
"Segala sesuatu pasti ada pada taqdirNya. Manusia hanya menjalani apa yang telah telah tertulis dalam lauhil mahfudz. Tak ada yang bisa menghalangi ataupun yang menangkal jika memang sudah ada dalam taqdir Allah SWT. Kita hanya pasrah dan bertawakal padaNya."
Ceramah pagi yang didengarnya dari radio dalam mobilnya, seperti sengatan bagi dokter Alvian yang setelah sholat berjamaah di mesjid rumah sakit dia langsung pergi ke parkiran untuk pulang menuju rumah ayahnya.
Sekian lama dia menjauh dari kegiatan religi, bahkan mungkin Al-Quran pun sudah lama terpajang di lemari apartemennya tanpa sentuhan.
Entahlah apa yang tiba-tiba mengusiknya? Kembali ke kota B seperti mengingatkan masa-masa dahulu yang pernah dirindukannya. Ketika sesama aktivis pergi ke mesjid. Belajar mengaji, berdiskusi, bahkan lebih senang berlama-lama dengan mereka berkumpul.
Tapi semenjak mereka berpisah lalu sibuk dengan dunia masing-masing, dokter Alvian merasakan hal yang gersang bahkan tandus dalam hatinya. Ya, mencari teman yang satu frekuensi itu memang benar-benar tidak mudah. Apalagi dengan kesibukan pekerjaan dan tantangan lingkungan membuat dia semakin menjauh dari ruhnya agama.
Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikannya sampai di depan rumah ayahnya. Setelah sekian lama kakinya tak menginjak rumah ini, sekarang dokter Alvian sedang mencoba memperbaiki hubungannya dengan semua anggota keluarganya sendiri yang sudah lama renggang.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam.. Eh aden sudah pulang?" Seorang wanita yang kira-kira hampir enam puluh tahunan menyambutnya dari balik pintu.
"Iya bi. Ayah dan ibu sudah bangun bi?" Dokter Alvian mengedarkan pandangan. Semua ruangan nampak masih sepi.
"Bapak sama ibu masih dzikir pagi di mushola. Aden mau sarapan?" Bi Irah pembantu yang sudah lama mengabdi sudah kenal betul siapa orang yang ada di depannya. Ya dia mengabdi semenjak usia 15 tahun di keluarga dokter Alvian jadi sudah kenal betul dengan kebiasaan masing-masing.
"Boleh bi. Bikinkan teh manis saja bi! Saya agak ngantuk. Jadi mau lanjut istirahat dulu." Dokter Alvian yang sudah berjaga tadi malam di rumah sakit, rasa kantuknya masih menempel berat di pelupuk matanya.
"Baik den. Bibi bawakan nanti ke kamar aden ya!" Bi Irah langsung ke dapur untuk membuatkan teh manis permintaan dokter Alvian.
Dokter Alvian naik ke lantai dua dan segera membaringkan badannya di sebuah kamar yang baru dua hari ini disiapkan. Ya warna cet kamar masih baru juga semua alat-alat yang ada di kamar itu serba baru. Kamar itu sengaja didesain baru untuk menyambut kedatangan dokter Alvian yang sudah lama sekali tidak pernah pulang.
"Bi, Alvian sudah datang?" Dari belakang pundak bi Irah, Bu Dena menghampiri.
"Eh iya bu, baru saja. Tapi aden langsung masuk kamar. Katanya pengen teh manis dibawakan ke kamar, karena mau lanjut istirahat." Bi Irah mengucek air teh sambil menjawab majikannya.
"Oh. Kita hari ini akan memasak bi. Siapkan bahan-bahannya kalau bibi sudah mengantarkan pesanan Alvian. Nanti biar Alvian bangun masakan sudah siap. Biar saya yang menyiapkan sarapan untuk bapak dulu ya!" Bu Dena bicara ramah sambil menyiapkan sarapan ringan untuk dokter Hadi suaminya. Dia berencana untuk menyiapkan masakan besar dan makan bersama. Karena momen kepulangan Alvian sudah lama ditunggu setelah sekian tahun mereka berpisah karena hubungan ayah dan anak yang kurang baik.
"Baik bu. Nanti akan saya persiapkan. Saya akan membawa minuman ini dahulu sambil membawa cemilan ke kamar dengan den Alvian."
