Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Kenyataan itu pahit


__ADS_3

"Saya permisi dulu ya, ada yang harus dipersiapkan. Mungkin nanti sesudah ini Hana harus general cek up ya." Dokter Aldi ke luar ruangan ada beberapa yang harus disiapkan untuk memeriksa Hana. Termasuk hasil temuannya. harus dikonsultasikan dengan bersama dokter lain.


"Apa kamu lelah?" Steve sejak tadi memperhatikan Hana yang masih terkulai lemas.


"Sedikit." Hana menoleh.


"Kakak.. apa kau bisa menceritakan bagaimana kita bersaudara? Karena seingatku aku hanya mempunyai kakak laki-laki itu pun saudara tiri." Hana meminta Steve menjelaskan karena ingatannya masih amnesia. Hana benar-benar lupa pernah bertemu dengan Steve.


"Kamu beneran lupa Hana, siapa aku?" Steve memastikannya.


"Hhmmm. Bahkan seingatku ayahku sudah meninggal ketika aku berumur 15 tahun." Hana menjelaskan pada Steve apa yang diingatnya.


Steve mengernyitkan dahi.


Aa amnesianya berubah waktu? Dia mengingat sesuatu kebelakang, tapi dia tak mengingatku?


"Kamu masih ingat ketika masih sekolah di taman kanak-kanak?"


"Iya. Ada memang?"


"Kamu sering menunggu di taman dekat sekolah dasar yang banyak menjual makanan. Waktu itu kamu pernah menangis sendirian dan ada seorang anak laki-laki yang memberi es krim coklat?"


"Oh iya aku ingat." Mata Hana membesar dan wajahnya terlihat berbinar menyiratkan sesuatu yang membahagiakannya.


"Kenapa kakak tahu itu?" Hana merasa heran.


"Itu kakak Hana... "


"Wah itu beneran kakak?"


"Hhmm."


"Wah gak nyangka." Manik mata Hana melihat Steve dengan penuh kekaguman.


"Gaka nyangka kakak setampan ini?" Steve menggoda Hana.


"Iya. Hana gak nyesel punya kakak." Tangannya replek bergerak menggenggam tangan Steve.


Ada desiran-desiran yang belum hilang sampai saat ini Steve rasakan. Perasaan dan akal sehatnya selalu saja berperang. Kenyataan memang pahit, harus percaya bahwa dia adalah adiknya.


Ah kenapa dari sekian banyak wanita kamu harus jadi adikku!


"Eh kakak, sebenarnya tahu saya adik kakak sejak kapan?" Lalu kenapa kakak menghilang? Aku sedih lho kenapa kakak tidak muncul-muncul." Hana mengenang waktu itu ketika dia masih di bangku taman kanak-kanak. Semenjak ibunya meninggal sosok anak laki-laki yang suka menemaninya malah ikut menghilang.


"Iya semenjak ibu kita meninggal kakak kembali ke Perancis. Kakak kembali lagi ke Indonesia waktu kakak sekolah Sma. Kakak tidak tahu lagi harus mencarimu kemana." Steve mengehela nafas.


"Kenapa ibu kita sama, lalu ayah kita berbeda? Apakah ibu menikah dua kali?"


"Hhmm. Waktu ibu kita kuliah di Perancis. Ibu menikah dengan ayah tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ketika kembali ke Indonesia ibu dipaksa menikah dengan ayahmu." Walau terasa berat, Steve akhirnya harus menjelaskan pada Hana persoalan kedua orangtuanya. Lambat laun dia harus mengetahuinya.


"Oh begitu." Hana terdiam sejenak. "Tapi tak apa, sekarang aku jadi punya kakak beneran. Aku sangat bahagia kak!" Hana tersenyum tulus, mengekspresikan kebahagiannya.


"Kakak juga senang. Hana jadi adik kakak." Steve mengelus Hana lembut


"Tapi kak. Kenapa kakak tak membawaku ke Perancis bersama ayah? Kalau kakak tidak meninggalkanku, pasti tidak akan sedih." Tiba-tiba Hana teringat masa sulit setelah ditinggalkan ibunya. Harus hidup dengan ibu tiri lalu dibuang bahkan hampir dibunuh.


"Maafkan kakak Hana. Mulai sekarang kakak tidak akan meninggalkan Hana lagi."


