Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Sama-sama terluka


__ADS_3

Setelah tak mendengar jawaban, ibunya Caterina membuka pintu.


Klek


Pintu terbuka, lalu masuk ke kamar Steve. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tapi tak menemukan sosok Steve di kamarnya.


Ah mungkin lagi di kamar mandi


Dia berjalan ke arah kamar mandi dan menunggu sesaat di depan pintu. Telinganya di tajamkan di depan pintu untuk memeriksa apakah Steve ada di dalamnya. Tetapi tak terdengar apapun bahkan gemericik suara air jatuh pun tak ada terdengar.


"Steve.. ini mama sayang... kamu ada di dalam?" Sepi sama sekali tak ada jawaban. Karena penasaran dia kembali mengetuk pintu agak keras sambil memanggil nama Steve.


Karena tak jawaban juga, tiba-tiba dia menaruh curiga, entahlah ada terselip rasa kekhawatiran dihatinya. Dia lalu membuka pintu kamar mandi, lalu sorot matanya tajam melihat orang yang sedang tergeletak di kamar mandi.


"Steve... " Ibunya Caterina berteriak sambil berlari mendekati tubuh Steve yang sudah tergeletak di kamar mandi. Dia melihat darah yang mengalir dari pergelangan tangannya.


"Ayah... " Suaranya naik beberapa oktaf untuk memanggil suaminya. Hatinya sangat terguncang begitu melihat Steve sudah tak sadarkan diri dengan pergelangan tangan berlumuran darah. Badannya gemetar tenaganya begitu lemas. Dia memanggil kembali suaminya dengan teriakan sangat keras, sampai terdengar oleh seisi rumah.


Di dapur, ayah Steve yang sudah membuka apronnya yang sudah siap-siap duduk di meja makan pun kaget mendengar teriakan istrinya. Dia langsung berlari menuju kamar Steve.


Sesampainya di kamar Steve dia tak melihat istrinya juga Steve. Dia mendengar suara istrinya yang sedang menangis dari ruangan lain yaitu kamar mandi. Dia segera melangkahkan kakinya menuju asal suara.


"Maa.. apa yang terjadi?" Ayah Steve kaget langsung berjongkok, menatap wajah istrinya yang berderaian air mata sedang memegang Steve.


"Ayah.. Steve... " Ibunya Caterina menatap nanar wajah suaminya, seperti sedang menterjemahkan apa yang menimpa Steve.


Ayah Steve melongo, wajahnya pucat pasi begitu melihat Steve tergeletak di lantai kamar mandi dan darah sudah keluar dari pergelangan tangannya.


"Cepat bawakan handuk kecil untuk menahan darahnya!" Ayahnya Steve menyuruh istrinya mengambil handuk yang ada di loker kamar mandi.


"Iya baik." Tangannya masih gemetar, dia bangkit berdiri lalu berjalan mengambil handuk. Lalu memberikannya pada suaminya. Dia langsung melingkarkan pada pergelangannya Steve agar menahan darah tidak keluar. Dia langsung mengangkat Steve dari lantai. Pikirannya kalut menghadapi kejadian yang berlangsung cukup cepat.


"Bawakan kunci mobil! Kita akan ke rumah sakit terdekat." Ayah Steve berjalan lebih dahulu menuju garasi, sedangkan istrinya mengambil kunci mobil dan tas slempangnya.


Setelah membuka pintu mobil dan meletakkan Steve dibelakang. Mereka langsung menancap gas menuju rumah sakit terdekat.


flasback


######


Setelah Steve membaca surat yang di tulis Hana, perasaan hancur berkeping-keping. Rasanya cukup perih dalam lubuk hatinya dia sangat membatin, kenapa dia tega mengusir adiknya sendiri bahkan dalam keadaan amnesia. Berjuta penyesalan kini menggunung dalam hatinya, memikirkan kemana Hana pergi, apalagi dia tak menggunakan kartu debit yang pernah diberikannya. Karena kebencian dan dendam masa lalu dia berbuat setega itu.


Steve mencoba menelpon Sandi. Dia berharap Hana ada bersamanya.


tut.. tut.. tut


Tak lama berselang handphone tersambung.


"Iya halo.


