
"Maaf nyonya. Saya perwakilan dari pihak rumah sakit mau mengabarkan bahwa putra nyonya bernama Daniel sudah menghembuskan nafas terakhir nya meninggalkan kita semua 45 menit yang lalu." Direktur rumah sakit sekaligus ayahnya Dokter Alvian langsung memberitahu ibunya Daniel.
"Apa? Danielku.. Danielku meninggal? Ahhh..." Suara lengkingan dari ibunya Daniel seketika menguar dalam ruangan tahanan khusus. Dia menjerit histeris tak bisa menerima berita kematian anaknya. Putra yang selam ini disayanginya telah meninggal.
Dia menjambak rambutnya deraian airmata pun kini membanjiri pipinya. Semua yang ada di ruangan itu tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan dia melepaskan kesedihannya.
Setelah dia puas melepaskan kesedihannya. Dia terlihat nampak lemas. Matanya seolah melihat kosong wajahnya kian memucat.
"Maaf nyonya. Kalau anda sudah siap kami sedang menunggu keputusan anda untuk acara kremasi jenazahnya." Kembali ayahnya dokter Alvian berbicara pada ibunya Daniel.
"Aku ingin melihat anakku!" Suaranya yang parau berbicara lemah dengan tatapan memilukan. Bisa dibayangkan seorang ibu yang ditinggalkan anaknya yang sangat dicintainya, dan ia mati karena tangannya juga.
"Baik. Pihak kepolisian akan memberikan izin kepada Anda berkaitan dengan kematian anak anda dengan pengawalan khusus. Anda tidak bisa macam-macam dengan kesempatan ini!" Tegas seorang polisi yang bertanggung jawab atas kasusnya.
"Memangnya aku akan lari ke mana? Aku.. hik hik hik.. " Ibunya Daniel kembali menangis. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain menangis kepergian putra tercintanya dengan deraian air mata.
"Baiklah kami semua mengucapkan turut berbela sungkawa atas kepergian putra Anda. Kami perwakilan dari rumah sakit memohon maaf tidak bisa membantu menyelamatkan nyawa putra Anda. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya."
Ibunya Daniel tak bisa menjawab hanya terus saja menangis. Pikirannya sudah tak bisa jernih. Dia hanya menangisi penyesalan yang dia buat sendiri.
"Baiklah kami mohon pamit. Jika anda sudah siap. Kami tunggu kehadiran Anda di rumah sakit." Direktur rumah sakit mengakhiri pembicaraannya. Lalu berdiri meninggalkan tempat itu.
"Kenapa kamu meninggalkan ibu nak... " Jeritan ibunya Daniel kini terdengar di ruangan itu sambil meratapi penyesalan. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Bagaimana mungkin dia bisa begitu saja menerima kematian anaknya yang selama ini dia berjuang untuk putranya. Rasanya dunia ini runtuh dan berakhir. Tak ada yang bisa dia perjuangan lagi. Bahkan perjuangannya selama ini terasa sia-sia saat Daniel harus meninggalkan dirinya dengan cara yang dia sesali.
"Aku tak ingin hidup... " Ibunya Daniel membenturkan kepalanya ke meja yang ada di depannya. Dengan sigap dua petugas langsung mengapitnya. Dia Meronta-tonta dengan sisa tenaganya yang semakin lemah.
"Bawa ke rumah sakit polri dan beri dia penenang! Awasi dia!" Suara itu terdengar mendominasi.
"Baik Pak, Laksanakan!" Dua orang petugas tadi lantas membawa ibunya Daniel ke dalam ambulance dalam keadaan mengingat kedua lengan dan kakinya agar tak meronta. Kini kondisinya sangat labil. Dia butuh perawatan khusus untuk ditangani karena kejiwaannya yang labil akibat kabar meninggalnya Daniel.
Di sebuah ruangan khusus kini dia tergolek lemah. Pikirannya yang kosong terkadang sering mengantuk. Dia tak sanggup memikirkan apa yang sudah terjadi. Kini badannya pun kian melemah. Karena kondisinya yang belum pulih dia tak bisa datang untuk memastikan jenazah Daniel akan dikremasi.
