Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Terciduk


__ADS_3

Seseorang melabrak garis polisi lalu menerobos masuk mendekati Hana dan Wei. Karena posisi Hana dan Wei membelakangi jadi tidak tahu ada orang yang mendekatinya.


"Dasar wanita sialan! Kenapa kamu tidak juga mati?" Perempuan itu mengamuk lantas memukul Wei lalu mendorong kursi roda Hana sampai menjungkal.


Semua orang yang ada di sekitar ruang ICU kaget lantas menghampiri wanita yang sedang mengamuk yang tak lain adalah ibunya Daniel. Polisi yang berjaga langsung mengamankannya dan petugas medis langsung menolong Hana dan juga Wei.


Steve dan Riana yang sedang menikmati makanan yang telah dipesan di kantin rumah sakit perhatiannya teralihkan manakala beberapa orang berlarian.


"Ada apa ya?" Steve bicara pelan tapi masih terdengar oleh Riana. Matanya melihat keluar memperhatikan orang yang sedang berlarian.


"Di rumah sakit biasa selalu banyak kejutan dan terkejut." Sela Riana sambil mengunyah Steak pesanannya.


"Tapi.. " Belum juga Steve meneruskan bicaranya netranya menatap serius pada seorang wanita yang meronta, mengamuk ingin melepaskan diri sambil berteriak-teriak sedangkan kedua polisi menggandeng wanita itu dengan ketat.


"Hei.. bukankah itu nyonya... ?" Riana melongo


"Ibunya Daniel.. " Keduanya kompak menyebutkan kalimat itu. Dua pasang netra itu mengikuti arah berjalannya kedua polisi itu.


Tanpa mengindahkan makanan yang dipesan di atas meja. Riana dan Steve berdiri lalu berjalan keluar kantin mengikuti polisi itu. Mereka setengah berlari mengikuti kemana polisi tadi membawa ibunya Daniel.


Sampai juga di area parkir. Riana dan Steve terengah-engah menahan perut masing-masing karena makanan yang baru saja masuk tergoncang.


"Ah berhenti Steve.. aku gakuat sakit nih perut!" Keluar Riana.


"Sama."


"Hah.. kemana mereka membawanya? Hah.. Hah..


Steve menggelengkan kepala. Netranya melihat mengikuti kemana polisi itu membawanya.


Mereka membawanya ke mobil. Dan mobil iti berlalu dari hadapan mereka. Setelah perutnya merasa lega. Steve menekan nomor Wei.


"Halo Wei.. "


"Iya Halo.. "


"Aku.. barusan melihat ibunya Daniel. Kenapa polisi membawa mereka?" Tanya Steve penasaran.


"Dia mengamuk di ICU dan.. mendorong kursi roda Hana." Terang Wei.


"Apa?" Steve terhenyak. Dia langsung menutup teleponnya langsung berdiri dan berlari.


Riana yang duduk disampingnya heran melihat Steve langsung pergi. Riana yang memakai sepatu Higheel berpikir dua kali kalau harus berlari kencang seperti itu. Dia berdiri lalu berjalan cepat menuju ICU.


"Aduh.. tahu begini aku tidak pakai kostum begini. Ini juga perutku masih sakit.. " Keluh Riana.


"Wei.. Wei.." Steve memanggil-manggil Wei tapi yang dipanggil tak terlihat.


"Maaf anda sedang mencari siapa?" Seorang perawat bertanya pada Steve.


"Saya mencari saudara saya yang tadi.. "


"Oh.. yang tadi dipukul sama ibunya pasien?" Terang perawat pada Steve.


"Iy iya.. " Steve menjawab tergagap.


"Tadi sudah diantarkan ke ruangannya kak."


"Oh iya terimakasih." Ucap Steve pada perawat. Steve berjalan menuju ruangan Hana.


"Eh Steve... tunggu aku!" Riana yang melihat Steve berjalan di depan menyuruhnya menunggu. Kakinya tidak bisa berjalan terlalu cepat setelah tadi setengah berlari, tumitnya mengalami lecet.


Langkah Steve terhenti. Dia melihat Riana berjalan dengan sedikit menjinjit.


"Kenapa jalan kamu?" Steve penasaran dengan langkah Riana yang berubah.


"Aku lecet Steve.. Kaki sakit." Keluh Riana.


