Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Hati yang damai


__ADS_3

Hana ditemani Caterina dan Rara tidur satu kamar.


Sedangkan Doni menginap di lantai 2 bersama Raffa.


Entahlah Hana merasa nyaman tinggal di rumah kang Gavin setelah beberapa malam sebelumnya menginap di rumah ini.


Selain tuan rumahnya yang ramah. Ada hal lain yang dirasakan Hana ketika menempati rumah itu. Setiap kali mendengar adzan melihat beberapa penghuni kostan pergi ke mushola bersama. Lalu melihat mereka sholat berjamaah dan bertadarus seolah hatinya seperti hidup. Ada keinginan yang besar dalam hati Hana mendekati tempat itu mendengar apa yang mereka bicarakan tapi ada sesuatu yang masih menghalangi Hana untuk bergerak, gengsi.


Dia memilih melihat dan mengamati lalu mendengar dari kejauhan kendati hati kecilnya meronta-ronta ingin dipuaskan.


Berbeda dengan Caterina yang bebas tanpa tekanan. Dia bisa langsung bergabung jika dia ingin dan terkadang lebih inten mendengarkan nasehat-nasehat dari kakak-kakak yang kost di tempatnya Gavin terutama Nadia mahasiswa kedokteran semester akhir.


"Kak belum tidur?" Caterina melihat Hana masih membuka mata.


"Belum."


"Ah.. untung kakak ingin tidur disini. Jadi mewakili keinginanku untuk kembali kesini kak." Ucap Caterina sambil tersenyum bahagia.


"Kamu kenapa ingin disini?" Hana bertanya pada Caterina akan alasannya untuk mengikutinya menginap disini.


"Menurut aku ini tempat ternyaman buatku. Entahlah kak melihat mereka pergi tiap kali waktu shalat ke mushola aja bikin aku suka aja. Gak tahu alasannya kenapa. Apalagi kalau ikut mendengarkan ceramah sama tadarus mereka, weiih.. kaya apa ya.. ah pokoknya seneng aja kak. Aku belum pernah sesenang itu kalau dengar nasehat atau arahan dari guru. Ah rasa itu gak bisa digambarkan pokoknya kak. Kakak mau coba dengerin disana?"


"Heh?" Hana malah melongo.


"Kakak pasti gak mau ya? He he." Caterina merasa malu seperti memaksakan kehendak.


"Ya kapan-kapan kita dengerin dari deket." Imbuh Hana pada Caterina.


"Wah.. beneran kakak mau?" Mata Caterina terbelalak lebar seolah tidak percaya kalau Hana mau mendengarkan ceramah dari dekat.


"Ya.. tapi gak begitu juga. Kan mereka mungkin risih juga kita hadir tapi berbeda keyakinan." Hana masih menjaga image nya di hadapan Caterina.


"Ya gak begitu kak. Merasa pernah jelaskan ke aku kak. Katanya kita boleh kapan-kapan kalau mau ke sana. Mereka malah senang kita banyak bertanya dan mempelajari Islam.


"Oh ya?" Hana tidak percaya.


"Beneran kak. Malah kak Nadi suka membebaskan aku baca buku-buku religi miliknya jika aku main ke kamar nya." Terang Caterina.


"Ishh. Kamu jangan begitu itu tidak sopan Caterina." Hana menasehati Caterina.


"Iya kak. Aku minta izin dulu kak. Mereka malah senang kak dan mereka juga mengizinkan jika kita berminat untuk meminjam buku-buku itu." Jelas Caterina yang berseberangan dengan pandangan Hana.


"Iya. Walaupun mereka baik, kamu jangan sampai merusak citra kita dihadapan mereka. Kamu hati-hati ya dalam menjaga sikap. Kita ka orang asing disini apalagi kepercayaan kita berbeda." Jelas Hana panjang lebar menasehati Caterina jangan sampai terlalu bebas malah dianggap tidak sopan.


"Iya baik kak." Caterina memeluk Hana mesra. Hana mengusap lembut kepala Caterina tanda menyayangi dengan penuh kelembutan.


