
#flashback#
Hai.. Hai... semua reader yang setia.. terus dukung aku ya dengan setia membaca dan memberi like, komen, vote dan hadiah. 😘😘😘😘
Kunjungi juga novel berikutnya
"Surat terakhir untuk ibu"
"Suami, muka madu mulut racun"
#############
"Daniel.. kamu berani menantang ibu?"
"Kenapa? Ibu khawatir jika kejahatan ibu terbongkar?" Daniel akhirnya berani bicara. Dinilainya sekarang, ibunya sudah terlalu banyak membuat kesalahan. Diam-diam Daniel mencari informasi dan menyewa detektif untuk menyelidiki apa saja yang telah dilakukannya.
"Kamu tahu apa hah?" Ibunya Daniel sudah kesal melihat sikap anaknya yang sudah mulai memberontak. Bahkan dia berani mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama di perusahaan. Padahal dia sudah susah payah berusaha agar aset tuan Roy jatuh kepemilikannya ke tangan Daniel.
"Memangnya aku tidak tahu kalau ibu sudah memberikan racun pada nyonya Sarah sampai akhirnya meninggal?"
"Lalu siapa yang menyebabkan kecelakaan Hana?"
"Atau.. ibu juga yang memasukan ke rumah sakit?'
"Apa kejahatan itu gak cukup bu?" Daniel menatap wajah ibunya sedih.
"Bagus kamu sudah tahu semua. Kamu pikir ibu melakukan itu buat ibu hah?" Kemarahannya kini makin memuncak mendengar Daniel menyebutkan satu persatu kesalahan dirinya.
"Iya aku tahu ibu melakukan untukku. Tapi apa pernah ibu bertanya padaku apa yang membuatku bahagia?"
"Aku sangat bahagia ketika aku masuk pada keluarga tuan Roy dan disambut hangat oleh Hana dan ayahnya. Apa kurangnya mereka bu? Mereka baik sama kita. Tuan Roy takan pernah memperlakukanku buruk. Kenapa ibu tega sekali pada mereka?" Daniel lemas memikirkan kejahatan yang telah ibunya lakukan.
"Heh... asal. kamu tahu ya, bagaimana mereka bisa maju? Keluarga kita sudah mengabdi berapa generasi pada mereka? Tapi apakah mereka pernah sekali saja melirik kita?"
"Kamu tahu rasanya miskin dan kita hanya berharap belas kasih mereka hanya untuk sepiring nasi saja? heh.. kamu memang tidak pernah tahu sama sekali."
"Kamu tidak tahu sakitnya jadi orang miskin dan pelayanan orang kaya. Nenekmu harus melayani majikannya di dapur dan di kasur sampai mati. Apa kamu tahu yang dilakukan kakeknya Hana?" Dia rela menjual istrinya sendiri hanya untuk meloloskan tender."
"Kamu hanya tidak tahu kebejatan leluhurnya yang dilakukan pada keluarga kita. Kita seperti budak yang harus melayani mereka tanpa bisa menolak. Menolak berati mati."
"Aku yang kau bilang jahat padaku itu tak seberapa Daniel dibanding kejahatan mereka."
Daniel hanya terdiam. Dia tak tahu sama sekali apa yang terjadi di masa lalu tentang leluhurnya dan keluarga Hana. Tapi hal itu tak bisa menjadikan alasan ibunya untuk membalas dengan kejahatan pula.
"Sudahlah bu kita berhenti! Jangan sampai ibu menyesal." Daniel berdiri meninggalkan ibunya.
"Daniel.. kamu mau kemana?" Daniel hanya melambaikan tangannya. Pikirannya terlalu lelah untuk menghadapi ibunya. Dia ingin menenangkan pikirannya.
"Halo pak. Daniel."
"Iya ada apa?"
"Saya sudah menemukan Hana pak."
"Dia sekarang ada di kota B. Tapi.. ' Suaranya terputus.
"Dia sedang masuk rumah sakit pak."
"Kenapa?"
"Saya kurang tahu pak."
"Disana ada siapa?"
"Saya kurang mengenalnya pak."
"Apakah tuan Wei ada disana?"
"Tidak pak."
"Ya sudah. Nanti kabari lagi!" Daniel memutuskan handphonenya.
Daniel mencoba menghubungi Wei. Tapi kunjung juga diangkat. "Kemana dia?"
Daniel menelpon Riana.