"Sandi"


"Iya ada apa?" Suara Sandi terdengar agak dingin. Tidak seperti biasanya dia suka menggoda.


"Apa Hana ada bersamamu?" Steve bicara pelan.


"Tak ada, " jawab Sandi pendek.


"Jangan becanda Sandi! Aku serius!" Steve bicara serius. Dia ingin memastikan Hana ada bersama Sandi saat ini dan dia tak ingin Sandi mempermainkannya. Steve baru ingat, Hana pergi tengah malam setelah Steve mengusirnya tanpa memikirkan panjang.


"Ada apa ini? Jangan bilang kalau Hana pergi dari rumahmu!" Tebakan Sandi rupanya sangat menohok hati Steve. Karena tebakan Sandi memang benar adanya.


Steve segera mematikan telponya. Dia tak ingin Sandi terus menginterogasinya.


"Steve... Steve.. Steve... Sial dia menutup telponnya!" Umpat Sandi merasa kesal.


Pasti ada hal yang serius diantara mereka, sampai Hana pergi dari rumahnya?


"Hana? Apa dia beneran pergi dari rumah Steve? Apa dia bersama Wei? Ah aku bisa gila jika dia sedang bersamanya." Dia berteman. Sandi mondar mandir hatinya resah. Sedangkan dia sangat bingung karena semenjak pembicaraan dengan ayahnya, Sandi tidak diizinkan ke luar rumah. Bahkan dia sedang mempersiapkan kepergiannya ke Australia untuk melanjutkan kuliah disana.


Steve mengabaikan gengsi demi Hana. Dia sekarang dalam keadaan khawatir, hatinya tidak tenang sebelum menemukan Hana, dengan siapa Hana tinggal. Pikirnya Hana akan pergi ke rumah Sandi, tapi tebakannya meleset.

__ADS_1


Steve menekan nomor Wei. Tak ada salahnya dia menanyakan Wei, karena tak ada lagi orang yang dianggapnya dekat dengan Hana. Tak lama kemudian handphonenya tersambung, terdengar suara Wei dengan nada lemas.


"Halo"


"Wei.. "


"Steve.. aku mau bicara." Wei langsung memotong pembicaraan, Wei berpikir ini adalah kesempatan untuk bicara pada Steve. Dia takut Steve menutup telponnya.


"Wei apa Hana bersamamu?" Steve menyela sebelum Wei bicara.


"Apa?" Terdengar suara Wei terkejut.


Kenapa dia menanyakan Hana? Bukankah dia bersamanya?


"Aku tak mau mendengar yang lainnya. Aku hanya ingin memastikan Hana ada bersamamu." Nada bicara tegas Steve terdengar seperti tak peduli dengan apa yang akan dikatakan Wei.


"Dengarkan dulu aku Steve! Sebentar saja! Kalau tidak, maka kamu akan menyesal seumur hidupmu." Wei memaksa Steve untuk tidak menutup telponnya sebelum dia selesai bicara.


"Bicaralah! Ini kesempatan terakhir kamu!"


"Baik! Aku minta maaf kalau sudah membuat kamu kecewa. Sebenarnya, sejak aku menabraknya aku sudah mengenali Hana. Aku kenal Hana sejak aku bersahabat dengan Daniel. Aku sengaja menitipkan padamu pada awalnya hanya ingin melindunginya. Aku sama sekali tidak tahu kalau kalian bersaudara. Aku baru mengetahui setelah mengambil kembali kotak kepunyaan Hana yang sengaja diambil oleh suruhan ibunya Daniel. Aku mohon maaf jika baru sekarang aku bisa bicara padamu. Tadinya aku berniat ingin mengumpulkan bukti untuk Hana. Karena aku belum cukup bukti untuk menolong Hana jadi aku memilih diam tak bicara padamu terus terang. Tapi aku tak menyangka bocah itu malah mengacaukan perusahaan karena semata-mata cemburu dan ingin mencari kebenaran bahwa aku bukan suaminya. Sekali lagi aku mohon maaf..aku belum bisa menolong Hana. Sekarang aku mohon jagalah dia baik-baik. Kasian dia, selama ini hidupnya sudah cukup berat. Sepeninggal ibunya, Hana sering mendapatkan siksaan secara fisik dan mental dari ibunya Daniel. Dan yang paling parah, Hana pernah mau dibunuh ketika ayahnya meninggal dengan rekayasa kecelakaan mobil. Tapi Hana berhasil selamat dari kecelakaan maut itu. Namun malangnya dia malah dikurung di rumah sakit jiwa agar perusahaan busa dikuasai oleh ibunya Daniel. Makanya aku merahasiakan keberadaan Hana ketika Daniel curiga keberadaan Hana, semata-mata hanya ingin melindunginya." Wei mengambil nafas, lalu melepaskannya perlahan. Ada sedikit perasaan lega setelah mengungkapkan alasan kenapa dia harus merahasiakan Hana.


