Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Sejuta serpihan hati yang patah


__ADS_3

He'em. Hana masih tak percaya dengan orang yang ada di depannya. Kenapa dia datang tanpa pemberitahuan. Bahkan tadi malam dia masih membicarakannya dengan Steve. Matanya tak berkedip menatap Wei. Tapi kesadarannya tergugah begitu mendengar dehemanSandi.


Ehem.. ehem..


Sandi yang menyaksikan apa yang baru saja terjadi, hatinya serasa panas. Ada getir yang merasuk ke dalam relung kalbunya. Perih. Pandangannya yang tadinya ke depan, dengan spontan dia menunduk ketika pinggang Hana dilingkari tangan laki-laki itu. Ada rasa yang membuncah, tapi dia tak bisa kuasa untuk mengeluarkannya. Bagaimana tidak? perempuan yang dia cintai ada dalam pelukan seorang laki-laki lain nota bene dia lebih berhak memiliki nya.


"Eh.. " Hana berusaha melepaskan tangan yang sedang melingkar di pinggangnya. Dia sepertinya belum siap dengan sikap tadi. Pandangan Hana terkungkung di dada laki-laki itu ketika wajahnya diturunkan. Aroma khasnya jelas tercium hidungnya.


Tapi entah apa yang ada dalam hati Wei saat itu, sehingga dia menurunkan wajahnya dan matanya lamat-lamat memperhatikan wajah Hana dari dekat. Hana begitu gugup karena sedang diperhatikan dari jarak dekat. Butiran keringat dingin seolah berpacu ingin saling berlarian. Dan tangan laki-laki itu menyentuh dagu Hana, dia mengangkat wajahnya. Dan tanpa diduga bibirnya telah mendarat dibibir Hana.


Sandi tak sanggup menyaksikan lebih dalam aksi mereka. Dia melangkah, perginya dengan sejuta serpihan rasa sakit. Dia menginjak mobilnya dengan gas keras. Sehingga keluar suara yang cukup bising.


"Grung.. grung... "


Lalu tak lama kemudian mobil Sandi meluncur dari garasi rumah itu. Dia seperti tak bisa mengendalikan diri. Emosi seorang laki-laki yang cemburu, sakit, dan patah. Pikirannya diselimuti kabut duka dan panas membara.


Beberapa kali mobilnya hampir bersinggungan dengan mobil yang ada di jalanan. Beberapa pemilik mobil yang lainnya merutuk, mencela, bahkan ada yang sumpah serapah karena hampir saja mobil Sandi menyerempet.


Dua insan yang baru saja bertemu sedang dalam buaian asmara segera saling melepaskan. Hana benar-benar gugup dan hampir kehilangan kesadaran dibuatnya. Wajah Hana sepertinya memerah dan linglung. Tapi Wei seperti percaya diri tak melepaskan tatapannya dari Hana.


"S Sa saya... mau berangkat ke sekolah." Hana mengumpulkan kekuatannya dan kembali menegakkan wajahnya. Pandangannya beredar mencari Sandi. Yang beberapa saat tadi sudah dilupakannya.


"Akan aku antar." Wei menarik tangan Hana yang masih terlihat linglung, lalu menarik handle mobilnya.


"Masuklah!" Wei menggerakkan kepalanya, isyarat memerintahkan Hana untuk masuk ke mobilnya. Hana masuk ke dalam mobilnya, Wei menundukkan setengah badannya ke dalam mobil untuk memasang sabuk pengaman Hana. Detak jantung Hana kembali mengencang seolah seperti tabuh bedug yang sedang bergenderang.


Lalu Wei berjalan mengitari mobilnya lalu membuka handle pintu dan dia duduk di bangku depan setir.


Setelah memasangkan sabuk pengamannya, dia segera menekan tombol otomatis penghubung mesin dan kontak kunci otomatisnya.


Selintas dia melihat wajah Hana dari samping. Hana yang menatap datar ke depan, masih bisa menangkap lirikan Wei dari ujung kelopak matanya.


Mobil segera meluncur dari garasi rumah Steve. Pagi yang hangat tapi panas, sekaligus pagi yang mendung di hati seseorang.


"Apakah saya boleh meminta jalan lain? Ada yang mau saya kunjungi sebelum berangkat ke sekolah." Hana menoleh ke sebelah Wei dengan suara lebih rendah.


