Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Cinta atau hanya tanggungjawab


__ADS_3

Wei hanya terdiam mendengarkan sikap Reihan mengenai suatu hubungan dengan seorang wanita. Padahal selama ini Wei sudah memberikan kejelasan pada Riana bahwa dengan sikapnya yang dingin, dia memang tidak ada hati.


Tapi bagaimana dengan Hana?


Akankah hubungan dengan Hana selama ini hanya sebatas rasa bersalah? Pikiran Wei sedang mundur ke belakang mengenang masa lalu ketika masih seragam abu-abu. Ya kala itu ketika Hana memberikan surat cintanya pada Wei.


Bibir Wei sedikit terangkat dan matanya seolah sedang berbunga-bunga. Dia sedang tersenyum mengenang masa indah itu. Dia membaca tulisan itu, tapi entahlah seperti ada aliran listrik yang mengalir ke hati. Walau kala itu hanya hatinya masih ragu-ragu tapi Wei belum pernah merasakan perasaan seindah itu. Ya perasaan hatinya seperti dipermainkan. Kadang dia merindukan wajah imutnya, kadang dia pun mencuri-curi pandang, bahkan ketika tak bertemu ada perasaan ingin ketemu.


Ah Mungkin itu cinta monyet yang setiap orang lain pun pernah mengalaminya.


Lalu bagaimana ketika bertemu kembali. Bahkan pertama kali dia menciumnya? Apakah perasaan itu masihkah sama?


Wei mengernyitkan dahinya matanya sedikit mengecil.


Ah hanya pikiranku saja yang berjalan tapi tidak dengan perasaan itu. Aku hanya melakukannya karena rasa kekhawatiran bukan karena dorongan hati. Begitu pun sekarang, hanya pikiranku saja tapi tidak denganku.


"Maaf tuan Wei. Apakah makan siang anda sudah selesai?" Sejak tadi Reihan hanya melihat Wei melamun. Kadang tersenyum, kadang mengerutkan dahi. Bahkan menu yang dipesan hanya seperti dicicipi saja.


"Iya, aku rasa sudah." Kesadaran Wei terbangunkan dengan teguran Reihan.


"Baik." Reihan segera membayarkan billing pada waiters. Tapi dia melihat kembali pada wajah laki-laki yang sedang ada di depannya.


Ya melamun lagi. Apa sih yang sedang dipikirkan bos? Kalau masalah kerjaan tidak akan seserius itu wajahnya mengerut.


"Maaf tuan Wei, apa ada yang masih ditunggu?" Reihan kembali menegurnya.


"Ya? Tidak!" Wei melihat jam tangannya. Rasanya waktu meeting dengan klien dari Hongkong sudah mendekati.


"Kita kesana sekarang!" Wei berdiri lalu ke luar dari restoran menuju tempat pertemuan. Wei sengaja datang lebih dulu datang ke gedung yang sudah disepakati bersama klien agar lebih bisa waktu untuk menyiapkan presentasinya di hadapan klien.


Setelah dua jam berlalu, meeting pun lancar. Dan Klien pun merasa puas atas pemaparan Wei yang fasih berbahasa Inggris dan menerangkan dengan jelas isi presentasinya. Kedua belah pihak menandatangani surat kerjasama lalu diakhiri dengan jamuan makan-makan dan hiburan malam. Biasa untuk klien tertentu mereka selalu merayakan dengan acara party night di club malam atau di tempat-tempat hiburan.


"Rei.. kamu bisa menemani mereka kan untuk party?" Setelah cara makan-makan Wei meminta Reihan menemani mereka untuk hiburan malam.


"Baik. Saya tahu tempat yang pasti mereka senangi." Reihan menjawab dengan optimistis permintaan Wei. Reihan yang sudah kenalkota Jakarta dan sering mendatangi tempat-tempat hiburan, tahu tempat mana saja yang cocok untuk kliennya kali ini.


"Oke aku serahkan padamu. Aku akan pergi ke. luar kota sekarang."


"Anda langsung pergi, tidak pulang dahulu?" Reihan harus memastikan kepergian Wei, karena beberapa waktu kebelakang pun nyonya besar selalu menanyakan keberadaannya pada Reihan karena Wei pergi tanpa pamit.