"Nona Hana belum tidur? Ini sudah malam. Besok kita harus bertolak ke Jakarta. Karena nona Caterina akan kembar ke Perancis besok malam." Saran Rara yang sekarang menjadi asisten Hana.


"Iya baiklah kita tidur. Biar besok tidak kesiangan." Ajak Hana pada Caterina disusul anggukan.


Hana dan Caterina tidur satu ranjang dengan posisi tidur menyamping. Hana memeluk adiknya dari belakang sedangkan Caterina memeluk guling untuk dia dekap.


Sementara itu di hotel Tuan Hans dan Wei masih berbincang.


"Maaf tuan Hans. Selepas ini saya ingin mempersunting Hana untuk dijadikan istri. Sekarang satu persatu masalah Hana sudah selesai. Tadi saya mendengar dari anda mengenai perkembangan kesehatan Hana yang mengalami kemajuan. Saya tak ingin menunda lagi hal ini paman." Ucap Wei pada tuan Hans yang menyatakan keinginannya yang ingin segera menikahi Hana.


"Nanti saya pikiran dulu nak Wei. Menurut saya lebih baik beri jarak dahulu. Agar Hana bisa menikmati kebebasannya."

__ADS_1


"Baik paman saya akan menunggunya. Tapi mudah-mudahan tidak terlalu lama.


"Saya akan serahkan semuanya pada Hana. Jika Hana menginginkannya saya mungkin akan mempertimbangkan." Sahut tuan Hans menanggapi Wei.


"Bagaimana dengan keluargamu Wei? Apakah Mereka sudah mengenal Hana? Karena pernikahan bukan hanya sekedar menyatukan dua insan tapi bagaimana menyatukan dua keluarga. Sebaiknya Hana dikenalkan dahulu sebelum melangkah jauh." Tuan Hans mengingatkan pada Wei agar Hana bisa dikenalkan terlebih dahulu pada keluarganya.


"Baik paman. Sepulang dari sini saya akan mengenalkan Hana pada ibu saya juga adik saya. Agar mereka bisa mengenal lebih dekat." Sahut Wei menanggapi usulan tuan Hans.


"Sebaiknya jika keluargamu tidak menyetujuinya, kamu lebih baik mundur. Jangan sampai nantinya melukai perasaan Hana." Tuan Hans seperti sudah menerawang jika keluarga Wei tidak menyukai Hana, akan berimbas pada Hana nantinya.


"Baik paman. Saya akan usahakan." Jawab Wei.


"Kita sebaiknya istirahat. Tak terasa waktu susah malam. Apakah Hana dan Caterina sudah tidur?" Tuan Hans menyesap minumannya sambil memikirkan dua putrinya yang memilih tidur di rumah Gavin.


"Barusan saya dapat laporan keduanya sudah tidur." Wei menginformasikan laporan dari Rara asisten Hana.


"Yah.. sudahlah. Tinggal kita yang belum. Kamu pun sepertinya banyak terganggu akhir-akhir ini karena sibuk mengurusi kami." Tuan Hans mencemaskan pekerjaan Wei yang terbengkalai karena akhir-akhir ini sering bulak-balik ke kota B membantu Hana menyelesaikan masalahnya.


"Ya.. tapi bisa ditangani dengan baik. Untung ada Rei asisten baru. Dia bisa diandalkan untuk menggantikan saya jika saya sedang tidak ada."


"Syukur lah! Hayu kita naik. Kamu pasti lelah." Ajak tuan Hans pada Wei agar beristirahat di kamar karena waktu sudah menjelang malam.


"Baik paman." Wei berdiri mengikuti tuan Hans berjalan menuju lift dan mengistirahatkan badannya di kamar masing-masing.


Menjelang subuh suara adzan saling bersahutan. Hana, Caterina juga Rara sudah bangun. Hana yang dipapah Rara mendekati closet lalu langsung membersihkan tubuhnya setelah Rara keluar dari kamar mandinya.


Disusul Caterina yang sudah rapih. Sebelum Hana ke kamar mandi Caterina malah lebih dulu mandi dan mengganti pakaiannya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Hana yang agak heran melihat Caterina yang sudah rapih dengan memakai baju sopan. Kemeja juga rok panjang.


