Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Move on


__ADS_3

Hana disambut hangat begitu sampai di rumah kang Gavin. Mereka terkejut dengan banyak perubahan Caterina. Selain berita Hana tidak jadi menikah, perubahan Caterina pun tak kalah heboh. Beberapa kali istrinya kang Gavin membolak-balikan tubuh Caterina yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Benarkah ini Caterina? MasyaAllah... " Beberapa kali kalimat itu diucapkan. Dibalik cadarnya dia benar-benar terharu. Ada sesuatu yang mengembun di matanya lalu tubuh hangat itu memeluk Caterina dengan penuh cinta.


"Selamat datang saudariku. Semoga tetap istiqomah dalam keimanan. Kami selalu mendukungmu saudariku." Keduanya saling memeluk erat. Tak lama kemudian air mata yang tadi sempat tertahan meluncur bebas membasahi kain penutup wajah keduanya. Yang menyaksikan interaksi keduanya ikut terharu dan meneteskan air mata. Begitu indahnya hidayah dan rasa persaudaraan yang didekatkan karena iman.


"Ayo.. teteh sudah masak banyak. Kita makan bersama. Istrinya mas Gavin, Sari, yang sudah hamil besar menyempatkan memasak demi menyambut tamu kehormatannya.


"Teh Sari masih masak? Apa tidak cape?" Tanya Caterina yang masih digandeng Sari menuju ke ruang makan. Mereka diikuti beberapa orang di belakangnya sambil tersenyum melihat interaksi keakraban dua perempuan seolah dunia milik mereka.


Ruang makan mereka bagi dua, khusus laki-laki makan di meja makan, dan para perempuan makan di ruang keluarga sambil ngobrol akrab bercengkrama seperti keluarganya sendiri. Keberadaan mereka di rumah kang Gavin seolah menemukan aura kebaikan sejak mereka datang. Mereka merasakan ketulusan dan kebaikannya meski mereka adalah orang asing yang baru saja kenal. Tapi sikap mereka begitu ramah dan totalitas dalam menolong sesama manusia tanpa pamrih. Jarang di era zaman sekarang menemukan orang yang seperti itu.


Mereka pun menikmati jamuan makan dari keluarga kang Gavin yang diselingi obrolan dan canda tawa. Mereka nampak senang juga bahagia. Sejenak Hana melupakan semua masalahnya dan kini tergantikan dengan suasana yang damai juga menyejukkan hatinya. Berada dengan orang-orang baik yang selalu membawa kebaikan pula.


Kepergian Caterina juga Hana ke Bandung menyisakan sepi di hati Steve. Setelah beres mengurus mereka dan mencari tempat tinggal buat keduanya, Steve kembali ke Jakarta untuk mengurus perusahaan yang ditinggalkan keluarga Hana.


"Begini rasanya hidup sendiri.. rasanya tak ingin melepaskan kalian pergi. Tapi itu tak mungkin. Kalian akan memilih jalan hidup kalian bersama pasangan kalian." Steve bicara sendiri sambil merebahkan badannya di kasur. Setelah sekian lama Hana tinggal bersama nya ada rasa hangat yang menyelimuti diri Steve tanpa dia sadari. Kini rumahnya kembali seperti semula, sepi. Hanya Art dan beberapa penjaga rumah juga sopir yang tinggal di rumah Steve. Tak ada lagi yang menyambutnya ketika pulang dan menemaninya ketika sarapan. Hana meninggalkan kenangan dan bayang-bayang di rumah itu.


Dan di lain tempat, Hana dan Caterina juga kedua orang tuanya menikmati tempat tinggal baru yang kebetulan sangat dekat dengan tempat tinggalnya mas Gavin. Mereka sengaja memilih rumah yang dibeli mas Gavin agar memudahkan mereka ikut kajian dan kegiatan sehari-hari.

__ADS_1


Rencananya Caterina akan mencari sekolah dan Hana akan mengajar di tempat mas Gavin menggantikan Sari karena harus sudah mengambil cuti. Mereka nampak senang, dan Hana pun sejenak melupakan masalahnya yang sudah tergantikan dengan rasa kegembiraan karena bisa kembali ke Bandung untuk melepas penatnya.


