Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Menebus kesalahan


__ADS_3

"Lalu sewaktu mereka tinggal bersama, apakah mereka tahu mereka adalah saudara?"


Wei hanya menggelengkan kepala.


"Sudahlah! Kita jangan banyak pikiran. Biar kamu tidak lelah."


"Hhmm." Raffa berusaha mengerti maksud Wei barusan.


Di ruangan lain Steve dan ayahnya baru menempati ruangan VVIP. Mereka sengaja menyewa kamar yang lebih luas agar bisa ditempati bersama Hana nantinya.


"Sekarang kamu istirahat saja dulu! Ayah mau menemui Wei dan Raffa ya."


"Baik, yah."


"Tenang saja biar saya menunggu Steve disini sambil menunggu teman saya yang sedang bekerja. Anda bisa tenang jika mau menemui mereka." Sapa dokter Alvian memberi saran.


"Terima kasih dokter! Saya tidak akan lama, mau menemui mereka dahulu." Terang ayah Steve.


"Iya silahkan!"


Ayah Steve keluar ruangan mencari keberadaan Wei dan Raffa yang sedang menunggu diluar kamar operasi.


Tak lama kemudian mereka bertemu.


"Kalian makanlah terlebih dahulu. Sejak kepergian dari Jakarta kamu belum beristirahat sama sekali." Saran ayah Steve pada Wei.


"Paman sendiri sudah makan?" Wei mengingatkannya.


"Sudah, barusan dengan dokter Alvian. Kalian berdua istirahatlah sambil makan. Biar ayah menggantikan disini."


"Steve bagaimana paman?" Wei menanyakan keberadaan Steve.


"Dia ada di ruangan bersama dokter Alvian. Kondisinya pun agak lebih baik. Jadi paman berharap pertemuan ini mempunyai dampak yang baik buat perkembangan Steve."


"Baiklah. Kami pergi dulu paman. Mari Raffa!"


"Iya. Makanlah terlebih dahulu!"


"Baik paman." Wei bersama Raffa meninggalkan ayah Steve sendirian di depan kamar operasi. Wei yang sejak dari Jakarta belum mengisi perutnya tentu sudah merasakan lapar.


"Kamu mau makan dimana Raff?" Wei menanyakan Raffa.


"Terserah kak Wei, kalau mau di kantin silahkan. Kalau kak Wei mau makan di luar aku akan antar ke tempat makan."


"Sepertinya aku harus makan di luar sambil. membeli perlengkapan ganti pakaian."


"Baiklah. Aku akan mengantar kak Wei ke tempat yang tidak terlalu jauh dari sini agar kak Wei bisa makan dan berbelanja."


"Terimakasih Raff!"


"Iya sama-sama."


Mereka ke luar dari rumah sakit mencari tempat makan dan berbelanja pakaian ganti. Dan Wei pun mencari tempat hotel terdekat untuk sekalian beristirahat.


Setelah mereka mengisi perutnya dan tidak lupa mandi dan mengganti pakaian mereka pun kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa kantong makanan untuk bekal selama mereka ada disana.


Wei dan Raffa masuk ke ruangan Steve.


"Apa kabar kak Steve?" Raffa menyapa ramah Steve.


"Baik."


"Perkenalkan ini dokter Alvian!" Wei mengenalkan Raffa pada dokter Alvian.


"Raffa."


"Alvian."


"Bagaimana dok sudah bertemu dengan teman dokter?" Wei menanyakan perihal teman dokter Alvian.


"Belum. Katanya dia sedang melakukan operasi."


"Oh begitu."


"Kalian istirahatlah sambil mengobrol dengan Steve. Kalian pasti lelah. Kalian juga butuh istirahat yang cukup. Saya akan mengitari rumah sakit ini sambil menemui tuan Hans."


"Baik dok! Terimakasih."


"Iya sama-sama."

__ADS_1


Dokter Alvian berlalu dari ruangan lalu menemui Hans ayahnya Steve.


"Tuan Hans."


"Dokter."


"Wei bersama Raffa sudah ada di ruangan. Jadi saya bisa berkeliling rumah sakit." Terang dokter Alvian.


"Iya dok. Mohon maaf saya banyak merepotkan!"


"Tak apa. Saya juga kebetulan cuti sekalian mau menemui teman baik saya disini. Sudah lama kami tidak berjumpa sejak terakhir kali kami praktek di rumah sakit jiwa."


