beneran lagi di rumah sakit?" Wei terkejut mendengar keberanian Riana yang tiba-tiba ada di loby.


"Iya masa iya aku bohong sama kamu. Kalau tidak percaya kamu kesini deh!" Cicit Riana.


"Ya sudah aku kesana sekarang." Wei menutup segera teleponnya.


"Maaf dok saya keluar dulu. Ada teman saya menunggu di loby."


"Oh iya silahkan! Saya juga mau memantau pasien yang lain." Izin Dokter Aldi.


Wei keluar duluan setelah berpamitan terlebih dahulu pada Steve. Hana belum bisa diajak bicara Dia masih melamun kosong bahkan terapi nya pun kembali ditunda.


"Wei... " Riana melambaikan tangannya ke arah Wei yang sedang mengedarkan pandangan mencari Riana.


Wei terlihat tampan, semua yang melihatnya pastinya terpesona. Begitu pun dengan Riana. Yang sedari dulu mengagumi segalanya yang ada pada diri Wei. Begitu melihat Wei hatinya begitu berbunga-bunga.


"Riana.. kamu sendiri?" Wei melihat ke arah Riana dan tak melihat siapa lagi yang datang bersamanya.


"Berdua." Riana tersenyum.


"Dengan siapa?" Wei mengerutkan dahinya.


"Sama kamu!" Riana melebarkan senyuman. Merasa dia telah menggoda Wei.

__ADS_1


Bibir Wei terangkat sedikit, tersenyum, menerima candaan Riana yang menggodanya.


"Aku ingin melihat Daniel Wei, bagaimana keadaannya?" Cemas Riana.


"Dia masih kritis. Dia masih di ruang ICU. Tapi penjagaannya ketat."


"Sebenarnya ada apa Wei? Kenapa Daniel bisa tertembak?" Riana penasaran ingin sekali tahu kenapa semuanya bisa terjadi.


"Ceritanya panjang." Hela Wei yang malas untuk bicara.


"Lah kamu sendiri kenapa ada disini? Kemari Daniel sempat menelpon aku. Dia menanyakan keberadaanmu. Bahkan dia ke kantor mu juga." Tetang Riana.


Wei menatap Riana. Heran.


"Ada apa sih diantara kalian?" Aku malah mencurigai sesuatu." Riana menajamkan pandangannya pada Wei.


Wei mengalihkan pandangan pada sekitar loby tak mau bersitatap dengan Riana.


"Wei.. kamu marah?" Riana merajuk.


Wei hanya melirik, lalu tertunduk.


"Maafin aku deh!" Riana merasa bersalah.


Wei masih terdiam.


"Lah itu Steve? Mau kemana dia?" Riana menangkap sosok Steve tapi kelihatannya sedang mencari seseorang.


"Steve... " Riana memanggilnya. Yang dipanggil segera menoleh dan melihat ke arah Wei dan Riana. Steve berjalan mendekati keduanya.


"Hei... kamu disini Riana?" Steve menyapa Riana.


"Hhmm." Dia tersenyum tipis. Wei hanya terdiam tanpa ada ekspresi apapun.


"Wei... aku tadi mencarimu. Hana ingin bicara padamu!"


"Ya?" Wei mengangkat alis.


"Iya. Barusan aku titip dulu ke perawat. Jadi aku mencarimu." Terang Steve.


"Siapa Hana?" Riana heran wajahnya menyapa penuh curiga. Ketika ada seorang nama wanita disebut Steve mencari Wei.


"Adikku." Jawab Steve pendek.


"Adik?" Riana bertambah heran.


"Aku kesana dulu!" Wei berjalan meninggalkan Riana juga Steve.


"Eh... itu orang main pergi aja. Gue ditinggalkan. Jauh-jauh kesini malah dicuekin." Gerutu Riana.


"Kamu sendiri Riana?" Steve melihat tak ada yang menemani Riana.


"Iya."


"Ada apa kamu kesini?" Steve menatap heran.


"Mau apalagi kalau aku mau bertemu Wei sekaligus menjenguk Daniel." Riana menjawab ketus.


"Oh.. "


"Kamu ngapain disini? Bukannya ke Perancis?" Riana menatap Steve penuh selidik.


"Adikku sakit. Jadi aku tak jadi berangkat." Jawab Steve.


"Hhmm." Kenapa Wei bisa seakrab dengan adikmu?" Suara Riana terdengar seperti cemburu.


"Dia sudah lama kenal kok." Steve menatap Riana aneh.


"Kok aku gak tahu?" Riana mulai posesif pada Wei.


"Emangnya segala sesuatu harus bilang padamu!" Steve melenggang meninggalkan Riana. Ada rasa kesal kalau berhadapan dengan Riana. Selain terlalu mendominasi dia juga terlalu ingin tahu soal orang lain.


"Eh tunggu!" Riana mengikuti langkah Steve. dia menyusul langkah Steve. Tidak mungkin bagi Riana jauh-jauh datang ke kota B dengan hasil zonk.


Wei masuk ke dalam ruangan perawatan Hana. Hana sudah duduk di kursi rodanya dibantu perawat.


"Hana.. tadi mencariku?" Wei mendekat dan mensejajarkan tingginya dengan Hana.


"Iya kak Wei. Aku ingin kak Wei mengantarkanku ke ruangan kakak Daniel." Pinta Hana sambil melihat Wei.


Wei kemudian duduk berjongkok. Lalu mengelus tangan Hana lembut.


"Nanti kita jenguk. Tapi tidak sekarang." Wei tersenyum pada Hana membujuk supaya Hana tidak meminta dirinya melihat Daniel. Keadaan Daniel belum stabil.


"Tapi kak Wei please... " Hana dengan wajah memelas meminta Wei meloloskan permintaannya.


Wei terdiam. Dia tak bisa begitu saja meloloskan permintaan Hana. Karena ada prosedur yang harus dipatuhi.


"Sebentar saya izin dulu ya sama dokternya." Wei mengirimkan pesan pada dokter Aldi. Netranya fokus melihat balasan dokter Aldi yang sedang diketik.


Wei menghela nafas.


"Baiklah kita akan pergi melihatnya. Tapi setelah dari sana kamu harus menjalani terapi ya!" Wei mengajukan syarat sesuai permintaan dokter Aldi agar Hana tidak menunda pengobatannya.


"Baiklah." Hana tak berani menolak permintaan Wei untuk melanjutkan terapi yang tertunda.


"Mari saya antarkan kesana!" Wei mendorong kursi rodanya menyusuri lorong menuju ruang ICU.


Sementara Steve dan Riana baru saja menjenguk Daniel walau hanya dari luar. Steve takut Riana membuat masalah mengajaknya ke kantin jadi tidak sempat bertemu Wei yang sedang mendorong Hana ke ruang ICU.


"Aku juga dulu terbaring di sana kak Wei. Aku merasa takut jika aku tak ada yang menemani." Hana mengehela nafas. Tatapannya tidak terlepas dari Daniel yang sedang terbaring dengan selang bergelayutan.

__ADS_1


"Untung ada kak Steve yang menemaniku waktu itu, sehingga aku cepat bangun. Aku pun ingin menemani kak Daniel agar cepat bangun kembali."


__ADS_2