"Hhmm.. sebutkan alamatnya saja!" Wei bicara dengan suaranya yang khas, dingin. Dia tetap fokus ke depan.


Setelah Hana menyebutkan alamat yang mau dituju, Wei menekan layar yang tak jauh dari stir mobilnya. Alat bantu peta yang sudah dipasang di dalam mobilnya.


Sepanjang perjalanan keduanya hening. Pikiran keduanya masing-masing berjalan dengan apa yang mereka pikirkan. Hana tak menyangka kedatangan Wei, tanpa pemberitahuan bahkan muncul tiba-tiba seperti hantu di pagi hari.


Mobil itu kini terparkir di depan rumah Sandi. Hana menatap ragu. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk bicara pada orangtuanya? Padahal mungkin Sandi sedang ada di dalam dengan kondisi yang tak lagi baik. Tapi bagaimana lagi, acara kelulusan hampir segera tiba. Dan Hana tak mungkin membiarkan nasib anak didiknya terkatung-katung.


"Apa benar ini alamatnya?" Wei menatap Hana yang masih mematung dengan tatapan kosong.


"Eh.. iy iya." Hana tergagap menjawab.


Dia melepaskan sabuk pengamannya, lalu membuka handle pintu. Hana bangkit dari kursi mobil. Dia menatap lamat-lamat pagar yang tinggi menjulang seperti keangkuhan pemiliknya. Dia menyelempangkan tas dan merapihkan baju yang dikenakannya. Dengan perlahan kakinya melangkah maju menuju pintu.


Hana menekan bel pintu juga menatap kotak box kamera. Tak lama kemudian ada seseorang menjawab dari kotak itu.


"Maaf anda mau bertemu siapa?" Terdengar suara laki-laki menanyakan kepentingannya.


"Saya mau bertemu dengan orang tuanya Sandi pak!" Hana mendekatkan mulutnya ke kotak box.


"Anda dengan siapa ya?" Orang itu kembali bertanya.


"Saya bu Restu, gurunya Sandi pak!"

__ADS_1


"Baik. Nanti akan saya sampaikan!"


Hana berdiri di depan pintu. Hana tahu betul kalau Sandi ada di dalam, pasti dia akan melihatnya dengan jelas di layar cctv.


Klek. Pintu itu terbuka. Seorang laki-laki berseragam serba hitam muncul di balik pintu.


"Silahkan bu! Saya akan mengantarkan anda." Laki-laki tadi berjalan di depan. Hana melangkah dengan setengah tenaganya. Hatinya terselip rasa bersalah. Detak jantungnya seperti tak beraturan. Telapak tangannya mengeluarkan keringat, basah. Dia akan bertemu dengan orang tuanya Sandi, tapi hatinya begitu sangat gerogi. Tapi karena ada kewajiban, terpaksa dia memberanikan diri. Apakah Sandi baik-baik saja? Sekilas pikiran itu hadir, begitu dia dipersilahkan duduk oleh penjaga tadi. Ruangan ini masih sama. Besar, mewah tapi sepi.


Seorang pelayan menyuguhi air teh hangat dan kue camilan di atas meja. Dan tak lama kemudian ibunya Sandi muncul dari ruangan lain.


"Eh Hana... sendirian sayang?" Ibunya Sandi menghampiri dengan senyumnya yang ramah, lalu cium pipi kiri kanan. Hana yang sedari tadi duduk dengan perasaan tidak tenang melihat reaksi ibunya Sandi mendadak hatinya sedikit lega.


"Iya tante."


"Loh.. Sandinya kemana?" Pandangan ibunya beredar mencari keberadaan Sandi.


"Tadi Sandi berangkat duluan tante. Dan saya datang kesini selaku gurunya. Ada yang perlu dibicarakan mengenai sekolahnya Sandi bersama orang tuanya." Hana tersenyum tipis.


"Oh baik. Silahkan bu Hana bicaralah!" Mendadak ibunya berbicara formal mengkondisikan situasi.


"Begini tante... Sandi terbilang anak yang pandai. Mulai dari saya mengajar prestasinya selalu bagus malah selalu di atas teman-temannya. Tapi saya mohon maaf tante... saya mewakili sekolah menyampaikan sesuatu yang mungkin kurang berkenan didengar." Hana mengambil nafas, lalu sejenak berhenti bicara.


