
"Dan ini ada satu surat yang dititipkan untuk anda."
Hana menerima surat itu dengan tangan bergetar. Ada perasaan sesak di dada
Perlahan Hana membuka amplop surat yang dibuat Daniel.
"My dear HANA."
Dengan sepenuh rindu dan cinta aku menulis surat ini. Cintaku, sayangku juga rinduku masih tetap sama dari dulu sampai sekarang.
Hana. Setiap huruf dan gurat dalam tulisan ini adalah doa. Aku sendiri penulisnya tak ingin surat ini sampai kepadamu. Jika surat ini ada di tanganmu berati aku sudah tiada Hana.
Aku ingin memastikan jika aku tidak bertemu denganmu setidaknya rinduku yang akan sampai kepadamu.
Hana. Maafkan aku ya! Aku tidak bisa menjagamu selama ini. Aku bukan kakak yang baik. Bahkan selama ini aku sudah mengambil hakmu sebagai milikku. Aku malu Hana.
Aku ingin semuanya kembali padamu seperti semula. Jangan pernah membenciku Hana. Maafkan ibu juga kesalahannya. Aku benar sayang padamu. Semoga kamu bisa memaafkan aku.
Hana. Jaga diri baik-baik. Aku selalu mendoakan mu. Semoga di manapun kamu berada banyak orang yang menyangimu. Kamu berhak atas kebahagiaan dan kebaikan. Karena kamu adalah orang baik yang pernah aku temui.
Hana. Terima kasih engkau telah hadir dalam hidupku. Telah jadi bagian hidupku. Telah membagi kebaikan yang kau punya denganku. Semoga kamu tetap panjang umur dan bahagia.
Hana. Aku mengembalikan semua milikku padamu. Aku mohon terimalah. Aku titip dan jaga ibuku. Sayangi dia, maafkan dia Hana. Semoga kamu tidak keberatan menjaganya.
Hana. Jangan lupakan aku! Kunjungi aku jika kamu merindukanku. Doakan aku semoga dalam tempat peristirahatan ku aku bisa tidur dengan tenang.
Hana. Kenang aku jangan lupakan aku!
Hana. Semoga nanti kita bertemu kembali di alam lain dan kita menjadi pasangan seperti yang aku impikan selama ini.
Salam rindu buat kamu seorang.
Tanpa terasa lelehan air mata sudah jatuh di pipi Hana. Betapa sedihnya hati Hana membaca syarat itu. Daniel seperti mempunyai firasat ketika menjelang kematian. Dia telah menyiapkan segalanya buat Hana. Betapa Hana sangat terpukul membaca surat itu. Luka itu kembali menganga dan perih. Ya ditinggalkan Daniel dengan cara seperti itu.
"Hana.. bersabarlah! Daniel sudah tenang!" Steve mengusap bahu Hana dengan lembut. Dia tahu kesedihan yang dirasakan Hana begitu mendalam. Daniel orang yang menemani Hana sejak kecil. Menyayangi nya setulus hati walaupun tidak ada hubungan darah. Daniel orang baik. Dia kakak yang layak untuk dicintai dan dihormati. Sayang umurnya tidak panjang. Sampai akhir hayat nya dia begitu menjaga Hana dengan jiwa dan raganya.
"Maaf, Pak Kusuma adakah amanat kak Daniel yang lain?" Hana menanyakan hal lain.
"Tidak nona Hana. Semuanya sudah tertera dalam surat wasiatnya. Dan surat-surat berharga lain sudah ada dalam map ini nona. Anda bisa melihat dan memeriksanya."
"Iya terimakasih pak Kusuma." Hana tertunduk sedih. Sesekali dia menyela air matanya dengan tisu.
"Pak Kusuma ada yang ingin saya bicarakan dengan anda. Ini berkaitan dengan perusahaan. Seperti anda ketahui saya tidak mempunyai keahlian dalam mengelola perusahaan. Saya khawatir jika saya dijadikan pimpinan malah perusahaan akan terjadi kemunduran. Menurut anda bagaimana kalau kakak saya ini dicalonkan untuk memimpin perusahaan. Dia pengalaman mengelola perusahaan. Apakah anda bersedia untuk mengajukan pada dewan direksi?" Hana melihat Pak Kusuma dengan tatapan serius. Hana sangat memikirkan kebaikan masa depan perusahaannya. Hana pun tak mungkin memberikan pimpinan perusahaan kepada sembarangan orang. Terutama bukan keluarganya.