"Kakak janji?" Entahlah Hana merasa takut untuk kehilangan lagi orang-orang yang dicintainya. Apalagi setelah melewati masa sulit ketika dia harus berada dalam rumah sakit jiwa dipaksa untuk menjadi gila.


"Iya kakak janji Hana. Maafkan kakak ya!" Manik mata Steve berkaca-kaca. Rasa bersalahnya seakan ingin dia tebus sekarang dengan menjaga Hana seumur hidupnya.


"Terimakasih kakak!" Matanya terpejam tangannya erat memegang tangan Steve. Seperti anak kecil yang tak mau kehilangan induknya. Hana terlelap tidur merasakan kedamaian. Steve mengelus pelan tangan. Dia berjanji akan menyayangi Hana menebus kesalahannya dimasa lalu. Steve pun merasakan kedamaian. Dia mengikuti Hana tertidur dipinggiran Hana dengan satu tangan melipat menahan kepalanya yang satu lagi memegang tangan Hana.


Di tempat lain dokter Aldi dan dokter Alvian sedang berbincang-bincang di ruang kerja setelah keliling memeriksa pasien.


"Vian, berapa lama kamu cuti kerja?" Dokter Aldi menatap Dokter Alvian yang sedari tadi melainkan handphonenya.

__ADS_1


"Seminggu."


'Kapan nyari jodoh? Atau sudah ada calon?" Dokter Aldi kembali bwryanya.


"Belum ada, dan belum waktunya." Dia tetap asik memainkan Handphone nya


"Memangnya di dunia ini laki-laki semua Vian? Sampe belum ada."


"Sudah, jangan ribut. Kamu sendiri kenapa belum mencari." Dokter Alvian masih juga single. Sepanjang dokter Aldi mengenalnya belum ada satu pun perempuan yang pernah dilirik. Entah trauma entah memang belum membuka hati. Padahal dia sendiri psikolog, tapi untuk menyembuhkan dirinya sendiri memang tidak mudah.


"Bagaimana kabar kamu sama pak direktur? Sudah baikan?" Dokter cukup penasaran dengan kabar dokter Alvian dengan ayah dan keluarganya. Yang sudah mereka tak akur.


"Baik." Dokter Alvian tanpa menyebutkannya.


"Terus kamu ada minat pisah kesini? Pastinya pak direktur berharap kamu pindah kesini."


"Hhmm. Belum perlu."


"Ihhh.. memang kamu perlu apa? Kali aja ada jodohmu disini!"


"Aamiin."


"Ah gak asik. Diajak ngobrol tidak menantang." Dokter Aldi kembali membuka layar komputer sedang meneliti kondisi Hana dari hasil general cek up paska operasi.


"Harus menantang bagaimana?" Dokter Alvian menaruh Handphone nya menyadari obrolannya mungkin tidak dianggap serius. Padahal dia sudah bicara apa adanya.


Dokter Alvian bangkit mendekati sahabatnya itu, lalu menatap layar komputer yang sedang diteliti dokter Aldi.


"Ini hasil rekaman Hana?" Dokter Alvian mengomentari apa yang sedang dilihatnya.


"Hhmm." Dokter Aldi menjawab pendek.


"Bagaimana hasilnya?' Dokter Alvian yang mengambil spesialis berbeda dengan dokter Aldi menanyakan apa yang sudah ditemukan doktet Aldi tentang kondisi Hana.


"Menurut hasil sementara Hana.. mengalami kelumpuhan paska operasi." Dokter Aldi memberi tahu dari hasil pemeriksaannya.


"Apa lumpuh?'" Dokter Alvian kaget mendengar berita kenyataan bahwa Hana mengalami kelumpuhan.


Dokter Alvian mundur kebelakang. Walau dia sesama dokter, rasanya berita itu seperti menohok dadanya. Sebentar mematung, masih belum mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


"Apa kau sudah memberi tahu keluarganya?" Dokter Alvian merasakan sesuatu yang berat. Mungkin karena kedekatan dia dengan Hana sebelumnya, membuat hal itu terasa beban.


"Mungkin setelah rapat internal. Aku akan bicara pada ayahnya."


"Hana.. aku gak menyangka hidupmu akan seperti ini." Dokter Alvian menatap sahabatnya.


"Hhmm. Kita berdoa aja semoga ada keajaiban."


Keduanya terdiam. Dokter Aldi sebagai sahabatnya dokter Alvian sedikit tahu tentang Hana mengenai masa lalunya yang begitu rumit.


