
"Apa kabar Hana?" Sari mengunjungi Hana bersama nyonya Maria, Caterima juga tuan Hans. Mereka menggantikan Steve yang kemarin menunggui Hana.
"Baik teh Sari." Hana merasa senang mempunyai teman yang baik juga ramah.
"Apa mau ayah antar terapinya Hana?" Tuan Hans menawarkan dirinya agar bisa membantu Hana.
"Baik ayah. Aku senang sekarang mempunyai ayah dan keluarga yang lengkap." Jawab Hana dengan wajah berbinar.
"Wah bagus Hana sepertinya mendapatkan amunisi ya setelah semua keluarganya berkumpul." Terang dokter Aldi yang kebetulan sedang kontrol.
"Ayu ayah bantu untuk naik kursi rodanya!" Tawar tuan Hans.
"Wah mama.. aku kaya bayi lagi digendong ayah.." Hana membentangkan tangannya sepeti anak kecil minta digendong.
"Iya gak apa-apa.. nanti mungkin kalau sudah menikah digendong suaminya." Jawab nyonya Maria.
"Wah mama.. kayanya juga sering maen gendong-gendongan ya sama ayah?" Caterina melihat wajah ibunya.
"Hus.. kamu tuh ya!' Ketus Maria pada Caterina dengan wajah malu.
"He he.. ayah coba. dipangku dong mamanya!" Caterina malah semakin menggoda ibunya.
"Apa kamu Caterina mau digendong juga sama ayah?" Tanpa canggung ayahnya langsung menggendong Caterina.
"Ih ayah.. genit! Turunin!" Caterina merasa malu mendapatkan perlakuan ayahnya seperti itu.
"Tuh kan kamu juga malu! Apalagi mamamu." Tuan Hans menurunkan Caterina.
"He he.. kak Hana aja yang digendong ayah sepuasnya kaya anak bayik.. he he.. " Caterina bergelayut manja di bahu Hana yang sudah siap didorong tuan Hans.
"Iya gak pa-pa Kak Hana jadi bayik.. kamu jadi baby sister kak Hana." Hana gak mau kalah dengan Caterina yang tadi menggodanya.
"Baik sister. Aku mau sisternya saja tidak bdengan baby nya.. " Caterina terkekeh-kekeh menggoda Hana.
Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa ruang bahagia mendengar keakraban Hana dan keluarganya.
"Aku ikut deh sama kak Hana yah?"
"Iya hayuu.. biar nanti kamu bisa bantu kakakmu jika dibutuhkan.
" Ayo lest go!" Caterina begitu semangat mendorong kursi roda dibantu tuan Hans.
Sementara itu di kantor polisi ibunya Daniel sedang diinterogasi oleh polisi.
"Maaf nyonya apakah nyonya mengenal orang ini?" Polisi menyodorkan dua foto laki-laki yang telah menembak Daniel.
"Tidak!" Ibunya Daniel menjawab ketus dengan wajah penuh amarah.
"Baik. Kalau anda tak mengenalnya kita akan me. pertemukan anda dengan mereka. Apakah benar mereka tidak mengenal nyonya?" Gertak polisi dengan wajah tak kalah garangnya.
Ibunya Daniel masih terdiam. Dia tak mudah takut digertak oleh siapapun. Mentalnya sudah kebal menghadapi gertakan dan ancaman.
"Pangggilkan dua orang itu kesini!" Perintah laki-laki berbaju preman menyuruh anak buahnya membawa laki-laki yang ditangkapnya di rumah sakit.
"Baik pak!" Mereka pun dengan sigap menerima perintah.
Laki-laki berbaju preman mengamati perempuan yang sudah tidak muda lagi dengan pandangan penuh curiga dan sedang mengintimidasi.
Tak lama kemudian dua laki-laki yang berbaju tahanan dengan tangan diringkus dibawa kehadapan laki-laki yang berbaju preman.
"Hhhh.. " Sebelah bibirnya terangkat tersenyum sinis.
"Lihat baik-baik dengan mata kalian! Siapa orang yang ada di depan kalian?" Bentuknya sambil mata tajam yang siap menyerang.
Dua orang itu melihat wanita yang ada di depannya. Lalu menunduk. Yang ditatap tak sedikitpun merasa takut. Bahkan dia dengan wajah penuh keangkuhannya melihat dengan tatapan membunuh pada dua orang laki-laki yang baru saja datang di depan nya.
