Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Terjebak


__ADS_3

"Maaf yah, sebaiknya ayah fokus dulu untuk acara Hana. Kita akan mengundang calon besan ke rumah kita." Steve mengatakan rencananya pada tuan Hans.


"Baik. Kapan kita akan bertemu?"


"Rencananya besok malam kita akan mengundangnya ke rumah."


"Baik. Atur-atur saja! Bagaiamana baiknya." Tuan Hans tidak banyak protes.


"Baik."


"Oh iya yah.. biarkan Caterina diantar sopir untuk pergi ke Bandung." Steve yang mendengar Caterina akan pergi ke Bandung.


"Lho.. kan kita akan bertemu besan. Kenapa Caterina diantar ke Bandung?" Tuan Hans agak heran melihat Steve.


"Mmm... begini yah. Aku khawatir dengan penampilan Caterina seperti itu akan mengubah persepsi besan kita tentang Hana yah?" Ucap Steve tanpa mengindahkan bahwa tuan Hans akan tersinggung.


"Steve... " Tuan Hans terlihat kecewa dengan omongan Steve.


Steve terdiam.


"Kalau dia besan yang baik, dia akan menerima keluarga kita apa adanya. Kalaupun besan kita tidak sreg dengan keluarga kita itu pilihannya. Kenapa kita harus terbebani dengan hal itu Steve?" Tuan Hans berusaha menengahi permasalahan.


"Tapi yah.. kasihan Hana. Dia sudah cukup menderita selama ini. Kalau pernikahannya tidak jadi, Bagaimana?" Bela Steve dengan prinsipnya. Keluarga Wei memang sama-sama penganut nasrani. Steve khawatir pandangannya jadi berbeda ketika melihat penampilan Caterina seperti itu.


"Ini pandangan kamu atau pandangan besan kita Steve? Kok ayah melihat kamu yang seperti tidak suka pada Caterina?" Tuan Hans mengerutkan dahi ingin sekali marah pada Steve. Tapi dia berusaha menahannya.


"Ya sudahlah yah.. kalau ayah maunya begitu. Aku tak bisa apa-apa." Steve sedikit murung melihat wajah ayahnya marah tertahan.


Keduanya diam. Sama-sama mendinginkan kepala agar tidak emosi.


"Yah.. ayah.. " Suara Caterina begitu nyarjng terdengar.


"Iya sayang.. ayah disini.. " Tuan Hana menjawab panggilan anaknya.


"Yah... barusan kang Raffa menelpon. Katanya kalau ayah sama mama sibuk kang Raffa bisa mengantarkan Caterina meliaht-lihat sekolahnya." Di balik cadarnya Caterina sangat bahagia.


"Oh.. begitu? Sabar aja ya nak! Nanti ayah sama mama akan mengantarkan kamu ke sana kok! Tapi ayah mau mengurus dulu kakakmu Hana. Bolehkan?" Tuan Hans menoleh pada Caterina.


"Iya. Yah.. apa yang bisa Caterina bantu yah?" Anak itu tidak manja lagi seperti sebelum-sebelumnya.


"Bantu kak Hana. Tanyakan sama kak Hana apa yang mesti dibantu." Tuan Hana tersenyum pada Caterina.


"Iya yah. Aku masuk lagi ya!" Caterina masuk ke dalam rumah.


Sementara itu Hana sibuk mengurus berbagai keperluan untuk hari pernikahannya bersama mama Maria. Mulai dari catering, baju pengantin, dekorasi juga fotografer. Ditambah kartu undangan dan merchandise pernikahan.


Caterina membantu mencatat siapa saja yang akan diundang juga dan menghubungi IO pernikahan.


"Wah... gimana kak rasanya mau menikah?" Ucap Caterina.


"Mmm.. senang, bahagia juga deg-degan." Ucap Hana pada Caterina.


"Kenapa? Mau sekarang?" Hana balik menggoda Caterina.


"He he.. kalau sudah ada calonnya sih mau?" Caterina dengan polosnya mengatakan seperti itu.


"Ishhh... sekolah saja belum tamat mau menikah!" Imbuh mama Maria.


"Ya.. kan namanya juga jodoh ma. Jodoh kan datang tak diundang pergi tak diantar." Caterina tersenyum mendengar isi bicaranya sendiri.


"Ih... kok kaya jelangkung sih?" Hana nyengir takut.


