Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Pengaruh


__ADS_3

"Suudzon." Semua mengernyitkan dahi ketika Caterina mengucapkan kata itu.


"Bahasa apa itu? Apa artinya?" Steve mewakili semuanya yang masih merasa bingung.


"Itu bahasa Arab kak, Artinya berburuk sangka. Kakak tidak boleh berburuk sangka sebelum kakak tahu buktinya. Gitu kata kakak di rumah teh Sari." Jawab Caterina santai.


"Waduh anak ayah gayanya udah mirip teh Sari ya. Tinggal ditutupin aja nih kepalanya." Tuan Hans menguyel-nguyel kepala Caterina dengan gemas.


"Ayah... ampuun." Caterina memeluk ayahnya sambil pura-pura menyerah.


"Ih.. manja!" Steve mencoel hidung Caterina yang mancung.


"Ih... biarin!" Caterina menjulurkan lidahnya pada Steve.


Hana tersenyum melihat Steve dan Caterina bercanda dengan akrab. Hana merasa terhibur dengan kedatangan Caterina yang selalu saja ada yang membuatnya tersenyum.


"Kita masuk ke ruangan!" Tuan Hans mendorong kursi roda Hana. Mereka berjalan beriringan.


"Bu Restu ini saya bawakan makanan. Tadi teh Sari menitipkan ini untuk ibu." Raffa dari tadi sudah menunggu di depan ruangan.


"Oh iya terimakasih. Ayo kita masuk!" Hana tersenyum mempersilahkan Raffa untuk masuk ke ruangannya.


"Wah teh Sari kan lagi hamil. Repot harus memasak untuk saya." Hana melihat Raffa tak enak terus-terusan merepotkan Sari dan keluarganya.


"Tidak kok bu tadi dibantu sama mamanya Caterina juga bibi yang biasa bantu-bantu di rumah." Jawab Raffa.


"Wah.. ini beneran bikinan mama?" Hana begitu senang melihat aneka menu yang sudah dibuka dari wadahnya.


"Iya. Tadi aku juga bantuin loh kak!" Caterina tidak mau kalah eksis.


"Iya bantuin lihat ya?" Steve kembali menggoda Caterina.


"Iya lah.. kalau gak diliatin kan gak bakal mateng kak. Gimana kalau gosong?" Ada saja jawaban Caterina untuk melawan candaan Steve.


"Iya lah.. ngomong sama kamu tuh kaya gak bisa menang deh." Steve terlihat menyerah.


"Hore.. " Caterina bersorak.


"Sini kak. aku suapin. Biar ayah sama kakak juga makan. Aku tadi sudah makan di rumah duluan." Caterina mengambil wadah yang sedang dipegang lalu menyuapi Hana sedikit demi sedikit.


"Steve... setelah makan ayah akan menemui dokter Aldi dulu ya! Kamu temani Hana sama adikmu!" Tuan Hans teringat janjinya tadi akan menemui dokter Aldi untuk konsultasi seputar kemajuan Hana.


"Baik yah!" Steve mengangguk.


Semuanya makan dengan tenang diselingi candaan Caterina yang terkadang mengundang tawa.


"Maaf dokter Aldi. Saya mau tanya. Apakah Hana masih lama harus melakukan terapi?"


"Hhmm. Kira-kira begitu tuan Hans. Karena akhir-akhir ini pengobatan Hana banyak terganggu apalagi mentalnya terus-terusan diuji. Jadi untuk terapinya harus diulang terus." Jelas dokter Aldi.


"Begini dokter Aldi. Saya mohon izin apakah Hana bisa rawat jalan untuk pengobatannya? Soalnya dokter juga tahu. Setelah kematian Daniel disini, Hana tidak begitu tenang. Dia merasa gelisah terus. Bagaimana menurut dokter?" Tuan Hans berharap permintaannya dikabulkan.


"Sebentar ya tuan Hans. Saya akan konsultasikan dahulu dengan dokter yang lain. Mungkin nanti keputusannya akan saya beritahukan pada anda secepatnya." Jawab dokter Aldi.


"Saya ucapkan terimakasih ya dok! Semoga Hana menemukan jalan terbaik untuk kesehatannya." Tuan Hans bersalaman.


"Baik. Kita doakan bersama ya. Semoga semuanya mendapatkan yang terbaik." Dokter Aldi memberi dukungan.


