
Ada tiga orang anak muda masuk ke gerai. Dia menghentikan langkah setelah melihat seseorang yang dikenalinya. Dengan tatapan terkejut spontan dia berkata, "Benarkah itu bu Restu?"
Salah satu diantara tiga orang itu maju ke depan, mendekati orang yang telah dikenalinya. Menatap lurus wanita yang ada di depannya dari atas sampai ujung kaki. Lalu melirik pada laki-laki yang ada disampingnya, timbul rasa cemburu di hatinya.
Tanpa menunggu lama, dia langsung menarik tangan wanita itu dari laki-laki yang ada disampingnya lalu membawanya keluar gerai handphone.
"Hei... " Steve berteriak. semua orang yang ada di gerai spontan tertuju pada Steve. Mereka mengamati tanpa mengedipkan mata, seolah dunia berhenti.
Sandi ingin membawa kabur wanita yang selama ini disukainya. Tak akan membiarkan seorang pria manapun dekat dengannya apalagi memilikinya.
Sementara itu Steve merasa kaget melihat kejadian yang begitu cepat, langsung berdiri berniat mengejar. Tapi malangnya, dua orang temannya menghalangi tepat di depan Steve seolah tahu apa yang harus dilakukan. Lalu terjadilah perkelahian satu lawan dua.
Dua anak muda yang sudah terbiasa berkelahi di jalanan dengan enteng melawan Steve. Baku hantam terjadi di depan gerai tidak peduli jadi tontonan gratisan. Beberapa orang berhenti di depan gerai handphone melihat aksi perkelahian mereka.
Keamanan Mall segera datang setelah mendapatkan laporan. Melerai mereka yang sudah terlanjur babak belur karena bwrkelahi. Wajah Steve yang begitu mulus sekarang jadi penuh lebam akibat pukulan yang tak bisa dielak. Dihantam para petarung jalanan yang sudah lihai berkelahi. Apalagi dia melawan dua orang sekaligus, itu tak adil buatnya.
Akhirnya mereka bertiga dikumpulkan di kantor security-nya Mall untuk diinterogasi.
Brak...
Pintu terbuka lebar. Terlihat seorang pria berusia tiga puluh tahunan yang tak lain pemilik mall memasuki ruangan setelah menerima laporan dari bawahannya. Beberapa orang di dalam ruangan memberi hormat padanya.
"Steve.. " Daniel tampak kaget ketika mendapati salah satu diantara tiga orang yang membuat keributan dikenalinya.
"Hhmm." Steve meringis menahan sakit bekas pukulan.. Dia melirik sebentar lalu tertunduk.
"Apa yang terjadi?" Daniel heran kenapa Steve bisa berada di sana.
Kepala security menerangkan bla bla kronogis kejadian.
"Ya ampun, kalian tangani dua orang itu. Bawa temanku ke kantor. Oh jangan lupa hubungi dokter juga!" Daniel membawa Steve ke kantornya untuk diobati.
Tak lama kemudian Wei datang setelah menerima kabar dari Daniel mengenai perkelahian Steve. Lalu polisi datang tak berselang lama ke kantor Daniel.
Beberapa polisi mengambil keterangan informasi seputar perkelahian dan penculikan Hana. Mereka menanyakan keterangan dari Steve tentang kronologis kejadian juga para saksi lainnya.
"Steve.. " Wei terkejut dengan kondisi Steve yang babak belur. Beberapa luka sudah diobati.
Wei duduk dengan mengusap wajahnya kasar, terdengar nafasnya agak berat. Dia pasti menyimpan banyak kebingungan setelah mendapati beberapa kejadian belakangan ini.
"Wei... maafkan aku!" Steve memelas menyesali perbuatannya. Ada perasaan yang belum bisa dihilangkan yaitu Steve lebih mencemaskan keberadaan Hana.
"Sudahlah! Kita akan berusaha mencari pelakunya." Wei menepuk pundak Steve.
"Daniel... " Keduanya berdiri saat Daniel memasuki ruangan yang di dalamnya ada Steve dan Wei.
"Kenapa kalian tidak bilang kalau perempuan itu Hana?" Suara Daniel meninggi, merasa marah pada Wei dan Steve. Merasa berdua telah menyembunyikan Hana. Padahal sebelumnya Daniel sudah berbicara pada Wei dia sedang mencari keberadaan Hana paska teleponnya tak aktif.