"Salah ya?" Caterina terkekeh di dalam cadarnya.


"Yang ada jodoh itu ditangan Tuhan sayang.." Hana mengelus bahu Caterina.


"Good... " Caterina mengacungkan jempolnya pada Hana.


Di lain tempat Wei sedang berbicara dengan Ibunya, nyonya Rosa.


"Ma.. besok malam orang tua Hana mengundang kita makan malam di rumahnya." Terang Wei.


"Wei.. ingat pesan mama. Kamu boleh menikah dengan Hana kalau kamu juga menikahi Riana." Ibunya Wei tidak langsung memberikan jawaban.


"Ma... " Wei kecewa dengan penuturan Ibunya.


"Terserah kamu Wei. Kalau kamu tidak mau, maka restu mama juga tidak ada." Nyonya Rosa benar-benar serius.

__ADS_1


"Kenapa sih ma, mama terus-menerus memaksa Wei menikahi Riana. Mama kan sudah membaca hasil dari dokter bahwa kami baik-baik saja." Ucap Wei tak habis pikir dengan jalan pikirannya.


"Begini Wei.. kamu sedang suka-suka nya sama Hana. Orang yang sedang jatuh cinta, kesadarannya rendah. Jadi mama harus mengambil alih apa yang kamu tidak sadari. Ingat Wei dengan kamu menikahi Riana, tugas Hana jadi sedikit lebih ringan. Meski dia cacat atau tidak mempunyai anak, itu tidak jadi masalah untuk keturunanmu kelak. Kamu harus sadar, menjadi istri pengusaha itu tanggungjawabnya berat Wei." Ibunya Wei tak henti-hentinya memberi alasan membuat Wei lelah.


"Mama akan datang besok. Tapi tanda tangan ini dulu!" Ibunya Wei menyodorkan sebuah kertas perjanjian.


Wei membaca poin demi poin yang harus dilakukannya di kertas itu.


"Mama kok tega banget sih?" Dada Wei terasa sesak.


Tidak pusing bagaimana, ibunya mengajukan Wei untuk menikahi Riana terlebih dahulu sebelum Hana.


"Mama tidak bisa memegang janjimu Wei. Bisa saja kamu akan mengelak dan lari dari Riana. Makanya kamu harus menikahi Riana lebih dahulu baru mama akan menghadiri makan malam dengan Hana."


"Ma.. jangan membuat pilihan sulit begini. Wei tak sanggup untuk menyakiti keduanya." Wei mengusap kasar wajahnya, tak tahu harus bagaimana lagi.


"Terserah kamu mau atau tidak. Kalau kamu mau memutuskan pernikahan dengan Hana karena takut menyakitinya, putuskan dari sekarang! Mumpung masih ada waktu. Tapi kalau kamu tidak mau kehilangan Hana, makan nikahi keduanya. Riana sudah sanggup jika kamu harus berbagi cinta. Riana cinta banget sama kamu Wei. Bahkan dia sanggup untuk mengorbankan dirinya demi kamu." Ucap Nyonya Rosa.


"Tapi itu bukan cinta ma.. itu obsesi. Riana menutup mata dari akal sehatnya." Wei mencoba menerangkan pada Ibunya agar bisa mengerti dengan keadaannya.


"Silahkan mama tunggu keputusnmu sebelum makan malam bersama calon besan. Ibunya Riana pun sudah setuju jika kamu menikahi Hana dan juga putrinya." Ibunya Wei berdiri dari meja makan melangkah ke kamar.


Tinggal Wei seorang diri. Dia sedang berpikir bagaimana mengubah pendirian para wanita-wanita keras kepala ini.


Wei mengambil handphonenya lalu menelpon.


"Halo."


"Halo Wei." Suara dia sebrang telepon terdengar bahagia begitu mendengar suara Wei menelponnya. Itu sangat jarang dilakukannya.


"Apa kamu ada waktu sekarang? Kita ketemua di cafe xxx. Setengah jam dari sekarang." Ucap Wei langsung menutup teleponnya.


Riana langsung bersiap-siap begitu Wei mengajak ketemuan dengan dirinya.


Setengah jam kemudian Riana sudah datang lebih dulu dari Wei. Entah apa yang direncanakannya.


"Hai.. "


"Hai.. "


"Duduk!" Wei mempersilahkan Riana duduk kembali.