"Dokter pernah praktek disana?"


"Iya."


"Semenjak dari kuliah dan praktek pengabdian kami selalu bersama-sama. Tapi setelah kami lulus kami memutuskan untuk berpisah. Dokter Aldi asli orang sini, jadi dia memutuskan untuk menjadi dokter yang dekat dengan orang tuanya."


"Oh begitu? Menyenangkan tentunya memiliki teman baik yang satu profesi."


"Ha ha.. biasa aja paman. Malah banyak berdebatnya." Dokter Alvian tertawa lepas.


"Setidaknya dalam hidup itu kita mempunyai orang yang dianggap dekat. Kapan pun kita ingin bertemu bisa bertemu. Sungguh kesepian jika kita tak punya siapapun yang bisa kita temui disaat kita hanya ingin kehangatan atau hanya sekedar rindu." Ayah Steve menghela nafas, mengusap wajahnya dengan kasar. Pandangannya melihat kosong ke depan mengenang masa lalu yang sudah tak mungkin dia ulang kembali. Ya sekarang dia sedang mengingat kenangan bersama ibunya Hana.


Pintu kamar operasi terbuka. Ayah Steve dan dokter Alvian sontak melihat siapa yang keluar dari kamar operasi.


"Alvian!"


"Aldi!"


Keduanya seperti terheran-heran. Lalu keduanya saling berpelukan melepaskan rindu.


"Kapan datang?"


"Belum lama. Lah kamu yang operasi Di.. " Dokter Alvian masih dalam keadaan terheran.


"Iya. Lah kamu lagi ngapain disini?" Begitubpun dokter Aldi juga masih terheran kenapa teman baiknya ada di depan kamar operasi.


"Oh iya kenalkan ini tuan Hans, ayahnya pasien, Hana."


"Oh begitu? Kenalkan saya dokter Aldi. Mari masuk ke ruangan saya. Yuk kita lanjut ngobrol-ngobrolnya di ruang kerja saja!"


"Baik." Mereka berjalan beriringan menuju ruang kerja dokter Aldi.


"Mari duduk!" Dokter Aldi mempersilahkan duduk para tamunya.


"Wak tak menyangka kita akan bertemu disini. Kenapa tidak memberi tahu terlebih dahulu?" Dokter Aldi menyandarkan badannya sambil istirahat. Sungguh melelahkan memang bediri berjam-jam diruang operasi.


"Aku juga hanya mau mengantar pasienku pindah perawatan. Eh tak kusangka adiknya dirawat disini. Dan paling mengejutkan namun yang tangani."


"Oh jadi mereka bersaudara?"


"Iya. Terus bagaimana keadaan pasirn Hana Di?"


"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Sekarang sedang di ruang ICU dulu. Kalau sudah sadar nanti kita pindahkan ke ruang perawatan. Tapi berdoa saja, semoga Hana baik-baik saja. Karen beberapa pasien ada yang mempunyai efek samping juga paska pendarahan di otak. Setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin."


"Bagaimana awalnya bisa harus dioperasi?" Dokter Alvian menanyakan ihwal kejadian yang menimpa Hana.


"Pasien waktu datang kesini sudah tak sadarkan diri dengan kondisi sudah ada beberapa pendarahan seperti di area mulut, hidung dan telinga. Setelah melakukan pengecekan ternyata ada penggumpalan darah disekitar otak dan sebagian memang pecah. Jadi harus segera dioperasi. Menurut riwayat, katanya pasien pernah mengalami kecelakaan juga. Kemungkinan bisa dari kecelakaan ada kemungkinan juga karena bawaan sebelumnya." Terang dokter Aldi menerangkan kondisi Hana.


"Ya sekitar syaraf diotak begitu lemah. Pasien sepertinya pernah mengkonsumsi obat-obatan keras dalam jangka waktu lama. Jadi bisa jadi pemicu pecahnya pembuluh darah di otak karena lemahnya pembuluh-pembuluh yang dimiliki pasien.


"Sejauh itukah dokter?" Ayah Steve menghela nafas. Tak terbayangkan nasib Hana harus seperti itu.


"Ya sabar saja tuan Hans. Bagi Allah SWT tak ada yang tak mungkin. Bahkan pasien koma saja bisa kembali sehat. Manusia sekadar berikhtiar. Saya yakin tuan sebagai orangtuanya bisa suport atas kesehatan Hana saat ini."