"Iya ada bu Hana?" Ibunya menatap tajam, mimiknya yang tadinya tenang sekarang mulai terlihat cemas menebak-nebak.


"Begini tante... saya mohon maaf sekali. Ketika ujian akhir Sandi tidak mengikuti ujian." Hana terdiam, tenggorokannya seakan tercekat ketika menyampaikan berita itu. Dia menduga ibunya Sandi belum mengetahui kejadian ini.


"Oh ya? Kenapa bu Hana baru menyampaikan berita ini? Lalu bagaimana dengan anak saya?" Manik matanya melihat tajam.


"Iya tante, saya mohon maaf sekali. Ketika itu Sandi ditangkap polisi karena perbuatannya berkelahi di diskotik. Saya tidak sempat menolongnya, dikarenakan saya mengalami kecelakaan dan harus mengalami perawatan yang cukup lama. Saya juga hilang ingatan tante." Hana menunduk, akhirnya dia harus berkata jujur. Dia menyesalinya karena tidak bisa menolongnya waktu itu.


"Oh my God... " Ibunya Sandi seperti tak bertenaga, lemas. Kedua tangannya sempat berpegangan pada pinggir kursi. Lalu tangannya memegang kening, pandangannya begitu linglung.


"Terus bagaimana dengan nasib Sandi bu Hana... tolonglah! Kalau saya mengetahuinya lebih awal mungkin saya akan datang ke sekolah. Sandi pun tidak pernah cerita apa-apa. Saya menyesal selaku ibunya kurang peka pada masalah anak saya sendiri." Ibunya Sandi terlihat menunduk.


"Iya tante saya mengerti dengan kekhawatiran anda selalu orangtuanya. Kami hanya mengajukan dua opsi. Jika Sandi ingin lulus tahun ini, dia harus ikut ujian persetaraan di lembaga lain dan sekolah kami tidak akan mengeluarkan surat kelulusan resmi untuk Sandi dari sekolah. Dan yang kedua Sandi harus mengulang tahun depan mengikuti ujian jika menginginkan sekolah kami mengeluarkan ijazah kelulusannya."


"Oh, begitu ya bu.." Ibunya Sandi mengusap wajahnya.


"Iya tante."


"Apakah Sandi sudah tahu bu Hana?" Ibunya Sandi menatap Hana serius.


"Belum tante. Saya baru menyampaikan hal ini pada tante. Baiknya nanti orangtua bisa berdiskusi untuk penyelesaian masalahnya. Kami harap sebagai gurunya, orangtua bisa lebih bijak demi kebaikan Sandi sendiri di masa depan. Kami akan memberi waktu dalam jangka tiga hari tante, dikarenakan pembagian ijazah akan dilakukan seminggu lagi."


"Oh baik, saya akan bicara sama Sandi bu Hana. Tapi ada satu kekhawatiran saya bu Hana." Ibunya Sandi terlihat bingung.


"Iya tante, mungkin ada yang bisa saya bantu?"


"Saya khawatir kemarahan ayah Sandi, buat saya pribadi saya gak apa-apa terserah baiknya Sandi. Saya ikuti saja. Tapi bagaimana ya kalau ayahnya Sandi sampai tahu hal ini... Saya beneran bingung." Ibunya Sandi menutup wajah. menelungkupkan kedua tangannya di muka.


"Oh begitu ya? Mungkin nanti saya akan bicara dengan Sandi juga tante, bagaimana baiknya. Karena lambat laun pasti ayahnya Sandi bakal mengetahu juga."


"Iya bu Hana, saya minta tolong biar Sandi dikasih nasihat. Biar nanti menyampaikan berita pada ayahnya bisa lebih kondusif."


"Baik tante, saya akan usahakan. Saya sepertinya tidak bakal lama tante karena saya akan pergi ke sekolah untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan saya yang belum selesai." Hana basa-basi untuk pamit kembali.


"Oh iya baik bu Hana... saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan dan pengertiannya selama ini. Saya mohon maaf jika merepotkan!"


"Iya ga pa-pa tante, itu sudah kewajiban saya sebagai gurunya Sandi. Saya pamit mohon izin dulu." Hana berdiri lalu bersalaman cium pipi kiri kanan pada ibunya Sandi.