Terdengar sesenggukan di seberang telponnya.


"Steve.. Steve.. apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Wei merasa cemas. Seumur dia kenal Steve belum pernah dia melihatnya bersedih apalagi menangis. Steve yang mempunyai kepribadian ceria tentu jarang sekali menaruh masalah secara berlarut-larut. Hanya hari ini, semangatnya seperti runtuh.


"Aku... sudah mengusirnya semalam Wei.. "


"Apa???? Suaranya cukup memekikkan telinga.


"Aku harus bagaimana?" Steve menyeka airmata.


"Steve... kenapa kamu tega sekali?" Wei begitu lemas mendengar sikap Steve.


"Aku sudah menelpon Sandi katanya dia tak ada bersamanya. Dia pergi kemana kira-kira. Jika dia mati, aku tak bisa hidup dengan mudah Wei... Aku sudah cukup membencinya seumur hidup. Tapi kenapa dia malah datang padaku dalam keadaan hatiku sangat menyayanginya."


'Steve... "


"Steve... sudahlah tiada guna menyesal. Sekarang waktunya kita mencari Hana."


Dilain tempat Sandi sedang cemas. Dia sedang menelpon Wei tapi nada Handphone nya terdengar sibuk. Sandi mengalihkan nomor mencoba menghubungi Rafa.


"Raf lu lagi dimana?"


"Gue lagi di sekolah, lagi nyiapin acara perpisahan. Lah elu kagak nongol? Gue baru mau telpon lu, eh sehati... elu nelpon duluan."


"Raf elu liat bu Restu gak di sekolah?"


"Lah.. Gue juga baru mau ngabarin sama elu tentang bu Restu."


"Elu mau ngabarin apa?"


"He he gue malah curiga, elu sama bu Restu lagi nyiapin kondangan ya? He he.. " Rafa tertawa di seberang telpon.


"Eh serius! Gue mau nanya sama elu?" Sandi menegaskan.


"Eh gue juga serius! Emang gue becanda bro! Eh penting elu tahu ya, tadi pagi ada kabar dari bu Emilia, bu Restu sudah risain tahu! Makanya gue mau telpon elu buat mastiin. Ini kompakan banget, yang satu risain, yang satu kagak nongol. Dikira gue, lagi siap-siap ke penghulu."


"Gila lu! Gue serius nih! Beneran bu Restu risain?"


"Iya beneran bro! Coba elu dateng deh kesini! Kayanya anak-anak lagi pada sedih juga. Masa perpisahan kagak bisa ketemu dulu sama bu Restu. Apa dia kagak kangen gitu buat yang terakhir kali?"


"Raf gue cabut dulu ya! Sebenernya gue lagi siap-siap ke Ausi nih! babeh gue lagi ngurung gue biar kagak kabur. Jadi gue gak bisa nongol di sekolahan. Salam aja ke Vania. Ntar gue kabarin lagi kalau gue mau berangkat."


"Wah... beneran lu mau ke Ausi? Kok kagak ngabarin dulu ma kita?"


"Iya. Babeh lagi danger . Jadi gue kagak bisa ngabarin elu. Ini juga handphone ditahan sama bodyguar nya babeh eung!"


"Wah gawat darurat! Elu kagak bisa kangen-kangenan dulu."


"Gue cabut dulu ya Raf! Ini dipelototi, malah matanya kaya mau nembak gue! He he.. "

__ADS_1


"Iya.. iya. Ntar gue dateng ke rumah elu deh sama Vania!"


"Iya.Bay."


"Bay."


