Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Sebuah keputusan


__ADS_3

"Jadi kakak tahu kak Hana dari kalung yang dipakai kak Hana?" Caterina begitu antusias mendengarkan cerita Steve. Padahal Steve sendiri belum tahu banyak tentang Hana. Kalau bukan kejadian pengusiran Hana, mungkin dia bisa lebih tahu banyak tentang Hana.


"Hhhm. Kurang lebih begitu." Steve terdiam. Dia merasa malu untuk menceritakan lebih lanjut.


"Kak, katanya kak Hana dioperasi dan mengalami kelumpuhan? Apa betul kak?"


"Kamu tahu darimana?" Steve ingin mengetahui, kenapa adiknya sudah tahu keadaan Hana.


"Dari mama, mama dari ayah. Kata mama kasihan kalau kak Hana sendirian. Pasti harus ada yang mengurus."


"Kak, bukankah kak Wei yang telah menabrak kak Hana? Kenapa kakak tidak meminta pertanggung jawabannya?" Caterina menatap Steve lekat. Ingin tahu banyak mengenai apa yang belum dia ketahui.


"Sudahlah! Kamu jangan berpikir kesana! Biar kakak sama ayah nanti yang akan bicara. Kamu mending tidur sudah malam! Kakak mau telepon ayah dulu."


"Ya, baiklah! Aku tidur. Aku sudah gak sabar pengen bertemu kak Hana." Saking semangatnya Caterina meloncat dari kasur Steve. Steve yang kaget sampai harus bicara keras.


"Caterina, kamu!" Mata Steve melotot. Tapi tanpa merasa bersalah yang dipelototi malah nyengir kuda. Dia kembali naik ke atas kasurnya lalu menarik selimutnya berusaha memejamkan mata. Sesudah rasa kepenasaranannya tadi terjawab.


Gadis ini sudah segede gini juga, masih seperti anak-anak kelakuannya.


Steve menekan nomor tuan Hans


"Halo, ayah."


"Iya, nak." Suara diseberang telepon menjawab.


"Yah, mama sudah di hotel sama Caterina. Ayah mau menginap disini menemani mama?" Steve memastikan ayahnya, apakah dia akan datang ke hotel apa tidak.


"Sepertinya besok saja, Steve. Tadi mamamu sudah telepon ayah. Kalau besok mau ke rumah sakit biar kita pergi bersama. Kata kang Gavin Raffa akan menjemput kalian ke hotel sekalian mengantarkan ayah"


"Oh begitu, baiklah yah! Sampai ketemu besok. Oh ya yah. Hhhm.. Wei juga sudah sampai disini, baru saja. Barusan dia mengirimkan pesan. Ada yang mau dibicarakan dengan ayah sebelum besok pergi ke rumah sakit." Steve baru saja membaca pesan Wei ketika dia sedang mengobrol dengan Caterina.


"Baiklah. Mau ketemu dimana? Apa sebaiknya di restoran hotel saja sekalian sarapan pagi?"


"Baik, terserah ayah. Nanti aku sampaikan pada Wei kalau ayah berencana seperti itu."


"Iya. Biar nanti tenang ketika sudah di rumah sakit. Kita makan bersama dulu di resto."


"Baiklah yah, selamat malam!"


"Iya malam, jaga kesehata ya!"


"Iya." Steve menutup telepon. Dia kembali membuka nomor Wei dan mengirimkan pesan. Takut keburu lupa.


Steve membaringkan tubuhnya, dan memejamkan mata untuk istirahat. Dia menyimpan handphone nya di atas nakas sekalian mematikan lampu diganti lampu tidur.


Steve melirik sebentar pada Caterina lalu menghela nafas panjang. Tak lama kemudian dia terlelap.


Di lain tempat, Wei masih membuka mata.


Tring


Tring


Tring


Beberapa notifikasi terdengar dari handphone Wei. Wei membuka satu persatu pesan yang baru saja masuk.


Reihan : Tuan Wei, saya sudah berada di club xxx


Mama : Wei, kamu dimana? Mama khawatir. Kenapa kamu tidak pulang? Tadi Riana ke mansion menanyakan tentang kamu pada mama. Mama bingung harus menjawab bagaimana? Apa kamu sedang bersamanya?