"Apa Hana akan dipindahkan ke ruangan sekarang?" Dokter Alvian melihat ke arah dokter Aldi yang masih mengamati layar komputer.


"Iya. Sedang dipersiapkan. Aku akan bicara dulu dengan walinya."


"Hhmm. Kamu harus menyiapkan psikolog juga!" Dokter Alvian mengingatkan.


"Kan ada kamu, Hana pastinya lebih nyaman denganmu. Bukankah kamu juga menyukainya? Sampai kapan kamu akan menyimpan perasaan itu." Dokter menoleh mengamati respon sahabatnya.


"Aku kan bukan dokter resmi. Lagian aku disini hanya cuti saja." Dokter Alvian menjawab sesuai fakta. Walaupun dia anak pemilik rumah sakit dia tak mau melanggar prosedur yang sudah baku.


"Terus bagaimana dengan perasaanmu? Apakah sudah berubah? Apalagi sekarang keadaan Hana cacat?" Dokter Aldi yang tahu betul sahabatnya yang satu ini yang susah untuk terbuka sedikit mengorek isi pikirannya.


"Sudahlah, pikirkan saja pekerjaanmu sendiri!" Dokter Alvian melengos dan berjalan ke luar ruangan kerja dokter Aldi. Entahlah apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Beberapa tahun ke belakang dokter Alvian pernah menaruh perasaan pada Hana. Tapi entahlah rasanya berat untuk mengungkapkan perasaannya itu. Bahkan trauma yang mendera akibat ditinggalkan ibunya lalu selalu hidup kesepian kurang perhatian dari ayahnya membuatnya menjadi pribadi yang susah terbuka. Padahal ketika menghadapi para pasiennya dokter Alvian terkenal ramah juga periang.


"Dih sensi, kaya pms an aja!" Dokter Aldi menggerutu. Tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Sampai umur segini belum juga kepikiran menikah. "Apa maunya menjomlo abadi? "


Dokter Aldi menekan nomor seseorang.

__ADS_1


"Maaf tuan Hans, bolehkah saya meminta anda ke ruangan saya? Ada yang mau saya bicarakan dengan anda."


Orang yang diseberang telpon menjawab.


"Baik dokter, saya segera ke ruangan anda." Tuan Hans ayahnya Steve yang sedang beristirahat di sofa berusaha bangkit. Karena kelelahan dia tertidur di atas sofa yang ada di ruangan perawatan.


Tok


tok


tok


Ketukan di pintu kerja ruangan dokter Aldi terdengar diketuk.


"Silahkan masuk!" Dokter Aldi mempersilahkan tuan Hans masuk.


"Permisi dokter." Tuan Hans masuk.


"Silahkan duduk!" Dokter Aldi mempersilahkan tuan Hans duduk di kursi depan meja kerjanya.


"Iya Terima kasih dokter!"


"Maaf tuan Hans. Ada yang perlu dibicarakan dengan anda sebelum putri anda Hana dipindahkan ke ruangan perawatan." Dokter Aldi sangat hati-hati sekali untuk menyampaikan keadaan Hana.


"Alhamdulillah Hana sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan, kondisinya sudah cukup memungkinkan ke luar dari ICU." Dokter Aldi terdiam sejenak.


Tuan Hans masih mendengarkan dengan seksama apa yang akan dibicarakan dokter Aldi.


"Saya sudah memeriksa kembali kondisi Hana melalui general cek up, namun ada hal yang perlu disampaikan kepada pihak wali Hana." Walaupun berat, ini harus disampaikan.Suara berat dokter Aldi sedikit tertangkap oleh tuan Hans.


Deg


Perasaan ayahnya Steve agak tak enak.


"Saya mohon bersabar pada pihak keluarga dan Hana, karena kondisi Hana sekarang mengalami kelumpuhan." Mata Dokter Aldi menatap inten pada laki-laki paruh baya yang sedang ada di hadapannya.


"Apa dok? Lumpuh?" Seketika itu juga ayahnya Steve lemas mendengar kabar kondisi Hana. Wajahnya langsung berubah cemas dan sedih. Dia mengusap wajahnya kasar. Dia terdiam.


"Iya betul. Dari hasil operasi yang dilakukannya kemarin ada beberapa hal yang harus dijelaskan kepada keluarga pasien. Kondisi syaraf Hana begitu lemah, sehingga mempengaruhi kondisinya sekarang. Ada kemungkinan karena kerusakan otak akibat syarafnya yang lemah dan akibat benturan paska kecelakaan membuat syaraf-syaraf yang lain terganggu."


