
Tuan Hans, Nyonya Maria juga Caterina tiba di Indonesia. Dengan penerbangan yang lumayan panjang mereka mendarat juga di bandara Soetta.
"Kak... Caterina gak keliatan ya? Cuman mama sama ayah saja." Hana sejak tadi tidak melihat wajah Caterina di pintu kedatangan. Dari kejauhan dia hanya melihat sepasang suami istri yang sedang melihat ke arahnya.
"Mmm... mungkin belakangan." Jawab Steve. Dia juga sedang mencari sosok adik kecilnya itu.
"Tak mungkin kan kalau mereka berpisah kak?" Hana penasaran bertanya lagi pada Steve.
"Mmm.. gak tau. Nanti kita tanyakan pada ayah dan mama saja!" Daripada menduga-duga mending menunggu kedua orang tuanya dulu yang memberitahu.
"Halo ayah.. ma. Apa kabar?" Hana mencium pipi nyonya Maria dan tun Hans. Begitu pun Steve mereka berpelukan erat begitu kedua orang tuanya mendekat.
"Yah.. Caterina mana?" Hana sudah tidak sabar lagi menanyakan keberadaan Caterina.
"Assalamu'alaikum kakak... " Seorang perempuan berjilbab serba tertutup menghampiri Hana juga Steve. Keduanya menatap tidak percaya akan sosok di depannya. Ya bagaimana mau mengenali? Dia memakai pakaian serba hitam juga penutup wajah alias cadar hampir menutup semua wajahnya.
"Caterina... " Steve dan Hana kompak memanggil Caterina.
"Iya.. ini aku kak.. Kaget ya lihat penampilan aku?" Di balik cadarnya Caterina tersenyum.
"Ini kamu Catrin??" Steve masih tidak percaya bahwa dibalik jilbabnya tertutup itu adalah adiknya.
"Iya ini aku.. masa kakak gak kenal suaraku?" Bola mata Caterina yang kebiruan melihat ke arah Steve.
"Oh.. my God. Ada apa ini? Kamu harus jelaskan pada kakak nih! Apa yang terjadi dengan kamu?" Steve sungguh tak mengira bahwa adiknya akan berhijrah seperti itu.
"Sudah.. sudah.. kalian mau ngobrol disini atau mau membawa kami pulang?" Tuan Hans yang diam sejak tadi menginterupsi.
"He he.. maaf yah.. kita jadi sibuk liatin Catrin.. jadi lupa mau bawa ayah ke rumah." Steve mewakili Hana bicara pada ayahnya.
"Iy.iya.. pertanyaan dikumpulkan dahulu. Nanti saat di rumah baru kalian puaskan sama yang mpunya hajat." Tuan Hans tersenyum bahagia bisa berkumpul kembali dengan anak-anaknya. Begitu mama Maria yang selalu lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dia mengelus halus punggung Hana sambil berjalan di sampingnya.
Mereka berjalan beriringan. Saat ini Steve membawa dua mobil. Alphard untuk keluarga dan mercy untuknya.
Tak lama kemudian dua mobil mewah itu pun masuk ke dalam parkiran di dalam rumah. Semuanya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Nyonya Kim sudah menyiapkan beberapa hidangan dibantu para pelayan. Begitupun kamar-kamar sudah disiapkan untuk menyambut keluarga Hana.
"Wah... perasaan baru kemarin kita dari sini.. tapi kaya yang sudah lama tidak menginjakkan kaki di sini." Tuan Hans merebahkan tubuhnya yang lumayan pegal di sofa. Begitupun mama Maria dan Caterina. Mungkin perjalan Perancis-Indonesia yang lumayan panjang, membuat kaki-kaki mereka ikut kaku.
"Tuan..Nyonya..diminum dulu airnya!" Nyonya Kim membawakan minuman juga aneka kue dan cemilan untuk disuguhkan ke depan keluarga Hana.
"Terimakasih nyonya Kim!" Ucap Hana.
"Sama-sama.. nona." Nyonya Kim berlalu ke dapur kembali setelah menyuguhkan minuman dan aneka macam makanan.
"Hei.. cerita sama kakak... ini gimana ceritanya Caterina bisa begini yah.. ma...?" Steve mulai menginterogasi Caterina.