"Jawab! Apa kalian mengenalnya?" Bentak orang yang mempunyai menginterogasinya.
"Tidak pak!" Keduanya menjawab kompak.
"Kalian mencoba membohongiku?" Wajahnya menatap teror.
Semuanya terdiam.
Bukkk... Bukkk.. Bukk
Laki-laki itu mengahajar habis-habisan tanpa ampun.
Keduanya tak berdaya dengan tangan terikat menerima pukulan demi pukulan yang diberikan laki-laki yang sedang menginterogasinya.
__ADS_1
Tapi ibunya Daniel hanya terdiam tanpa sedikit pun merasa takut. Wanita yang benar-benar kebal rasa.
"Hahhh... " Laki-laki itu menghentikan pukulannya setelah korban tak berdaya.
"Hey... ingat kamu gak bisa lari dari bukti yang ada. Meski kamu menyewa pengacara handal semua bukti sudah mengarah padamu. Hukumannya seumur hidup atau hukuman mati!" Suara itu penuh penekanan.
Deg
Seumur hidup?
Jantungnya seolah berhenti mendengar kata itu.
"Bagaiamana dengan Daniel.. Daniel.. Daniel.. " Ibunya Daniel bicaranya meracu seperti linglung
Polisi yang sedang berjaga dalam ruangan memanggil petugas.
Dua orang polisi masuk ke dalam ruangan mengapit ibunya Daniel.
"Daniel.. Daniel.. bagaimana dengan Daniel. Gak mungkin aku di disini. Aku mau keluar!" Ibunya berteriak histeris.
Seseorang mengusulkan untuk membawa tahanan ke rumah sakit polri untuk diperiksa secara mental. Memastikan tahanan bisa dilanjut untuk sidang yanga akan digelar berikut nya.
Di lain tempat Hana sedang melakukan terapi diantar tuan Hans dan Caterina.
"Yah sehabis terapi bolehkah aku melihat Daniel?" Pinta Hana.
"Baik. Nanti kita izin dulu ke dokter Aldi. Juga kamu harus ada yang mengawal.
"Kak Daniel itu... kakak tiri kak Hana?" Caterina dengan nada bicara ragu bertanya pada Hana ketika tuan Hans pergi meninggalkan Hana untuk mencari dokter Aldi.
"Hhhmm."
"Oh.. " Caterina mengangguk.
"Bagaimana kamu senang ada di Indonesia?" Tanya Hana pada Caterina.
"Kalau dulu aku males datang ke Indonesia. Gak punya teman. Kalau sekarang aku malah gak mau pulang ke Perancis kak." Dengan wajah berbinar Caterina terlihat senang.
"Kenapa?"
"Sekarang aku punya kak Hana, punya banyak teman juga." Terang Caterina dengan semangat.
"Iya kak. Aku seneng lho kak tinggal sama teh Sari. Orang-orang nya baik semua. Aku baru satu malam aja banyak kenalan kak. Mereka ramah-ramah ternyata. Walau mereka pakai cadar semua tapi mereka tak semenakutkan yang aku kira kak. Mereka juga menawarkan buat nganter aku jalan-jalan malah suka diajakin ke kamar mereka." Terang Caterina.
"Oh ya? Wah kakak kalah dong!" Hana pura-pura cemberut.
"Ya makanya kakak cepet sembuh! Eh kak.. beneran kakak mau menerima lamaran kak Wei?" Tiba-tiba Caterina menanyakan perihal lamaran Wei.
"Ah kamu.. gimana nanti aja. Kakak mau sembuh dulu! Do'ain ya!" Hana tersenyum manis.
"Aku sih pengennya kakak jangan dulu nikah deh.. biar kakak bisa main dulu sama aku. Kalau sudah nikah kan.. susah kak." Caterina cemberut.
"Ih adek kakak manja banget. Ya kita masih bisa main kok!" Hibur Hana yang belum bisa memprediksi apa yang akan terjadi.
"Tapi kak.. kata temen aku juga sama. Kalau kakak kita sudah nikah mereka akan sibuk sama keluarga mereka. Sama suami dan anak-anak nya. Waktu sama kita bakal susah." Keluh Caterina.
