
Dengan wajah kecewa Hana didorong Rara ke kamarnya. Dia berusaha menerima kenyataan bahwa Wei tidak datang sesuai janjinya.
"Tinggalkan aku sendiri! Aku bisa mengganti pakaianku sendiri." Hana berkata pelan.
"Baik nona. Kalau anda memerlukan saya, panggil saja saya!" Ucap Rara yang mengerti kekecewaan Hana. Dia pun mundur keluar dari kamarnya.
Hana menghapus riasan wajahnya lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Malam ini kegembiraannya berubah menjadi kekecewaan seiring waktu yang terlewat tapi orang yang ditunggu untuk datang tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Akankah Hana mengubah pandangannya tentang Wei? Entahlah.. Hana hanya ingin berdamai dengan keadaan. Dia memilih berbaik sangka daripada harus menelan kecewa terlalu dalam.
Setelah mengganti pakaiannya ke model tidur. Hana membaringkan tubuhnya di atas ranjang King size miliknya.
Kalau memang tidak bisa datang kenapa tidak mengabari? Kamu sudah memberikan harapan palsu jika caranya seperti itu. Meski kecewa aku ingin tidak melebih-lebihkan kejadian ini. Lebih baik mulai sekarang aku tidak banyak berharap padanya.
Hana berbicara sendiri. Satu sisi dia menyesalkan sikap Wei yang menggantung harapan. Satu sisi dia menerima setiap kejadian yang datang dengan ikhlas. Ini bukan sesuatu yang mesti Hana sikapi berlebihan. Setiap orang diuji dan menguji. Apakah kejadian seperti ini akan menyurutkan perasaan sukanya pada Wei. Tentu tidak. Hana menganggap ini sebagai latihan mental menuju pernikahan.
Hana tak ingin hatinya terlalu banyak berharap seperti sekarang ini. Seharusnya dia tidak berlebihan menanggapi pembicaraan Wei yang akan menemuinya malam ini agar hatinya tidak terlalu kecewa. Tapi.. Hana begitu senang ketika melihat sikap Wei yang mulai menghangat menyambut rasa sukanya yang selama ini disimpannya. Apalagi dia bermaksud pendekatan padanya, tentu. itu akan disambut dengan tangan terbuka oleh Hana. Ibarat bersambut dayung.
Hana memejamkan mata berusaha berkompromi dengan kedua bola matanya agar segera pergi ke peraduan dan melupakan kejadian yang baru saja diterimanya yang berujung kecewa.
Lampu-lampu mulai dipadamkan dan penghuni rumah masing-masing masuk ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat begitu oun Steve.
Steve seakan merasakan kekecewaan Hana. Dia masih membuka mata merasa hatinya agak dongkol mempercayai janji Wei begitu saja. Padahal kalau dia tidak berlebihan menyambut Wei, mungkin hatinya sekarang tidak terlalu kecewa. Tapi apalah daya, semuanya tak akan ada yang tahu bahwa Wei tak kunjung datang.
flashback
Wei sudah menyiapkan diri. Dia tak ingin penampilannya terlihat biasa malam ini. Dia memakai jas dengan dasi kupu-kupu. Bercermin memastikan dirinya tampil lebih baik.
Wei membuka laci nakas dan mengambil sebuah kotak kecil yang berbentuk love. Lalu membuka kotak itu, dan melihat isinya, kedua ujung bibirnya terangkat dengan senyuman. Ada perasaan yang tak bisa digambarkan saat ini. Senang, bahagia dan tenang. Semua impiannya kini akan terwujud sebentar lagi.
Wei dengan mantap, menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan. Malam ini akan menjadi sejarah dalam hidupnya yang tidak pernah dilupakannya.
Wei berjalan keluar kamarnya menuruni anak tangga satu persatu sampai anak tangga itupun habis dituruninya.
"Wei.. kamu.. akan pergi?" Ibunya Wei menatap putranya dari atas sampai bawah. Dia melihat penuh keheranan.
"Iya."
"Serapih ini? Apa ada acara resmi?" Ibunya Wei masih melongo melihat penampilan putranya ibarat bintang yang akan menerima award. Selain penampilannya yang rapih dia juga membuat model rambut blondenya terlihat klimis. Ditambah bau parfum nya pun agak sedikit lebih membuat ruangan yang dilewatinya seperti mengguar cepat menebarkan aroma parfum nya dengan cepat.
