
"Kak Hana, itu dari siapa?" Caterina menanyakan identitas pelaku penelpon yang malam-malam. Sepertinya sangat penting sekali.
"Dari rutan. Ibunya kak Daniel meninggal." Hana menarik nafas, badannya begitu lemas begitu mendengar berita itu.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun" Caterina langsung mengucapkan kalimat ta'ziah.
Hana langsung mengerutkan dahi. "Apa yang kamu ucapkan Caterina?" Hana heran dengan sikap adiknya.
"Iya kan kalau ada orang yang kena musibah atau berita duka, kita wajib mengucapkan kata-kata itu!" Bela Caterina tanpa perasaan bersalah.
"Maksud kita? Wajib?" Hana malah memperpanjang perdebatan di malam hari.
"Sudahlah! Kalau kak Hana tidak setuju gak pa-pa. Apa kita perlu membangunkan kak Steve dan ayah kak?" Caterina menatap Hana serius.
"Kasian juga masih malam. Apa kita menunggu besok pagi saja?" Hana merasa ragu untuk menyampaikan berita itu diwaktu dini hari.
"Menurut aku mending sekarang aja kak! Ini berita penting. Jangan sampai kak Hana disalahkan." Saran Caterina.
"Begitu ya?" Hana masih bingung.
"Biar aku saja kak yang membangunkan mereka. Kakak tunggu disini saja!" Caterina langsung pergi keluar kamar tanpa menunggu Hana mengizinkan.
Tok
Tok
Tok
Caterina mengetuk pintu kamar Steve. Tak terdengar ada jawaban.
Tok
tok
tok
Masih juga sepi.
Tok
Tok
Tok
Suara itu akhirnya terdengar oleh Steve. Dia mengerjapkan matanya dan langsung melihat jam digitalnya yang ada di atas nakas.
"Baru jam 2 lebih. Siapa yang membangun aku jam segini?" Protes Steve sambil turun dari ranjang king sizenya. Di bawah sudah berserakan bantal dan guling hasil tidur rusuhnya. Steve lalu mendekati pintu lalu membuka pintu kamar sambil menyipitkan matanya yang masih lengket.
Terlihat Caterina berdiri si depan pintu. Steve menatap heran.
"Ada apa Caterina? Masih malam sudah bangunin kakak." Protes Steve.
"Kak. Barusan ada telepon dari rutan ke kak Hana. Mengabarkan ibunya kak Daniel meninggal." Caterina langsung to the point.
"Oh ya?" Steve langsung keluar lalau menuntun Caterina ke kamar Hana.
"Hana.. " Steve langsung mendekati Hana sambil mengusap halus punggung Hana. Steve tahu saat ini Hana sedang berduka.
"Bersabarlah!" Sekarang kalian istirahatlah. Biar besok kakak yang atur kepergian kalian dengan memakai supir. Kakak akan meminta dewan direksi untuk izin dan nanti menyusul. Kamu gak usah khawatir Hana. Nanti kakak atur semuanya. Mungkin kakak akan meminta kang Gavin. Biasanya kak Gavin jam segini sudah bangun."
Steve langsung menekan nomor Gavin. Benar saja Gavin langsung mengangkat nomor Steve.
"Halo kang!"
"Iya ada apa Steve?" Gavin agak aneh menerima telepon yang masih dini hari.
"Maaf kang! Malam-malam mengganggu akang." Steve berbasa basi.
"Gak pa-pa. Kami sudah bangun kok!' Jawab Gavin yang sudah biasa bangun tengah malam untuk shalat tahajud.
"Kang saya mau minta tolong kembali pada akang." Jelas Steve pada Gavin yang gak enak harus kembali merepotkan nya.
"Gak pa-pa! Apa yang bisa kami bantu Steve?"
"Kang ibunya kak Daniel meninggal barusan. Kami kayaknya mau minta bantuan akang lagi untuk acara pemakamannya." Terang Steve menjelaskan maksud tujuannya.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Kami turut berdukacita." Jawa Gavin yang kaget.
"Iya kang. Ada kemungkinan Hana sama ayah besok akan kembali ke kota B. Dan saya mau meminta akang membantu Hana untuk keperluannya."