"Eh.. masa kamu pengen kakak kamu menjomlo?" Protes Hana.
"Ya enggaklah.. tapi bukankah kita baru ketemu kak.. masa harus sudah berpisah lagi? Lagian aku sudah cerita sama mama mau pindah sekolah ke Indonesia."
"Beneran kamu pindah?"
"Iya.. tapi aku mau kost di tempat teh Sari kak.. biar banyak temen." Kembali Caterina tersenyum membayangkan kebahagian yang dirasakan kemarin.
"Ayah gimana, mengizinkan?" Tanya Hana.
"Ayah malah seneng kak tinggal di rumah teh Sari. Kata ayah kalau kakak bosen tinggal di rumah sakit kita bisa menyewa di rumah teh Sari." Cerocos Caterina seperti mendapatkan ide.
"Beneran ayah bilang begitu?" Hana seolah tak percaya apa yang baru didengar nya. Ternyata keluarga nya senang tinggal bersama keluarga teh Sari.
"Beneran.. nanti aku bilangin ke ayah ya!" Sambung Caterina bersemangat.
"Eh.. jangan dulu. Kakak gak mau sekarang. Kakak ingin dekat dengan kak Daniel. Kasian kak Daniel sendirian disini." Wajah Hana seketika murung.
"Oh iya ya.. Gak pa-pa ntar aku temenin kak Hana disini. Biar kita bisa ngobrol ya kak..?" Caterina mengerti dengan apa yang dipikirkan Hana.
"Iya baiklah. Kakak ucapin terima kasih buat adekku yang cantik juga baik. Kakak bahagia banget punya kalian. Kakak seperti terlahir kembali lalu jadi keluarga kalian." Hana terharu, lalu merekapun saling berpelukan.
"Aku juga senang kok kak.. kaya nemu bayi segede gini. hi hi hi.. lucu ya.. lucu bayi kok segede gini?" Caterina tertawa bahagia.
__ADS_1
"Wah bukan bayi dek.. ini perempuan yang siap punya bayi." Jawab tuan Hans yang tiba-tiba sudah ada diantara mereka.
"Betul-betul yah.. apakah kak Hana suruh cepet punya bayi aja yah? Nanti bayinya kita ambil buat diasuh?" Caterina bergelayut manja ditangan ayahnya.
"Tadi katanya jangan dulu menikah, sekarang suruh punya bayi! Jadi gimana ini dek?" Hana bingung dengan usulan Caterina."
"Sudahlah! Kalau sudah waktunya menikah semuanya juga gak bisa dicegah. Yang penting anak-anak ayah bahagia semuanya." Tuan Hans tersenyum melihat keakraban mereka.
"Oke yah... " Caterina meningkatkan jari telunjuk dan ibu jarinya tanda Oke.
"Eh kamu mau menjenguk Daniel?" Tuan Hans mengingatkan Hana.
"Eh iya yah. Bagaimana menurut dokter Aldi?" Tanya Hana pada tuan Hans.
"Sebentar. Tadi dokter Aldi mau mengantarmu. Ayah tadi dipanggil ke ruang direktur. Nanti kamu bisa kesana ditemani Caterina juga dokter Aldi ya!" Terang tuan Hans.
"Nah itu dia!" Dia menunjuk pada Dokter Aldi yang sedang berjalan ke arahnya.
"Hayuu. Mau melihat Daniel? Ajak dokter Aldi. pada Hana.
"Iya dok!" Hana tersenyum.
"Baiklah dok! Saya permisi dahulu mau menemui direktur." Pamit tuan Hans.
"Silahkan tuan Hans. Dokter Alvian sudah ada kok. bersama. direktur di ruangannya."
"Baik saya permisi dulu! Saya titip dulu anak saya dok!"
"Baik.tuan Hans."
Tuan Hans pun berlalu meninggalkan mereka. Mereka bertiga menuju ruangan ICU melihat keadaan Daniel.
"Dokter apa kita tidak boleh melihat ke dalam?" Hana melihat pada dokter Aldi.
"Daniel masih kritis Hana. Jadi kamu tidak bisa masuk. Hanya bisa sebatas disini saja kalau mau melihat." Jelas dokter Aldi.
'Kenapa dok, Kok kak Daniel masih kritis?" Hana terlihat sedih.