"Halo Riana?"
"Iya ada apa?"
"Kamu tahu Wei ada diman?"
"Aku juga mencarinya. Sudah ke rumahnya tapi tak ada yang tahu."
'Masa iya ikut ke Perancis?" Daniel bicara sendiri.
"Apa Perancis? Siapa yang pergi kesana?" Riana tanpa. sengaja mendengar ocehan Daniel dari Handphone nya.
"Ya kan kemarin Steve pergi ke Perancis. Katanya. dia mengantar. Masa iya gak ada yang tahu sampai sekarang keberadaannya kecuali dia juga ikut pergi."
"Oh ya? Liburan ko gak ngajak-ngajak." Riana mendumel.
"Kamu tahu siapa. sekarang asisten Wei?"
"Belum ada. Tapi aku lihat sih Rei.. suka nguntit. Kali aja dia penggantinya."
"Kamu tahu nomornya?"
"Tidak. Emangnya kenapa?"
"Ya lah.. dia pasti tahu bosnya kemana? Masa iya juga kerjaannya seabareg mau ditinggal?'
'Iya juga sih! Eh aku mau nanya emang kamu gak kerja Daniel? Aku dengar kamu ngundurin diri dari Direktur Utama?"
"Hmm."
"Kenapa? Kamu nyesel kalau aku miskin?"
__ADS_1
"Ya bukan begitu sih. Sayang aja.. kenapa mengundurkan diri? Pastinya ada alasannya dong!"
"Aku ingin damai aja sih.. ngerasain bagaimana tidak punya kerjaan."
"Eh selama kita hidup pastinya punya kerjaan lah, kecuali orang mati. He he ngerjain orang hidup. Ha ha ha.. "
"Ya kamu Riana.. Nyumpahin aku cepet mati ya?"
"Eh sorry! Aku becanda gak maksud. Beneran aku minta maaf."
" Gak pa-pa. Aku juga memang lelah Ri... pengen istirahat. Pengen lihat kedamaian." Helas Daniel.
"Ya udah aku ntar ke kantor Wei deh. Nyari Rei. Biar sekalian cek Wei kemana." Daniel menyudahi teleponnya.
"Ya bay."
"Bay."
Daniel berjalan ke arah parkir untuk pergi ke kantor Wei.
Tak lama kemudian sampailah di kantor Wei. Daniel langsung naik ke kantor gedung utama dimana ruangan Kantor Wei dan kantor sekertaris berada.
"Pagi tuan Daniel, ada yang bisa saya bantu?" Salah satu sekertaris Wei menyapa ramah tamunya dan menanyakan kepentingannya.
"Tuan Wei ada?"
"Maaf tuan Daniel. Tuan Wei sedang tidak di ruangan."
"Ada dimana dia?" Daniel melihat Sekertaris Wei dengan inten. Apakah dia jujur atau ada yang sedang disembunyikan.
"Maaf tuan Daniel. Saya tidak bisa menjawab." Sekertaris itu menjawab datar tanpa ekspresi.
"Mana Rei?" Daniel mengedarkan pandangannya di ruang sekertaris.
"Maaf tuan Rei sedang rapat."
"Masih lama?" Daniel yang mempunyai banyak waktu santai tidak terbebani jika dia harus menunggu.
"Maaf, jika tuan Daniel berkenan anda bisa mengisi kepentingan disini jika anda terburu-buru. Atau anda bisa menunggu jika anda ingin bertemu dengan Rei.
"Baik aku akan menunggu."
"Silahkan. Kami antarkan ke ruang tunggu!" Sekertaris tadi mengantar Daniel ke ruang tunggu tamu dan menyuguhinya dengan secangkir teh hangat.
kring
kring
kring
"Iya. Ada apa?"
"Maaf pak saya melihat ada dua orang anak buah ibu."
"Dimana?"
"Siapa yang dirawat?"
"Steve, pak!"
"Bisa kau tahu kenapa?"
"Asam lambung dan dalam pengawasan psikolog."
"Oh ya?" Daniel mengerutkan dahinya.
Apa mungkin stress? Tapi kenapa? Kenapa juga harus dirawat di rumah sakit yang sama.
"Kamu awasi mereka dan jangan sampai lengah!"
"Baik."
Daniel menutup telepon.
Tok
tok
tok
Seseorang mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan.