Steve kaget kenapa Daniel bisa mengenali Hana. Dia sedikit menyambungkan kejadian ini dengan rancu an Wei saat mabuk saat itu. Apakah mereka berdua ada hubungannya dengan Hana.
Ah.. Wei. Hidupmu terlalu rumit aku cerna. Seterahlah... kalian berdua. Aku hanya ingin kejelasan keberadaan Hana sekarang. Entah kenapa dia harus aku lindungi?
Tetapi berbeda dengan wajah Wei yang terlihat datar seolah mengetahui rahasia Daniel.
"Maksudnya?" Steve mengernyitkan mata.
Wei menepuk tangannya dan memberi isyarat mata pada Steve. Steve memilih untuk tidak melanjutkan bicara.
"Ikuti aku!" Daniel kembali keluar ruangan diikuti langkah Wei dan Steve. Mereka menuju salahsatu ruangan pusat keamanan dimana kamera CCTV bisa dipantau dari ruangan ini. Walau Daniel ingin sekali menyalahkan Steve dan Wei, tapi Daniel berubah pikiran. "Mungkin mereka tak mengenali Hana, karena sudah lama Wei tak bertemu dengannya, bisa jadi dia lupa wajahnya." Daniel berkata dalam hati.
"Lihat ini!" Mereka melihat ke layar monitor yang cukup besar. Itu pusat pengawasan kamera keamanan mall. Di sana ada rekaman kejadian perkelahian juga penculikan.
"Wei... aku.. " Daniel terlihat putus asa.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Hana... Ahhhh... kenapa.. kenapa. Andaikan saja kalian bicara lebih awal tentu tak akan terjadi hal ini." Daniel merasa kecewa.
"Sekarang aku mau kalian jujur padaku! Kenapa Hana bisa ada dengan kalian?" Wajah Daniel memerah lalu berjalan mendekati Steve dan Wei.
"Aku gak mengerti, dengan semua perkataan mu Daniel." Steve bertambah bingung, karena Steve belum tahu kebenarannya tentang hubungan mereka.
"Biar aku jelaskan!" Wei menahan Steve untuk tidak bicara. Dia tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Ada sesuatu yang harus disembunyikan untuk saat ini. Sekarang bukan waktunya berterus terang.
"Aku tidak tahu kalau dia adalah Hana. Aku hanya menolongnya ketika dia mendapat kecelakaan di jalan. Dan aku membawanya ke rumah sakit. Hana hilang ingatan. Karena aku kasian dan tak tahu harus membawanya kemana, jadi untuk sementara Hana tinggal bersama Steve."
Steve yang sedari tadi mendengarkan, dia menyipitkan matanya. Ada yang dipertanyakan dalam pikirannya mengenai apa yang baru saja dikatakan Wei pada Daniel. Wei tak mengatakan bahwa dirinyalah yang menabrak Hana. Apa yang akan terjadi jika Daniel mengetahuinya. Pasti Daniel akan menuntut memperkarakan Wei, dan itu akan berpengaruh dalam bisnis dan perusahaannya.
"Terus hubungannya kamu sama Hana apa Daniel? Steve masih penasaran. Kenapa Daniel begitu peduli dengan Hana. Dan darimana dia tahu kalau perempuan itu Hana.
__ADS_1
"Dia adikku yang lama menghilang!"
"Apa? Sorot mata Steve lurus menatap Daniel, begitu kaget. Kakinya serasa lemas mendengar hal itu. Langkah kakinya mundur mencari sandaran, sementara salah satu tangannya memegang keningnya. Untung Wei segera menangkap tubuh Steve lalu memapahnya ke kursi yang ada di ruangan itu. Steve syok.
Ah begitu rumitnya kalian
"Sialll... awas kalian!" Seketika Steve berteriak. Perasaannya bercampur aduk antara putus asa, sedih, kecewa dan kesal. Dia menunduk. menelungkupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Dia menyesali tak bisa menjaga Hana dengan baik.
"Sudahlah, tenang! Kita dan polisi sedang mencarinya." Wei menenangkan Steve untuk mengurangi rasa bersalahnya.
"Pak ada telpon dari polisi!" Seseorang yang berjas hitam menyodorkan telepon pada Daniel.
Daniel menerima gagang telpon yang disodorkan pegawai keamanan yang ada di ruangan itu.