"Eh.. tunggu-tunggu! Kakak juga ikut. Pengen tahu ceramahnya." Hana yang sudah rapih memakai baju hanya menyisir asal rambutnya.


"Kakak beneran mau ikut?" Heran Caterina dengan melihat Hana penuh tanya.


"Iya. Ayo dorong nanti kesiangan!" Rara langsung mendorong kursi roda dan mengarahkan ke mushola yang sudah berkumpul jamaah. Sholat subuh sudah selesai.


Hana, Caterina juga Rara duduk di luar mushola. Semua orang dari dalam mushola mencuri-curi pandang mungkin merasa agak heran dengan keberadaan mereka bertiga.


"Selamat pagi! Mau ikutan kajian kultum?" Ramah kang Gavin yang tetap menundukkan pandangannya walau wajahnya mengarahkan pada mereka bertiga.


"Iya kang sebelum say bertolak ke Perancis sore nanti saya ingin mendengarkan ceramahnya kang Gavin." Jawab Caterina tanpa beban.


"MasyaAllah." Semua orang dalam serempak mengucapkan kekaguman.


"Mari kita mulai ya kajian subuh nya!" Kang Gavin membuka Al Quran.


"Silahkan buka surat Al-A'raf suray ke 7 ayat 172 dan 173, 174."


Kang Gavin membaca Ayat Al-Quran begit merdu dan syahdu. Membuat orang yang mendengarkannya begitu terbawa hanyut dengan keindahan Al-Quran.


"Mari kita baca artinya!" Kang Gavin membacakan arti ayat itu.


*Ingatlah! Ketika Tuhan-mu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) manusia keturunan mereka dan Allah SWT mengambil kesaksian terhadap ruh mereka seraya berfirman, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab ; Betul, Engkau Tuhan kami, sungguh kami bersaksi." Kami melakukan itu agar pada hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya, ketika itu kami lengah terhadap perjanjian ini."


Selain itu, agar kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya, nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedangkan kami adalah keturunan yang datang setelah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang dahulu yang sesat?"


Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu agar mereka kembali pada kebenaran*.

__ADS_1


Begitulah Allah SWT menjelaskan bagaimana ketika kita diciptakan semasa masih menjadi ruh. Dulu ketika masih menjadi ruh bahwasanya kita bersaksi bahwasanya kita mengakui Allah adalah Tuhan kita. Tetapi ketika manusia diciptakan lalu diturunkan ke bumi, mereka banyak yang lupa diri. Lupa dirinya diciptakan untuk tujuan beribadah kepada Allah SWT. Lupa akan tujuan kita akan kembali kepada Allah SWT yaitu ke kampung akhirat. Lupa dirinya pernah mengakui Allah SWT sebagai Tuhan lalu kenapa mereka menjadi sombong bahkan ada yang tidak mengakui adanya Tuhan. Lupa bahwasanya dia lemah dan tak berkuasa apapun kalau bukan karena bantuan Allah SWT. Lupa dirinya sangat rapuh kalau bukan Allah SWT yang menguatkan. Lupa dirinya adalah makhluk dan bukan Kholik. Lalu apa yang membuat mereka lupa?


Nafsu. Nafsu membuat mereka lupa akan dirinya siapa. Nafsu yang membuat dirinya sombong. Nafsu membuat dirinya melupakan bahwa suatu hari dirinya akan mati. Bahwa nafsu itulah yang telah memenjarakan dirinya. Memenjarakan nuraninya. Memenjarakan keimanannya. Memenjarakan akal sehatnya.


Syetan senantiasa memperdayakan mereka dengan nafsunya. Yang membuat kita lupa tujuan akhir kita adalah kematian. Yang akan mengembalikan kita ke kampung akhirat kelak.


Maka beruntunglah ketika kita ditakdirkan oleh Allah SWT sebagai umat muslim yang taat. muslim yang mu'mjn.Karena diluar sana banyak orang yang tersesat keluar dari hidayah Allah SWT bahkan meninggal dalam keadaan kafir. Sungguh beruntung kita masih berkumpul dengan orang-orang yang senantiasa mencintai Allah SWT. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan memperingati kita akan keburukan. Semua itu adalah kenikmatan yang luar biasa yang tidak dapat oleh sembarangan orang. Hanya Allah yang menggerakkan kita mendekat dan menjauh. Hanya Allah yang berkenan meridhoi kita untuk senantiasa dalam majlis ini sama-sama menuntut ilmu berharap untuk keridhaan Allah SWT. Semua itu adalah kenikmatan yang tak bisa diraih oleh sembarangan orang.