"Baik Steve. Jangan khawatir! Besok saya akan urus persiapannya. Dan jangan sungkan meminta bantuan. Semoga keluarga dikabarkan ya atas ujian ini." Gavin memberikan dorongan suport bagi Hana dan keluarga.
"Iya Aamiin kang. Terima kasih ya kang sela ini selalu direpotkan." Steve tidak sungkan meminta keluarga Gavin untuk meminta tolong. Dia sudah seperti keluarga sendiri.
"Iya gak pa-pa. InsyaAllah kami bantu selama kami masih bisa bantu Steve." Jawab Gavin tanpa beban.
"Iya kang saya permisi dulu. Mohon maaf sebesar-besarnya buat kang Gavin dan keluarga yang selalu direpotkan kami. Salam buat teh Sari dan Raffa." Steve mengakhiri sambungan telepon.
__ADS_1
"Iya baik. InsyaAllah."
Telepon terputus.
"Kalian tidur lagi! Sama kakak ditemani lagi. Biar besok pagi kakak kasih tahu ayah sama mama." Steve langsung membawa bantal. Hana dan Caterina hanya menatap Steve dengan heran. Awal tidur tadi mereka tidur bertiga. Tapi Steve malah ada di kamar nya. Sekarang kembali berbaring di kasur Hana.
"Lah kakak tadi kemana?" Caterina langsung bertanya.
"Kakak disuruh ayah pindah." Jawab Steve agak semu malu.
"Hhmm paling juga jatuh ke bawah!" Tebak Caterina.
"Kok tahu?" Steve langsung bangkit dari tidurnya.
"Suaranya juga keras. Cuman aku pura-pura tidur karena disitu ada ayah sama mama." Caterina yang tahu kejadian Steve jatuh dari atas ranjang langsung mencecar Steve.
Steve tersenyum malu.
"Sudah kita tidur ah! Kakak mau ditengah." Steve langsung menggeser badannya ke tengah.
"Ih ntar kita ditendang ah!" Protes Caterina yang pengalaman pernah ditendang Steve.
"He he.. ya udah kakak balik lagi ke kamar. Kalian tidur ya! Masih malam." Steve melengos pergi ke kamar nya daripada memaksakan diri nanti malu lagi harus jatuh.
"Yuk kak tidur lagi?" Ajak Caterina.
"Kakak gak ngantuk Catrin."
"Ya udah Catrin temani kakak. Mungkin kakak ingin cerita?"
"Kakak boleh curhat?" Hana melihat Caterina.
"Ceritalah kak! Kalau dirasa di hati kakak ada unek-unek. Aku dengerin kak!"
Hana membaringkan diri di ranjang. Caterina mulai mengikutinya.
"Dulu sewaktu kakak ditinggalkan oleh ibu. Kakak benar-benar sangat sedih. Sampai sekarang pun belum percaya bahwa ibu sudah meninggal. Mereka seperti ada di sekitar kita."
"Lama-kelamaan kakak pun merasakan ada sesuatu yang hilang. Dan setiap mengingat hal itu kakak selalu ingin kembali seperti dulu. Tapi tetap tak bisa."
"Dari sana kakak baru mengerti arti beratnya merindukan orang yang sudah tiada. Setelah sekian lama ayah hidup sendiri menjadi duda akhirnya beliau memutuskan menikah lagi. Kakak sangat senang dengan kedatangan kak Daniel juga ibunya. Seolah kakak menemukan ibu kembali."
"Sejak pertemuan pertama kami dengan kak Daniel. Dia sangat istimewa bagi kakak. Selain tampan, dia baik juga sayang sama kakak. Waktu itu kakak merasa bahagia mempunyai keluarga lengkap lagi."
"Tapi ayah kakak tidak berumur panjang. Waktu itu kakak kembali bersedih. Anehnya ketika ditinggal sama ayah, kakak merasa seperti kehilangan pegangan. Entahlah mungkin karena seorang ayah adalah pelindung keluarga, jadi kakak begitu merasa rapuh."
"Semua itu harus kakak bawa dan kakak tinggalkan. Kakak berpisah dengan kak Daniel dengan membawa kenangan baikny begitu dengan ibunya. Kakak tidak mengenal dan tak mau menyimpan keburukannya. Kakak lebih memilih keindahan yang mereka warnakan pada hidup kakak."