"Kapan saya bisa melihatnya dokter?" Ayah Steve sudah tak sabar ingin melihat kondisi Hana paska operasi.


"Bersabar ya. Pasien butuh untuk observasi dahulu. Kalau bagian vitalnya sudah stabil nanti bisa ditengok. Untuk sementara kita hanya melihat dari luar saja."


"Baik dokter."


"Nanti saya kabari kalau sudah membaik. Tuan Hans bersama putra anda di kamar mana?"


"Saya di kamar VVIP ruang Diamond. Kalau memungkinkan saya akan merawat kedua anak saya disana sampai membaik."


"Kalau boleh tahu putra anda mengidap apa?" Dokter Aldi yang baru saja bertemu belum tahu riwayat penyakit Steve.


"Nanti aku jelaskan. Dia pasien aku yang sengaja dipindahkan kesini agar tuan Hans bisa merawat keduanya." Dokter Alvian memberi keterangan.

__ADS_1


"Oh begitu ya. Ya saya doakan mudah-mudahan keduanya cepat pulih kembali ya!" Terang dokter Aldi.


"Baiklah dokter. Saya ucapkan terimakasih. Mungkin dokter mau istirahat. Saya permisi dulu untuk kembali ke ruangan." Ayah Steve berniat untuk kembali ke ruangan. Dia pikir dokter Aldi perlu istirahat paska operasi. Apalagi waktu susah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Oh iya baik. Nanti saya kabari perkembangan Hana ya. Anda berdoa saja demi kebaikan putri anda."


"Baik dokter saya permisi." Ayah Steve berjabat tangan untuk mengucapkan terimakasih dan permisi untuk kembali ke ruangan."


"Iya silahkan!"


Ayah Steve berlalu dari ruang kerja dokter Aldi. Dan berjalan menuju ke ruangan Steve berada.


Dalam ruangan perawatan begitu hening. Mungkin karena waktu sudah menuju tengah malam.


Terlihat Wei masih membuka mata dan sedang duduk depan laptopnya. Banyak pekerjaaan yang di cansel untuk dua hari ini. Sedangkan Raffa sudah pulang setelah Wei menyuruhnya.


"Wei istirahatlah ke hotel. Kamu membutuhkan pisik yang kuat. Biar paman menunggu disini. Lagian Steve juga sudah agak tenang."


"Baiklah paman. Besok saya akan kembali melihat keadaan Hana." Wei yang sudah mendapatkan izin merasa bebannya agak berkurang.


"Baik. Jangan khawatir! Kamu kembalilah ke Jakarta. Perusahaan lebih membutuhkanmu disana. Mungkin paman akan menyewa pembantu untuk melayani kebutuhan pribadi kami selama disini."


"Baik. Besok sebelum ke Jakarta saya mampir dulu kesini."


"Iya, baiklah. Hati-hati di jalan!"


"Iya paman. Terimakasih." Wei membereskan beberapa peralatan juga laptopnya. Setelah berpamitan Wei pun berlalu menuju hotel. Dia bisa beristirahat dengan tenang disana setelah seharian sibuk mengurusi masalah."


Di tempat lain dokter Alvian dan dokter Aldi tengah bersiap-siap pulang ke apartemen. Tetapi salah satu perawat menelponnya karena tiba-tiba keadaan Hana drop paska operasi di ruang ICU.


"Kamu tunggu di sini! Aku mau memeriksa ke dalam dahulu." Pinta dokter Aldi pada dokter Alvian.


"Bolehkah aku menunggu di sini?" Dokter Alvian meminta izin melihat dari balik kaca ruangan ICU.


"Ya tunggulah, doakan semoga pasien bisa tertolong."


"InsyaAllah."


Dokter Aldi bersama beberapa tim medis sedang memeriksa keadaan Hana. Dalam ruangan itu terlihat semuanya dalam keadaan siaga. Tiba-tiba monitor yang mengontrol detak jantung pasien dalam keadaan menurun. Ada beberapa organ vital yang sedang diperiksa dokter Aldi.


Dokter Alvian yang memperhatikan dari balik kaca kamar pasien ikut tegang. Di melihat tajam kedalam ruangan. Tiba-tiba ada yang membuat hatinya terhenyak. Ya bagaimana mungkin dia lupa dengan wajah yang sedang terbaring tak berdaya di atas kasur di ruangan ICU yang sekarang ditangani dokter Aldi.