"Kita doakan saja ya! Semua ada dalam kuasa Allah SWT. Dokter hanya bisa berusaha. Kalau Allah memberi kita umur panjang pasti kak Daniel akan bangun dari komanya. Seperti kamu Hana." Dokter Aldi tersenyum menghibur Hana.
"Kak Daniel terlihat begitu tenang ya kak Hana. Dia pasti sedang bermimpi dalam diamnya. Wah kalau kak Daniel bisa bangun seneng banget ya kak.. kita jadi banyak saudaranya." Caterina menyemangati Hana.
"Iya. Kak Daniel seorang kakak yang baik dek. Dia sangat sayang sama kakak." Terang Hana
"Jangan khawatir kak Hana. Kita doakan biar kak Daniel bisa bangun dan melihat kita-kita. Wah.. aku gak kebayang yah.. kita jadi empat bersaudara." Caterina tersenyum sedang membayangkan kalau dia mempunyai saudara yang banyak.
'Hhhm." Hana menjawab pendek.
"Bagaimana kalian sudah puas melihatnya?" Dokter Aldi tersenyum melihat kedua orang yang ada di depannya terlihat gembira.
"Bagaimana kak Hana?" Tanya Caterina.
"Iya dok!" Hana menjawab lesu.
"Jangan cemberut begitu.. siapa tahu kak Daniel sedang melihat kak Hana! Katanya orang yang sedang koma ruhnya malah bisa berjalan-jalan. Malah bisa mengikuti kita." Celoteh Caterina terinspirasi oleh film-film.
"Itu yanga ada di film dek. Kenyataan nya yang memegang ruh kita itu Allah. Bahkan yang membuat rasa kantuk dan kita bisa terbangun lagi juga Allah. Kita sebagai manusia tidak bisa berdaya apapun. Makanya doa mau tidur kan 'Dengan menyebut nama Allah kami hidup dan kami mati' Hakekatnya tertidur itu adalah kematian. Makanya manusi ketika tidur tidak berdaya. Begitu kita bangun doanya 'Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan setelah mematikan. Begitu mulia dan kuasanya Allah dan alangkah tak berdayanya kita manusia. Yang harus kita lakukan adalah pasrah setelah berikhtiar." Dokter Aldi panjang lebar berbicara. Padahal yang diajak bicara berbeda kepercayaan.
"Ohh.. kalau di agama islam ada doa khusus ya? Bacaannya pake bahasa Indonesia apa bahasa apa?" Caterina mencoba ingin tahu.
"Eh maaf.. sepertinya saya salah bicara ya?" Dokter Aldi rupanya membaca keadaan.
"Gak apa-apa dok! Malah aku seneng kok banyak ilmu. Kemarin saja aku ikutan ngaji sama kakak-kakak yang ada di rumah teh Sari. Mereka juga baik-baik orangnya. Aku jadi tahu apa yang dipelajari mereka yang diambil dari kitab suci Al-Quran dan hadist nabi. Rasanya seperti damai dengernya. Malah ayah juga katanya kalau subuh dan magrib seneng dengerin ceramahnya kang Gavin. Jadi enak aja sih dengernya, malah aku kaya ketagihan gitu." Terang Caterina setelah menginap di rumah Sari.
"Oh begitu ya. Syukurlah kalau Caterina tidak merasa terganggu. Mohon maaf kalau saya tidak tahu apa yang menjadi keyakinan kalian." Dokter Aldi merasa bersalah.
"Gak pa-pa dok! Kebetulan saya juga lama bergaul dengan murid-murid dan banyak berinteraksi dengan mereka. Jadi udah biasa kok gak ada masalah." Hana mencoba berbicara agar tidak merasa canggung.
"Nit... Nit... Nit
Suara darurat terdengar dari layar monitor Daniel. Suaranya begitu jelas bahwa keadaan pasien sepertinya kena serangan dadakan.
'Maaf Hana.. saya harus masuk dulu. Saya harus menemani dokter jaga melihat keadaan pasien." Dokter Aldi minta izin untuk meninggalkan mereka.
"Ada apa dok dengan kakak saya?" Hana terihat panik.
"Caterina sebaiknya bawa kakakmu ke ruangannya!' Dokter Aldi nampak membaca situasi Daniel yang sedang darurat.
"Tidak dok! Saya akan menunggunya disini. Saya tidak mau menyesal."
__ADS_1