"Kebetulan aku tadi ada di sekitaran sini. Pas kamu janjian ya.. pastinya aku lebih cepat dari kamu." Jawab Riana.


"Maaf Ri.. aku ingin bicara sama kamu mengenai pernikahan." Wei tak bisa lagi menolak ibunya. Jalan satu-aatunya adalah mempengaruhi Riana agar dia bisa sadar dari kekeliruannya.


"Ya bicaralah!"


"Kamu tahu, bahwa aku mencintai Hana. Dan aku tak mau menyakitinya Ri." Ucap Wei sambil menatap Riana serius.


"Mmm.. ya aku tahu. Tapi kamu hanya memikirkan dirinya saja tanpa peduli bahwa aku pun tersakiti." Riana yang sudah sejak lama menyukai Wei tak mau mengalah.


"Iya. Aku tahu. Sejak dulu kamu sudah menyukai aku. Tapi.. aku tak bisa menerima cinta kamu Ri.. " Wei menegaskan perasaannya pada Riana.


"Iya aku juga tahu. Tapi please.. Aku hanya butuh kamu Wei. Tak apa jika kamu hanya mencintai Hana dan tidak mencintai aku, yang penting kamu menikah dengan aku Wei.. aku tak peduli kamu mau mencintaiku.. yang penting aku akan tetap mencintai kamu sampai kapanpun." Riana sama-sama keras dengan ibunya.


"Ri... cobalah membuka diri untuk laki-laki lain. Laki-laki di dunia itu bukan hanya aku saja. Biarkan matamu memandang yang lain agar tidak terobsesi terus-menerus padaku!" Wei sudah menilai, cinta Riana adalah sebuah obsesi.


"Aku sudah coba Wei.. tapi tak bisa." Riana menunduk.


"Bu.. ini pesanannya." Seorang pelayan menyodorkan dua minuman yang biasa Riana dan Wei pesan di cafe itu.


"Aku tak bisa menyakiti perasaan kamu dan Hana sekaligus. Ini pernikahan buka main-main Ri. Cobalah mengeri! Kamu berhak menemukan laki-laki yang lebih baik dari aku dalam segala hal. Asal kamu mau membuka diri." Wei tanpa sadar telah meminum minuman yang tadi dipesankan.


"Ya.. aku sudah coba. Tapi tetap hati aku tak bisa pindah Wei." Ucap Riana sambil mengamati perubahan di wajah Wei.


Lima menit kemudian Wei sudah tidak sadarkan diri. Dua laki-laki berbadan tegap segera membopong Wei ke satu mobil.


Di pagi hari, Wei mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Pagi Wei.. " Suara seksi Hana menyapa Wei.


"Riana.. " Wei melihat penampilan Riana seperti tidak berbusana. Bahunya terlihat terekspos. Lalu Wei melihat dirinya sendiri.


"Apa yang terjadi denganku Riana? Kenapa aku.. seperti ini?" Wei agak malu melihat dirinya tak berbusana.


"Kamu lupa semalam ya Wei?"

__ADS_1


"Lupa apanya?" Wei benar-benar tidak ingat apapun.


"Coba lihat video ini? Apa rekayasa?" Ucap Riana tersenyum licik.


"Kamu merekam? Berarti ini sudah direncanakan?" Wajah Wei merah karena marah.


"Kalau tidak begini, kamu tak akan mau sama aku Wei." Ucap Riana.


"Aku benar-benar terobsesi Riana. Kamu gila!" Wei akhirnya mengatakan hal yang kurang pantas pada Riana.


"Terserah kamu Wei! Kamu mau mengatakan kepadaku apa. Apa kamu mau video ini dikirimkan pada Hana?" Ancam Riana yang sekarang mengeluarkan sifat aslinya.


"Ah... " Wei berteriak.. impiannya bersama Hana kini hancur. Setelah Riana dan ibunya merencanakan kegagalan pernikahannya.


Wei tak mau bertemu siapapun, termasuk ibunya. Dia pergi ke pantai untuk mendinginkan suasana hatinya. Apa yang harus dilakukannya kini? Bagaimana kalau Riana hamil? Dalam video itu jelas-jelas bahwa dia menyentuh Riana.


Apa aku bicara terus terang saja pada Steve dan juga Hana? Berharap mereka akan mengerti keadaanku.