"Hana.. " Steve menegur Hana. Menurutnya itu sangat berlebihan. Karena perusahaan itu murni milik keluarga Hana yang diwariskan dari ayahnya Hana. Meski Steve adalah kakaknya dari pihak ibu. dia merasa tidak berhak dengan jabatan itu.
"Baik nona Hana. Kalau begitu nanti akan saya usulkan kepada pihak direksi dan para pemegang saham. Jika mereka menyetujuinya itu tidak masalah.
Rapat direksi pun dimulai. Seperti biasa semua yang ada di ruangan itu memperkenalkan dirinya. Hana yang masih canggung dalam ruang lingkup para pengusaha merasakan agak gugup.
Kini giliran Hana memperkenalkan diri pada tetua yang ada di ruangan itu. Semua yang ada di ruangan itu pun bertepuk tangan menyambut pidato Hana. Pidato Hana sukses membuat para hadirin di ruangan itu cukup kagum. Tiba giliran Hana memperkenalkan Steve.
Ada beberapa hadirin saling berbisik mereka pandangan mereka sedikit berubah begitu Hana menyebutkan Steve sebagai pengganti dirinya untuk memimpin perusahaan.
"Maaf nona Hana. Kami sebagai tetua disini menilai bahwa tuan Steve adalah orang asing yang baru saja datang lalu dia langsung menjabat di perusahaan ini sebagi pengganti anda. Bagi kami itu agak aneh. Sedangkan disini banyak orang yang tepat untuk memimpin jika anda belum merasa siap. Jadi kami agak meragukannya." Pak Harlan sebagai paling senior diantara mereka mengajukan keberatan.
"Baik bapak-bapak yang saya hormati. Saya tahu bahwa anda disini adalah partner usaha keluarga kami selama ini. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan anda selama ini. Kemajuan perusahaan ini adalah berkat anda semua. Awalnya kita tidak saling mengenal juga tapi masing-masing dari kita memberikan kesempatan untuk membuktikan kemampuan. Makanya kita bisa saling mengenal karena adanya kesempatan. Untuk itu saya pun meminta anda untuk memberikan kesempatan pada kakak saya membuktikan kemampuannya." Hana kini sedang meminta para dewan direksi dan juga pemegang saham lainnya untuk mengizinkan Steve menggantikan dirinya.
"Baiklah kami akan memberi waktu 3 bukan untuk membuktikan kemampuanmu di perusahaan ini." Pak Harlan akhirnya memberi izin.
"Saya ucapkan terimakasih pada anda, semoga anda semua bisa membimbing kakak saya dengan baik. Saya mohon kebaikan anda semua untuk membantu perusahaan menjadi lebih baik." Hana membungkukkan badannya menghormati semua tetua yang ada di ruangan itu.
Setelah rapat selesai semua berjabat tangan lalu mereka pun makan jamuan yang diadakan perusahaan.
Hana kembali dan Steve kembali ke Villa untuk beristirahat. Di sana sudah ada tuan Hans, Maria, juga Caterina.
__ADS_1
"Kak Hana... " Caterina menyambut Hana dan Steve yang baru saja datang di tempat tinggal Steve.
"Wah.. ada bau-bau masakan nih!" Steve yang sudah agak lelah mencium bau masakan langsung ke dapur. Perutnya mendadak lapar. Hidungnya langsung mengendus menu yang sudah lengkap tersedia di atas meja.
"Ayo mandi dulu baru makan!" Tuan Hans tersenyum melihat Steve yang sudah tak kuat melihat makanan yang dimasaknya.
"Oke! Hana.. kamu mau mandi?" Steve berteriak.
"Ya ampun. Dia yang disuruh malah menyuruh adiknya mandi." Tuan Hans menggelengkan kepalanya. Maria tersenyum melihat kehangatan keluarga ini.
"Kak Hana mau mandi? Biar aku siapkan kamar mandi sama bajunya." Caterina langsung sigap.
