
Wei segera bangkit mencari bagian informasi. Lalu dua orang terlihat mendekat setelah salah satu dari pegawai di bagian informasi menghubungi tim medis.
"Mari kami bantu tuan, kita akan menuju ruang klinik yang ada di bandara ini." Salah satu diantara dua orang itu memimpin memberikan interupsi.
Tak lama kemudian badan Steve dialihkan ke brankar dan dibawa menuju klinik setelah satu diantaranya tadi memeriksa dengan stetoskop juga, memeriksa nadinya. Wei bersama kedua orangtuanya Steve mengikuti dari belakang.
Seorang dokter jaga yang ada di bandara kembali memeriksa keadaan Steve.
"Denyut nadinya lemah. Untuk sementara kami akan memberikan infusan juga vitamin untuk menambah stamina pasien. Apa sebelumnya pasien mengeluh sakit atau ada keluhan yang dirasakan?" Dokter pria itu menatap kedua orangtuanya Steve secara bergantian.
"Kalau mengeluh sakit tidak. Tapi..." Ayahnya Steve menatap istrinya. Manik matanya seolah meminta persetujuan. Yang ditatap malahan menggelengkan kepala tidak tahu harus memberikan alasan apa buat suaminya.
"Tapi kenapa pak?" Dokter itu kembali bertanya. Pikirannya seperti menangkap sesuatu yang sedang disembunyikan oleh pasangan suami istri yang ada dihadapannya.
"Tidak dok! Tidak apa-apa. Bagaimana kondisi anak saya dok? Apakah memungkin kami pergi atau harus melakukan perawatan dahulu?" Sambung ayah Steve dengan rasa cemas dan detak jantungnya semakin tak beraturan.
"Dilihat dari tekanan darahnya, pasien sedang mengalami tekanan darah rendah. Mungkin untuk lebih lanjut keluarga harus menunggu dahulu pasien sadar. Apakah keadaannya membaik atau sebaliknya setelah mendapatkan infusan. Kalau keadaannya tidak membaik anda harus membawa nya ke rumah sakit terdekat." Terang dokter memberikan penjelasan.
"Baik kami akan menunggu." Ayah Steve berbicara sambil menggandeng istrinya. Dalam hatinya dia sedang mengkhawatirkan Steve. Apalagi kondisi kejiwaan Steve belum stabil. Ayahnya mengira mungkin Steve butuh perawatan lebih lanjut. Ada kemungkinan keberangkatannya akan ditunda menunggu hasil kesehatan Steve dahulu.
"Paman, bersabarlah!" Wei memberikan dukungan pada ayah dan ibunya Steve yang terlihat sedih.
Mereka hanya mengangguk.
"Sebaiknya kalian menunggu diruang tunggu saja! Biarkan pasien beristirahat dengan tenang!" Dokter siaga yang sudah memeriksa Steve menyarankan mereka bertiga untuk ke luar dari ruang rawat pasien.
"Baik dok! Mari paman!" Wei mengajak ayahnya Steve bersama istrinya untuk keluar dari ruangan dimana Steve terbaring.
"Wei... apakah kamu tahu dimana Hana sekarang? Sepertinya paman akan menunda kepulangan ke Perancis. Mungkin ibu Caterina yang akan pulang dahulu. Paman ingin menyelesaikan masalah Hana dengan Steve." Ayah Steve terdengar lesu. Dia memilih menunda kepulangannya demi kebaikan putranya.
"Saya belum pasti paman, saya juga baru dapat informasi barusan. Mungkin saya akan mencarinya lebih dahulu untuk kepastian keberadaan Hana." Wei masih ragu-ragu tentang informasi Hana, sebelum dia sendiri membuktikannya.
"Baik. Paman akan menunggu informasi lebih lanjut tentang kabar Hana. Paman ucapkan banyak terima kasih atas bantuan mu selama ini. Dan paman mohon maaf jika sekarang pun banyak merepotkan mu!" Mata Ayah Steve terlihat berkaca-kaca. Menahan agar bulutangkis air matanya tidak jatuh. Semenjak kepergian ibunya Hana, dia merasakan benar-benar terpukul. Apalagi melihat Steve semenjak ditinggalkan ibunya seperti kehilangan jatidirinya. Menaruh dendam kepanjangan dan belum bisa mengikhlaskan apa yang selama ini terjadi. Terbukti sekarang Steve lebih rapuh setelah mengetahui Hana adalah adiknya sendiri.