"Ya sudah pegangan sama aku! Biar nanti diobati disana." Saran Steve sambil memapah Riana perlahan.


"Aku kayanya harus pakai sendal deh. Kakiku gak nyaman." Rasa perih di kaki Riana semakin terasa. Lecetnya begitu terasa ketika gesekan kulit sepatu bersentuhan dengan area lecet.


Steve menatap iba. "Kamu diam dulu disini, aku bawakan sendal adikku."


Riana diam patuh. Daripada harus melanjutkan kakinya kian nyeri. Dia menunggu Steve membawakan sandal untuknya.


Sebenarnya kesempatan ini dipakai Steve untuk bicara pada Wei. Tak mungkin Riana dibawa ke ruangan Hana. Dia pasti akan curiga dengan Wei yang terlalu dekat dengan Hana. Entahlah Steve merasa kali ini Riana jangan dulu tahu hubungan antara Wei dan Hana. Kasihan dengan Hana yang bertubi-tubi mendapatkan masalah.


Tok


Tok


Tok


Steve masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Steve mendekati ranjang Hana. Di Sana ada dokter Aldi sedang mengobati luka gores Hana bersama perawat.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Hana sekarang dok?" Tanya Steve pada dokter Aldi.


"Cuman luka gores." jawab Dokter Aldi.


"Maaf Wei... aku ingin bicara denganmu sebentar." Steve melihat pada Wei.


Wei mengangguk.


"Hana aku pinjam dulu sandal mu ya!" Steve hampir saja lupa meminjam sandal untuk Riana.


Hana mengangguk.


Lalu Wei. dan Steve berjalan keluar ruangan.


"Ada apa Steve?" Wei duduk di luar ruangan lalu bertanya pada Steve.


"Sebenarnya aku ingin bertanya padamu, apa yang terjadi dengan kalian? Aku melihat ibunya Daniel dibawa sama polisi."


"Dia mengamuk, lalu mendorong Hana dari kursi rodanya. Polisi mengamankannya karena curiga penembakan Daniel oleh anak buahnya. Karena tadi sempat bicara meracu." Tetang Wei.


"Wei... aku minta maaf. Bisakah kamu mengantar Riana sekarang juga. Aku khawatir jika Riana tahu hubungan kamu sama Hana." Steve menatap inten wajah Wei.


Wei terdiam.


"Kamu sendiri tahu, Hana butuh kondisi stabil. Dia berturut-turut mendapatkan masalah. Sedangkan dia butuh waktu untuk mengembalikan kesehatannya. Kalau bisa sementara waktu kau jangan dulu datang sebelum Hana dalam kondisi stabil. Aku mohon Wei..." Wajah Steve terlihat memohon.


"Baiklah. Aku akan mengantar Riana. Aku akan pamitan dahulu pada Hana agar tidak curiga."


"Baiklah."


Wei berdiri lalu masuk ke dalam ruangan untuk berpamitan pada Hana kembali ke Jakarta.


Terlihat Wei keluar ruangan setelah berpamitan.


"Wei.. bawa sandal ini. Riana membutuhkannya. Tadi kakinya lecet. Aku menyuruhnya menunggu di sana." Steve menyodorkan sepasang sandal punya Hana.


"Baiklah. Aku pulang dulu. Jaga diri kalian baik-baik!" Kabari aku jika ada apa-apa!" Wei mengambil sandal dari tangan Steve dan berlalu meninggalkan Steve di depan ruangan.


Wei berjalan meninggalkan Steve sambil mengedarkan pandangan mencari Riana.


"Itu dia." Wei berjalan mendekati Riana yang sedang duduk di kursi tanpa alasan kaki. Terlihat sepatunya dibuka karena sudah merasa tak nyaman.


"Mau ke dokter?" Tawar Wei pada Riana.


"Kayanya gak usah deh!" Riana menolak. Padahal dalam hati kecilnya dia berharap Wei membawanya.


Riana melihat sandal yang didekatkan pada kakinya lalu mengikuti perintah Wei memakainya.


"Ayu." Wei berdiri dan mengajak Riana yang masih duduk.


"Kemana?" Riana mendongak melihat Wei. Entahlah pesona Wei seakan tak habis ditatap.


"Ya ke klinik. Kita obati dulu jangan sampai lecetnya bengkak." Ajak Wei pada Riana.


Riana akhirnya berdiri. Wei membawa sepatu Riana lalu berjalan menuju klinik yang ada di rumah sakit untuk mengobati lecet kaki Riana.