"Mmm.. aku minta izin ya ma. Malam ini aku akan ke rumah Steve. Aku minta doanya." Wei segera meraih punggung ibunya lalu menciumnya penuh hormat.
'Ka.. kamu akan melamar wanita itu?" Ibunya Wei terhenyak. Padahal sebelumnya dia telah mengizinkan Wei menikahi Hana tapi entahlah malam ini sepertinya dia tak rela harus ditinggalkan anak sulungnya untuk berkencan dan akan melakukan lamaran.
"Iya ma." Jawab Wei pendek.
Kepala ibunya Wei agak berputar dan tak lama kemudian tubuhnya ambruk begitu saja. Untung Wei dengan cepat menangkapnya. Dai merengkuh wanita yang sangat dicintainya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Adek.. tolong kakak." Wei yang menyadari bahwa ibunya sekarang pingsan di pangkuannya.
"Ada apa nih?" Adik perempuan Wei kaget melihat ibunya tergeletak dalam pangkuan kakaknya.
"Tolong panggilkan pak satpam. Kakak mau membawa mama ke rumah sakit." Wei rupanya tidak ingin menyesal dengan kejadian dulu sewaktu ayahnya sakit. Dia ingin ibunya langsung ditangani langsung oleh dokter.
"Iy ya kak.. " Dia menjawab dengan gugup. Dan langsung lari ke depan untuk memanggil satpam di depan rumahnya.
"Kenapa nyonya tuan muda?" Dua orang satpam langsung berlari ke dalam rumah begitu mendapat panggilan dari majikannya.
"Dia pingsan. Bapak bantu mengangkat ibu saya. Dan adek... tolong bukakan pintu mobil. Kita akan segera ke rumah sakit." Wei menginterupsi.
"Baik kak." Dia menerima kunci mobil dan langsung menekan tombol kunci otomatis. Dia membuka pintu belakang untuk meletakkan ibunya di jok belakang. Adiknya Wei langsung masuk untuk menemani ibunya. Sedangkan Wei lari ke arah depan membuka pintu lalu duduk di depan kemudi.
Tak lama kemudian dia membawa ibunya ke rumah sakit terdekat untuk ditangani. Wei sadar betul bahwa dia mempunyai janji dengan Hana. Tapi dia harus memilih antara mendahulukan ibunya atau dia harus menunaikan janjinya.
Cuman kesalahan Wei adalah tidak memberi kabar mengenai masalahnya sehingga Hana dan Steve menunggu dalam harapan yang tak pasti.
"Bagaimana dok keadaan ibu saya?" Cemas Wei yang tak bisa menunggu lama penerangan dokter.
"Ibu anda cuman syok. Jantungnya agak lemah juga tekanan darahnya hanya 90/80.Dia butuh istirahat dan tidak stress." Itu yang dikatakan dokter mengenai kesehatan ibunya.
__ADS_1
Wei sedikit agak tenang. "Terima kasih dok!" Ucap Wei agak membungkuk memberi hormat.
"Iya sama-sama."
Wei duduk di tepian kasur melihat wajahnya ibunya yang sedang tidur setelah tadi mendapatkan pertolongan pertama dan mendapatkan infusan bercampur dengan vitamin.
Wei melihat jam tangan yang sedang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjuk pada angka sepuluh.
"Waduh.. gimana ini?" Wei bingung.
"Kakak.. pergilah jika sudah mempunyai janji! Tapi diusahakan tidak lama-lama takut mama menanyakan kakak." Pinta adiknya Wei yang mengerti kebingungan kakaknya.
"Baik. Kakak pergi dulu sebentar. Nanti kakak pulang lagi ke sini."
"Iya hati-hati kak!"
"Mmmh." Jawab Wei pendek.
Wei setelah berlari menuju tempat parkir dan melakukan kendaraannya menuju tempat tinggal Steve juga Hana.
Tak lama kemudian mobilnya sudah ada di gerbang Villa Steve.
"Apakah mereka sudah tertidur?" Wei melihat ke dalam rumah itu dari dalam mobilnya.
'Tapi aku harus keluar dan mesti menjelaskan semuanya." Steve berbicara dalam hati.