"Tidak apa-apa paman. Bagiku kalian seperti keluargaku sendiri. Apalagi Steve juga sudah banyak membantuku, seharusnya aku juga membantunya paman. Jangan sungkan jika paman membutuhkan pertolongan." Wei merasa bahwa Steve banyak membantunya selama ini selayaknya dia pun membantu Steve dikala dia membutuhkannya.
"Hana.. Hana.. " Tiba-tiba suara itu terdengar dari satu ruangan dimana Steve terbaring. Semua orang yang mendengar suara itu langsung berdiri lalu mendekat ke arah ruangan. Dokter jaga beserta perawat langsung memeriksa keadaan Steve. Wei bersama kedua orang tua nya hanya melihat dari balik pintu ruangan. Terlihat jelas raut kekhawatiran ayah Steve, sesekali dia memegang erat tangan istrinya.
"Apa yang terjadi dengan Steve?" Ibunya Caterina melihat wajah suaminya.
"Aku tidak tahu, kita tunggu apa kata dokter." Pandangan Ayah Steve tak lepas melihat ke dalam ruangan. Walau mereka melihatnya tapi semuanya tak tahu dengan keadaan Steve yang sebenarnya. Yang jelas tadi ayahnya Steve melihat badan anaknya agak terguncang.
Mungkinkah dia mengalami kejang?
Sebenarnya ayahnya Steve menduga anaknya mengalami kejang. Tapi dia berharap dugaannya salah.
Terlihat dokter jaga memasukan cairan ke dalam infusan lewat jarum suntikan. Tak menunggu lama Steve terlihat lebih tenang. Dokter jaga pun berjalan ke luar ruangan pasien.
"Maaf saya mau bicara dengan keluarga pasien." Matanya bergerak mengamati dari tiga orang yang berdiri di hadapannya.
"Saya dokter, saya ayahnya." Ayah Steve menjawab dokter dengan cepat.
"Baik, ikut saya!" Dokter masuk ke dalam ruangan kerjanya diikuti ayah Steve. Mereka lalu duduk saling berhadapan.
"Maaf, anda orangtua nya?" tanya dokter sambil menatap laki-laki paruh baya yang ada dihadapannya.
"Iya dok, saya ayahnya."
__ADS_1
"Begini pak, tadi pasien mengalami kejang karena panas tubuhnya tiba-tiba naik. Tapi tadi saya sudah memberi obat penurun panas. Sekarang sudah agak tenang. Menurut saya pasien tidak siap untuk berangkat dikarenakan kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh. Lebih baik anda membawanya ke rumah sakit untuk lebih lanjut. Dikarenakan klinik disini hanya membantu pasien darurat sementara."
"Baik dok, Terima kasih atas bantuannya!"
"Sama-sama! Jika anda ingin membawanya sekarang saya akan menyiapkan ambulance untuk membawa pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan."
"Baik dok! Saya akan bicara pada istri saya lebih dahulu sebelum membawa anak saya ke rumah sakit."
"Silahkan! Jika sudah siap anda boleh menemui saya kembali."
"Baik, kalau begitu saya mohon pamit dulu!"
"Silahkan!"
Ayah Steve keluar dari ruangan dokter jaga yang ada di bandara. Lalu menemui istrinya yang sedari tadi menunggu di luar ruangan. Wajahnya nampak lesu, ada beban yang sedang menggelayut di pikirannya. Awalnya dia sudah agak senang ketika Steve mau mengikutinya ke Perancis, namun keadaannya tidak bisa mendukung untuk berangkat bersama.
"Bagaimana dengan Steve?" Wajahnya seketika, berubah, biasanya ramah dan lembut namun sekarang terlihat cemas setelah melihat raut wajah suaminya yang terlihat lelah.
"Honey... sepertinya aku belum bisa kembali ke Perancis. Aku harus mengurus Steve sampai pulih kembali. Apa kau tidak keberatan jika kembali ke Perancis sendiri?" Wajahnya yang lelah karena banyak memikirkan banyak hal, tetap masih mengembangkan senyum. Wajah yang sama yang pernah melukis drama cinta yang sama dengan ibunya Steve sewaktu masih ada. Sosok yang penuh kehangatan yang mampu menundukkan wanita yang penuh misteri di masa lalunya, yang kini sedang bergelut dengan masalah yang menimpa anaknya.