Riana berjalan sedikit di belakang Wei. Dia menatap punggung laki-laki yang ada di depannya. Hatinya berbicara sendiri. Dia sedang membayangkan laki-laki yang di depannya adalah suaminya.


"Ah romatis sekali.. " memakaikannya sandal, menjingjingkan sepatunya, dan menuntunya ke dokter. Seakan dia sedang melakoni apa yang ada di drama-drama Korea yang banyak digandrungi kaum hawa itu.


Bibirnya terangkat lalu Riana tersenyum. Hatinya berbunga-bunga dan dia tersipu-sipu tanpa menyadari Wei sudah berdiri di depan pintu klinik yang ditujunya sedang memperhatikan gerak-gerik Riana.


"Kamu kenapa?" Suara Wei menyadarkan lamunan Riana.


"Eh.. he he tidak." Riana menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Rona merah diwajahnya mudah sekali terlihat di wajahnya yang putih.


"Duduk dulu! Aku akan masuk ke dalam mendaftarkannya." Wei berlalu, entah dia tahu Riana sedang berangan tentang dirinya atau memang pura-pura tidak tahu.


Riana menatap Wei yang masuk ke dalam dengan mata yang berbinar. Dia merasakan sisi Wei yang romantis, yang selama ini hampir tidak pernah ditunjukkannya.


"Masuk!" Wei keluar dari ruangan klinik dan menyuruh Riana masuk.


Riana pun dengan senang hati mengikuti Wei masuk ke klinik dengan perasaan hati merah jambu.


"Mari saya bantu!" Salah satu perawat membantu Riana mengolesi salep setelah sebelumnya dibasuh dengan cairan Rivanol.


"Sudah!" perawat tadi memasangkan perban untuk menutupi lecet agar tak terkena debu.


"Ini obatnya. Anda bisa menghentikan jika diras lebih baik. Ini luka ringan tapi kalau dibiarkan jadi infeksi juga." Terang dokter pad Riana.


"Terimakasih kasih dok!" Wei bersalaman untuk mengakhiri pemeriksaan Riana.


Keduanya berjalan beriringan. Riana merasa bahagia melihat kepedulian Wei saat ini.


"Dimana mobilmu?" Tanya Wei.

__ADS_1


"Tuh!" Riana menunjuk ke arah mobil yang berwarna merah menyala. Mobil sport keluaran terbaru.


"Aku naik mobil kamu saja biar kita bisa pulang sama-sama." Terang Wei pada Riana sambil berjalan. Tiba-tiba tangan Riana langsung menggandeng Wei.


Wei kaget. Walau tindakan Riana bukan kali ini saja. Tapi disaat ini Wei merasa canggung ketika Rian bersikap begitu.


"Bisa kau lepaskan tanganmu!" Wei melihat ke arah Riana.


Riana melonggarkan tangannya dan kembali menarik tangannya dari Wei.


"Mana kuncinya?" Wei melihat Riana tapi yang dilihat menekuk wajahnya cemberut.


"Kenapa Kamu?" Wei heran melihat perubahan wajah Riana yang tadi sempat senyum-senyum sekarang malah terlihat cemberut.


"Tidak.!" Riana bicara ketus, lalu masuk ke dalam mobilnya.


Wei menggelengkan kepalanya. Heran dengan sikap Riana.


"Wei menekan kunci otomatis lalu melajukan mobil sport milik Riana menuju Jakarta.


"Aku akan pergi ke apartemen. Nanti mobilnya bisa kau ambil." Wei melirik pada Riana.


"Kenapa tidak mengantar aku dulu? Mobilnya bisa kau bawa!" Protes Riana sambil menatap ke depan. Dalam hatinya dia sedang kesal. Baru saja dia merasakan keromantisan Wei, tapi Wei kembali pada semula, dingin.


"Baiklah! Akan aku aku antarkan kamu lebih dulu!" Riana melirik ke samping. Dia penasaran dengan perubahan suasana Wei.


"Masih saja sama." Gerutu Riana dalam hati.


"Sejak kemarin kamu ada di Kota B. Aku heran seberapa dekat kamu dengan keluarga Steve?" Akhirnya Riana memulai pertanyaan.


"Aku sudah lama mengenal mereka, terutama adiknya."