"Bolehlah." Hana menjawab sambil tersenyum.
Steve mendorong kursi roda Hana langsung ke kamar yang sudah disediakan. Kamar yang dulu pernah ditempatinya. Caterina langsung memilihkan baju rumahan yang sesuai dengan selera Hana.
"Wah baju kakak bagus-bagus begini." Caterina takjub melihat baju yang berderet di lemari.
"Kenapa kamu mau?" Steve melirik Caterina yang sedang mengambil baju.
"Mau donk kak. Aku mau pindah ke Indonesia aja kak! Tapi.. " Caterina menghentikan bicaranya.
"Kenapa?" Steve menatap wajah adiknya yang seperti sedang berpikir.
"Aku... ingin sekolah di kota B kak. Tapi aku juga ingin bersama kalian." Jawab Caterina.
"Memang ayah akan mengizinkan?" Steve mengangkat Hana ke closet duduk.
"Aku belum cerita kak. Apa boleh minta bantuan sama kakak?" Caterina mengedip-ngedipkan matanya seakan sedang merayu.
"Kenapa matamu kayak yang cacingan?" Steve terkekeh melihat sikap Caterina.
"Ih kak... serius!"
Steve memanyunkan bibirnya sambil menyipitkan matanya.
"Eh.. iya. Sorry!" Steve langsung menggandeng adiknya keluar. Steve pun masuk ke dalam kamar nya mengganti pakaian dan mandi.
Caterina duduk di kamar Hana menunggu sambil duduk di sofa. Dia asik berselancar dengan handphonenya. Dia pun membalas beberapa pesan yang masuk. Diantaranya ada pesan dari Nadia.
"Hei asik aja. Lagi balas chat siapa sih?" Steve duduk di samping Caterina. Sekarang Steve terlihat segar setelah dia mandi dan mengganti pakaiannya.
"Mau tau aja!" Caterina menyembunyikan handphonenya.
"Eh.. Jangan-jangan cowok ya?" Mata Steve agak melebar menyerang Caterina.
"Ih suudzon aja kakak. Bukanlah! Aku mau kenal cowok yang baik. Jadi aku mau baik dulu biar dapat jodoh yang baik." Jawab Caterina dengan polosnya.
"Mmhh.. Bahasamu ada yang baru lagi ya?" Steve mengernyitkan keningnya.
"Maksud kakak?"
"Ya itu.. maksudnya mau baik dulu biar dapat jodoh yang baik. Kamu masih bocil juga sudah mikirin jodoh!" Steve merasa aneh dengan kata-kata Caterina.
"Eh baik itu tidak instan butuh proses. Memangnya mie apa!" Caterina kembali melihat layar handphonenya.
"Wah adik kakak seperti jadi dewasa sebelum waktunya."
"Apaan sih kak Steve. Harusnya kak Steve juga dari sekarang harus baik, biar dapat istri yang baik. Kakak kan sudah cukup umur buat menikah." Protes Caterina pada Steve.
"Mmmh iya. Tapi belum ada calonnya." Steve menghela nafas sambil memikirkan dirinya.
"Hei.. kalian ada disitu kan?" Hana berteriak memanggil.
"Iya kak.. I coming... " Caterina membuka pintu kamar mandi diikuti Steve yang sudah siap membantu Hana mengangkat ke kursi roda.
__ADS_1
"Wah kakak sudah wangi dan cantik." Puji Caterina.
Hana tersenyum mendengar pujian Caterina.
"Mari kak aku bantu menyisir rambut dan berdandan."
"Ah kakak gak dandan mau menyisir saja. Tolak Hana.
"Mariii.. tuan putri aku antar ke meja rias!" Caterina mendorong kursi roda mendekati meja rias.
"Kakak.. keluar dulu ya! Kalian bereskan urusan kewanitaan!" Ucap Steve sambil melengos ke luar kamar Hana.
Steve berjalan ke dapur tepatnya duduk di depan meja makan.
"Wah mana Hana dan Caterina?" Maria menanyakan Keduanya.
"Masih bersolek mam." Steve mengambil risoles lengkap dengan saosnya dan melahap dengan dua kali gigitan.