Riana : Wei tadi aku sudah bertemu sama mama.


Kata mama, kamu gak punya pacar.

__ADS_1


Mama : Wei.. setelah pikir-pikir jika itu demi kebaikan, mama setuju aja tapi dengan syarat. Kamu harus menyembunyikan pernikahan kamu dan kamu juga harus menikahi Riana. Kalau kamu setuju, kamu boleh menikahinya kapan saja kamu mau. Tapi jangan harap mama mau hadir. Selesaikan urusannya dengan cepat sebelum yang lain tahu yang sebenarnya.


Membaca pesan-pesan itu layaknya menanggung beban puluh ton sehingga Wei mengeluarkan nafas berat dan panjang, pusing.


Apakah Wei bisa menerima tantangan dari ibunya? Tentu tidak. Buat dia bukan hanya sekedar bertanggung jawab tapi ini urusan perasaan. Untuk menghadapi Hana saja mungkin dia bisa menyesuaikan. Bagaimana dia harus menyesuaikan dengan dua perempuan.


Semuanya akan terluka. Jika aku menerima tawaran mama. Kalau aku menikahi Hana mungkin aku bisa menghadapinya. Tapi bagaimana kalau memang aku juga menyukai Hana?


Apa yang harus diambil? Mundurkah? atau maju taoi sama-sama tersakiti? Untuk menghadapi keluarga Hana saja belum tentu dia berhasil. Besok adalah hari yang akan berat dia hadapi tapi tapi Wei tetap harus maju


Keesokan paginya, Wei telah menunggu di restoran yang ada di hotel dimana keluarga Steve menginap.


Wei berdiri memberi hormat pada ayahnya Steve.


"Paman apa kabar?" Wei kembali duduk sambil berbasa-basi menanyakan kabar tuan Hans.


"Baik Wei, kapan dari Jakarta?"


"Tadi malam paman."


"Oh begitu. Apa paman sekarang akan menjenguk ke rumah sakit?"


"Iya. Tadi dokter Aldi sudah mengabarkan keadaan Hana sudah tenang dan bisa ditengok."


"Paman.. saya mohon maaf sebelumnya. Ada hal yang ingin saya sampaikan terkait Hana paman. Pertama-tama saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kelalaian saya pada Hana."


"Saya sadar sepenuhnya, bahwa apa yang menimpa pada Hana sebagian banyak karena kecelakaan yang saya timbulkan. Sekarang keadaan Hana jadi lumpuh karena saya lalai memperhatikan Hana setelah kecelakaan. Maka dari itu saya ingin mengambil tanggungjawab atas Hana paman Hans." Wei terdiam menunggu jawaban tuan Hans. Wajahnya begitu lelah padahal hari masih pagi. Mungkin banyak pikiran dan kurang tidur.


Tuan Hans ayahnya Steve masih terdiam, berpikir. Dia tak bisa asal bicara ataupun cepat mengambil keputusan terkait apa yang baru saja Wei katakan.


"Ehem." Tuan Hans berdehem. Dia mengatur nafas untuk jeda pembicaraan.


"Wei... sebenarnya paman untuk saat ini belum bisa mengambil keputusan apapun atas apa yang kamu katakan barusan. Adapun yang sudah terjadi paman harus mempertimbangkan baik buruknya untuk Hana. Paman harus berdiskusi dengan Hana juga Steve. Karena fokus paman sekarang adalah kesehatannya dulu."


"Baik paman, sekali lagi saya mohon maaf. Ke depannya jika Hana membutuhkan saya, saya siap untuk bertanggung jawab secara materi dan moral." Bulatan mata Wei menatap serius. Dia bersungguh-sungguh akan bertanggungjawab pada Hana.


"Iya, doakan saja. Semoga ke depanny Hana bisa sehat kembali."


"Mari kita sarapan dahulu! Setelah sarapan kita akan pergi bersama-sama kesana." Tuan Hans mengajak sarapan pagi karena menu yang sudah dipesan sudah siap di depan meja.


"Baik paman. Oh iya mana bibi dan Caterina?" Wei tak melihat keberadaan istrinya tuan Hans juga Caterina.