"Iya halo, iya pak..Iya. Hhh..Baik. saya tunggu kabar perkembangannya. Iya baik. Terima kasih."
"Apa kata polisi?" Wei mendekati Daniel.
"Menurut informasi. Anak-anak itu alumni Sekolah X." Daniel terdiam sejenak. Dia menopang dagu.
"Bukannya itu sekolah sma kita?" Steve melihat ke arah wajah Wei. Pasti mereka mengenal baik Hana, karena Hana mengajar di sekolah itu.
"Hhmm.. " Wei menjawab pendek.
"Terus? apalagi kata polisi?" Tatapan Steve beralih pada Daniel.
"Katanya Restu mengajar di sana?"
"Siapa Restu?" Steve kembali bertanya, dan aneh kenapa ada Restu.
"Hana mempunyai nama lain yaitu Restu, dia mengajar di sekolah itu." Daniel masih termangu dalam kebingungan.
"Ah.. apa ini.. ada Hana ada Restu. Pusing sekali"
Steve bingung
"Lalu anak breng**k itu?"
"Dia salah satu muridnya."
"Menurut pengakuan temannya, bocah itu pernah ada hubungan dengan Hana."
"Apa? Wei dan Steve begitu kaget mendengar berita itu. Keduanya saling menatap lalu terdiam. Keduanya menatap kosong. Masing-masing memikirkan apa yang ada dibenaknya.
####
Di lain tempat.
"Hei... lepasin! Kamu mau membawaku kemana?"
Sandi yang menarik tangannya tak menggubris teriakan Hana atau Restu. Dia terus menariknya sambil berlari menuju area parkiran.
"Masuk!" Bocah yang baru lulus SMA itu memaksa wanita yang sedari tadi dipegangnya untuk masuk mobil.
Sandi kembali pada kemudi mobil dan menancapkan gas di atas rata-rata. Dia tahu konsekwensi dari perbuatannya. Dia pasti akan dicari banyak orang. Dia berusaha mempercepat mobilnya agar polisi tidak segera bisa menyusulnya. Dia menyusuri jalan sepi tepatnya jalan tikus. Dia tahu betul jalanan yang aman. Karena seringnya tawuran, dia bisa menghindari kejaran polisi. Begitu pun sekarang. Dia tahu arah yang harus dituju dan harus melalui jalan mana mobil itu melaju.
Sepanjang perjalanan Hana begitu ketar-ketir melihat Sandi menjalankan mobilnya seperti pembalap. Selain mobil itu melaju sangat cepat, dia terlalu takut untuk mati.
Wajahnya pucat pasi, sebagian darahnya mungkin telah menguap bersamaan dengan rasa takutnya.
"Hei kemana kamu membawaku? Bisakah kau kurangi kecepatan?" Hana meminta Sandi menurunkan kecepatan mobilnya. Jantungnya sudah tak tahan lagi berjuang melawan rasa takut, tangannya berpegangan erat pada handle.
Sandi hanya meliriknya sebentar, "Tenanglah!"
Ah bocah ini...kenapa kamu membuat aku susah tenang.
Hana menatap bocah laki-laki yang pantas jadi adiknya itu menyetir dengan tenang walau dalam kecepatan tinggi. Nampak sudah biasa.
Jauh dalam pikirannya, dia sedang mengingat-ingat kapan dia bertemu dengan bocah itu sebelumnya. Wajahnya terasa begitu.familiar.
Ketika Hana melihat penampakannya di gerai, muncul ingatan mengenai suatu kejadian dimana Hana pernah memergokinya sedang merokok dengan baju sekolah putih abu-abu. Sandi mendekat lalu terjadi perlakuan tidak sopan terhadapnya sehingga Hana menamparnya.
Apa yang dilakukan anak ini sekarang?
Semua lintasan kotor sekelebat hadir dalam pikirannya. Dia takut bocah ini melakukan tindakan senonoh padanya. Dia berharap ada orang yang akan menolongnya sekarang.
Ya Tuhan... lindungi hambamu...
__ADS_1
Setelah dua jam mengemudi akhirnya mobil itu sampai di sebuah pesisir pantai jauh dari tempat Hana diculik.
"Turunlah!" Anak itu membuka sabuk pengaman Hana.