"Iya, aku langsung pergi. Kalau mampir dulu mama akan mencegah pergi kalau bukan urusan kerja."


Woow... bukan urusan kerja. Apa yang tadi dipikirkannya mungkin ada hubungannya dengan kepergiannya kali ini? Atau masalah tadi pagi?


Reihan berbicara dalam hatinya.


"Baik tuan Wei. Saya doakan semoga urusannya lancar!" Reihan tersenyum mengantarkan kepergian big bosnya. Wei hanya menatap dingin. Wei menduga bahwa Reihan mendengarkan apa yang sudah dibicarakan tadi pagi. Dan kata-kata itu seperti menyindir. Karena Wei belum pernah mendengar Reihan berkata seakrab barusan.


Wei pergi ke kota B dengan membawa mobil sendiri. Sementara Reihan sebagai Sekertaris utama sedang menyelesaikan tugasnya menghibur para klien nya di sebuah club mewah yang biasa didatangi para eksekutif. Cub itu terkenal dengan para wanita-wanita cantiknya dengan kelas di atas rata-rata penghibur malam.


Jam 9 malam Wei baru saja tiba di kota B. Setelah datang di kota ini Wei merasakan ada kedamaiay. Entahlah.. apa karena cuacanya yang sejuk, kondisinya juga tak semacet Jakarta membuatnya agak senang berlama-lama sih kalau tidak mengingat pekerjaan di Jakarta yang membutuhkan dirinya.

__ADS_1


"Steve aku sudah ada disini. Aku tidur di hotel


Kemungkinan aku besok pagi akan datang menjenguk Hana. Apa kamu masih di rumah sakit?" Wei yang masih memakai kimono mandi baru saja selesai membersihkan tubuhnya di hotel langsung menelpon Steve.


"Tidak. Aku sudah diperbolehkan keluar rumah sakit. Sekarang sedang di hotel juga beristirahat. Kemungkinan besok pagi ayahku akan menjenguk juga. Kamu bisa barengan dengan ayah. Aku belum bisa kesana. Akan istirahat dulu di hotel karena ibu dan Caterina baru saja datang?" Steve mengungkapkan alasannya untuk tidak datang ke rumah sakit.


"Oh.. tante datang? Sama Caterina?" Wei yang sudah lama tidak bertemu Caterina agak kaget juga mendengar adiknya Steve datang. Terakhir bertemu memang sudah lama sekali.


"Iya, baru saja datang. Aku tak bisa menjemputnya. Jadi mereka diantar supir dari rumah setelah dijemput dari bandara." Steve sedang beristirahat dahulu di hotel setelah beberapa hari ini menemani Hana di rumah sakit tidurnya tidak teratur.


"Baiklah. Salam buat tante dan Caterina." Wei menutup teleponnya setelah berpamitan.


Mereka sudah datang semuanya. Aku khawatir semua yang kupikirkan terjadi. Aku harus mengambil keputusan sebelum semua hal buruk terjadi. Mama? ah.. mama maafkan aku... kalau terlalu lama kita akan kena imbasnya. Mama maafkan aku ma.. pa... maafkan aku...


Wei terdiam di tepian kasur. Memikirkan apa yang seharusnya dia putuskan. Kalau menunggu ibunya memberi restu sepertinya akan lama. Dan Wei tak ingin keluarga Steve menggugatnya.


Di tempat yang lain satu keluarga sedang reuni.


"Kakak... aku kangen banget sama kakak." Caterina menggelayut manja di bahu Steve. dia menyandarkan kepalanya di bahu Steve.


"Kakak juga sama sayang... kangen sama kamu." Steve mencium pucuk kepala adiknya yang tingginya hanya beda sedikit dengan Steve. Caterina yang wajahnya mirip dengan ayahnya kentara banget blasteran Perancisnya. Sedangkan Steve memang mirip dengan Hana seperti ibunya lebih ke asia.


