Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Keyakinan


__ADS_3

"Hhmm. Liat aja di KTP nya apa? Emang ada apa sih nanyain itu segala?" Sandi agak sedikit heran dengan pertanyaan Raffa. Selama ini Raffa jarang banget mempertanyakan sesuatu dengan detail, apalagi mengenai tentang kepercayaan seseorang yang dianggapnya sangat sensitif.


"Oh iya gue lupa. Ini kaka gue lagi lagi bikin data. Gue suruh nanyain soalnya bu Restu lupa mungkin tidak mengisi kolom itu." Terang Raffa berbohong. Padahal dia sendiri sedang bingung, bagaimana caranya untuk mengetahui apa yang sebenarnya bu Restu anut. Ya dalam keterangan sih Islam, tapi Raffa sendiri memang tidak yakin kalau bu Restu apa pernah menjalankan apa yang diyakininya.


"Kenapa gak langsung ditanyai sama orangnya juga?" Sandi masih menaruh curiga. Apa yang dikatakan Raffa tidak pantas dia percaya begitu saja.


"Iya. Kali handphonenya lagi dicas, gak aktif. Kebetulan kakak gue lagi bincang-bincang nih dengan gue, dia gak maksud apa-apa kok." Terang Raffa kembali menutupi maksud dan tujuannya.


"Oh gitu." Sandi tak ingin memperpanjang bahasan dengan Raffa.


"Oh iya San, gue udahan dulu yah! he he nih lagi ngobrol sama kakak sepupu gue. Gak enak dia nganggur terlalu lama." Raffa mengakhiri pembicaraan dengan Sandi.


"Oke. Ntar gue telpon ya kalau lu udah rehat." Sandi pun mengizinkan Raffa untuk mengakhiri pembicaraan dengannya.


"Yuk, bay." Raffa menutup handphonenya. Dia menggelengkan kepala. Menatap wajah Gavin yang sedari tadi sedang menunggu penasaran.


"Gak apa-apa, mungkin nanti teh Sari akan mencari cara untuk mengetahuinya." Gavin menepuk bahu Raffa, lalu berlalu meninggalkan Raffa di ruang makan. Raffa termangu sendirian.


Sementara itu Sari sedang di dalam kamarnya, sedang membereskan beberapa baju dalam lemari yang terlihat agak berantakan. Gavin masuk kamar setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


'Kaya lagi bingung?" Sari melirik sebentar pada suaminya lalu kembali membereskan baju-baju dalam lemari. Gavin menghempaskan tubuhnya di kasur, melipat tangan di bawah kepalanya sambil menerawang ke langit-langit kamarnya.


"Akang bingung, satu sisi Bu Restu sudah dikenal Raffa, tapi tetap saja hati akang tidak tenang." Gavin sedang mengungkapkan kegundahannya.


"Maksud akang tentang amnesia bu Restu?" Sari menghentikan pekerjaannya.


"Ya, semuanya. Akang belum pernah menerima pekerja secemas ini de." Manik matanya menatap Sari dengan penuh kelembutan.


Sari mendekati Gavin dan duduk di samping ranjang lalu tersenyum dengan wajah tenang. Wajahnya yang cantik yang selalu dirindukan Gavin, ketika dia sedang mengalami kegalauan.


"Tenang kang, minta tolong sama Allah SWT! Jika ini untuk kebaikan, semoga Allah mudahkan aegalanya. Insyaallah nanti ade pendekatan secara perlahan. Akang bantu dengan doa semoga tidak ada apa-apa dengan kekhawatiran kita ini." Sari mengusap dada suaminya dengan lembut. Gavin menarik tangan Sari ke arahnya, lalu memeluknya dengan erat. Ada rasa damai yang mereka rasakan. Gavin perlahan menciumi ubun-ubun istrinya, lalu turun ke kening, dan selanjutnya kehangatan antara suami istri pun berlangsung. Sari yang tahu suaminya sedang menginginkannya membalas setiap gerakan suaminya. Sari memang mempunyai tekad tak ingin membuat suaminya kecewa. Dia bercita-cita ingin menjadi bidadari di dunia dan di akhirat buat Gavin. Ya Sari merasa beruntung mendapatkan Gavin, secara fisik yang hampir sempurna juga secara karakter Gavin seorang laki-laki yang lebih dewasa dari umurnya. Sejenak pikiran mereka teralihkan dengan pergulatan panas di atas kasur. Sepasang insan sedang menikmati syurganya dunia yang dilandasi ibadah.