"Tanya saja sama anaknya!" Tuan Hans tidak mau ikut campur untuk urusan privasi Caterina yang sudah beralih kepercayaan. Sebagai orang tua dengan budaya barat, dia membebaskan anak-anaknya untuk memilih jalan hidup juga kepercayaannya masing-masing. Yang penting mereka bisa mempertanggung jawabkannya.
__ADS_1
"Iya dong! Kakak jadi penasaran nih!" Ucap Hana sambil menyodorkan air minum pada mama Maria juga ayah Hans.
"Ya... proses kak. Semenjak kemarin tinggal di Bandung aku kok kepikiran terus apa yang dikatakan mas Gavin. Aku sampai gelisah, susah tidur. Untuk memenuhi rasa kepenasaranku, aku mencoba mencari informasi di Perancis. Dimana aku bisa mendapat bimbingan dan mempelajari Islam. Sebenarnya sih aku sudah lama tertarik sama Islam. Cuman pas di Bandung aku dapat momen pas kak...bisa dekat dengan lingkungan sama orang Islam dan bisa melihat langsung mereka kaya bagaimana dan seperti apa.
"Aku masih inget lho sarannya kak Steve. Aku disuruh belajar mempelajari kan waktu itu?"
Nah akhirnya ketemu deh sama keinginan aku. Disana ada muslim muallaf center kak.. yang biasa membantu menerangkan apa dan bagaimana islam itu pada orang asing yang tertarik pada Islam. Aku ikut mendaftar di sana dan mendapat bimbingan intensif. Juga dapat belajar lengkap kak. Mulai dengan pengetahuan dasar tentang Islam, praktek ibadah, juga mempelajari yang lainnya. Pokoknya di muallaf center tuh lengkap semua. Tinggal kita bicara saja apa yang ingin kita ketahui, mereka akan membantu kita menerangkannya sampai paham. Pokoknya mereka baik-baik kak...meeka mau membantu aku agar aku bisa mempelajari Islam dengan benar."
Nah.. setelah aku mempelajari Islam, hatiku kok kaya ditadik-tarik gitu kak.. Jadi aku bilang sama ayah dan mama... apakah mereka mengizinkan aku berpindah kepercayaan atau tidak?"
"Hmmm.... ayah sama mama gak langsung ngasih jawaban. Mereka butuh waktu untuk memberi aku jawaban."
"Ya sambil menunggu jawaban, aku terus belajar lagi. Tapi..terus kesini dan kesini... lama-lama aku merasa ada yang hampa gitu kak. Kok.. aku kapan masuk Islamnya? Aku belajar tapi kok..ngambang gini? Kalau terus ditunda-tunda kata temen-temen yang sudah-sudah, godaannya tuh berat kak. Ya namanya syetan kak.. pastinya gak mau manusia itu jadi baik. He he maaf ya kak.. dalam arti kata ya kak.. " Caterina begitu antusias menceritakan perjalanan hijrahnya beralih kepercayaan.
"Aku balik lagi deh ya nanya-nanya sama ayah dan mama, kapan mereka mengizinkan aku masuk Islam?"
"Ayah sama mama tidak langsung memberi jawaban kak."
"Kakak.. tahu apa yang mereka lakukan?" Caterina melihat pada Steve juga Hana silih berganti.
"Gak tau." Jawab Steve menggelengkan kepala. Lalu kembali diam masih menunggu cerita kelanjutannya.
"Nah... ayah sama mama akhirnya dateng tuh ke Muallaf Center. Dia ingin mendengar langsung dari murobbi aku kak. Apakah aku ini sunguh-sungguh apa tidak? Ayah sama mama takut dan khawatir kalau aku tuh hanya emosional sesaat ya labil gitu kak..Ya tapi setelah mendengar penuturan mereka bahwa aku terlihat serius dan sungguh-sungguh, maka diizinkanlah aku memeluk Islam."
Tes
Air mata Caterina menetes.
"Itu momen paling indah yang aku rasakan kak... hadiah paling besar yang ayah sama mama lakukan buat aku." Caterina memeluk kedua orang tuanya sambil menangis terharu. Tuan Hans membalas menciumi putrinya yang kini sudah berubah. Sejak berpindah kepercayaan, Caterina menjadi lebih dewasa dari umurnya, lebih sopan, lebih baik dalam segala hal. Nyonya Maria ikut terharu. Dia ikut meneteskan air matanya karena melihat putri kecilnya semakin bijaksana.