"Maaf tuan Daniel. Anda menunggu lama?" Rei muncul dari balik pintu. Lalu menyodorkan tangannya, mengajak bersalaman. kemudian duduk berseberangan dengan Daniel.
"Tidak juga."
"Ada yang bisa saya bantu tuan Daniel?" Rei menatap serius pada Daniel. Dia tahu betul bahwa dia adalah sahabat dari majikannya.
"Aku mau tanya, bos mu lagi kemana?"
"Anda ada kepentingan? Kenapa tidak menelponnya langsung?" Rei merasa aneh kenapa Daniel datang ke kantor hanya menanyakan keberadaan Wei. Sedangkan kedua orang itu bersahabat langsung.
"Untuk apa aku jauh-jauh kesini kalau aku dapat menelpon. Dari kemarin Wei susah sekali dihubungi. Apa dia pergi ke Perancis?" Daniel sengaja memancing Rei.
Rei mengernyitkan dahi. "Perancis?"
"Oh jadi dia tak pergi ke sana?" Daniel menatap Rei dengan mata tajam.
"Tuan Wei ada urusan pribadi bersama tuan Steve. Jadi anda bisa menghubungi tuan Wei jika senggang. Kalau masalah pekerjaan bisa saya bantu tuan Daniel." Rei terbilang cerdas untuk menangani masalah. Membuat Daniel sendiri sebenarnya tersindir secara halus.
"Baiklah! Aku ada urusan lagi. Aku rasa sudah cukup bertemu denganmu. Oh iya satu lagi, saya mau meminta nomormu jika suatu saat aku membutuhkanmu."
"Baik tuan Daniel. Ini kartu nama saya." Rei menyodorkan secarik kertas kartu nama pada Daniel.
"Iya terimakasih. Aku pergi dulu." Daniel kembali berjabat tangan dengan Rei.
"Iya sama-sama tuan Daniel. Senang bertemu dengan anda."
__ADS_1
"Hhmm." Daniel bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan diantar Rei.
Daniel kembali ke tempat parkir menuju tempat yang sudah direncanakannya. Dia pak Kusuma, seorang pengacara keluarga Roy. Daniel ingin menyelesaikan masalah satu-satu sebelum dia benar-benar keluar dari perusahaan.
Pertemuan dengan pak Kusuma sengaja dirahasiakan demi keamanan. Daniel takut ibunya mengetahui dengan jelas rencananya.
Tok
Tok
Tok
Daniel masuk ke satu ruangan dimana pak Kusuma bekerja.
"Eh silahkan duduk tuan Daniel!" Pak Kusuma yang usianya sudah lumayan Sepuh masih aktif jadi pengacara.
"Terima kasih pak Kusuma!" Daniel tersenyum ramah.
"Bagaimana ada yang bisa bantu?" Tanya pak Kusuma sambil membuka kancing jas nya yang dirasa agak tak nyaman.
"Begini pak Kusuma. Sesuai janji saya yang pernah dibicarakan di telepon saya ingin menemui pak Kusuma karena ada hal yang sangat penting untuk saya bicarakan.
"Ya baik tuan Daniel. Saya akan membantu apa yang saya bisa."
"Saya ingin pembicaraan ini dirahasiakan pak Kusuma!" Daniel mengawali pembicaraan nya dengan kalimat penegasan.
"Baik. Anda bisa pegang janji saya." Pak Kusuma sebagai seorang pengacara berpengalaman tentu sudah tahu apa yang harus dilakukannya jika kliennya berkata seperti itu.
"Pak Kusuma sudah lama menjadi pengacara tuan Roy kan?"
"Betul."
"Bapak tahu kan putri pak Roy yang bernama Hana?"
"Iya saya tahu. Tapi..dimana dia sekarang?" Wajah pak Kusuma seakan kaget ketika nama disebut. Pak Kusuma sebagai orang kepercayaan tuan Roy pasti banyak tahu tentang keluarga tuan Roy dan segala asetnya yang dulu pernah tuan Roy wasiatkan.
"Sebenarnya saya datang kesini tanpa sepengetahuan ibu saya pak Kusuma." Terang Daniel.
"Oh begitu."
"Saya hanya ingin menuliskan wasiat saya jika suatu saat ada apa-apa."
"Oh baik. Sebentar akan siapkan dulu ya dokumen perlengkapan nya tuan Daniel." Pak Kusuma berdiri dan menyuruh asistennya membuat dokumen untuk kepenulisan surat wasiat yang dibutuhkan Daniel.