"Kok bisa? Selama ini aku belum pernah melihatmu dengan perempuan." Protes Riana heran.


"Adiknya Steve adiknya Daniel juga." Wei membaca kecurigaan Riana tentang keberadaannya di kota B. Lebih baik terus terang daripada terus menyembunyikannya.


"Maksud kamu adiknya Steve juga adiknya Daniel?" Apa mereka adik kakak?" Riana sedang berpikir apa kaitan Steve, Daniel, dan Adiknya.


"Ibunya Steve mempunyai anak perempuan bernama Hana. Tapi beda ayah. Ayahnya Hana menikah dengan ibunya Daniel." Terang Wei pada Riana yang sedang mengerutkan dahi karena bingung.


"Jadi Daniel.. kakak tiri? Anak tiri tuan Roy?" Riana langsung menoleh ke samping.


"Hhmm." Jawab Wei pendek


"Lalu kenapa ada insiden penembakan apa kaitan mereka?"


"Panjang ceritanya. Nanti kamu sendiri tahu." Wei malas membahas permasalahan Hana dengan Daniel yang kurang baik diceritakan.


"Apa karena perusahaan tuan Roy?" Riana menebak-nebak.


"Bisa dibilang begitu." Wei melirik sebentar pada Riana.


"Hhhh.. sebenarnya aku juga kurang suka dengan ibunya Daniel. Dia terlalu banyak intrik. Makanya aku tak mau dijodohkan sama Daniel." Cicit Riana sambil menyandarkan kepalanya di samping mobil.


Wei menarik nafas lalu menghembuskannya kasar.


"Aku ingin bertanya padamu Wei." Riana membuang nafas sambil menatap ke luar jendela tapi entah apa yang sedang dilihatnya. Dia hanya berbicara dengan pikirannya.


Wei tak merespon.


"Sebenarnya sampai kapan aku harus menunggu kamu jatuh cinta padaku Wei?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Riana.


Wei menoleh pada Riana lalu kembali menatap depan karena kondisi yang sedang menyetir.


"Wei.. aku harus tahu kejelasannya." Riana merasa jengah melihat Wei tak merespon pembicaraan.


"Sebaiknya kamu jangan terlalu banyak berharap padaku. Cobalah membuka diri pada yang lain." Wei bicara sambil menyetir.


"Wei... " Riana merasa Wei memutuskan harapannya.


"Aku tak ingin kamu berharap-harap pada ketidakpastianku."


"Apakah kamu ada hubungannya dengan adiknya Steve?" Riana menatap Wei.


Wei hanya melirik sebentar, tanpa memberikan jawaban.


"Hah.. " Riana mengeluarkan nafas kasar. Tidak percaya bahwa dugaannya adalah benar.


"Kenapa kalian masih menyembunyikan hubungan kalian?" Riana seolah memancing Wei untuk bicara.


"Pada saatnya pasti akan tahu." Wei menjawab pendek.


"Aku tak percaya kamu Wei... " Riana mendengus kesal, marah dan kecewa. Sikap Wei yang tertutup juga tak bisa memberikan kejelasan membuat Riana banyak berharap.


Padahal sejak awal pun sikap Wei sudah melakukan penolakan halus. Tapi Riana saja yang memang tidak mau menyerah pada perasaannya. Membuat Riana sendiri menyimpan harapan-harapan Wei.

__ADS_1


"Tapi aku tidak akan menyerah Wei. Aku ingin mengetahui seperti apa wanita yang membuat hatimu kini menyukainya. Aku rela jika harus membagi cintaku bersama dia. Jika wanita itu memang benar-benar berarti buatmu." Riana bukannya patah hati malah semakin agresif. Entahlah itu cinta atau obsesi Riana pada Wei. Cintanya sekarang seperti tidak masuk akal sehat. Dia memaksakan kehendaknya pada Wei.


"Riana... jangan memaksakan begitu. Kamu bisa terluka. Semuanya bisa merasa sakit jika kamu masuk pada hubungan yang tidak sehat. Sebaiknya kamu lebih dewasa dalam berpikir. Di luar sana masih banyak laki-laki yang menyukaimu. Bahkan bisa lebih baik dari aku. Aku harap kamu jangan seperti itu. Kamu punya masa depan yang lebih baik. Jangan membuat keputusan yang membuat kamu sendiri suatu hari menyesal." Akhirnya Wei bicara.


__ADS_2