Dia keluar dari dalam mobilnya lalu menekan nomor Steve.
Tut
Tut
Tut
"Halo Steve." Wei menajamkan telinganya.
"Aku sudah di depan rumahmu. Bolehkah Aku masuk? Aku mohon maaf tidak bisa menepati janjiku pada Hana. Tadi Ibuku masuk rumah sakit." Wei langsung to the point agar Steve tidak salah paham.
"Baiklah. Tunggu sebentar biar penjaga membukakan pintu untukmu!" Steve yang kebetulan belum tidur menyuruh penjaga keamanan rumahnya untuk membukakan pintu gerbang agar mobil Wei bisa masuk ke halaman rumahnya.
Steve turun dari ranjangnya lalu berjalan keluar kamarnya menuju kamar Hana yang berniat membangunkan Hana.
Tok
Tok
Tok
Steve mengetuk pintu meminta izin masuk. Tapi dari dalam kamar Hana tak ada jawaban.
Steve membuka pintu kamar Hana. Dia menduga adiknya sudah tertidur lelap. Benar saja Hana sudah tertidur.
Steve duduk di tepian kasur Hana.
"Hana.." Steve menepuk pelan tangan Hana agar terbangun. Hana mengerjapkan matanya. Dia menyipitkan matanya yang belum sempurna terbuka.
"Ada apa kak?" Setelah mengetahui siapa yang membangunkan dirinya, Hana menanyakan maksud Steve membangunkan dirinya.
"Wei.. sudah datang. Sebaiknya kau bersiap. Katanya.. ibunya ke rumah sakit, jadi dia telat datang ke sini." Ucap Steve menyampaikan berita keterlambatan Wei.
"Kenapa tidak besok saja kak?" Hana masih mengantuk pikirannya belum bisa sepenuhnya berpikir jernih.
"Sudahlah temui dia! Kasian Wei, dia berusaha menunjukkan padamu kesungguhannya." Steve memberikan saran pada Hana untuk segera menemui Wei.
"Baik kak. Saya akan mengganti pakaian dulu. Malu memakai pakaian tidur."
"Biar kakak bantu. Mana yang mau kau pakai?" Steve membuka lemari pakaian Hana.
"Menurut kakak pantas saja. Aku akan memakai nya." Karena ini sudah malam, tidak pantas memakai pakaian seperti yang tadi Hana gunakan.
__ADS_1
"Baiklah. Kakak lebih suka kamu memakai pakaian yang ini saja. Lebih sopan juga tidak terlalu mewah. Yang penting rapih dan sopan." Steve memilihkan baju warna coklat moka.
"Baik kak. Aku mau mencuci muka dulu." Hana ingin mencuci muka terlebih dahulu sebelum bertemu Wei agar tidak terlihat memalukan.
"Baik kakak bantu biar cepat." Steve langsung mengangkat Hana ke kursi roda dan membawanya ke kamar mandi. Dia mengelap area wajahnya dengan waslap dan mengeringkan dengan handuk.
Lalu Hana mengganti pakaiannya sendiri tanpa bantuan Steve. Setelah siap Steve kembali mendorong Hana ke meja rias menyisipkan rambutnya dan sedikit memberi bedak tipis agar tidak terlihat pucat.
"Kamu sudah siap?" Steve melihat Hana sudah rapih.
Hana mengangguk tersenyum.
Steve mendorong kursi roda Hana ke ruang tamu. Disana Wei sudah menunggu Hana. Kini pakaiannya tidak serapih tadi. Bahkan dasi kupu-kupunya pun sudah Wei copot. Tapi pada dasarnya memang tampan, Wei masih memperlihatkan ketampampanannya walau dengan wajah yang sedikit lelah.
"Hana.." Wei berdiri begitu Hana ada di depannya.
"Duduklah kak!" Hana menyuruh Wei duduk kembali.
"Maafkan aku ya! Mungkin kedatanganku sudah mengganggu kalian. Aku tadi tidak sempat mengabari karena panik ibuku masuk rumah sakit." Wei terlihat merasa bersalah. Dalam wajah lelahnya dia masih terlihat menarik.
"Tidak apa-apa kak Wei.. Kalau kakak merasa lelah kenapa kakak tidak beristirahat saja. Besok kan masih bisa bertemu." Ucap Hana merasa kasihan. Dia tahu kesungguhan Wei semenjak kecelakaan yang kemarin Hana dirawat di rumah sakit.