Dan di lain tempat Hana sedang termenung. Kematian Daniel yang terbilang mengagetkan semua orang tentu saja itu pun membuat Hana terguncang. Dia hanya bisa diam di ruangan tak mau menjalani terapinya.
"Hana.. apakah kamu baik-baik saja?" Suara Steve cukup membuyarkan lamunannya. Sejak tadi Steve mengamati Hana hanya duduk melamun dan khawatir membuat kondisi Hana kembali melemah.
Hana hanya mengangguk.
"Apakah kamu ingin keluar untuk mengambil udara segar?" Steve menawarkan membawa Hana dari ruangan.
Hana hanya melihat sekilas lalu menunduk.
"Ada baiknya kita keluar agar pikiran kita tidak terlalu buntu." Steve memberi saran.
"Baiklah. Aku ingin ke taman." Akhirnya Hana mau dibujuk untuk sekedar mencari suasana agar pikirannya tidak terus menerus memikirkan Daniel.
Steve menggendong Hana lalu meletakkan di kursi roda. Lalu dia mendorong kursi roda itu sesuai permintaan Hana.
Disana di taman yang ada dia area rumah sakit Hana menatap kosong ditemani Steve disampingnya sambil membawa camilan dan dua botol minuman ringan.
"Minumlah!" Steve menyodorkan satu botol minuman ringan yang sudah dibuka terlebih dahulu.
Hana menerimanya dan meneguknya beberapa tegukan.
"Hidup perlu dilanjutkan Hana.. Apapun yang terjadi pada kita." Lirih Steve.
"Hhm." Hana hanya menjawab dengan pendek.
__ADS_1
"Setiap kejadian pasti ada hikmahnya." Steve menghela nafas.
"Aku juga pernah merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang kita cintai." Steve sedang menerawang pada masa lalu yang pernah dia lalui.
"Saat ibu kita meninggalkan kita. Itulah hal terberat yang aku rasakan Hana." Steve menatap ke samping melihat Hana. Hana menoleh netra mereka bertemu seolah saling membaca pikirannya masing-masing.
Steve lalu kembali melihat ke depan melanjutkan bicaranya.
"Saat aku aku hanya bisa menyalahkan mu Hana. Semata-mata hanya karena aku tak siap dengan kepergiannya. Bahkan aku harus membencimu. Tapi takdir berkata lain. Tuhan tak ingin aku membencimu yang tak punya dosa apa-apa. Ya aku bisa bertemu denganmu karena Wei. Kalau bukan karena kecelakaan itu aku tak mungkin bisa merawat mu dengan baik. Bahkan ketika aku mengetahui identitas mu aku sangat terguncang. Orang yang selama ini aku benci ternyata ada disisiku." Steve menunduk.
Hana menoleh lalu mengambil tangan Steve.
"Maafkan aku kak... " Hana berkata lirih.
"Tidak. Jangan pernah meminta maaf padaku! Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Karena aku bukan seorang kakak yang baik yang telah meninggalkan adiknya terpuruk sendirian. Jika aku tak membencimu mungkin hidupmu tak akan seperti ini Hana!" Steve menyesali perbuatannya yang selama ini membenci Hana karena dianggap Hana lah yang memisahkan ibunya dari Steve.
"Tidak kakak, aku tak mau kehilangan kakak lagi. Cukup kak Daniel yang telah meninggalkan aku! Aku sangat menyayanginya. Dan dia pun kakak yang baik selama aku hidup bersamanya. Karena sebuah dendam kita menjadi seperti ini kak. Aku tidak mau kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Aku akan menjaga kalian. Tuhan ternyata menggantikan penantian ku selama ini dengan mengirim mu kak dengan keluarga mu." Hana baru menyadari kehadiran keluarga Steve begitu berharga buatnya. Mereka hadir disaat Hana sangat membutuhkan. Mereka begitu baik bahkan seperti sudah menganggap Hana sebagai anaknya sendiri. Hana mengelus lembut tangan Steve yang sedang dipegangnya.
Steve tersenyum menatap Hana. Kini wajah Hana terlihat agak bahagia. Tidak seperti tadi.
"Oh ya.. kamu ingin coklat sama mie tidak?" Steve tiba-tiba teringat dengan makanan kesukaan Hana juga dirinya.