Betapa bahagianya Caterina sekarang. Kebahagian yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata.Tidak dapat digambarkan melalui lukisan. Dan tidak bisa ditukar dengan harta manapun. Dia begitu bahagia memeluk Islam dengan izin kedua orang tuanya. Itu anugerah yang tiada tara. Karena tidak sedikit para muallaf yang mempunyai tantangan besar dari keluarganya sendiri.
"Selamat ya sayang... Kakak juga ikut bahagia melihat kamu bajagia." Hana ikut berkaca-kaca juga mendengar dan melihat Caterina barusan bercerita.
Stveve terlihat diam, dengan wajah merenung. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Kak.. Steve kok melamun? Apa kakak tidak senang melihat aku kak?" Caterina merasakan keanehan dengan perubahan sikap Steve.
"Mmm.. gak. Kakak tidak melamun kok. Kakak cuman lagi berpikir Catrin." Buru-buru Steve mengubah moodnya.
Kok.. kaya kebetulan gitu ya... tadi malam aku menceritakan dia. Sekarang malah adikku sendiri yang masuk islam. Hmm...Aku salut sama Caterina yang berani mengambil keputusan besar. Padahal usianya masih relatif muda.
"Selamat ya! Kakak salut sama kamu Caterina." Steve tersenyum.
"Terus masalah sekolah bagaimana? Kan kamu penampilannya begitu? Apa. mendapatkan tantangan?" Tanya Hana yang ikut mengkhawatirkan sekolah adiknya
"Ya.. so pasti dong. Teman-teman dan pihak sekolah tak mau aku berpenampilan seperti ini. Ya awalnya aku terangkan sama mereka. Tapi bagaimana lagi, mereka mempunyai aturan sendiri kak. Jadi aku terpaksa keluar sekolah. Kata ayah sama mama aku boleh sekolah disini melanjutkan sekolah aku yang tertunda. Karena kalau memaksakan diri, pastinya akan sulit kak." Ucap Caterina menjawab pertanyaan Hana.
"Jadi mau pindah sekolah kesini?" Steve begitu kaget mendengar Caterina akan pindah sekolah.
__ADS_1
"Iya kak. Apa kakak keberatan?" Caterina menoleh ke arah Steve.
"Gak.. " Steve agak-agak bingung. Mau menjawab iya bagaimana, kalau pun tidak juga kenapa?
Jika Caterina jadi sekolah di Indonesia, tanggung jawabnya jadi bertambah juga. Apalagi kesibukan menjadi pemimpin perusahaan itu tidak mudah. Selain waktu pikirannya pun juga banyak terkuras. Sekarang ditambah Caterina? Wah... itu bakal jadi pr besar buat Steve.
"Yah sudah.. ceritanya nanti dilanjut! Ayah sama papa mau makan dulu atau mau istirahat dulu?" Hana menoleh ke arah tuan Hans dan mama Maria.
"Mmm ma..?" Tanya tuan Hans meminta pendapat istrinya.
"Kayanya kita istirahat dulu deh. Kalau makan masih belum lapar." Nyonya Maria menunda acara makan dan memilih istirahat terlebih dahulu.
"Iya.. aku antar!" Steve berdiri mengantar kedua orang tuanya ke kamar. Tas-tas barang bawaan mereka sudah dimasukkan boleh pelayan rumah.
"Yah.. ma.. aku boleh bicara tidak sama kalian?' Steve duduk di kursi di dalam kamar yang sudah disediakan untuk keduanya.
"Bicaralah!" Tuan Hans duduk di tepian kasur bersama istrinya.
"Ayah sama mama beneran mengizinkan Caterina seperti itu?" Wajah Steve serius melihat keduanya.
"Mmm.. kenapa? Kamu keberatan dengan penampilan Caterina? Atau bagaimana?" Tuan Hans agak heran kenapa Steve napak tak setuju dengan perubahan Caterina.
"Mmm.. bukan begitu sih. Cuman aku agak-agak gimana ya.. " Steve kesulitan mengungkapkan ganjalannya.