"Kak Wei sudah makan?" Hana mengkhawatirkan Wei.
"Tidak usah, ini sudah malam. Aku juga tidak akan lama Hana. Setelah ini juga akan kembali ke rumah sakit." Ucap Wei tidak mauenyia-nyiakan waktu yang sebentar.
"Kalau begitu minumlah dulu teh hangat itu! Juga cemilannya agar perut kakak tidak kosong." Untungnya tadi pelayanan telah menyuruh Wei dengan minuman teh hangat juga camilan yang bisa untuk mengganjal perutnya.
"Baik." Wei menyeruput teh hangat itu. Rasanya melegakan tenggorokan dan menghangatkan perutnya.
"Hana.. "
"Iya."
Wei berdiri lalu mendekati Hana lalu duduk di lantai meraih tangan Hana dan menggenggam tangannya.
Jantung Hana berdebar-debar begitu tangannya digenggaman Wei. Wei mengusapnya dengan lembut. Lalu menatap Hana dengan penuh damba.
"Aku sudah lama menyukaimu, tapi aku tak bisa bebas menyatakan hatiku Hana." Ungkap Wei jujur.
Desiran-desiran aneh membangunkan semua bulu-bulu halus membuat pori-pori Hana seperti duri.
"Baru sekarang aku bisa berbicara seperti ini padamu. Padahal sudah sejak lama aku berharap mempunyai kesempatan untuk bisa mengungkapkan isi hatiku."
"Apakah kamu memaafkanku Hana?" Ucap Wei dengan tatapan serius. Begitu pun Hana dari tadi sepasang netranya memperhatikan wajah tampan yang ada di hadapannya.
Hana mengangguk bahagia. Hana tersenyum bola matanya berkaca-kaca menahan haru apa yang diungkapkan Wei padanya.
"Aku mohon maaf jika datang terlambat. Tapi aku tak ingin lagi kehilanganmu Hana. Maka dari itu, mau kah kamu jadi pendamping ku, hidup selamanya denganku?" Akhirnya semua beban yang ada dalam Wei keluar sudah dengan mengungkapkan niatnya melamar Hana.
Taburan bunga dan bintang sepertinya sedang berkumpul di atas kedua insan yang sedang bertatapan ingin menyatukan tali yang terpisah menjadi satu, dengan ikatan cinta dan kasih sayang yang lebih sakral.
Hana tersenyum, mengangguk mengiyakan permintaan Wei yang sedari dulu didambakannya.
"Iya kak.. aku mau." Ini adalah malam bersejarah yang diukir Hana dalam hidupnya. Dimana penantian lamanya akhirnya berujung juga.
"Terimakasih kamu sudah mau menungguku begitu lama dan setia dengan cintamu. Bolehkah aku memelukmu?" Wei merasa bahagia menemukan apa yang seharusnya dari dulu dia lakukan.
Hana mengangguk mengizinkan Wei memeluk dirinya dalam segenap cinta yang sedang membuncah.
Wei meninggikan posisinya yang tadinya bersimpuh lalu memeluk Hana dengan bahagia. Ini adalah pertama kalinya dia memeluk perempuan dengan perasaan yang penuh arti.
Oh.. beginilah mungkin rasanya bahagia jatuh cinta
Hana membalas pelukan hangat Wei dengan penuh rasa kebahagiaan. Laki-laki yang selalu ditatapnya dari jauh dan selalu diimpikan dalam cita, kini ada dalam pelukannya.
Perlahan setelah puas memeluk Hana, Wei melonggarkan lengannya. Lalu menatap Hana dengan penuh cinta. Jemarinya mengusap pipi Hana dengan lembut. Sepasang Netranya mengamati detail wajah perempuan yang akan menjadi pendamping hidupnya dengan penuh kagum. Kini perlahan jemarinya turun mengusap bibir Hana yang merah alami, netranya tajam mengamati bagian itu.
Wajah Wei kian mendekat lalu perlahan Wei me*** bibir Hana awalnya hanya kecupan, tapi perlahan seperti menuntut lebih. Hana yang terbuai dengan kecupan itu, pun menyambutnya dengan hangat membalas setiap gerakan bibir Wei.
__ADS_1