"Ah kakak.. palsu. Kangen tapi gak pulang-pulang ke Perancis. Tiap liburan aku tunggu malah gak dateng-dateng. Aku udah cape kak... bantuin ayah ngurusin hotel. Aku juga butuh liburan... Tapi sekarang aku senang nyampe disini." Caterina langsung mengubah posisinya menatap wajah Steve yang sudah mulai segar setelah tadi mandi sore.


"Apa?" Steve membuka matanya agak lebar dan menggerakkan dagunya mengarah ke Caterina.


"Iya kak, aku sekarang bisa liburan di kota Paris van java. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Ih aku seneng banget kak... sama aku penasaran banget... pengen segera ketemu kak Hana. Aku bahagia banget akhirnya... punya kakak perempuan." Caterina yang super heboh langsung memeluk Steve erat. Cewek ekspresif rupanya. Dia bukan tipe yang bisa diam. Apa yang ada dalam pikirannya seperti aliran air yang langsung nyeroscos.


"Eh ayah dimana kak? Tidak tidur di hotel?" Caterina belum sempat menanyakannya ayahnya yang dari tadi belum terlihat.


"Ayah kemarin ditawari menginap di rumah temannya kak Hana. Soalnya kalau di hotel khawatir. Kalau ayah sakit tidak ada yang merhatiin."


"Steve ayahmu sakit?" Ibunya Caterina yang sejak dari tadi tidak bicara langsung terhenyak, mendengar kabar suaminya.


"Ayah hanya kelelahan mam, mungkin sejak kedatangan sampai sekarang belum sempat beristirahat dengan baik. Maafin aku ya mam. aku sudah merepotkan mama sama ayah." Steve memeluk ibunya Caterina.


"Tidak apa-apa. Mama senang mendengar kamu sudah sehat." Wanita itu menepuk bahu Steve menguatkan batinnya agar lebih kuat.


"Ah kakak.. aku jadi ingin menangis mendengar kabar kakak sakit." Caterina memeluk kedua orang yang sedang berpelukan. Ibunya mengusap rambutnya dengan lembut. Buat dia Steve dan Caterina adalah sama saja. Tidak ada istilah anak tiri atau anak kandung. Dia begitu lembut memperlakukan Steve juga anaknya sendiri. Apalagi setelah mendengar dari suaminya, bahwa dia menemukan anak dari mendiang istrinya. Dia bahagia sekali kini anaknya ada tiga. Jika suaminya bahagia, dia pun ikut bahagia.


"Mam, sebaiknya kita makan dahulu. Biar setelah makan mama sama Caterina bisa istirahat di kamar. Mama pasti cape. Aku nanti telepon ayah untuk menemani mama disini." Steve mengajak mereka berdua untuk makan terlebih dahulu. Karena mereka pasti lelah ingin segera beristirahat setelah melakukan perjalan panjang Perancis-Jakarta-kota B.


Setelah mereka makan bersama mereka masuk ke kamar hotel.


Caterina yang masih kangen dengan Steve ingin sekamar dengan kakaknya agar bisa leluasa mengobrol. Caterina yang senang berbicara tak bisa diam dan selalu saja banyak ide untuk mengajak mengobrol. Jadi mereka hanya memboking dia kamar saja.


"Eh kakak.. aku penasaran. Bagaimana sih ceritanya kakak bisa menemukan kak Hana? Caterina yang sudah berganti pakaian santai Berbaring dengan posisi miring melihat Steve yang sama-sama sedang tidur-tiduran di kasur sambil membuka handphonenya.


"Mmm... gimana ya?" Steve malah bingung. Dia menyimpan handphonenya dipinggir bantal. Matanya menatap ke arah langit-langit.


"Cerita dong kak!" Aku sudah gak sabar ingin bertemu. Hah... aku gak kebayang punya kakak perempuan, apalagi sudah besar." Caterina sedang membayangkan keseruannya punya kakak perempuan seperti teman-temannya yang lain. Bisa diajak ngobrol curhat, bisa hang out bareng bahkan bisa naksir-naksiran cowok bareng-bareng.

__ADS_1


"Kakak.. ko diem aja!" Caterina yang tidak sabaran cemberut melihat Steve diam saja. Steve mengubah posisi yang tadinya berbaring langsung duduk bersandar.