"Begitu ya dok!" Ayah Steve benar-benar tidak ada tenaga untuk menanggapi kabar kondisi Hana. Kondisinya yang akhir-akhir ini begitu melelahkan ditambah masalah sekarang sepertinya ayahnya Steve sudah begitu pasrah terhadap keadaan.


"Iya. Mudah-mudahan cacatnya tidak permanen. Saya akan memberikan obat-obatan untuk membantu menguatkan syaraf-syaraf nya, sebagai ikhtiar. Semoga Hana bisa lebih baik. Dan dalam hal ini, suport dan dukungan keluarga sangat penting untuk Hana saat ini. Agar prose penyembuhannya bisa lebih cepat."


"Baik dokter! Saya sebagai walinya akan berusaha. Tapi apakah saya boleh bertanya?" Mata ayah Steve menatap serius dokter Aldi


"Iya tuan Hans?" Dokter Aldi berusaha untuk mengerti kesedihan orang yang ada di depannya.


"Berapa lama Hana akan cacat? Apakah ada kemungkinan sembuh seperti sedia kala?" Kekhawatiran ayah Steve begitu besar atas kondisi Hana kedepannya.


"Hhmm. Kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan obat-obatan dan terapi. Dan untuk lama dan cepatnya saya tidak bisa memastikan. Kita berdoa pada Allah SWT semoga Hana kembali sembuh ya tuan Hans." Dokter Aldi memberikan dukungan moril agar ayah Steve tidak putus asa.


'Iya dok!" Ayah Steve menunduk. Terbayang jika Hana harus cacat, bagaimana kehidupannya nanti? Apakah Hana akan siap menghadapi situasi ini? Tuan Hans bergumam sendiri.


"Jangan khawatir tuan Hans. Hana terbilang kuat. Karena tidak sedikit paska operasi banyak yang koma. Hana malah bisa sadar lebih cepat dari pasien lainnya. InsyaAllah Hana punya motivasi kuat untuk sembuh. Semoga anda bisa mendukung secara moril agar Hana bisa bersabar atas ujian yang menimpanya." Dokter Aldi lagi-lagi memberikan suport bagi tuan Hans.


"Baik dokter. Saya ucapkan terimakasih atas bantuannya."


"Iya sama-sama. Kalau tuan Hans sudah siap mari kita ke ruangan ICU untuk pemindahan Hana, kebetulan sudah disiapkan. Nanti ada juga dokter psikolog yang akan mendapampingi Hana juga dokter terapis khusus yang akan membantu Hana melakukan terapis. Atau Hana mau didampingi dokter Alvian? Katanya dulu Hana pernah ditangani juga ya waktu di rawat di rumah sakit jiwa oleh dokter Alvian?" Dokter Aldi merekomendasikan dokter Alvian untuk mendampingi Hana sebagai psikolognya.


"Apa dokter? Rumah sakit jiwa?" Ayah Steve kembali terhenyak.


Apalagi ini? Apa yang sudah Hana alami selama ini? Aku baru tahu Hana pernah masuk rumah sakit jiwa. Tapi kenapa bisa?


"Maaf tuan Hans, apakah tuan Hans belum tahu?" Dokter Aldi juga terheran. Wajahnya kini sepeti bingung.


"Iya dokter saya malah baru tahu sekarang Hana pernah masuk ke rumah sakit jiwa. Kebetulan saya adalah ayah Steve ibunya Steve dan ibunya Hana sama. Kami baru-baru ini malah baru tahu kalau Hana adalah anak dari istri saya dari hasil pernikahannya yang kedua." Jelas ayah Steve pada dokter Aldi.

__ADS_1


"Oh begitu ya?" Dokter Aldi diam sejenak.


"Saya mohon bantuan anda dokter Aldi, karena saya baru bertemu Hana sejak sakitnya Steve. Sebelumnya saya tidak tahu apa-apa tentang kondisi Hana. Saya mohon maaf dokter!" Ayah Steve seperti menyesal. Mendengar satu masalah saja dirinya sudah begitu syok. Apalagi jika dia sudah dekat dengan Hana. Sejuta penyesalan sekarang sedang menghantui tuan Hans. Dia sangat menyesal karena terlambat.


__ADS_2