"Hana.. apa kamu serius akan tinggal disini?" Tuan Hans bertanya pad hana selalu walinya sekarang.


"Iya yah. Rasanya aku lebih senang disini. Selain cuacanya cocok aku juga bisa mengajar tanpa harus dituntut waktu. Berbeda dengan ketika mengajar di sekolah. Disini lebih santai dan juga waktunya fleksibel." Ujar Hana mengungkapkan perasaan nya.


"Baiklah! Tapi pesan ayah.. jaga kesehatan dan jangan lupa kontrol kesehatan! Ayah tak ingin kamu sakit." Tuan Hans sangat khawatir pada Hana ketimbang pada Caterina sendiri.


"Tenang yah.. kan ada Caterina di sini. Kalau kakak malas kontrol, Caterina akan melaporkan pada ayah juga kak Steve." Caterina begitu sigap. ingin menjaga Hana dengan baik.


"Ih.. adik kakak ini sejak kapan jadi pelopor?" Hana mencubit hidung Caterina yang mancung dan juga menggemaskan.


"Ih.. kok arahnya ke sana melulu." Hana cemberut. Perkataan Caterina tiba-tiba saja mengingatkan. pada pernikahannya yang gagal. Ternyata orang yang dicintainya, yang diharapkan akan melindungi dan menjaganya malah tak bisa hidup bersamanya. Tapi apa boleh buat, Hana sudah pasrah pada takdir.


Untung saja Hana mempunyai keluarga yang mendukungnya. Entah apa yang akan menimpa Hana kalau tanpa dukungan mereka. Hana merasa bersyukur, ternyata Tuhan mengirimkan keluarga yang baik sebagai pengganti keluarganya yang sudah tiada.


"Ayah juga berpesan, kalian harus saling menjaga diri! Karena ayah sama mama akan kembali lagi ke Perancis jika Caterina sudah mendapatkan sekolah yang cocok. Ayah sama mama tidak akan menemani kalian, karena hotel kita tidak ada yang mengurus." Tuan Hans menarik nafas panjang. Mengingat usianya yang tak lagi muda, dan dia berharap salah satu anaknya akan melanjutkan usahanya. Tapi kenyataan malah keduanya malah betah di Indonesia.


"Iya yah.. kita janji akan saling menjaga. Ayah sama mama tenang saja! Caterina tidak akan nakal kok!" Caterina berjanji agar kedua orang tuanya bisa tenang ketika kembali ke Perancis.

__ADS_1


"Iya ayah sama mama percaya, kalian bisa saling menjaga. Ayah sama mama hanya bisa memantau dari jauh dan mendoakan kalian. Semoga kalian selalu baik-baik saja. Dan biarkan semua masalah yang lalu jadi pelajaran. Agar kedepannya kalian lebih berhati-hati dalam memilih pasangan juga memilih teman." Tuan Hans mengusap pundak Hana yang dia tahu, sebenarnya Hana masih merasa sedih.


"Iya yah.. terimakasih atas perhatian ayah dan mama. Hana sayang kalian." Hana memeluk Tuan Hans dan bergantian memeluk nyonya Maria. Kedua orang tua itu sudah seperti orang taunya sendiri. Hana sangat menyayangi mereka dan begitu pula dengan mereka.


"Kalau begitu kalian tidurlah! Ini sudah malam." Tuan Hans menyuruh Hana dan Caterina untuk segera pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


"Baik yah! Caterina dan Hana pun pergi ke kamarnya masing-masing. Dan sepasang suami-istri itu pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Kling


Kling


Kling


Sebuah notifikasi datang dari handphone milik Hana.


Hana segera membuka pesan dari layar handphonenya. Ada rasa enggan begitu melihat nama yang tertera di layar itu.


"Ada apa dia mengirimkan pesan?" Ucap Hana mengerungkan kedua alisnya

__ADS_1


__ADS_2