"Tadi sudah berangkat, ketika paman diantar Raffa. Mungkin paman akan ikut denganmu Wei." Ya tadi Raffa mengantarkan tuan Hans ke hotel dan mengantar mereka bertiga, Steve, ibunya Caterina dan Caterina ke rumah sakit. Tuan Hans yang ada janji bertemu dengan Wei memilih untuk pergi menyusul.


"Baik paman." Wei memilih sarapan sup sereal jagung dan secangkir susu coklat. Selain mudah dicerna, dia membutuhkan sesuatu yang menghangatkan badan.


Tuan Hans dan Wei pergi bersama-sama ke rumah sakit menaiki mobil Wei. Sesampainya di tempat lobi rumah sakit terlihat Steve, Caterina dan ibunya menunggu.


"Apa kabar bibi, Caterina?" Wei menyapa mereka berdua.


"Baik Wei." Ibunya Caterina


"Baik kak Wei." Tak terlihat wajah Caterina ceria seperti biasanya ketika bertemu Wei. Entah ada perasaan yang tidak simpati karena obrolan semalam, dia hanya menjawab secukupnya.


"Apakah kita langsung ke ruangan atau bagaimana ayah?" Steve menanyakan pada ayahnya.


"Tadi dokter sudah visit. Dia masih ada di ruangan. Dia menyarankan untuk tidak menjenguk serentak melihat respon Hana terlebih dahulu."


"Baik, aku nanti akan masuk bersama mama dan Caterina. Ayah mungkin bisa menjenguk dengan Wei." Steve menyarankan ayahnya untuk masuk terlebih dahulu.


"Maaf paman Hans, saya boleh ikut juga?" Raffa mendekat dan meminta ikut menjenguk.


"Iya. Kita bertiga masuk nanti gantian ya. Kita lihat respon Hana, Mudah-mudahan Hana hari ini membaik.


Setelah mereka menyetujui siapa saja yang masuk, mereka pun akhirnya berpisah. Steve, Caterina dan ibunya memilih di lobi rumah sakit agar lebih leluasa menunggumu

__ADS_1


Wei Pov


"Sebenarnya semenjak awal aku bertemu Hana dalam kecelakaan aku menganggap semuanya adalah taqdir Tuhan. Tak ada yang terjadi sekecil apapun di muka bumi ini kecuali Tuhan sudah berencana. Aku hanya menguatkan diriku sendiri sekarang. Dulu ketika ada masalah Steve lah tempat aku banyak bercerita bahkan berbagi masalah. Aku sangat nyaman mempunyai asisten seperti dia. Selain kerjanya cekatan, dia pun pandai membantu mengatasi masalah. Tapi semenjak dia mengetahui Hana adiknya, semuanya berubah. Selain dia sendiri sakit, aku seperti kehilangan teman untuk berpegang. Selain perkerjaanku bertumpuk, aku pun terlalu lelah untuk berpikir sendirian. Apalagi sekarang aku merasa bahwa Steve akan bersebrangan denganku. Entahlah aku merasa menjadi lemah tanpa dia. Walaupun aku tahu Steve tidak akan jahat padaku, tapi secara alamiah dia akan membela keluarganya terlebih dahulu."


"Ya aku sekarang membutuhkan seseorang seperti dia. Walaupun berat aku akan menghadapinya sendirian. Aku akan bicara pada paman Hans dan aku pun harus mengambil keputusan jika memang pada akhirnya aku harus menikahi Hana."


"Tapi tak disangka paman Hans mengambil keputusan untuk tidak tergesa-gesa. Dia lebih fokus pada kesehatan Hana."


"Setelah aku bertemu bibi, Caterina juga Steve. Aku merasakan aura mereka berbeda. Entah itu hanya perasaan diriku saja atau memang pradugaku benar."


"Aku yang sudah mengenal karakter Caterina yang ceria, bahkan super heboh, malah terlihat agak dingin. Aku merasakan perbedaan yang begitu kentara. Apalagi Caterina sudah lama tidak bertemu, biasanya dia selalu bergelayut manja seperti pada kakaknya sendiri."


"Akhirnya kami bertiga masuk ke ruangan Hana. Perasaan ku sudah tidak karu-karuan. Jantungku berdebar seolah aku akan disidang karena dosa-dosaku.