"Hhhmm mau. Kenapa kakak tahu makanan itu?Hana memandang Steve heran.
"Insting kita. Bahkan pertemuan pertama kita kan.." Steve berhenti bicara. Dia tak ingin mengenang masa itu yang sudah menyakiti Hana.
"Baiklah. Aku akan meminta ayah membuatkannya." Steve terlihat bersemangat.
"Lah.. kasian ayah kak. Apa kita tak bisa memesannya saja!" Usul Hana yang tak mau merepotkan tuan Hana.
"Hei.. apa yang sedang kalian lakukan disini?" Suara itu mengagetkan Steve juga Hana.
"Wah panjang umur. Ayah sudah ada disini!"Steve terlihat sumeringah.
"Ada apa? Sepertinya kalian lagi ngomongin ayah ya?" Tuan Hans menatap curiga pada Hana dan juga Steve.
"Ini yah.. Hana tadi minta dibuatkan mie sama ayah... katanya ayah cheff handal. Pengen nyobain masakan ayah." Bohong Steve yang telah membolak-balikan perkataannya.
"Eh.. kenapa kok jadi akau sih kak? Kan tadi kakak yang mau?" Hana cemberut merasa malu.
"Gak pa-pa ayah tahu kok. Gak mungkin anak ayah yang baik ini bicara seperti itu. Tapi ayah senang kok. Selama ayah disini ayah sudah lama tidak memasak. Kalau kalian ingin ayah masakin ayah dengan senang hati melakukannya." Tuan Hans terlihat senang.
"Tuh kan benar kata kakak. Ayah itu paling senang kalau ada yang memintanya untuk memasak." Steve tersenyum melihat Hana. Hana pun tersenyum malu. Tidak enak jika meminta tuan Hans walaupun di tahu tuan Hans itu baik.
"Terimakasih ayah.. "Hana membentangkan tangannya lalu memeluk tuan Hans dengan hangat. Tuan Hans mengusap kepala Hana dengan lembut.
Hana mendongak menatap tuan Hans.
"Ayah.. bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Iya.. mintalah!" Tuan Hans menurunkan pandangannya melihat Hana.
"Aku... ingin pulang. Aku tak mau terlalu lama berada disini." Hana melihat dengan wajah sendu.
"Baik. Nanti ayah bicarakan dulu dengan dokter Aldi. Apakah bisa atau tidak." Tuan Hans tersenyum menanggapi keinginan Hana.
"Apakah kita perlu menyewa satu rumah yah?" Steve mengusulkan satu ide.
__ADS_1
"Hmmm. Nanti kita bicara bareng dengan mama sama juga Caterina. Ayah juga gak enak harus lama tinggal di rumahnya kang Gavin. Walaupun mereka baik dan terlihat tidak keberatan. Ayah juga merasa nyaman tinggal disana. Selain asri entahlah perasaan ayah merasa damai selama tinggal disana. Belum pernah ayah merasakan perasaan itu sebelumnya. Tapi tetap saja kita harus mandiri. Jangan sampai merepotkan mereka terlalu lama."
"Iya yah. Aku juga merasakan kebaikan mereka begitu tulus. Jarang-jarang kita menemukan orang yang seperti mereka. Aku juga merasa beruntung bisa kenal dengan mereka." Steve menimpali.
"Bukan karena banyak perempuan disana kan?" Tuan Hans menggoda Steve.
"He he.. Entahlah. Ketika aku melihat mereka awalnya sih aneh. Semuanya tertutup begitu. Kadang aku banyak bertanya. Apakah mereka tidak kerepotan memakai pakaian seperti itu. Terus mereka apa tidak tertukar begitu. Aneh saja aku yang melihatnya. Tapi setelah beberapa kali melihat mereka aku malah merasa damai." Steve berbicara apa yang dirasakannya selama tinggal bersama di keluarga kang Gavin. Yang mempunyai kost-kost an putri khusus bercadar.
"Wah sepertinya aku tertinggal ya yah?" Hana menanggapi percakapan antara Steve dan tuan Hans.
