
"Maaf bos. Tadi mereka pada keluar semua. Nona Hana sendirian di rumah sakit." Laki-laki berambut cepak dan bertubuh tambun itu terdengar melaporkan pada seseorang.
"Habisi sekarang jangan sampai dia punya kesempatan buat hidup!" Setelah perintah itu ke luar dia menutup teleponnya.
"Ini kesempatan kita untuk menyelinap dan menyamar." Teman yang di sampingnya memberikan ide. Dan laki-laki bertubuh tambun menganggukkan kepala tanda setuju.
Hana yang tadi keluar dari ruangan MRI sekarang didorong seorang perawat menuju ruangan Fisioterapi. Kedua laki-laki itu yang sedari tadi mengawasi mengintip di balik tembok dengan memakai baju putih layaknya petugas medis. Salah satunya memberi kode untuk maju. Lalu tanpa aba-aba laki-laki itu mendekati perawat yang sedang mendorong kursi roda Hana, membekap perawat.
Perawat yang dibekap meronta-ronta melakukan perlawanan. Sementara laki-laki yang satu lagi bergegas mendorong kursi roda yang sudah lepas dari genggaman perawat.
Hana menoleh ke belakang dan menyaksikan perlawanan perawat dan laki-laki yang membekapnya. Lalu dia mendongak pada laki-laki yang mendorong kursi roda itu.
"Kamu siapa? Mau dibawa kemana aku?" Hana ketakutan. Laki-laki itu tak menggubris pertanyaan Hana dan mendorong kursi roda itu lebih cepat.
"Heii... tolong... " Hana menjerit sekeras mungkin begitu sadar orang yang mendoronnya seperti akan membawanya kabur. Suara Hana yang keras tentu saja menarik perhatian. Orang yang mendengar jeritan minta tolong segera keluar dan mencari asal suara.
"Sial!" Laki-laki yang membekap perawat itu merutuk setelah perawat yang dibekapnya menyikut bagian dadanya lalu menggigit jari-jari yang membekap mulutnya.
Akhirnya dia melepaskannya tanpa sadar dan memegang jarinya yang sudah berdarah akinat gigitannya yang lumayan keras. Perawat itu lari ke arah kursi roda yang diambil darinya.
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan itu menghentikan aksi mereka.
Semua orang terperangah melihat seseorang ambruk di depan kursi roda setelah terkena tembakan tiga kali dibagian dadanya.
"Kak Daniel.... " Suara itu begitu histeris melihat darah segar mengalir di lantai.
Hana yang melihat Daniel jatuh tumbang terkena tembakan replek tidak sadar menggerakkan badannya sehingga terjatuh. Sekuat tenaga dia menggusur bagian badannya yang kaku yang hanya mengandalkan dua tangannya mengesot mendekati Daniel yang sudah terkulai lemah.
"Kakak... " Hana histeris kembali sambil memeluk kepala Daniel. Dia tak kuasa melihat Daniel lemah tak berdaya setelah mendapat tiga tembakan dari laki-laki yang mendorong kursi rodanya.
Kedua laki-laki itu melarikan diri sambil mengacungkan pistol pada orang yang ditemuinya. Semua minggir karena takut bahkan ada yang tiarap tanpa sadar karena takut terkena tembakan.
"Hana... " Suara Daniel terdengar lirih sambil meringis. Wajahnya menatap Hana walau terlihat samar.
"Kakak... jangan mati kak!" Tanpa sadar Hana mengucapkan kata itu, Daniel pun tak sadarkan diri.
Petugas medis segera memberikan pertolongan sementara petugas keamanan rumah sakit segera mengejar dia laki-laki itu dengan melepaskan tembakan balasan.
Rumah sakit kini seperti arena peperangan setelah baku tembak terdengar keras memenuhi perjalanan yang mereka lewati.
###
"Halo." Tuan Hans menerima panggilan.
"Maaf Pak bisakah secepatnya datang ke rumah sakit?" Suara seseorang menghubunginya meminta untuk segera datang ke rumah sakit.
Deg
Jantung tuan Hans seperti terkena tonjokan.
"Apa yang terjadi dengan anak saya?" Wajah cemas seketika terlihat di wajah tuan Hans.
"Bukan nona Hana pak, tapi kakaknya terkena tembakan." Suara diseberang memberi tahu keadaan sebenarnya.