"Tak apa. Semoga Steve kembali sehat biar kita berkumpul bersama." Istrinya memberikan dukungan moril. Setidaknya dia tak boleh terlihat lemah dihadapan suaminya yang kini sedang mengalami ujian kesabaran.
"Aku akan mengantar Steve ke rumah sakit. Aku akan mengantarkan mu lebih dahulu sampai masuk pintu pemeriksaan." Manik matanya terlihat sendu. Ada sejuta perasaan yang harus dia tahan agar istrinya tidak khawatir.
Istrinya mengangguk. Dia memeluk suaminya sebagai tanda dukungan lebih. Ayah Steve mengusap bahu istrinya.
"Wei, bisakah paman menitipkan dulu Steve sebentar? Paman akan mengantarkan bibi." Ayah Steve meminta izin pada Wei untuk tetap tinggal di klinik sementara dia akan mengantarkan istrinya.
"Baik paman."
Dia kembali ke ruangan dokter memberitahukan bahwa dia akan melanjutkan perawatan anaknya ke rumah sakit sekaligus meminta izin untuk mengantarkan istrinya yang sebentar lagi jadwal penerbangannya akan tiba.
"Wei.. paman mohon maaf sudah merepotkan mu! Biarkan paman yang akan mengantarkan Steve ke rumah sakit. Paman tahu kamu sibuk. Apalagi sekarang Steve tidak bisa membantu pekerjaanmu." Ayah Steve berusaha mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Wei.
"Tak pa paman. Saya sudah mengosongkan jadwal hari ini. Paman jangan sungkan. Nanti kalau Steve sudah masuk rawat inap, saya baru tenang meninggalkannya." Jawab Wei yang mengerti keadaan ayah Steve yang saat ini membutuhkan dukungan moril. Wei merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan Steve. Sakitnya seperti bukan sakit fisik.
"Baiklah, sebentar lagi ambulan ini sampai rumah sakit. Paman berharap Steve cepat kembali pulih."
"Iya paman."
Tak lama kemudian ambulan tiba di rumah sakit brankar yang membawa Steve masuk ruangan pemeriksaan. Setelah Dokter memeriksa keadaan Steve dia menduga bahwa pasien mengalami gangguan lambung.
"Saya ingin bicara dengan keluarga pasien" Dokter yang ada di rumah sakit menatap ayah Steve dan Wei.
"Saya dokter. Saya ayah pasien."
"Mari ikut saya ke ruangan." Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan perawatan menuju ruangan dokter.
"Silahkan duduk!"
"Iya terima kasih!" Jawab ayah Steve sambil menarik kursi untuk diduduki
"Begini pak, sepertinya putra bapak mengalami stress berat yang mengakibatkan gangguan lambung juga demam tinggi. Kebetulan pasien sudah sadar, tapi kondisi kejiwaannya kurang stabil. Jadi kami memutuskan ada pendampingan dari psikiater dari rumah sakit ini. Kebetulan disini ada dokter Alvian. Sebentar saya akan memanggilnya ke ruangan ya pak!" Dokter yang ada di depan ayah Steve menelan nomor dan tak lama kemudian dia berbicara dengan seorang rekan dokternya yang bernama Alvian. Tak lama kemudian nama yang disebutkan tadi mengetuk pintu.
Setelah dipersilahkan masuk dokter Alvian pun diperkenalkan dengan ayahnya Steve.
"Perkenalkan saya dokter Alvian." Sambutnya ramah.
__ADS_1
"Hans" jawab ayah Steve pendek.
Sementara ketiga orang itu berbincang-bincang di ruangan dokter membicarakan apa yang terjadi pada Steve, maka di ruangan perawatan Steve mulai sadar.
"Wei... dimana aku?" Steve memandang lemas Wei yang ada di sampingnya.
"Di rumah sakit."
"Kenapa ada disini?" Steve berkata lirih. Dia merasa belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Selain pingsan, dia mengalami kejang-kejang disebabkan demam tinggi.