Berbagai macam ide sedang dipikirkan Wei. Pada akhirnya Wei memutuskan sesuatu.


"Steve.. bisakah aku bertemu dengan mu sekarang? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Steve." Sebuah pesan langsung terkirim.


Tanda centang biru langsung terkirim.


Kring


Kring


"Steve.. " Suara Wei terdengar serak.


"Kamu dimana Wei? Kamu sakit?" Sura Wei terdengar seperti orang sakit.


"Aku dipantai xxx. Bisakah kita bertemu Steve? Aku butuh kamu sekarang." Wei dengan nada memohon meminta Steve datang ke tempat yang tadi di sebutkan.


"Oke.. oke. Aku pergi sekarang nanti kalau sudah dekat Sherlock ya! Kamu tenang ya Wei!" Steve batu kali ini mendengar suara Wei seperti patah semangat.


"Baik aku tunggu Steve."


"Baik. Kamu jangan kemana-mana!"


Wei menutup teleponnya.


Demi kebaikan bersama Wei akan bicara baik-baik mengenai keputusannya. Dia berharap Steve akan mengerti akan kesulitannya yang mungkin dikemudian hari akan menjadi masalah untuk Hana.


Tiga puluh menit kemudian Steve sampai di tempat yang dituju. Dari kejauhan dia melihat Wei sedang duduk di pinggir pantai. Dia menghampiri Wei yang sedang menatap laut lepas dengan tatapan kosong.


"Wei.. kamu kenapa?" Steve menatap heran pada Wei yang wajahnya seperti lipatan kertas kusut.


"Duduklah! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Steve." Wei mendongak ke atas melihat Steve berdiri.


Steve mengikuti arahan Wei, dia duduk di samping Wei.


Steve mengikuti Wei menatap ke laut lepas. "Ada apa Wei? Kamu ada masalah?" Steve menoleh ke samping. Penampilan Wei tidak seperti biasanya. Sekarang belain kusut wajahnya pun murung.


"Steve maafkan aku ya!" Sekian lama berpikir Wei.. memulai dengan kata maaf.


"Maaf kenapa Wei?" Perasaan Steve tidak tenang melihat Wei bersikap seperti itu.


"Aku sepertinya tidak bisa menikahi Hana." Dengan berat hati Wei mengatakan hal itu pada Steve.


"Apa???" Suara Steve melengking karena kaget.


"Tenang dulu Steve! Aku belum selesai." Wei sudah menduga kalau Steve akan beraksi seperti itu ketika dia mengungkapkan isi pikirannya.


"Iya tapi... kenapa??" Steve tak habis pikir kenapa Wei memutuskan perkara serius seperti main-main.


"Aku tak punya pilihan lain Steve. Aku tak mau menyakiti Hana. Jika Hana menikah denganku, ibuku tak akan tinggal diam untuk merusak rumah tangga kami Steve. Aku.. tak punya pilihan selain melepaskan Hana daripada nantinya akan menderita." Wei menangis sedih sesenggukan. Perasaan hancur dan sedih kini sedang menyelimuti diri Wei.


"Maksudnya bagaimana Wei? Bukankah kemarin-kemarin ibumu tak apa-apa jika kamu menikah dengan Hana? Lalu kenapa sekarang jadi begini? Jelaskan padaku Wei. Aku tak mau adikku hancur hatinya Wei." Sudah bisa dibayangkan bagaimana malunya keluarga Hana jika pernikahannya sampai gagal.


"Sebelumnya, ibuku sudah memberi syarat Steve. Aku boleh menikah dengan Hana dengan syarat aku juga harus menikahi Riana. Waktu itu aku pernah menanyakan alasannya. Kenapa? Ibuku takut kalau Hana tidak bisa memberikan keturunan. Makanya aku harus menikahi Riana juga untuk memperoleh keturunan."


"Sudah kuduga Wei. Aku sangat khawatir jika Hana tak bisa diterima oleh Ibumu dengan kondisi seperti itu." Steve menghela nafas panjang.


"Aku sudah berusaha membuktikan bersama Hana, bahwa kami baik-baik saja secara medis. Tapi ibuku tetap bersikukuh untuk menikahkan aku dengan Riana. Sampai-sampai dia dan Riana merencanakan hal buruk." Wei harus jujur meski akibatnya akan pahit.


"Maksudnya?

__ADS_1


"Mereka menjebakku Steve."


__ADS_2