"Halo.. Halo.. " Suara diseberang telepon memanggil beberapa kali setelah tian Hans terkulai lemas mendengar berita itu. Tanpa sadar dia telah menjatuhkan teleponnya dan pingsan.
"Ayah.. " Steve segera menghampiri tuan Hans yang pingsan setelah menerim telepon.
"Tolong panggilkan Nadia kalau ada!" Gavin menyuruh istrinya memanggil Nadia yang kebetulan mahasiswi kedokteran.
Tak lama Nadia pun datang. Kebetulan jadwal praktek piket malam.
"Tolong angkat ke tempat yang lebih nyaman!" Nadia tidak leluasa memeriksa karena tuan Hans ada di lantai.
"Oh iya, mari kita angkat ke kamar tamu saja!" Gavin dibantu Steve juga Wei mengangkat tuan Hans ke kamar tamu dan membaringkan badannya dengan tenang.
Nadia memeriksa dengan stetoskopnya.
"Darahnya rendah. Tuan Hans butuh istirahat yang baik. Biar nanti saya kasih infusan untuk membantunya." Nadia menggosokkan minyak angin di hidung tuan Hans dan meminta bagian tertentu untuk membantu tuan Hans tersadar.
Tak lama kemudian matanya mengerjap dan mengedipkan mata agar bisa melihat dengan jelas.
"Alhamdulillah, tuan Hans sudah sadar." Nadia bangkit dan ke luar kamar untuk membawa alat infus yang ada di kamar kostan nya. Nadia selalu siaga jika suatu saat ada yang membutuhkan.
"Ayah, bagaimana masih pusing?" Steve duduk di tepi ranjang.
Tuan Hans hanya menggelengkan kepala. Ingatannya belum berkumpul.
"Yang ini minum dulu air hangatnya, Maria menyodorkan segelas teh hangat agar suaminya bisa tenang.
"Ah... Steve. Kita harus ke rumah sakit." Tuan Hans tiba-tiba berkata kencang mengingat pembicaraannya dengan petugas rumah sakit terakhir kali sebelum dia pingsan.
"Iya ayah tenang dulu!" Steve membantu ayahnya bangkit dari tidurnya.
"Mana bisa tenang, Hana tertembak!" Tuan Hans rupanya tidak mendengar jelas waktu itu karena suasana di dalam ruangan keluarga sedang asik mengobrol.
"Apa? Hana tertembak?" Semua orang yang ada di kamar tamu kaget mendengar kabar Hana.
Brug
Suara seseorang kembali tumbang ke lantai.
__ADS_1
"Mama... " Caterina yang ada di samping ibunya kaget. Dan langsung beteriak.
"Angkat nyonya Maria!" Gavin melihat Steve untuk mengangkat ke kasur.
Steve langsung mengangkat nyonya Maria dibantu Wei dan membaringkannya di samping tuan Hans.
"Lah kenapa nyonya Maria?" Nadia yang baru saja masuk kaget melihat nyonya Maria terbaring.
"Pingsan." Steve menjawab pendek.
"Baik kita segera ke rumah sakit. Raffa tunggu disini ya! Jaga mereka! Biar kang Gavin, Steve juga Wei berangkat ke rumah sakit." Gavin langsung memberikan instruksi.
"Iya Kang hati-hati kang!" Raffa mengangguk siap.
"Ayah ikut!" Tuan Hans berusaha bangkit dari sandarannya.
"Eh ayah.. tunggu disini dulu! Biar aku yang ke sana bersama Wei." Steve mencegah tuan Hans untuk ikut. Dia khawatir malah memperburuk kesehatan ayahnya.
"Kabari ayah ya nak!" Wajahnya yang masih lemas juga terlihat sedih.
"Iya yah, nanti aku kabari. Doakan saja semoga Hana tidak apa-apa."
Tuan Hans mengangguk.
Ketiganya segera pergi menuju ke rumah sakit setelah mendengar kabar Hana dari tuan Hans.
###
"Dokter tolong kakak saya dok! Selamatkan dia!" Hana meraung-raung sambil memeluk Daniel yang sudah tak sadarkan diri.
"Maaf nona Hana, tolong lepaskan dulu kakaknya. Kami mau mengangkatnya agar cepat mendapatkan pertolongan." Sejak insiden penembakan Hana memeluk erat Daniel. Bahkan petugas medis sulit untuk memberi pertolongan karena histeris tidak mau melepaskan tubuh Daniel.