"Kamu justru beruntung Hana. Kamu bisa dipertemukan dengan keluarga kang Gavin sama teh Sari. Jadi kami bisa berkenalan juga dengan mereka. Apalagi sekarang Caterina betah banget dengan mereka." Steve melihat Hana dengan wajah senang.
"Wah.. ayah aku jadi iri. Aku ingin juga bebas kaya Caterina." Hana bergelayut manja pada tuan Hans.
"Iya. Ntar ayah bicara dulu pada dokter Aldi. Apakah kamu bisa rawat jalan atau tidak." Jawab tuan Hans.
"Iya yah." Hana terlihat senang. Walaupun pikiran nya belum sepenuhnya bisa melupakan Daniel. Apalagi keputusan ibunya Daniel belum juga bisa dia dapatkan. Wajar saja ibu mana yang tak terpukul mendengar kematian kematian anak semata wayangnya yang sangat dicintainya.
"Kamu mau kembali ke ruangan?" Steve menawarkan Hana untuk masuk ke dalam ruangan.
"Aku mau melihat kak Daniel? Bolehkah?" Entahlah tiba-tiba terbersit ingin melihat Jenazah Daniel.
Tuan Hans dan Steve saling memandang. Belum bisa mengiyakan keinginan Hana.
"Hana... Sebaiknya kita menunggu ibunya Daniel untuk lebih lanjut. Ayah tak ingin ada sesuatu yang terjadi padamu. Semakin kamu sering mengunjunginya semakin berat perasaan kita untuk melepaskan Daniel." Tuan Hans menatap Hana dengan wajah berharap Hana bisa mengerti.
"Baiklah yah. Apa yang aku bisa berikan pada kak Daniel yah?" Hana kembali menatap tuan Hans.
"Hana.. kita tunggu saja apa yang akan dibutuhkan. Kita belum bisa menentukan apa yang bisa kita lakukan sebelum wali sahnya mengizinkan." Tuan Hans kembali memberi saran.
"Yah.. Kemarin Wei menelpon. Katanya dia yang akan membayarkan biaya untuk pemakaman dan juga tempat peristirahatan terakhir untuk Daniel. Dia sedang menunggu juga dimana Daniel akan dimakamkan. Mungkin kita bisa membaginya sebagai penghargaan Hana buat kakaknya." Steve baru ingat setelah Wei menelpon beberapa waktu yang lalu.
"Bagaimana Hana?" Tuan Hans kembali melihat Hana sedang menunggu persetujuannya.
"Iya yah. Aku setuju." Hana mengangguk
"Baiklah. Kita tinggal menunggu ibunya Daniel saja."
"Bagaimana keadaan ibu yah?" Hana penasaran dengan keadaan Ibunya Daniel.
"Setahu ayah. Dia sedang dirawat di rumah sakit polri. Gangguan kejiwaan paska mendengar kematian Daniel. Kita doakan agar dia cepat sembuh. Baik buruknya dia adalah ibunya Daniel dan pernah menjadi ibumu Hana." Jawab Tuan Hans.
"Iya yah. Aku berharap ibu cepat sembuh. Aku ingin hidup akur dengannya yah. Aku juga tidak mau mengungkit masa lalunya." Tukas Hana.
"Iya. Tapi tetap saja karena kasusnya sudah masuk ke kriminal kamu akan dipanggil juga sebagai saksi." Jawab Steve.
"Biarlah. aku akan bersaksi tapi tidak akan memberatkan ibu. Pasti nya ibu pun sudah mendapatkan hukuman yang berat karena kehilangan kak Daniel. Aku ingin ibu bebas." Hana merasa iba pada ibunya Daniel jika harus mendapatkan hukuman dari pengadilan.
"Tetaplah setiap perbuatan akan mendapatkan balasan sesuai perbuatan mereka. Agar tidak dicontoh oleh yang lain walaupun kita sudah memaafkan perbuatan mereka." Jawab tuan Hans.
"Hei... kalian lagi ngapain disini?" Suara Caterina mengagetkan Hana, Steve juga tuan Hans.
"Eh.. kamu sama siapa kamu kesini?"
"Sama kak Raffa. Mama di rumah sama teh Sari sedang memasak." Jawab Caterina dengan wajah sumringah.
"Hhhmm modus ya?" Goda Steve.
__ADS_1