"Tapi sekarang.. seolah semua yang berharga yang kakak punya seolah sudah diambil seiring mereka pergi. Ya kakak sendirian menyaksikan mereka pergi terlebih dahulu. Andaikan kakak bisa meminta kesempatan. Kakak ingin mereka berkumpul kembali. Tapi tetap kita tak bisa." Hana menitikkan air mata. Terisak menangisi kesedihannya.
"Kak.. jangan sedih! Kita harus ridlo terhadap ketentuan Allah SWT. Kakak sudah mendapatkan gantinya. Kami datang untuk kak Hana." Caterina memeluk Hana dengan erat.
Ruangan itu kini hening. Hana terlelap tidur kembali begitu pun Caterina.
Tuan Hans dan Maria bangun lebih awal. Mereka sudah sibuk di dapur menyiapkan semua kebutuhan di pagi hari.
Steve langsung mengerjap begitu alarm bunyi. Dia segera turun lalu langsung mencuci muka sekedarnya. Dia langsung berlari ke dapur untuk menemui ayah dan mama nya.
"Yah.. ma... Ada yang mau aku bicarakan." Steve memasang mode serius.
Tuan Hans heran melihat putranya dengan masih memakai piyama nya langsung terburu-buru menemuinya.
"Iya ada apa?"
"Yah.. ma.. tadi malam ada telepon dari rutan tempat dimana ibunya kak Daniel ditahan. Mereka mengabarkan bahwa beliau sudah meninggal dunia."
"Apa? Kenapa tidak membangunkan ayah?" Tuan Hans kaget begitu pula Maria. Keduanya saling memandang tak percaya atas berita itu.
"Penyebabnya kenapa?"
"Nanti kita tanyakan pada Hana. Tadi malam. aku lupa menanyakan hal itu. Aku hanya memberitahu kang Gavin untuk meminta kembali bantuannya. Menurut ayah sekarang kita harus bagaimana?" Steve meminta pendapat tuan Hans.
"Menurut ayah, kamu pergilah ke kantor sambil meminta izin bagaiman baiknya. Mereka pasti tahu akan hal ini. Ayah, mama, Hana juga Caterina akan pergi ke sana mengurus segalanya. Sebagai salah satu keluarga yang dicantumkan di data ibunya Daniel kita wajib mengurus jenazahnya sampai dikebumikan."
"Baiklah yah! Aku juga sudah mengirimkan pesan pada Wei. Katanya dia akan datang kesini. Aku mau bersiap-siap dahulu. Oh iya mana Hana sama Caterina? Apakah ketiduran?" Steve tak melihat kedua adiknya ada di dapur ataupun ruang keluarga.
"Coba bangunkan Steve agar bisa bersiap-siap. Kita akan pergi lebih pagi agar tidak terlalu panas." Tuan Hans menyuruh Steve untuk membangunkan keduanya.
"Tuh mereka!" Maria melihat Hana dan Caterina sudah rapih.
"Lah kamu sudah mandi Hana?"
"Kak Hana sudah bisa sedikit menggerakkan kakinya kak. Jadi aku tinggal memapahnya sedikit. Tadi pakai kursi roda sampai ke kamar mandi." Caterina mengabarkan kabar gembira pada semuanya.
"Syukurlah Hana... " Tuan Hans mengusap dadanya sangat bahagia melihat perkembangan Hana.
"Oke kalau begitu kakak mau mandi dan bersiap-siap ya! Jadi keduluan kalian nih!" Steve berlari ke kamarnya lalu mandi dan memakai baju ala kantoran kemeja dan jas yang senada.
__ADS_1
"Yah bikin sarapan yang simple aja!" Jadi gak banyak makan waktu." Saran Maria.
"Oke roti panggang sama dan telur dadar atau daging sapi?"
"Aku pengen daging sapi aja yah!" Caterina request sarapan pagi.
"Aku juga yah.. he he." Hana tersenyum malu.
"Oke. Steve?"
"Aku juga!"
"Wah kompak banget anak-anak ayah!"