"Iya bi." Bu Dena pun melengos.
Tak lama kemudian sarapan itu segera disuguhkan kehadapan suaminya.
"Alvian sudah pulang?" Dokter Hadi menatap istrinya sambil bertanya.
"Iya. Baru saja. Alvian sedang istirahat di kamarnya. Hari ini bapak mau pergi ke rumah sakit?" Bu Dena duduk di samping pak Hadi setelah menyiapkan sarapan ringan segelas air hangat juga biskuit kesukaannya di depan suaminya.
"Sepertinya bapak akan menunda berangkat dinas sampai Alvian berangkat. Bapak ingin tinggal dulu di rumah selama Alvian ada disini." Pak Hadi menyeruput air putih hangat pelan-pelan.
"Iya, ibu juga berencana masak kesukaan Alvian pak. Ibu harap Alvian bisa betah tinggal disini. Sudah lama kita tidak berkumpul. Ini momen langka dan sudah lama kita tunggu."
Sepasang suami istri asik dengan obrolan-obrolan kecilnya.
Tut
Tut
Tut
Suara Handphone berbunyi. Dokter Alvian dengan sikap malasnya merogoh handphonenya yang berbunyi di atas nakas tempat tidurnya.
"Iya Halo."
"Vian kamu dimana?" Seseorang menanyakan keberadaannya.
"Aku di rumah." Suara paraunya masih terdengar jelas di seberang telepon.
"Kamu lagi tidur Vian?"
"Hhmm. Ada apa?" Masih dengan mata terpejam dokter Alvian menjawab pertanyaan dokter Aldi.
"Sebenarnya aku tak enak juga mengatakan ini, apalagi kau baru saja istirahat setelah tadi malam tidur di rumah sakit." Dokter Aldi sebenarnya tidak enak hati mengatakan masalah Hana pada dokter Alvian. Apalagi kondisinya masih mengantuk.
"Ada apa Al? Katakan saja!"
"Hhhmmm Hana Vian." Dokter Aldi tak mampu melanjutkan bicaranya.
Mendengar nama Hana disebut dokter Alvian yang sedang berbaring pun langsung bangun.
"Ada apa dengan Hana?" Telinganya sengaja ditajamkan dan matanya dibuka lebar.
__ADS_1
"Terpaksa aku mengikatnya karena dia mengamuk. Dan aku belum bisa memberikan obat penenang. Karena berbahaya jika dia diberikan obat penenang dalam kondisi dia lemah."
"Baik, aku segera ke rumah sakit."
"Maaf aku mengganggumu!"
"Taka apa. Aku mandi dulu ya Al. Habis ini aku langsung ke rumah sakit." Dokter Alvian langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi. Acara tidurnya terpaksa batal setelah mendengar berita Hana.
Setelah selesai mandi dia segera memakai pakaian santai baju kaos dan celana bahan bahan street. Lalu menyisir rambut dengan gaya cuek dokter Alvian turun dari lantai dua.
"Assalamu'alaikum. Aku pergi dulu ke rumah sakit." Dokter Alvian menyalami tangan kedua orang yang sedang asik berbincang sambil sarapan pagi. Keduanya yang belum sempat bertanya saling memandang menghentikan suapan biskuit melihat Alvian menjauh dan ke luar rumah.
"Pak, Alvian tidak jadi istirahat? Ko langsung pergi lagi ke rumah sakit?" Bu Dena menatap suaminya dengan wajah penuh pertanyaan.
"Hhhmm. Mungkin ada urusan penting." Pak Hadi tak mau menjawab lebih.
Setibanya di rumah sakit dokter Alvian labgsung menemui dokter Aldi.
"Al, gimana Hana?" Dokter Alvian masih dengan nafas yang tersenggal-sengal tak sabarenanyakan kabar Hana.
"Dia mengalami depresi. Terpaksa aku mengikat tangannya sampai agak tenang. Dia melukai kaki-kakinya sewaktu mandi pagi."
"Aku boleh menemuinya?" Tatapan tajam dokter Alvian sedang fokus berbicara.
"Ayo kita ke ruangannya!"
"Disana ada siapa?"
"Untuk sementara aku menyarankan untuk tidak ditemani dulu. Nunggu tenang."
"Ayo masuk!" Dokter Aldi menyuruh dokter Alvian masuk ke ruangan Hana.