"Mungkin taqdir, kita harus berkumpul Caterina." Steve menatap adiknya dengan tatapan lembut.


"Iya.Tapi ceritain kan gak mungkin kakak tiba-tiba bertemu langsung hafal bahwa kak Hana adik kakak."


"Iya.. kakak juga bingung menyampaikannya."


"Cerita aja kak. biar kakak tidak banyak beban. Malah nanti kakak sakit lagi. Aku gak mau kehilangan kakak.." Caterina yang tadi tidur miring lalu bangkit berpindah ke kasur yang sedang di tempati Steve.


"Ko.. pindah?" Steve menatap adiknya yang selalu manja tiba-tiba duduk di kasur dengan posisi berhadapan.


"Cerita dong kak! Kenapa kakak kaya gak lepas gitu? Apa ada yang harus ditutupi kak?" Mata Caterina menatap wajah Steve sepertinya menyimpan beban.


"Janji ya jangan cerita lagi ke yang lain? Cukup ini rahasia keluarga kita!"


"Iya janji!" Caterina mengacungkan jari kelingkingnya seperti anak kecil berjanji.


"Ya udah. Kakak certain. Awalnya ini dari musibah yang menimpa kak Wei."


"Maksud kakak, bos kakak?" Mata Caterina membesar ketika nama Wei disebut.


"Hhmm. Hari itu dia sedang panik karena ayahnya mengalami serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit. Karena dia buru-buru dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dalam perjalanan kak Wei juga sedang menerima telepon hingga dia tidak fokus melihat lampu merah menyala sehingga melakukan rem dadakan. Dan yang naasnya dia menabrak kak Hana yang sedang melintas di zebra cross lampu merah. Kakak juga tidak tahu apakah itu semuanya kesalahan murni kak Wei atau kak Hana juga memang menyebrang tidak hati-hati." Steve terdiam sedang mengingat apa yang dulu pernah Wei ceritakan padanya.


"Terus kak!"


"Iya, kak Wei membawa kak Hana ke rumah sakit untung menyelamatkan nyawanya. Nyawa kak Hana bisa diselamatkan tapi... sayang kak Hana mengalami amnesia."


"Terus?"


"Iya, karena kak Hana mengalami amnesia kak Wei bingung harus bagaimana memberitahukan keluarga kak Hana. Dan kak Wei juga sangat bingung waktu itu karena ayahnya juga meninggal. Jadi kak Wei menitipkan kak Hana pada kakak untuk sementara."


"Apa kakak langsung mengenal kak Hana waktu itu?" Caterina begitu penasaran.


"Kakak tidak mengenal kak Hana, karena terakhir kali bertemu dengan kak Hana waktu ibu kakak meninggal. Itu sudah lama sekali dan kakak juga sudah tak ingat wajahnya waktu itu."


"Kalau kakak tidak mengenal kak Hana, tapi kak Hana tinggal sama kakak? Apa kakak gak risih serumah dengan perempuan?"


"Hhmm kakak awalnya begitu. Tapi.. ada muridnya kak Hana yang pernah tinggal di rumah kakak juga akhirnya."


"Nah itu ada yang kenal. Pastinya dia tahu dimana kak Hana tinggal. Tapi kenapa kak Hana masih tinggal sama kakak? Terus kenapa kak Wei tidak berusaha mencari juga keluarganya atau lapor polisi?"


Duh bakat detektif nya keluar deh


"Masalahnya.. kalau laporan. Posisi kak Wei terancam bahaya. Pastinya akan terlihat dengan hukum."


"Jadi kakak waktu itu melindungi kak Wei? Padahal kak Hana adalah adik kakak, jadi kakak sama-sama melindungi kesalahan dong!" Caterina menyalahkan Steve kenapa membantu Wei menyembunyikan kesalahannya.


"Iya, kakak juga merasa bersalah sampai sekarang. Kakak juga menyesal."


"Terus? sampai kakak tahu kak Hana adik kakak bagaimana?"

__ADS_1


"Dari sebuah kalung pemberian ayah sama ibunya kak Hana."


__ADS_2