"Oke ibu yang panggang rotinya. Ayah yang panggang daging sapinya." Tuan Hans berbagi tugas dengan istrinya.
"Baik."
"Setelah ini kita langsung ganti baju ya!"
"Baik."
"Halo semua selamat pagi!" Wei datang bersama Doni, Rara dan nyonya Kim.
"Ah.. kalian sedang sarapan rupanya." Wei melihat semua sudah duduk rapih dengan segelas air susu dan teh manis. Buah-buahan sudah terhidang dalam piring masing-masing. Mereka sedang menyantapnya.
"Kebetulan kalian datang. Ayo duduk!" Tuan Hans mempersilahkan semua yang baru datang untuk duduk di meja makan.
"Nyonya Kim bisa bantu paman Hans?" Wei meminta nyonya Kim membantu tuan Hans menyiapkan sarapan pagi.
"Baik." Dengan cekatan nyonya Kim tahu apa yang harus dilakukannya.
"Wah kita bertemu lagi ya Don, Rara." Sapa Steve pada Doni juga Rara.
"Iya. Apa kabar tuan Steve nona Hana, apa kabar semuanya?" Doni dan Rara menyapa dan memberi hormat pada semuanya.
"Baik." Steve dan Hana menjawab kompak.
"Wah maaf kalau saya tidak bisa mengingat kalian. Ingatan saya ada hilang." Hana yang merasa asing pada Doni, Rara juga nyonya Kim meminta maaf dan memberikan penjelasan agar mereka tidak salah faham.
"Tidak apa-apa nona. Kami memakluminya." Jawab Doni dan Rara.
"Makanan sudah siap. Ayo makan!" Semua sarapan sudah rapih tersaji. Lalu mereka makan bersama.
"Steve kamu akan berangkat ke kantor?" Wei melihat Steve yang sudah rapih dengan stelan jasnya.
"Iya. Aku mau memberi kabar dahulu pada semua direksi tentang kematian ibunya Daniel."
"Baik. Kamu jangan khawatir aku, Doni dan Rara akan pergi ke sana mengantarkan Hana dan keluarga.
"Kamu mau pakai Alphard?" Tanya Wei pada Steve.
"Iya. Hana butuh ruang yang cukup." Jawab Steve.
"Baiklah. Paman dan bibi bisa ikut mobil saya. Dan Rara juga Doni bisa mengawal Hana di mobil Alphard. Bagaimana?"
"Baik. Bagaimana baiknya."
"Kalau kalian sudah siap kita berangkat sekarang saja mumpung masih pagi." Wei mengajak semuanya untuk bersiap-siap.
"Untuk prepare. Kita akan menginap di hotel saja ya!" Wei memberikan idenya.
"Iya. Kasian kang Gavin kalau harus direpotkan kembali sama kita." ucap Steve.
"Iya baiklah. Kami berangkat dahulu ya! Jaga baik-baik Steve!" Tuan Hans dan yang lainnya bergilir menyalami Steve.
"Kalian juga hati-hati di jalan!" Ucap Steve.
"Kak.. Hana memeluk Steve erat. Wajah sendunya kini nampak jelas. Cobaan demi cobaan datang pada Hana. Dan dia kini harus mengantarkan satu jenazah lagi untuk dikebumikan.
"Bersabarlah! Kamu pasti kuat Hana!" Membalas Hana memeluknya erat.
Mereka pun berangkat beriringan kembali ke kota B. Kota semua kenangan dimana dua orang yang Hana cintai kini telah terbaring di bumi dengan tenang.
Acara pemakaman berlangsung khidmat. Semua orang kembali ke tempat masing-masing.
"Yah.. aku ingin menginap di rumah kang Gavin. Apakah dibolehkan?" Pinta Hana. Entahlah malam ini rasanya lebih nyaman tinggal bersama mereka.
"Aku juga." Caterina ikut-ikutan.
"Sebentar ayah telepon dulu kang Gavinnya. Biar mereka tidak terkejut." Tuan Hans menelponnya.
"Halo kang Gavin."
"Iya tuan Hans. Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf merepotkan. Hana dan Caterina ingin menginap disana. Apa kang Gavin tidak keberatan?"
__ADS_1
"Wah.. kami malah senang kalau kalian semua bisa kembali kesini."