Terlihat Hana terbaring tak berdaya dengan kondisi diikat tangan ke pinggir kasur. Sekarang terlihat agak tenang dibandingkan sebelumnya yang memukul-mukul badan dan wajahnyaq. Matanya masih terlihat basah dengan linangan air mata. Dia memandang kosong.
Dokter Alvian mendekati ranjang Hana menatap kasihan.
"Hana... "
"Ngapain kamu kesini?" Hana setengah berteriak memprotes siapapun yang datang ke ruangannya. Air matanya meleleh diseputar pipi dan ujung-ujung kelopak mata.
"Kenapa? Tidak boleh?" Tatapan dokter Alvian masih tidak terlepas dari Hana. Hana membalikkan wajahnya ingin menghindar dari tatapan Alvian.
Hana terdiam dengan wajah judesnya sesekali terdengar isakan dan hidungnya terasa mampet karena cairan yang naik turun di sekitar hidung bekas menangis. Dokter Alvian mengambil tisu dan menghapus air mata yang meleleh dan cairan yang ada di hidung keluar bersamaan dengan air mata.
"Semua orang berdoa dan berharap agar Tuhan membantumu agar kembali sadar."
"Ya, doa mereka dikabulkan. Kamu bisa bangun dengan cepat dibandingkan dengan pasien-pasien yang mengalami hal sama."
Dokter Alvian terdiam. Dia sedang berpikir bagaimana menyadarkan pikiran Hana yang belum siap menerima kenyataan bahwa dirinya lumpuh.
"Kamu tahu, di luar sana banyak pasien-pasien yang koma bertahun-tahun bahkan bisa berakhir dengan kematian?"
"Padahal jika kamu tahu, apa keinginan orang mati ketika dia mendapatkan siksaan di alam sana?"
"Mereka hanya ingin dihidupkan kembali walau barang semenit agar mereka bisa berbuat baik. Tapi permintaan mereka hanya sebatas harapan kosong. Tuhan hanya menyesalkan kenapa ketika mereka dikasih kesempatan hidup, malah mereka menyia-nyiakan.
"Lalu kamu Hana? Tuhan sudah berbaik hati sama kamu menghidupkan kembali dengan dikelilingi orang yang sayang sama kamu, malah kamu tak bisa menghargai semua itu?"
"Kamu maunya apa?"
Terdengar Hana menangis kembali sambil meraung-raung mendengar pernyataan dari dokter Alvian.
Dokter Aldi menepuk dokter Alvian. Rasanya gak tega juga melihat Hana menangis meraung-raung meratapi keadaannya. Ditambah dokter Alvian bicara tegas pada Hana.
"Harusnya kamu bersyukur masih dikasih kesempatan hidup sama Tuhan."
Dengan deraian air mata Hana akhirnya menoleh membalikkan wajahnya ke arah dokter Alvian dan dokter Aldi.
Di tengah sesenggukan nya dia bicara terpatah-patah.
"Maafkan aku... " Mata Hana yang sembab menatap sedih.
Dokter Alvian dan dokter Aldi saling bertatapan. Kemudian keduanya melihat Hana dan menganggukkan kepala. Mereka tersenyum melihat Hana. Dalam batinnya mereka berdua merasa terenyuh dan kasihan.
"Aku tahu kamu kuat Hana. Kamu pasti bisa melewati ujian ini. Bukankah dulu pun kamu bisa melewatinya? Sekarang pun kamu pasti bisa!" Terang dokter Alvian memberikan semangat.
__ADS_1
"Aku mohon tolonglah buka ikatan ini!" Hana dengan suara parau meminta melepaskan ikatan tangannya yang sengaja diikatkan pada tepi ranjang.
"Kamu janji tidak akan mengamuk lagi?" Dokter Alvian memastikan bahwa Hana bisa tenang tidak melukai lagi.
Hana menganggukkan kepala. "Iya aku janji!"
Dokter Alvian menoleh pada sahabatnya. Memberi isyarat untuk membuka ikatan yang tadi diikatkan pada tepi ranjang untuk mencegah Hana melukai dirinya.
"Baik, saya akan bukakan." Dokter Aldi membuka ikatan itu dan melepaskannya. Hana menatap sendu dokter Aldi penuh kepasrahan.