Sementara itu Hana yang sudah kelelahan tertidur di atas kasur dengan nyenyaknya. Sudah lama dia tak merasakan ketenangan seperti ini.


Lalu samar-samar terdengar seseorang mbaca Al-Quran dengan alunan merdu. Suara yang mengalun syahdu datang dari atas sebuah balkon. Suaranya begitu menenangkan jiwa yang mendengarnya. Begitu pun Hana yang sedang terlelap tidur seolah suara itu masuk ke relung jiwanya yang paling dalam.


Hana melihat seseorang yang dulu pernah dikenalinya. Wanita yang pernah hadir dalam hidupnya, tak lain adalah ibunya.


Dia sedang duduk termenung di sebuah taman sendirian. Wajahnya terlihat murung. Lalu dalam mimpinya Hana berjalan mendekati tempat duduk ibunya.


"Ibu... " Hana memanggilnya. Sosok yang di depannya menoleh lalu menatap tajam wajah Hana.


"Ibu.. sedang apa disini?" Hana penasaran apa yang sedang dilakukan ibunya. Orang yang ditanya terdiam seribu bahasa. Tak lama kemudian tangannya menjulur mengajaknya duduk di sampingnya. Hana lalu duduk. Matanya masih melihat wanita yang ada di sampingnya. Wanita itu terdiam tak keluar sepatah kata pun dari bibirnya.


"Ibu.. aku rindu padamu." Hana memeluk wanita yang berada di sampingnya. Tapi yang dipeluk tak memberi respon sedikit pun. Matanya menatap kosong jauh ke depan. Seperti sedang menunggu seseorang.


Benar saja dari kejauhan seseorang mendekat dan pelukan itu pun terlepas, ketika wanita yang disampingnya berdiri dan mengikuti ajakan seseorang yang baru saja datang.


"Ibu... " Hana berteriak keras, ketika wanita itu kian menjauh berjalan dan menjauh meninggalkannya sendirian duduk di bangku.


Hana terbangung dari mimpinya, dalam keadaan kaget. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Dia menggigil kedinginan. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dan tak lama kemudian dia pingsan.


Suara alunan seseorang yang sedari tadi terdengar merdu lalu terhenti. Raffa menoleh ke arah bawah terlihat lampu yang di tempati Hana masih juga padam. Padahal sebentar lagi menjelang magrib. Terbersit rasa curiga.


"Assalamu'alaikum." Raffa mengucapkan salam setelah sambungan telponnya tersambung.


"Ya, waalaikumsalam. Ada apa Raffa?"


"Aku boleh minta bantuan gak teh?"


"Iya, ada apa?"


"Teteh bisa tidak mengetuk kamarnya bu Restu?"


"Hhmm, buat apa?"

__ADS_1


"Sebentar lagi kan mau magrib, tapi lampunya masih padam teh. Aku malah curiga takut dia kenapa-kenapa. Lagian sebentar lagi kita mau shalat jamaah dan kajian. Apa teh Sari mau sekalian ajak bu Restu buat kajian?"


"Barangkali dia ketiduran Raffa. Tapi teteh coba akan ketuk pintunya, siapa tahu dia mau ikut shalat bersama di musholla."


"Iya teh, ma kasih. Assalamu'alaikum." Raffa menutup telponnya. Raffa masih memperhatikan kamar yang ditempati Hana. Kebetulan memang letaknya di seberang balkon. Tak lama kemudian terlihat Sari yang sudah lengkap dengan mukenanya berjalan mendekati kamar yang ditempati Hana.


Tok.. Tok.. Tok


"Assalamu'alaikum." Setelah mengetuk pintunya Sari mengucapkan salam. Tak terdengar jawaban. Sari mengetuk kembali dan mengirinya dengan salam, sepi. Sari menunggu beberapa saat, karena setelah tiga ketukan etika nya bertamu memang tiga mengetuk tidak boleh mengetuk kembali.


"Teh Sari... bagaimana?" Raffa yang sedari memperhatikan dari atas balkon begitu penasaran.