"Silahkan tuan Daniel." Pak Kusuma mulai mengetikkan sesuatu.
"Perusahaan yang saya tangani sekarang sebenarnya bapak sendiri tahu kan semuanya hampir milik pak Roy. Sewaktu pak Roy masih hidup saya hanya diberi saham sebesar 5persen dan ibu saya 5persen. Kepemilikan saham yang dimiliki keluarga Tuan Roy totalnya sekitar 65 persen. dan 35 persen adalah milik para investor. Dan sekarang saham sebesar 60 persen dimiliki saya dan Ibu saya sedangkan Hana hanya memiliki 5persen."
"Ini saya bawakan sertifikat kepemilikan saham saya yang saya milik sebesar 35 persen. Dan saya akan memberikan saham ini pada Hana semuanya."
"Maaf tuan Daniel meski saya tahu apa yang terjadi selama ini. Apakah saya boleh tahu kenapa anda memberikan saham itu pada Hana?" Tanya pak Kusuma agak curiga.
"Saya ingin mengembalikan apa yang bukan milik saya pak Kusuma sebelum semuanya terlambat."
"Baiklah. Saya akan rapihkan dokumennya. Nanti anda akan saya kabari selanjutnya. Dan ada yang lain lagi tuan Daniel?"
"Saya juga membawa semua surat aset kepemilikan saya. Dan jika suatu hari ada yang terjadi dengan saya. Mohon bapak berkenan untuk memberikannya pada Hana."
"Baik tuan Daniel. Apakah masih ada tambahan lain tuan Daniel?"
"Saya rasa cukup." Daniel. menyerah dokumen-dokumen penting miliknya pada Pak Kusuma.
"Sebentar ya saya akan rapihkan dulu. Nanti anda tinggal tanda tangan." Pak Kusuma bangkit dan mengarahkan pada asistennya untuk menyiapkan berkas yang akan ditandatangani Daniel.
Lima belas menit kemudian.
"Ini tuan Daniel silahkan dibaca. Kalau anda sudah siap tinggal ditandatangani. Dan jika ada yang belum dimengerti anda bisa bertanya."
"Baik." Daniel membaca berkas-berkasnya dengan sangat teliti. Setelah dirasa cukup. Daniel membubuhkan tanda tangan sebagai ke-sahan dokumen yang baru saja dibuat.
"Baik. Ini salinannya! Dan satu lagi akan saya simpan." Pak Kusuma memberikan satu map yang isinya telah ditandatangani Daniel.
"Baiklah kalau begitu saya permisi pak Kusuma."
"Oh.Baik tuan Daniel."
"Saya ucapkan terimakasih atas bantuan anda!"
"Iya sama-sama." Keduanya berjabat tangan.
Daniel pun meninggalkan ruangan kerja pak Kusuma dan pergi menuju apartemen nya.
Sesampainya di apartemen Daniel hanya membaringkan badannya di atas kasur. Menatap langit-langit sambil membayangkan masa lalunya. Satu persatu berkelebat sesekali Daniel menyunggingkan bibirnya seakan sedang berbicara dengan masa lalunya.
Hari yang melelahkan memang. Stelah pertengkaran dengan ibunya, juga mengurus semua dokumen dia membutuhkan untuk kelengkapan surat wasiat.
Apa yang dilakukan Daniel seolah dia dituntun untuk mempersiapkan diri. Keesokan hari Daniel bangun dan menyiapkan baju-baju dan beberapa yang dia butuhkan untuk pergi ke kota menemui Hana di kota B.
Ting
Ting
Ting
Sebuah notifikasi masuk ke layar handphone. Daniel mengusap layar dan membaca isi pesan.
"Kamu berani menentangku? Jangan salahkan kalau kamu tidak akan melihat lagi Hana."
Deg
Seketika badannya lunglai. Ancaman ibunya tidak main-main. Daniel merasa ketakutan jika sampai benar adanya. Dia langsung bangkit dan membawa tas keluar apartemen dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dia seperti orang gila. Tak banyak yang dia pikiran kecuali cepat sampai di rumah sakit.
"Sesampainya di rumah sakit pandangan mengedar mencari keberadaan Hana sesuai petunjuk mata-mata.
Matanya tertuju pada wanita yang sedang didorong kursi roda. Hatinya begitu bahagia menatapnya. Namun pandangan itu segera menghilang.
__ADS_1