"Tapi tolong dokter selamatkan dia!" Tapi tangannya masih juga tidak mau lepas.
"Nona Hana kalau tidak melepaskan kakaknya, dia bisa meninggal." Salah satu dokter yang akan memberikan bantuan membentak Hana yang belum juga mau melepaskan tangannya.
Hana akhirnya tersadar dan melonggarkan pelukannya.
Daniel. langsung dibawa ke ruang operasi setelah ada wali yang dianggap menyetujuinya.
"Hana.. bangun yuk!" Dokter Alvian duduk berjongkok mengajak Hana kembali ke kursi rodanya. Setelah tadi berlari bersama dokter Aldi yang baru saja diberitahu tentang insiden penembakan.
Hana masih terdiam syok. Matanya menatap. kosong dan air mata nya terus berurai di pipi.
Dokter Aldi memberikan air minum dan mendekati Hana. "Minumlah! Agar kamu tenang. Kakakmu sudah masuk ruang operasi. Kamu mau ke sana?" Dokter Aldi berusaha menyadarkan Syok Hana. Hana melirik dengan lemah lalu mengangguk.
"Minumlah dulu! Nanti aku akan antar ke sana ya!" Dokter Alvian menyodorkan air mineral ke tangan Hana dan mengangkatnya ke bibir Hana agar dia mau minum.
Hana terlihat lemas karena syok. Dokter Alvian mengangkat Hana kembali ke kursi rodanya. Perawat yang menjadi korban sama-sama syok sedang ditenangkan jadi tidak bisa mengantarkan pasien.
"Alvian aku keliling dulu ya! Ada pasien yang darurat." Dokter Aldi meminta izin untuk melakukan tugasnya stelah mengantar ke depan ruangan operasi.
"Kalau begitu, aku pergi dulu! Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Dokter Aldi berjalan meninggalkan Hana dan dokter Alvian di depan ruangan operasi Daniel.
kring
kring
kring
Suara handphone berbunyi ada panggilan masuk.
"Iya halo."
"Dokter Alvian ini aku Steve, kata dokter Aldi Hana bersama anda?"
"Oh iya. Kami sedang menunggu di depan ruang operasi."
"Bagaimana keadaan Hana?" Dokter Alvian melirik pada Hana yang masih dengan tatapan kosong tapi sudah sedikit tenang dibandingkan tadi.
"Dia lumayan tenang." Terang Dokter Alvian.
"Kita sudah sampai parkiran, sebentar lagi menyusul ke sana."
"Iya baiklah. Saya tunggu!"
"Ya baik. Saya tutup dulu!"
tut
tut
tut
Handphone ditutup Steve menyudahi pembicaraannya.
"Dokter... " Hana memanggil dengan pelan.
"Iya Hana?" Dokter Alvian menoleh ke sebelah kanan melihat Hana. Bibir Hana bergetar dan wajahnya pucat.
"Apakah Kak Daniel selamat?" Tak bisa dibayangkan kekhawatiran dan ketakutan yang ada dalam diri Hana sekarang paska melihat kejadian tadi.
Dokter Alvian mengelus rambut Hana. "Mari kita doakan, semoga kak Daniel kembali sehat dan selamat. Kamu pasti kuat Hana!" Matanya mulai berkaca-kaca. Hana menunduk.
__ADS_1
"Dokter... " Steve terengah-engah setelah tadi berlari dari area parkir. Hatinya belum tenang sebelum melihat Hana dengan mata kepalanya sendiri. Tadi sebelumnya sudah menelpon dokter Aldi ketika diperjalanan karena panik mendengar tertembaknya Hana. Ternyata yang tertembak bukan Hana, tapi Daniel.
"Ambil nafas dulu. Tenangkan dirimu!" Dokter Alvian memberi saran.
"Hufff ahh.. hufff ah.. " Steve mengambil nafas lalu mengeluarkannya perlahan sambil memegang perutnya.
Setelah dirasa tenang Steve mendekati Hana. Dia menatap lekat Hana dari atas sampai kebawah. Tak tega melihatnya dalam keadaan tak berdaya. Cobaan demi cobaan selalu silih berganti datang pada Hana.
Ada bekas darah yang menempel pada beberapa bagian bajunya. Kedua telapak tangannya sengaja merapat menyembunyikan perasaan ketakutannya. Tapi getarannya masih terlihat jelas bahwa sesuatu yang dirasakannya begitu berat.