"Nah sekarang sudah terbuka. Hana sekarang mau makan ya! Biar badannya ada tenaga." Dokter Aldi yang biasa ramah membujuk Hana untuk mengisi perutnya yang kosong.
Tok
Tok
Tok
Suara terdengar diketuk.
"Masuk!" Dokter Aldi menyuruh masuk.
"Maaf dokter, ini ada titipan dari Pak direktur untuk dokter Alvian." Seorang perawat menyodorkan paper bag yang berisi tumpukan wadah cantik bermerk yang biasa untuk mengemasi makanan.
"Iya.Terimq kasih." Dokter Alvian menerima tas itu lalu menyimpannya di meja.
"Apa itu?" Dokter Aldi dengan senyuman menggodanya sedang menggoda dokter Alvian.
"Wah.. paket cinta rupanya. Kebetulan nih, kita-kita belum sarapan. Bagaimana kalau unboxing sekarang?" Manik mata dokter Aldi berbinar melihat bingkisan dalam tas itu.
"Wah wanginya... " Hidungnya mengendus seperti kucing.
"Buka saja! Hana mau makan?" Dokter Alvian menatap wajah sendu Hana yang masih menyisakan sembab.
Hana hanya menganggukkan kepala.
"Baik kalau begitu, aku suapin. Janji ya gak ngamuk-ngamuk lagi!" Dokter Alvian memberi ketegasan pada Hana semata-mata dia harus bisa membuat Hana bangkit semangat.
Hana menganggukkan kepala. Dia menuruti apa yang diperintahkan dokter Alvian.
Setelah membuka box yang isinya berbagai macam menu lauk pauk sama nasi. Dokter Aldi makan dengan lahap sekali. Selain lapar, menunya memang enak sekali. Ada capcay dengan udang tepung, daging ayam dan sambal goreng kentang dengan taburan ati ampela. Dokter Alvian yang nota bene yang punya barang malah belum sesuap nasi pun masuk ke mulutnya. Dia sedang menyuapi Hana dengan makanan yang baru saja dikirimkan ayahnya.
"Sudah dokter, saya kenyang." Hana menutup mulutnya.
"Kamu mau minum?" Dokter Alvian menyodorkan botol aqua yang sudah tersedia sedotannya.
Hana kembali menganggukkan kepala. Tak lama kemudian Hana menghisap air botol dengan kemasan bermerk itu dengan perlahan-lahan.
"Wah sekarang giliran Dokter Alvian makan. Biar Hana makan obat dulu ya!" Dokter Aldi memanggilkan perawat untuk memberikan obat yang mesti dimakan rutin.
Setelah perawat memberikan obat. Hana duduk tegak. Dia menatap dokter Alvian lamat-lamat.
Tok
Tok
Tok
Sebuah ketukan kembali terdengar. Perawat masuk lalu mendekati dokter Aldi.
"Dokter, apakah nona sudah bisa menerima tamu. Diluar ada ayahnya dan beberapa temannya." Perawat memberi tahu ada tamu yang ingin menjenguk Hana diluar. Karena semenjak Hana mengamuk, tak ada satupun diperkenankan masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana Hana, kamu mau menerima tamu?" Dokter Aldi menatap Hana meminta persetujuan Hana.
"Hhmm saya ingin cuci muka dokter sama mau ganti baju." Ada perasaan malu yang dirasakan Hana. Setelah mengamuk Hana hanya menggunakan handuk kimono.
"Baik. Bantu Hana berpakaian! Dokter Aldi menyuruh perawat membantu Hana.
"Baik dokter."
Kini Hana sudah berganti pakaian dibantu perawat dan sedikit berhias merapikan rambut juga memoles wajahnya dengan bedak.
"Mari silahkan masuk! Nona Hana sudah siap." Perawat mempersilahkan tamu masuk.
Orang yang sedari tadi menunggu izin akhirnya masuk. Mata Hana melihat ke arah pintu mengamati siapa yang akan datang menjenguknya.
__ADS_1
Mata Hana terbelalak, kaget begitu melihat sosok yang masuk ke dalam ruangannya dibarengi ayahnya dan juga Raffa. Sosok yang sudah lama dirindukan Hana kini hadir di depan mata.
"Kak Wei.. " Netranya tak kuasa melihatnya.