"Bicaralah! Apa yang sedang mengganjal dalam dirimu Steve?" Tuan Hans mencoba bijak menengahi perbedaan pendapat ke depannya antara Caterina dan yang lainnya. Di sini Caterina hanya sendirian yang berbeda. Pasti akan ada tantangan dari keluarga yang memang tidak sependapat dengannya.
"Ya.. pengen aku.. tuh kenapa ayah sama mama tidak mencegah Caterina gitu? Kok gampang banget melepaskan Caterina jadi seperti itu? Aku.. aku masih tidak rela jika Caterina harus seperti itu yah.. " Steve baru mengungkapkan ketidak setujuannya di hadapan orang tuanya sekarang. Dia tadi tidak mau bicara terus terang di hadapan Cay takut menyinggung perasaannya.
Tuan Hans dan nyonya Maria saling memandang.
"Begini Steve.. ayah rasa bukan ayah tak mau mencegah ataupun melarang. Ayah dan mama sudah merenung banyak tentang hal ini. Bahkan secara lemah lembut kami pun sudah membicarakannya dengan Caterina. Tapi apa boleh buat. Itu sudah keputusannya. Dia sudah bertekad dengan sepenuh jiwa raganya untuk memeluk Islam. Kita mencoba membuka diri, menerima perbedaan. Ayah sama ibu pun bukan tidak rela melepas Caterina seperti itu. Tapi lihatlah oleh kamu! Betapa dia sangat bahagia dengan keadaannya sekarang."
"Iya... tapi tetap aja aku tidak setuju yah!" Steve belum bisa menerima keadaan Caterina seperti itu.
"Mmm.. baiklah. Jika kamu tidak setuju dan keberatan, ayah sama mama tidak apa-apa. Ayah juga mengerti. Cuman ayah minta tolong sama kamu, biarkan Caterina memilih pilihannya. Ayah dan mama sudah mencari sekolah di Bandung lewat mas Gavin. Dia bersedia menjaga Caterina di sana. Ayah mengerti pasti kamu akan sibu dengan perusahaan. Hana pun akan sibuk dengan rumah tangganya. Biarkan Caterina tinggal bersama teman-temannya di sana agar bisa lebih baik lagi." Tuan Hans ternyata sudah merencanakan jauh-jauh hari ternyata.
"Yah.. ayah sama mama marah sama aku ya?" Stt jadi merasa tidak enak, ayahnya malah menjauhkan Caterina dadi dirinya.
"Tidak Steve.. kenapa harus marah. Meski kamu tidak bicara begitupun, rencananya memang sudah begitu. Jadi kamu gak usah khawatir maslah Caterina. Mari saling menerima dan menghargai. Jangan sampai kita berpisah gara-gara itu. Ayah tidak mau itu sampai terjadi.
"Ya.. baiklah... Kalau menurut ayah itu yang terbaik untuk Caterina. Tapi tolong hargai juga ketidaksetujuan aku juga yah.. "
"Iya.. kalian baik-baik ya! Ayah tak meminta kamu banyak. Belajarlah menerima apa yang sudah terjadi. Agar pikiran kita tidak terlalu banyak beban." Tuan Hans berharap Steve dan Caterina bisa akur. Memang tidak mudah menerima perbedaan seperti ini. Tapi apa boleh buat. Setiap orang mempunyai prinsip. Selama prinsipnya tidak melewati gak orang lain kenapa tidak kita menerimanya.
"Iya yah.. maaf. Kalau begitu selamat beristirahat!" Steve berdiri keluar kamar dengan raut wajah kecewa.
Dilain tempat Caterina sudah satu kamar dengan Hana. Mereka asik mengobrol. Hana menjadi pendengar yang baik apa yang diceritakan oleh Caterina.
"Kak.. Aku besok mau ke Bandung lho kak. Kami sudah janjian." Ucap Caterina terlihat antusias.
__ADS_1
"Ada apa?" Hana mengerutkan dahinya. Ada apa dengan Caterina pergi ke Bandung.
"Selain mau bertemu kang Gavin, aku juga mau lihat-lihat sekolah kak. Aku nanti mau sekolah di sana." Caterina terlihat bersemangat sekali.