Tuan Hans pun berlalu dari ruangan Dokter Aldi. Langkah kaki tian Hans seolah gontai. Merasakan kelelahan. Bukan Hanya pisiknya tapi juga batinnya.


"Tapi aku tak boleh menyerah demi anak-anakku semua. Dibandingkan Hana aku tak seberapa. Aku harus kuat agar bisa jadi sandaran buat mereka." Tuan Hans bergumam sendiri. Menyemangati dirinya agar bisa bertahan dari segala ujian yang sedang dialaminya.


###


Sementara itu di ruangan isolasi nampak ibunya Daniel tengah duduk termenung. Dia sedang menunggu dokter yang akan memeriksanya.


Tak lama kemudian dua orang dokter dua orang perawat menghampirinya. Dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji kestabilan emosi ibunya Daniel. Keduanya terlihat mengangguk mengisyaratkan bahwa ibunya Daniel sudah bisa diajak komunikasi dengan baik.


"Dokter kapan saya diizinkan untuk menjenguk anak saya dan bisa menguruskan kremasinya?" Suaranya begitu parau. Masih menyisakan kesedihan yang mendalam.


"Anda akan dikawal besok menuju rumah sakit. Diharap anda tidak membuat keributan apalagi membuat masalah. Ini kesempatan anda untuk berdamai dengan korban dan keluarganya untuk proses penyelesaian persidangan ke depannya." Seorang dokter dari kepolisian menerangkan pada ibunya Daniel agar bisa mengendalikan diri.


"Baik." Ibunya Daniel hanya tertunduk pasrah. Untuk waktu sekarang rasanya sudah tidak ada energi lagi untuk memberontak apalagi membuat masalah. Semuanya seperti tidak ada penyemangat bagi dirinya.


"Baik kami akan melaporkan kesiapan anda nanti ke bagian polri agar bisa mengawal anda besok." Dokter tadi berdiri lalu keluar dari ruangan itu.


Keesokan hari ibunya Daniel. datang dengan pengawalan dan langsung disambut oleh pihak rumah sakit.


Dia langsung diantar menuju ke sebuah ruangan khusus jenazah.

__ADS_1


Laci pendingin langsung ditarik untuk memperlihatkan kondisi jenazah Daniel pada ibunya.


Semua orang yang di ada dalam ruangan sedang tertuju melihat ibunya Daniel.


Dia mendekati laci itu, diamatinya jenazah anaknya yang kini sudah terbujur kaku. Terbayang wajah anaknya yang beberapa hari kebelakang pernah berdebat dengannya. Dan kini dia terdiam seribu bahasa tak lagi ada kata ataupun bantahan.


Dia mengelus lembut wajah yang masih menyisakan ketampanannya. Wajah yang selama ini dia sayangi sepenuh jiwa raga nya dan kini wajah itu pula meninggalkan dirinya dalam berjuta penyesalan.


Hik. hik. hik...


Tangisan seorang ibu yang telah merawatnya sejak bayi sampai akhirnya meledak. Tubuh itu tak bergeming sedikit pun walaupun tangisan wanita di hadapannya habis tumpah. Dia terlihat tenang seperti tertidur pulas.


"Maaf nyonya.. anda tak punya waktu lama.' Seorang petugas kepolisian membisikkan pada ibunya Daniel atas waktu yang diberikannya tidaklah lama.


"Saya minta waktu sebentar lagi pak!" Ibunya Daniel menyusut air matanya lalu kembali menatap Daniel.


"Jika anda sudah selesai mari kita bicara di dalam ruangan untuk acara kremasi putra nyonya!" Direktur rumah sakit mempersilahkan ibunya Daniel untuk pergi dari ruangan jenazah dan mengajaknya ke ruang khusus penerimaan tamu.


Masih dalam pengawalan kepolisian ibunya Daniel pergi ke ruangan yang telah disediakan pihak rumah sakit.


"Silahkan nyonya duduk!" Direktur rumah sakit ditemani dokter Alvian dan beberapa dari orang kepolisian duduk di satu ruangan.


"Maaf nyonya. Untuk kebaikan putra anda juga kebaikan semuanya mari kita ikhlaskan putra anda untuk segera dikebumikan. Dan kami selaku pihak rumah sakit akan mengurus beberapa hal untuk mengeluarkan jenazah putra anda dari sini. Untuk itu kami mohon izin dari anda, mau dimana putra anda akan dikremasi?"