"Gila.. kenapa Hana harus risain segala? Apa karena gue? Ah dimana dia sekarang? Apa dia sedang bersama Wei?" Pikirannya sedang bimbang. Tiba-tiba telpon kembali berdering.


"Halo.. apalagi? Mau tuker Hana sama perusahaan mu?" Sandi langsung bicara nyeroscos begitu Wei yang nelpon.


"Hei.. jangan main-main Sandi! Aku bisa laporin perbuatan kamu sama polisi!" Ancam Wei.


"Laporkan saja! Siapa takut?"


"Hei.. sekarang lu datang ke perusahaan, kalau lu mau selamatin Hana!" Wei memaksa Sandi untuk datang ke perusahaannya.


"Eh siapa lu? Berani-berani nya nyuruh-nyuruh gue!"


"Eh ini serius! Kalau Hana mau selamat, selamatin dulu data perusahaanku! Hana beneran kabur dari rumah Steve. Aku gak bisa mencari Hana kalau perusahaan genting gini. Kamu mau Hana celaka?"


"Eh kamu lagi ngancem gue? Gue kagak mempan diancam!" Sandi kesal.


"Aku harus ngomong kayak gimana sama kamu, biar kamu percaya? Baik, kamu mau tahu siapa yang menembak temanmu itu? Orang itu pernah mencoba membunuh Hana." Wei kehabisan akal membujuk Sandi. Dalam satu waktu Wei harus memikirkan keselamatan Hana dan juga perusahaannya.


"Apa?" Sandi terperangah mendengar berita itu.


"Baik aku bantu, tapi jangan coba-coba mempermainkan ku!'


"Sekarang juga kamu datang ke perusahaan ku! Aku butuh selesai cepat, biar aku bisa mencari Hana."


"Tapi...aku tak bisa datang ke perusahaan mu. Aku lagi diawasi." Sandi menyesalkan.


"Ya ampun jadi bagaimana ini?" Wei semakin bingung. Perusahaan kini di ujung tanduk.


"Kamu janji tidak akan melibatkan polisi?" Sandi meminta kepastian Wei untuk keamanannya. Karena Sandi tahu betul konsekwensi dengan kejahatan cyber.


"Aku janji!"


"Baik aku akan kirim orang ke perusahaan mu. Aku akan membantu dari jarak jauh untuk mengaktifkan data perusahaan.


"Baik."


Tak berselang lama, Tono datang ke lantai 30 untuk menemui Wei. Wei sedang mengamati beberapa tenaga ahli yang sedang bekerja dalam pemulihan data perusahaan. Seseorang mendekati Wei, dia salah satu sekertaris nya.


"Maaf tuan ada yang mau menemui anda, dia temannya tuan Sandi."


"Bawa mereka masuk!"


"Baik tuan."


Tak lama kemudian pintu diketuk lagi. Lalu muncul tiga orang dari balik pintu yang diantar sekertaris nya Wei. Wei menatap mereka, alisnya mengkerut dan matanya sedang mengingat-ingat wajah yang baru saja muncul. Sepertinya Wei pernah melihatnya.


"Ah kalian... apa kalian orang yang sama yang pernah di mall itu kan?" Wei baru teingat, dia teman-teman Sandi yang pernah mengeroyok Steve.


Mereka terdiam tak berani menjawab. Dalam hatinya, mereka mengakui perbuatannya.


"Sudahlah, kalian cepat kesini!" Wei tak mau ambil pusing.


Mereka bertiga mendekati Wei lalu duduk menggantikan para tenaga ahli yang sedari tadi sudah bekerja keras memecahkan masalah. Dengan cepat mereka mengotak-atik komputer.


Di tempat lain Sandi sedang memulihkan virus yang telah dibuatnya. Dan dengan cekatan, anti virusnya sudah terkirim ke komputer perusahaan Wei. Dan semua data perusahaan kembali pulih dengan cepat.


Semua orang bertepuk tangan dan bersorak, ruangan itu pun yang tadinya tegang sekarang menjadi riuh dengan wajah-wajah bahagia.


Kring... kring... kring


Handphone Wei berbunyi. Dia segera mengangkat handphonenya.


"Halo Steve... "


"Ini ayahnya Steve. Wei..bisakah kamu datang ke rumah sakit sekarang juga?

__ADS_1


"Siapa yang sakit?"


__ADS_2