Sari hanya menggelengkan kepala. Tandanya dia pun memang tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar Hana.


"Tunggu jangan dulu mengetuk! Aku turun kesana teh..!" Raffa buru-buru turun menyusul Sari yang sudah ada di depan kamar Hana.


"Biar aku yang gedor saja teh! Aku agak sedikit cemas nih!" Raffa meminta izin ke Sari untuk memastikan Hana.


Dor.. Dor.. dor


Bukan suara ketukan lagi tapi ini memang pukulan keras di pintu kamar Hana.


"Eh Raffa.. jangan keras-keras nanti mengganggu bu Restu!" Sari mengingatkan Raffa yang keras menggedor pintu.


"Bu Restuuuu... " Teriakan Raffa seolah menggema ke seluruh kamar kost. Membuat penghuni kamar keluar serentak.


"Hei... kalian ngapain teriak begitu?" Gavin yang sama kagetnya segera menyusul ke depan kamar Hana, dan melihat Raffa berteriak kencang membuat telinganya agak terganggu.


"Wah masih sepi... ini pasti ada apa-apa kang!" Raut wajah Raffa terlihat cemas.Begitu pun dengan Sari, walau wajahnya tertutup dengan cadar tapi bahasa tubuh bisa dibaca, badannya yang bolak-balik menandakan hal yang sama, cemas. Gavin dan orang-orang yang sudah berkumpul di sekitar kamar pun merasakan hal sama.


"Biar akang coba Raffa!" Raffa mundur beberapa langkah dan Gavin maju mendekati pintu.


"Bu Restu... apakah bu Restu ada di dalam? Kami mengkhawatirkan bu Restu! Apa terjadi sesuatu di dalam?" Suara Gavin lebih kencang, dia berharap Hana mendengar suaranya. Masih sepi juga.


"Kang, bisa dibuka paksa gak? Aku agak cemas... soalnya... " Raffa berhenti bicara. Semua pandangan mengarah pada Raffa.


"Aku.. kurang jelas dengan riwayat kesehatannya kang. Tapi karena kecelakaan itu, kadang bu Restu suka ada masalah di kepalanya. Yang aku tahu begitu sih kang." Raffa menjelaskan apa yang dia tahu dari Sandi.


"Baik, akang coba cari kunci dan alat jika harus di dobrak." Gavin berjalan ke dalam rumahnya diikuti Sari. Sari berpikir mungkin suaminya membutuhkan bantuannya juga.


"Ada apa ini mas Raffa?" Seseorang bertanya karena penasaran.


"Hhmm saya juga kurang tahu mbak." Raffa hanya menjawab pendek.


"Ada penghuni baru disini ya?" Wanita yang sudah siap dengan mukenanya bertanya kembali.


"Iya, baru masuk."


"Ohh." Semua orang yang ada disana serempak menjawab sambil bertukar pandang menganggukkan kepala.


Tak lama kemudian Gavin dan Sari kembali. Mereka sudah membawa kunci cadangan dan sebuah linggis juga palu.


Gavin mendekati pintu lalu memasukan kunci cadangan. Sesuai dugaan ternyata pintu tak bisa dibuka, karena memang kunci dalam kamar menggantung pada lubang kuncinya.


"Kalian mundur! Akang harus buka lubang kunci dengan linggis." Raffa dan Sari mundur beberapa langkah. Gavin membuka paksa pintu dengan paksa dan mendorong pintu dengan kakinya. Dan seketika itu juga pintu terbuka.


"De masuk periksa kamarnya!" Gavin menyuruh Sari masuk ke kamar Hana untuk memeriksa keadaan Hana yang sedari tadi sepi tidak menjawab panggilan.


"Iya kang." Sari masuk ke kamar lalu mencari sosok yang sedari tadi tak menyahut.


"Innalillahi... akang... " Sari berteriak cukup keras memanggil suaminya, setelah kaget melihat beberapa bercak darah di kasur dan juga melihat wajah Hana yang sudah tak karuan karena darah keluar dari beberapa titik.


Gavin dan Raffa sontak masuk ke dalam diikuti orang-orang penghuni kost yang sedari tadi sudah ada berkumpul di depan kamar Hana.