Ibunya Daniel tidak segera menjawab. Tatapannya masih kosong. Tak tahu harus dibawa kemana jenazah putranya sekarang.


"Nyonya?"


"Aku tak tahu harus dimana dokter. Yang jelas aku tak ingin jauh dengannya."


"Apakah anda ingin di kota ini atau mau membawanya ke Jakarta?" Tawar Direktur rumah sakit.


Dia masih terdiam. Ibunya Daniel belum bisa berbicara apapun. Apalagi sekarang dia dalam masa tahanan sementara dan belum lanjut ke sidang menjadi tahanan tetap. Ada kemungkinan dirinya akan lama ditahanan di kota B.


"Maaf nyonya. Teman dekat putra anda bernama. tuan Wei sudah menawarkan kebaikannya untuk mengurus semua keperluan yang dibutuhkan Nyonya berkaitan dengan kremasi dan acara penguburannya. Tinggal izin anda yang kami tunggu. Apakah jenazahnya akan dibawa ke Jakarta atau mau dikebumikan disini saja?"


Ibunya Daniel melihat direktur rumah sakit. "Aku.. tak ingin jauh dari putraku."


"Apakah anda menginginkan putra anda dikebumikan disini?"


Ibunya Daniel mengangguk.


Hik... Hik.. Hik


Tangisan itu kembali bergema mengisi ruangan.


"Jika pembicaraan ini telah selesai kami akan kembali membawa nyonya sesuai prosedur dan akan kami kawal kembali sampai waktu penguburan putra anda telah siap." Dua pengawal. kepolisian segera mengapit ibunya Daniel. dan meninggalkan ruangan.


"Kasian.. " Dokter Alvian berkata pelan.


Sementara itu direktur rumah sakit telah memberitahukan pada tuan Hans mengenai kedatangan ibunya Daniel juga acara pemakamannya.


"Apakah kita akan memilihkan tempat untuk Daniel yah?" Steve berbicara mengenai tempat yang akan dipakai untuk pemakaman Daniel.


"Iya.Tapi ayah tidak tahu betul kota B." Tuan Hans masih bingung untuk mengurus acara pemakamannya.


"Kalau tuan Hans tidak keberatan saya akan membantu mencarikan tempat yang cocok untuk pemakamannya. Juga gereja yang akan membantu mendoakan Daniel." Gavin menawarkan untuk membantu kesulitan tuan Hans.


"Terimakasih banyak kang Gavin. Kami sudah banyak membuat Anda kerepotan selama ini. Ditambah sekarang kami akan banyak merepotkan lagi." Taun Hans merasa tidak hati sudah banyak dibantu oleh Gavin juga Sari selama berada di kota B.


"Tak apa-apa tuan Hans. Kita wajib membantu jika memang kita mampu untuk membantu. Saya merasa senang jika bantuan saya bisa bermanfaat." Gavin membesarkan hati tuan Hans yang sudah seperti keluarga sekarang.


"Kang Gavin untuk biaya lain-lainya biar kami yang tanggung. Kang Gavin cukup bantuin kami mencarikan tempat dan melobi yang bisa mendukung untuk acaranya." Steve mencoba menjelaskan pada Gavin agar tidak banyak merepotkan.


"Baik. Saya akan pergi sekarang ke tempat pemakamannya untuk memilih tempat. Dan akan menghubungi gereja yang akan dijadikan tempat pengantar doa bagi jenazah Daniel. Sekaligus tempat duka untuk menyambut para tamu."


"Sekali lagi kami ucapkan banyak Terima kasih kang." Ucap Steve sambil bersalaman.


"Baik. Sama-sama. Jika ada yang dibutuhkan lagi jangan sungkan untuk meminta." Gavin membalas erat jabatan tangan dari Steve.


Keluarga Steve merasakan ketulusan mereka dalam membantu tanpa pamrih.


"Sebenarnya ayah merasa tidak enak harus berlama-lama tinggal disini Steve. Kalau acara pemakaman selesai. Ayah ingin membawa ke Jakarta atau kalau bisa ke Perancis." Tuan Hans menghela nafas.


"Tapi yah.. sepertinya malah akan sibuk bagi Hana ketika acara pemakamannya selesai." Steve yang sudah tahu apa yang akan terjadi pada Hana paska kematian Daniel tidak bisa mengiyakan apa yang dikatakan tuan Hans.


"Maksudmu?" Tuan Hans mengerutkan dahinya tak mengerti maksud perkataan Steve.