__ADS_1


"Iya baik bu Hana, sekali lagi saya ucapkan banyak Terima kasih!"


"Iya tante, Sama-sama."


"Oh, tunggu sebentar biar saya panggilkan supir buat antar bu Hana ke sekolah." Ibunya Sandi berbalik arah. Tapi belum sempat ibunya Sandi memanggil supir pribadinya Hana memotong bicara.


"Maaf tante, saya... sudah ditunggu di depan. Jadi tidak usah diantarkan!" Hana tersenyum tipis.


"Oh... diantar?"


"Iya tante." Hana agak merasa bersalah. Takut ibunya Sandi kecewa.


"Diantar siapa sayang?" Ibunya Sandi sepertinya ingin tahu.


"Itu... tante... hhh... " Hana benar-benar gerogi.


"Bener ada yang nganter?" Ibunya Sandi kembali mengulang pertanyaannya.


"Iya tante, maaf saya buru-buru." Hana memilih mengakhiri pembicaraan dan berjalan perlahan mundur.


"Oh baiklah kalau begitu, biar saya antarkan sampai depan ya!" Ibunya Sandi menawarkan diri untuk mengantarkan Hana sampai pintu gerbang.


Hana benar-benar kalut, sekaligus bingung.


"Hhhh... gak usah tante, gak usah diantar!"


Tapi tangan Ibunya segera menggandeng Hana lalu berjalan menuntun Hana ke depan. Dia tersenyum ramah.


Hana tak bisa menolak apalagi berlari. Wajahnya penuh kekhawatiran. "Bagaimana ini.. " Hana bergumam di dalam hatinya. Dia seolah memperlambat jalan kakinya. Senyum ibunya Sandi begitu panjang. Hana tak bisa membayangkan jika ibunya Sandi bakal kecewa berat, kalau Hana ketahuan diantar laki-laki lain. Apa yang harus dikatakan selanjutnya pada ibunya Sandi. Hana seperti melakukan dosa besar saja. Seperti ketahuan selingkuh. Padahal harusnya tidak takut atau apalagi merasa bersalah. Karena Hana diantar oleh suaminya sendiri.


Deg


Ibunya Sandi mematung, matanya tak berkedip. Melihat seseorang yang sudah menunggu Hana di depan mobilnya.


Wei tersenyum memberi hormat. Tapi ibunya Sandi masih mematung tanpa reaksi apapun. Dia melihat pria dewasa yang mungkin saja lebih cocok daripada anaknya sendiri.


Bagaimana ini? Kenapa anakku masih saja mengejar bu Restu ya atau bu Hana. Kenapa juga perempuan itu tidak menolaknya lagi? Siapa dia? Aku malah curiga laki-laki itu mungkin pacarnya? Ah... bagaimana ini?


"Bu Hana... itu siapa?" Ibunya menoleh ke arah Hana sambil terbata-bata. Masih syok menatap laki-laki yang ada di depannya. Berharap Hana menjawab dia bukan pacaranya.


"Maaf tante... perkenalkan ini suami saya." Walau dengan berat hati Hana harus memperkenalkan laki-laki itu pada ibunya Sandi. Wajah Hana nampak sekali merasa bersalah.


"Perkenalkan nama saya Wei." Wei menyodorkan tangannya pada ibunya Sandi.


Ibunya Sandi malah melongo, masih tak percaya dengan semua yang didengarnya.


"Tante, baik-baik saja?" Hana membaca kekhawatiran ibunya Sandi.


"Ya.. saya... baik. Ya baik." Ibunya Sandi terlihat linglung.


"Suami ya?" Ibunya Sandi mengulang kembali bertanya menoleh ke arah Hana.


"Iya tante." Hana mengangguk.


Kenapa juga Sandi masih mengikuti perempuan ini. Kalau dia tahu sudah bersuami bukankah Sandi jadi orang ketiga. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini sandiwara? Jangan-jangan Sandi tidak tahu Hana sudah bersuami.


Ibunya Sandi menatap silih berganti antara Hana dan Wei. Mengamati keduanya dengan seksama. Adakah diantara mereka yang berbohong.


Spontan ibunya Sandi menggelengkan kepala sambil masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai tanpa permisi.

__ADS_1


"Ini tak mungkin."


__ADS_2