"Wah kangen sama masakan ayah dan mama." Rasa risoles yang disantap Steve begitu nikmat di lidah.
"Gimana tadi urusan di kantor lancar?" Tanya Tuan Hans yang penasaran dengan penampilan perdana Steve.
'Ya awalnya ada kendala juga sih! Tapi untung Hana bisa menyelesaikannya." Tukas Steve yang membawa kembali risoles.
"Lah kenapa? Ada masalah apa tadi?" Tuan Hans duduk dan menatap wajah putranya.
"Tadi aku sempet ditolak yah! Tapi Hana berusaha meyakinkan para direksi dan pemegang saham untuk memberikan kesempatan padaku yah. Dan aku diberi waktu 3bulan untuk membuktikan kemampuanku disana. Kayanya kerjaanku akan berat yah!" Steve kembali memasukkan risoles ke mulutnya.
"Ya.. bersabarlah! Semua juga ada prosesnya. Ayah yakin kamu bisa. Apalagi pengalamanmu bersama Wei juga cukup lama. Pasti bisa melalui itu semua dengan mudah." Tuan Hans memberikan motivasi pada Steve.
"Iya yah!"
"Oh yah. Sekarang Hana akan tinggal di Jakarta sebaiknya kamu mencarikan pelayanan untuk membantu Hana. Kasian jika Hana tak ada yang membantu." Tukas tuan Hans.
"Emangnya ayah mau pulang ke Perancis?" Giliran Steve menatap ayahnya.
"Iya. Ayah akan kembali kesana. Lagian sudah lama ayah meninggalkan pekerjaan." Jawab tuan Hans.
"Mmhh.. Caterina juga?"
"Iyalah.. Dia kan harus sekolah. Sudah lama izin nanti banyak ketinggalan."
"Tapi yah. Caterina sepertinya dia betah disini. Dia pengen pindah ke Indonesia."
"Apa? Kapan dia bicara padamu Steve?"
"Barusan."
"Mmhh. Iya biar nanti ayah yang bicara. Ayah juga sebenarnya bingung. Hana mesti ada yang menemani juga. Biar lebih semangat berobat. Ayah belum bisa menemaninya lama. Apalagi kamu akan sibuk. Jadi nanti biar ayah pikirkan baik buruknya."
"Tapi anehnya Caterina malah ingin sekolah di kota B. Dia merasa nyaman tinggal bersama teh Sari. Jadi bagaimana mau menemani Hana. Hana akan repot yah kalau harus tinggal di sana. Aku tidak bisa menjaganya jika jaraknya berjauhan."
"Oh begitu.. ih aneh anak itu. Dikira dia mau sekolah di Jakarta. Malah pengen di kota B. iya ntar kita ngobrol lagi. Yang penting kamu sesegera mungkin mencari asisten juga oelayan buat Hana. Biar kamu bisa bekerja tanpa banyak pikiran. Tadinya ayah mau membawa ke Perancis agar berobat disana. Siapa tahu menemukan dokter yang lebih hebat. Tapi saat ini kasihan Hana akan kelelahan. Kondisi fisiknya belu terlalu kuat."
"Iya yah. Untuk sementara kita berobat disini saja dulu. Nanti kita akan mencari dokter hebat yang bisa mengobati Hana lebih baik lagi."
"Tuh mereka datang!" Tuan Hans melihat Hana dan Caterina berjalan menuju meja makan.
"Ayo makan sayang. Nih ayah sama mama sudah masakin kamu. Kamu harus coba semuanya." Tuan Hans berdiri membantu Hana memposisikan dirinya agar nyaman.
"Wah.. makanannya banyak sekali yah! Pasti ayah sama mama cape." Hana melihat tuan Hans dan Maria dengan wajah tak enak.
"Enggak dong sayang.. ayahmu ini hobinya memang di dapur. Apalagi sudah lama tidak memasak. Begitu ke dapur seperti menemukan kekasih keduanya." Maria dengan senyum manisnya menatap semu pada suaminya.
"Wah kekasih pertamanya lewat ya ma?" Hana tersenyum menggoda pasangan yang sudah tidak muda lagi.
__ADS_1
"Wah Romeo dan Juliet sedang action." Steve menggoda mereka.