Steve menggenggam tangan Hana memberikan kekuatan dan memeluknya erat.
"Daniel sangat menyayangimu, dia pasti bertahan untuk bisa bertemu denganmu. Steve berbisik pelan.
"Kakak... maafkan aku. Kak Daniel... hik hik hik..'Hana memeluk erat bahu Steve menumpahkan segala kesedihannya.
"Menangislah jika itu lebih baik." Steve mengusap-ngusap pundaknya dan mengeratkan pelukannya.
Wei dan Gavin yang datang menyusul di belakang Steve menatap sedih. Tak menyangka kepergian mereka malah digunakan oleh penjahat untuk menghabisi nyawa Hana. Tak habis cobaan Hana begitu saja. Tuhan memberikan cobaan pada hamba-Nya sesuai kekuatannya. Hana pasti kuat melewatinya.
"Kang Gavin saya tinggal dulu, saya mau menghubungi keluarga Daniel. Katanya Daniel kritis, takutnya ada apa-apa."
"Oh iya silahkan!" Wei menjauh dari posisi Hana agar pembicaraannya tidak terdengar oleh Hana. Sekaligus Wei akan memenuhi panggilan direktur rumah sakit untuk masalah yang baru saja terjadi.
Tling
Tling
Tling
Sebuah notifikasi masuk di handphone dokter Alvian.
"Apakah kita bisa bicara empat mata sebelum aku menemui direktur?"
Dokter Alvian mengedarkan pandanganya mencari orang yang baru saja mengirimkan pesan. Tapi dia tak melihat Wei.
"Baik. Tunggu di ruangan dokter Aldi. Kita akan bicara di sana."
"Kang Gavin saya titip dulu Hana ya! Saya mau ada perlu dulu." Dokter Alvian berdiri dari tempat duduknya.
"Oh iya silahkan! Biar saya bantu menunggu mereka disini." Gavin mempersilahkan dokter Alvian untuk pergi.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Dokter Alvian berjalan menuju ruangan dokter Aldi, tak lupa setelah meminta izin terlebih dahulu pada dokter Aldi untuk menggunakan ruangannya.
"Masuk!" Dokter Alvian mengajak Wei masuk ke dalam ruangan dokter Aldi.
"Duduklah!"
Keduanya duduk saling berhadapan.
"Begini dokter Alvian, dari kemarin ada yang mau saya bicarakan dengan anda, tapi saya terlalu sibuk sehingga melupakannya."
"Oh iya ada apa ya?" Dokter Alvian belum sadar bahwa kejadian ini akan melibatkannya.
"Dokter Alvian dulu pernah merawat Hana kan?"
"Iya."
"Anda pernah mengirimkan email dan surat pada Hana?"
"Anda ko tahu?" Dokter Alvian heran.
"Semua bukti yang anda kirimkan ada kemungkinan berhubungan dengan insiden penembakan hari ini."
"Wah, beneran? Darimana anda tahu?"
"Saya katakan ada kemungkinan. Tapi apakah anda bisa bekerjasama jika nanti dibutuhkan?"
"Bisa saja, tapi bagaimana caranya?"
"Anda bisa jadi saksi."
"Hah?"
"Anda sanggup?"
Dokter Alvian terdiam. Keningnya mengerut memikirkan apa yang baru saja Wei minta.
"Hhmm. Mudah-mudahan bisa." Dokter Alvian menjawab ragu.
"Kenapa anda ragu?"
"Bukan begitu? Hhmm.. bagaimana ya mengatakannya. Saya sebenarnya sudah menutup kasus ini karena permintaan Hana terakhir kali. Jadi.. pastinya akan melibatkan Hana kembali. Sedangkan saya sudah berjanji padanya untuk tidak mengungkit-ungkit lagi."
"Apakah ada solusi lain?" Dokter Alvian mencari solusi yang lain agar tidak melibatkan Hana dengan kasus lamanya.
"Bagaimana kalau anda dan direktur menyiapkan polisi juga pihak yang bisa menangkap ibunya Daniel?"
"Apa? Kenapa?" Mata Dokter Alvian membesar mempertanyakan kenapa Ibunya Daniel harus tersangka.
"Karena orang yang menembak Raffa dan yang menembak Daniel adalah orang yang sama."
Deg
__ADS_1
"Innalillahi... " Dokter Alvian menutup mukanya.
Apa gak salah?