"Begitu masuk, aku melangkah di belakang paman Hans. Di ruangan itu sudah ada dokter Alvian, dokter Aldi. Mejanya ada beberapa wadah bekas makanan. Mungkin mereka sarapan di ruangan karena memang ini belum jam visit dokter."


"Tatapanku, langsung tertuju pada Hana selanjutnya. Aku kaget ketika dia memanggilku dengan 'kak Wei' tidak seperti sebelumnya memanggilku Wei saja. Tatapan matanya menyimpan sesuatu yang pernah dulu aku kenal. Manik matanya itu... ah aku tak bisa menerjemahkannya. Tatapan itu pernah aku lihat dulu sewaktu dia masih sekolah. Berbeda sekali dengan tatapan ketika aku bertemu setelah kecelakaan."


"Ah kenapa dengan hati ini. Perasaanku aneh, sekali kali ini. Seperti anak abg ketika ketemu orang yang disukainya."


"Netranya terus saja mengikutiku. Wah ini alamat aku yang yang tak bisa berdaya kalau terus ditatap seperti ini."


"Pandangannya baru terlepas sampai paman Hans menyapanya."


******


"Apa kabar sayang?" Tuan Hans menyapa Hana.


"Baik ayah." Hana menarik selimutnya agak ke atas menutupi sampai pangkal paha.


"Bagus, ayah senang sekali mendengar kamu sehat."


"Wah.. Pasti senang tuan Hans. Saya tinggal dulu ya Hana.. Saya mau visit ke keruangan pasien yang lain." Dokter Aldi berpamitan. Melihat reaksi Hana sudah tenang.


"Aku juga pamit dulu ya Hana, silahkan jika kalian ingin berbincang-bincang dengan Hana." Dokter Alvian berpamitan akan ke luar ruangan mengikuti dokter Aldi. Tak lama kemudian seorang perawat masuk membereskan meja bekas makanan dan kembali ke luar.


"Bu Restu... ini ada makanan yang sudah disiapkan teh Sari untuk bu Restu." Raffa menyimpan satu tas di atas nakas dekat ranjang Hana.


"Waduh maaf ya sudah merepotkan teh Sari dan keluarga." Hana tersenyum. Di garis senyumnya terlihat wajah bahagia. Banyak orang yang memperhatikannya.


"Iya sama-sama. Bu Restu saya keluar dulu ya! Bu Restu tidak apa-apa kan?" Raffa berpamitan ke luar ruangan setelah tugasnya selesai mengantarkan makanan yang telah dibuat Sari untuk Hana.


"Iya ga pa-pa. Jangan lupa kamu jangan bolos sekolah ya!" Hana mengingatkan Sandi. Sandi mengerutkan dahi. Sedikit bingung dengan yang apa yang baru saja didengarnya.


He sekolah? emangnya anak SMA? Aku sudah masuk kuliah kan? Ah bu Restu aku juga bingung harus memanggilnya Restu apa Hana? Ah masa bodohlah... yang penting bu Restu happy deh


"Paman Hans, kak Wei saya permisi dulu!" Raffa berpamitan.


"Iya." Keduanya kompak menjawab.


"Kak Wei... apa kabar? Wah sudah lama yah kita tidak bertemu? Terakhir kali kita bertemu waktu kakak lulus ya Sma?" Hana tersenyum bahagia. Wajahnya berbinar melihat orang yang dirinduinya kini sudah ada di hadapannya.


Tuan Hans mengedipkan mata tatkala Wei mengerutkan dahinya. Dia sedang memberi isyarat pada Wei. Untung Wei cerdas, dia dengan cepat memahami isyarat tuan Hans.


"Baik Hana. Kamu sendiri bagaimana? Sehat?" Wei melihat Hana dengan tatapan seperti tatapan masa itu begitu pun Hana. Tak ada yang berubah masa itu dan masa sekarang dia masih menyimpan perasaan sukanya pada Wei penuh kekaguman.


Tuan Hans sedang mengamati keduanya. Dia sedang menilai Hana juga Wei. Keduanya terlihat seperti ada rasa ketertarikan.


Wajah Hana merah merona menahan rasa.


"Baik kak Wei."


Tuan Hans mendekati Hana dan duduk di kursi yang sudah tersedia.


"Sayang, diluar ada Caterina adikmu sama mamanya ditemani Steve.

__ADS_1


__ADS_2