"Hana... kau kah itu? Dari sekian banyak yang bernama Hana kenapa harus engkau yang terbaring?" Dokter Alvian tak kuasa menitikkan air mata. Dia begitu sakit melihat Hana yang tergeletak di ruang ICU. Ini mengingatkan kejadian masa lalu ketika dia bertugas di rumah sakit jiwa. Kini wajah itu kembali menemuinya. Sekian tahun tidak bertemu dia berharap Hana baik-baik saja. Tapi kenapa dia harus bertemu kembali dengan keadaan yang sama seperti waktu itu.


Ya, Hana pernah mengalami masa kritis akibat obat-obatan yang sengaja diberikan oleh orang suruhan ibunya Daniel. Taqdir mempertemukan dokter Alvian dan Hana waktu itu. Hana mengalami kejang-kejang dan kritis. Kalau tidak segera ditangani mungkin nyawanya waktu itu sudah tidak bisa ditolong. Untung dokter Alvian segera melarikannya ke rumah sakit setelah berseteru lebih dahulu dengan kepala rumah sakit yang nota bene dia orang bayaran ibunya Daniel. Setelah masa kritis Hana berlalu, dokter Alvian berhasil membawa kabur Hana dari cengkraman orang-orang rumah sakit jiwa.


Dan dari sana lah awal mula identitas Hana berubah. Itu semua atas jasa dokter Alvian. Hana dengan identitas baru lalu bersembunyi dan meneruskan sekolah dengan bantuannya. Tapi setelah lulus kuliah Hana tak pernah ada lagi kontak dengan dokter Alvian.


"Tolong pakaian aku pakaian steril, aku mau masuk ke dalam!" Dokter Alvian menyuruh perawat memakaikan pakaian steril.


"Tapi.. " Para perawat tak berani menerima permintaan dokter Alvian. Mereka tahu itu menyalahi prosedur.


"Aku dokter juga. Aku temannya dokter Aldi. Pasien yang terbaring disana pasienku juga." Dokter Alvian begitu emosional melihat para perawat terdiam.


"Tapi dok! Nanti saya kena sangsi." Para perawat tak berani menyalahi aturan yang sudah diterapkan dalam rumah sakit.


"He kamu tahu siapa pemilik rumah sakit ini? Apa mesti ku telpon mereka?" Dokter Alvian ahirnya harus membuka kartu identitasnya.


Semua menggeleng. Para perawat masih kukuh pada pendiriannya.


"Aku anak dari pemilik rumah sakit ini, tahu?"


Semua perawat terbelalak. Mereka tak mengira orang yang di depannya adalah anak pemilik rumah sakit yang dimana mereka bekerja.


"Baik dok! Saya segera bawakan baju steril." Salah satu perawat langsung pergi membawa baju lalu tak lama kemudian beberapa perawat membantu memakaikannya.


"Alvian... " Dokter Aldi kaget karena dokter Alvian menerobos masuk ke ruang ICU.


"Jangan khawatir! Hana pernah menjadi pasienku juga. Kalian periksa organ vital yang membuat Hana drop. Aku akan berada disini memberikan dukungan." Dokter Alvian memberikan intrupsi.


"Hana, ini aku... ayo bangunlah. Kamu pasti kuat! Kamu pernah melewatinya bukan?" Suara lirih yang dikeluarkan dokter Alvian membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu sebentar heran. Dokter Alvian mengusap punggung tangan Hana sambil terus berdoa dan memotivasi.


Beberapa waktu semua tim medis bejibaku untuk mengembalikan kondisi Hana pada level aman. Setelah dokter Aldi menemukan penyebabnya kondisi Hana sedikit demi sedikit kembali aman. Beberapa monitor menunjukan ada peningkatan tingkat kestabilan. Semua bernafas dengan lega. Begitu pun dokter Aldi dan dokter Alvian. Mereka keluar dengan sama-sama menarik nafas lega.


"Alvian... kamu mengenalnya?"


"Hhmm"


Dokter Aldi menatap lamar wajah temannya.

__ADS_1


"Hhh.. taqdir. Semua berjalan di atas taqdirNya." Dokter Aldi menepuk bahu sahabatnya.


__ADS_2