Hana turun dari mobil Jeep yang dikendarai bocah itu. Badannya terlalu lemas setelah menahan ketegangan. Seperti sedang main film action saja.
"Mau kemana kita?" Hana menatap curiga.
"Tidak kemana-mana, kita akan istirahat disini." Sandi bicara santai.
Dia duduk di atas bebatuan yang ada di pinggir pantai.
Hana masih berdiri, terdiam di belakangnya. Dia was-was takut bocah itu berlaku tidak sopan.
"Duduklah disini! aku tak mungkin menerkam mu."
Hana masih terdiam. Tak berani maju walau selangkah pun.
"Hei.. kamu tak dengar?" Sandi menoleh ke belakang melihat keadaan Hana yang masih berdiri.
"Kamu janji tidak akan membahayakan ku?" Hana benar-benar takut.
"Memangnya aku penjahat?" Pandangannya kembali ke depan, menatap deburan ombak yang datang silih berganti.
Hana maju selangkah demi selangkah mendekati bocah itu. Setelah dia memberi jaminan dari omongannya tadi. Hana duduk berjarak, hatinya diliputi kecemasan.
"Siapa laki-laki yang tadi bersamamu?" Sandi memulai menginterogasi. Kesal dan cemburu membuat Sandi berbuat nekad.
"Apa?" Alis Hana terangkat.
"Yang tadi bersamamu di gerai handphone." Nada suara Sandi meninggi.
"Apa urusanmu? " Hana menjawab ketus.
Sandi melirik ke arah Hana. Matanya menatap tajam penuh amarah.
"Semua urusanmu menjadi urusanku!" Sandi kembali menatap ke depan.
"Hah? Kenapa?" Hana membalikkan badan menghadap Sandi.
"Sekali lagi jawab yang jujur sebelum kesabaran ku habis!" Sandi belum pernah semarah sekarang. Kecemburuan telah membakar kesabarannya.
"Hah... kenapa aku harus jujur pada orang yang sama sekali aku tak mengenalinya?" Nada suara Hana begitu santai seolah tak ada yang harus menekannya untuk menjawab, Hana kembali menatap ke depan.
"Apaaa? Sekarang giliran Sandi menghadap Hana.
"Iya. memangnya kamu siapa? Berani-beraninya kamu menculik istri orang." Hana meninggikan suara sambil melototi bocah laki-laki yang kini sedang menatap wajahnya.
"Bilang sekali lagi padaku?" Dia menarik kedua tangan Hana. Dengan wajah memerah dan suara meninggi pertanda dia marah besar.
"Lepasin! Kamu bisa sopan kan?" Hana meronta.
"Tidak! untuk urusan ini aku tak bisa sopan." Sandi yang merasa memiliki tentu tidak menerima ketika Hana mengatakan dirinya bersuami. Sandi mendekatkan wajahnya menatap bibir wanita yang ada di depannya. Entah niat apa yang akan dilakukannya pada Hana.
"Plak.. " Tamparan itu kembali mendarat di wajah bocah itu.
Sandi memegang pipinya sedangkan matanya menatap tajam Hana. Sandi mendengus kesal. Dia menatap kosong ke arah deburan ombak. Jiwanya terasa amat hampa saat ini. Ada rasa perih yang sedang menyayat mengiris-ngiris tipis hatinya. Kata-kata yang baru saja didengarnya seperti petir dalam jiwanya, bergemuruh.
"Aku akan memaafkan mu, jika kamu mengembalikan aku pada suamiku!" Suara Hana melemah. Dia menangkap ada rasa yang terluka didepannya.
"Aku perempuan bersuami. Jadi tolonglah! Siapapun kamu, kamu masih muda, yang masih mempunyai harapan masa depan yang panjang."
"Sejak kapan kamu menikah?" Sandi berkata pelan, dia mencoba menurunkan emosinya.
"Aku tidak tahu." Hana bingung.
"Maksudnya?"
"Aku tidak tahu apa-apa tentang diriku?" Nada suara Hana seperti putus asa. Tertunduk
"Apa maksud perkataanmu?" dia menatap kembali Hana.
Hana menatap mata bocah itu lamat-lamat. Dia mengenali tatapan ini. Bahkan seperti sering. Dia segera mengalihkan pandangannya.
"Restu..!" Sandi menarik bahu Hana agar tidak mengalihkan pandangannya.
"Lihat mataku!
__ADS_1