"Yah... sidang ibunya Daniel akan segera dimulai. Tentu Hana gak bisa pergi begitu saja. Belum... Hana pewaris tunggal dari perusahaannya. Sebentar lagi pasti akan ada rapat direksi. Semuanya tidak bisa Hana tinggalkan yah."

__ADS_1


"Hhhmm." Tuan Hans menarik nafas lalu mengeluarkannya kasar.


"Hana butuh dukungan dan bantuan kita. Selain dia tidak ada pengalaman dia juga lemah. Kalau kita tinggalkan begitu saja, kasian yah." Sela Steve.


"Bener juga. Ternyata perjalanannya belum bisa cepat selesai." Tuan Hans menunduk.


"Ayah.. jika ayah merasa lelah. Pulanglah dulu. Nanti ayah bisa kembali lagi. Biar aku dan Wei yang menjaga Hana disini. Ayah butuh kembali ke Perancis." Steve memeluk bahu ayahnya. Dia mengerti ayahnya sudah tidak muda lagi. Apalagi sekarang dihadapkan pada masalah yang bertubi-tubi. Bukan hanya lelah fisik tapi psikisnya juga.


Tuan Hans memeluk Steve. "Ayah senang melihat kalian akur berkumpul. Tidak ada yang membuat ayah bahagia selain melihat kebahagiaan kalian semua."


"Terima kasih. Selama ini sudah mendampingi aku." Mata Steve berkaca-kaca. Dia terharu atas pengorbanan ayahnya selama ini. Yang bisa bertahan juga bersabar. Ditambah sekarang keadaan Hana yang mempunyai masalah kompleks.


"Sama-sama.. terimakasih sudah menjadi anak ayah baik. Ayah bahagia sudah bertemu dengan Hana dan bisa dipercaya untuk menjaganya. Semoga ayah panjang umur sampai kalian mempunyai keturunan." Tuan Hans tersenyum mengelus lembut bahu Steve.


Kring


kring


kring


Suara handphone Steve terdengar menyala.


"Maaf yah saya mau mengangkat telepon dulu." Steve berdiri.


"Iya."


"Halo"


"Iya halo."


"Maaf ini tuan Steve?"


"Betul. Ini dengan siapa ya?"


"Saya pengacara keluarga pak Roy ayahnya Hana."


"Iya ada yang perlu saya bantu?" Jawab Steve.


"Saya telah mendengar tentang kematian tuan Daniel. Dan sebelum meninggal tuan Daniel pernah menemui saya dan memberikan surat wasiatnya. Kami mungkin akan menemui nona Hana untuk menyampaikan amanah wasiatnya."


"Oh iya baik. Nanti akan saya sampaikan pada Hana."


"Oh iya baik. Untuk acara pemakamannya akan diadakan kapan ya?"


"Mungkin lusa. Karena ada beberapa hal yang sedang kami siapkan."


"Oh iya. Kalau boleh kami mau meminta alamat rumah duka untuk mengucapkan turut berbela sungkawa pada keluarga tuan Daniel dan nona Hana."


"Baik nanti akan saya kirimkan alamatnya."


"Iya saya ucapkan terimakasih."


"Iya sama-sama."


Baru saja handphone ditutup. Suara panggilan kemudian masuk kembali.


"Wei."


"Ya Steve. Bagaimana kabar pemakamannya Daniel?" Wei menanyakan kabar perkembangan seputar pemakamannya Daniel.


"Seperti lusa akan dimakamkan. Baru saja ibunya Daniel datang ke rumah sakit untuk memberikan persetujuan mengenai pemakamannya."


"Baiklah aku besok akan datang kesana."


"Iya."


"Eh, Steve bagaimana dengan persiapannya? Adakah yang membantumu menyiapkannya? Berita kematian Daniel sudah bisa disebarkan? Soalnya beberapa kolega Daniel pastinya ingin melayat juga kan?"


"Aku beruntung banget bisa kenal sama kang Gavin. Beliau yang mengurus semuanya. Tinggal kita membayar biaya saja."


"Oh baiklah kalau begitu untuk masalah biaya akun yang akan tanggungjawab."


"Tapi.. "


"Kenapa?"


"Kemarin Hana minta dibagi dua saja. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk kakaknya sebagai pemberian terakhir."


"Iya baiklah bagaimana baiknya saja."

__ADS_1


__ADS_2