"Innalillahi... dek tolong tutupin dengan selimut!" Gavin menyuruh Sari menutupi badan Hana yang tergeletak di kasur.

__ADS_1


"Iya kang." Sari pun menurut apa yang diperintahkan suaminya.


"Nadia, tolong cek urat nadinya!" Gavin menyuruh salah seorang yang ada disana yang kebetulan sedang kuliah kedokteran untuk mengecek keadaan nadi Hana.


"Baik kang!" Nadia yang sudah tahu betul diman letak yang harus diperiksa langsung memeriksa bagian vital Hana.


"Masih berdenyut walau memang lemah. Sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit kang!" Nadia menyarankan Hana untuk segera dibawa ke rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan.


"Dek siapkan baju-bajunya akang siapkan mobil. Nadia nanti ikut ya! Raffa juga. Kalian silahkan ke mushola. Selepas solat berdoa untuk kesehatannya bu Restu. Silahkan pimpin salah satu dari kalian! Malam ini kajian juga silahkan dipimpin dulu oleh yang senior. Akang malam ini mau ke rumah sakit mengurus bu Restu." Gavin memberi mandat dulu sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Baik kang!" Mereka membubarkan diri menuju mushola untuk persiapan shalat magrib. Sedangkan Gavin, Sari, Nadia juga Raffa membawa Hana menuju rumah sakit terdekat.


#####


"Ayah... aku kangen sama Hana." Steve berkata lirih. Wajahnya yang semakin tirus semakin mengkhawatirkan.


"Iya nak, cepatlah sembuh biar kita bisa bertemu Hana secepatnya ya!" Ayahnya Steve menyemangati agar Steve segera sembuh dari depresinya.


Tok.. Tok.. Tok


Tak lama kemudian pintu kamar rawat inap terbuka. Wei muncul dari balik pintu sambil membawa keranjang buah.


"Apa kabar Steve?" Wei tersenyum menyapa Steve yang sedang terbaring di atas blankar.


"Baik Wei." Steve menoleh ke arah Wei membalas kembali dengan senyuman.


"Apa kabar paman Hans?" Wei mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan ayahnya Steve.


"Baik Wei... kamu sendiri bagaimana? Sehat?" Ayah Steve mencoba berbasa-basi walau hatinya sebenarnya memang sedang tidak baik-baik saja.


"Baik paman." Wei mengangguk meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Mereka duduk bersama dipinggir blankar. Sejenak mereka terdiam masih bingung apa yang harus dibicarakan.


"Oh ya bagaimana kabar bibi paman?" Wei memulai mencairkan suasana dengan menanyakan istri dari ayahnya Steve.


"Baik. Katanya sih nanti kalau urusan di Perancis sudah beres bibi bersama Caterina mau berkunjung lagi ke Jakarta." Terang ayahnya Steve.


"Oh ya? Baguslah.. kapan-kapan kita berlibur bersama." Wei menyambut antusias.


"Wei... " Steve berkata lirih menatap sendu Wei dengan penuh harap.


"Iya.Steve... " Kedua orang yang ada di samping Steve mengalihkan perhatian. Keduanya menatap Steve yang tergeletak lemah karena mengalami depresi berat.


"Bisakah kamu menolongku?" Steve mengajukan permintaan.


"Iya. Apa yang bisa kubantu?" Mata Wei tertuju pada Steve dengan serius.


"Aku ingin bertemu dengan Hana, Wei... Kamu pasti tahu keberadaan Hana kan? Bisakah kamu membantuku?" Wajahnya yang semakin tirus terlihat memelas.


Setelah mendengar permintaan Steve, Wei menatap kosong, dia tak tahu harus menjawab apa. Lalu pandangannya beralih pada ayahnya Steve. Orang tua dengan setengah abad itu pun sepertinya tidak bisa membantu memberikan jawaban pada Wei. Wei kembali mengalihkan pandangannya dan tersenyum.


"Baiklah. Aku janji akan membantumu, tapi dengan satu syarat."


"Apa itu?" Steve melihat Wei dengan wajah penasaran.


Kring.. Kring.. Kring


Suara Handphone Wei terdengar memanggil.


"Saya mohon izin mengangkat."


"Silahkan!"


"Halo."

__ADS_1


"Apa? Hana masuk rumah sakit?" Wei terperangah.


__ADS_2