"Kamu tadi pingsan dan mesti diperiksa disini." Jawab Wei dengan tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Wei... " Steve menatap Wei tanpa melanjutkan bicaranya. Air matanya mulai mengumpul di pelupuk matanya. Satu persatu menetes tanpa bisa dikendalikan. Buliran air matanya satu sama lainnya saling menyusul.
"Steve.. mau aku panggilkan ayahmu?" Wei merasa khawatir melihat kondisi Steve yang mengeluarkan air mata. Dia merasa ada sesuatu yang dirasakan berat oleh Steve.
Steve menatap Wei dengan pandangan entah apa. Dia menggelengkan kepala setelah mendengar pertanyaan Wei. Ada yang ingin dia sampaikan tapi rasanya berat untuk diucapkan. Malah air mata Steve yang bicara saat ini. Padahal dia sudah lama sekali tidak menangis. Buatnya pantang sekali untuk mengeluarkan air mata. Ya terakhir dia menangis di saat kematian ibunya, yaitu Sarah. Itu sudah terjadi lama sekali. Entahlah hari ini rasanya dia seperti rapuh.
"Dimana Hana Wei?" Tangan Steve menggapai lengan Wei yang memang posisinya tidak jauh dari ranjang Steve.
"Tenang, nanti kita akan menemuinya Steve. Kamu sembuh dulu ya! Biar nanti kita bersama menemuinya." Wei berusaha menyemangati Steve. Dia berharap Steve tidak terlalu sedih. Walau dirinya pun belum belum tahu dimana Hana berada. Karena informasi dari Sandi pun tadi dia tidak begitu detail. Ada rasa gengsi untuk menanyakan keberadaan Hana pada Sandi.
"Wei... Hana... Hana... " Wei menatap inten wajah Steve. Sepertinya Wei perlu memanggil dokter khawatir tentang kondisi psikis Steve.
"Sebentar.. aku panggilkan ayah dan dokter ya Steve." Wei melepaskan pegangan Steve di lengannya. Dia hendak memanggil dokter juga ayahnya.
"Wei... Hana.. Hana... " Steve melepaskan tangannya perlahan seiring Wei bergerak. Mata Steve terlihat kosong dengan menanggung beban entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Dokter... " Suara panggilan Wei terdengar sampai ke ruangan dimana ayah Steve dan dokter ada di dalamnya. Tak menunggu lama mereka terlihat ke luar.
"Tolong anda tunggu di luar, biar saya dan dokter Alvian masuk dulu!"
"Baik." Jawab Ayah Steve pendek.
Kedua dokter masuk ke ruangan. Mereka sedang memeriksa keadaan Steve. Tapi suara Steve masih terdengar memanggil-manggil Hana.
"Ada apa Wei? Apa yang terjadi dengan Steve selama ditinggalkan tadi?" Mata ayah Steve tertuju pada Wei. Dia penasaran dengan keadaan Steve yang baru saja ditinggalkannya.
"Dia menanyakan keberadaan Hana paman."
"Lalu apa yang kamu katakan pada Steve?" Ayah Steve menatap lekat Wei.
"Saya berusaha menyemangatinya paman. Saya mengatakan padanya cepatlah sembuh agar kita bisa menemui Hana." Jawab Wei.
"Apakah kamu mengetahui keberadaan Hana saat ini Wei?"
"Saat ini saya baru mendapat informasi tapi belum bisa memastikan kebenaran nya paman."
"Hhhmmm. Apakah sebaiknya kita harus mencari keberadaan Hana secepat mungkin?" Lirih ayah Steve sambil melipat tangan di dada.
"Ya nanti akan saya pastikan paman. Sepulang dari sini saya akan menyuruh bawahan saya untuk mematikan kebenaran keberadaan Hana. Agar jika Steve sesegera mungkin bisa bertemu Hana.
"Baiklah Wei semoga Hana segera ditemukan agar Steve tidak berlarut-larut memikirkan Hana.
"Iya paman, akan saya usahakan."
Mereka terdiam. Lalu terdengar pintu terbuka.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan anak saya dok!?" Ayah Steve menatap ke arah dokter Alvian.
"Sepertinya Steve mengalami trauma psikis. Lalu siapa Hana yang disebut-sebutnya?"