Maka senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat yang selalu Allah SWT berikan


Senantiasa bersyukur atas cobaan yang senantiasa tiasa kita hadapi. Senantiasa bersyukur atas kesempatan yang Allah SWT berikan untuk menghadapi segala masalah. Senantiasa bersyukur atas kenikmatan islam dan iman yang Allah berikan pada kita.


Semua itu adalah pemberian Allah SWT yang tiada bandingnya dengan harta-harta yang kita miliki.


Maka kembalilah pada jalan Allah SWT wahai teman-teman Minta ampunan jika kita pernah melakukan dosa dan khilaf. Sesungguhnya Allah berharap kita kembali ke jalan-Nya. Allah SWT senantiasa menantikan kita di setiap sepertiganya malam. Jangan lewatkan kesempatan untuk bercengkrama dengan Allah SWT di waktu-waktu ijabah. Di waktu-waktu yang senantiasa Allah turunkan karunia-Nya.


Kita makhluk yang lemah tak ada daya apapun terhadap segala sesuatu. Maka mintalah sama Allah atas segala maslah-masalah kita. Hajat-hajat kita. Atas keluh kesah kita. Atas ketidak berdayaaan kita. Dan atas kenikmatan dan kesehatan yang telah dikaruniakan pada kita.


Jangan jadi hamba yang gampang lupa! Lupa siapa diri kita. Lupa darimana dan mau kemana tujuan kita.


Senantiasa tetap istiqomah di jalan-Nya. Senantiasa istiqomah dalam perbuatan baik.


Senantiasa istiqomah dalam keimanan.


Senantiasa istiqomah dalam mencintai pasangan kita karena Allah SWT.


Senantiasa istiqomah dalam kebenaran.


Selalu libatkan Allah SWT dalam segala hal agar hati kita tenang. Mintalah petunjuk pada Allah SWT sebelum melakukan sesuatu. Agar kita mendapatkan petunjuk.


Dan saya cukupkan ceramah subuh ini dengan membahas tiga ayat surat Al-A'raf.


Segala kekurangan datangnya dari saya dan kebenaran datangnya dari Allah SWT


Kita akhiri dengan doa kifaratul majlis. Subhanaka Allohumma wabihamdika Astagfiruka waatuubu ilaik.


Dan untuk terakhir... ada saudara kita yang akan pulang ke Perancis. Kalian boleh saling berpamitan.


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kang Gavin mengakhiri ceramahnya.


Semua orang yang ada dalam mushola saling bersalaman. Lalu satu persatu menghampiri Caterina dan Hana. Mereka bersalaman dengan erat seolah Hana dan Caterina adalah saudaranya.


Setiap orang mengatakan "Fii amanillah." Artinya Semoga kalian dalam perlindungan Allah.


Sikap mereka yang tulus membuat Hana dan Caterina akhirnya meneteskan air mata karena terharu.


Dalam antrian terakhir ada Nadia yang sudah akrab dengan Caterina. Begitu Nadia mendekati Caterina dia langsung memeluk Caterina erat lama. Mereka saling berpelukan menumpahkan apa yang ada dalam hatinya masing-masing. Walaupun pertemuan mereka terbilang singkat tapi hati mereka saling bertautan begitu kuat. Nadia menghantarkan doa-doa pada Caterina. Keduanya menangis melepaskan perpisahan.


Semua orang yang ada disekitarnya ikut terharu dan meneteskan air mata. Nadia perlahan melonggarkan pelukannya.


"Jaga diri ya! Kabari kami disini kalau sudah sampai!" Nadia menyeka air mata Caterina yang berderai meleleh di pipi.


"Kak Nadia juga jaga diri! Do'akan aku di setiap sujud kakak agar Caterina dapat petunjuk."


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2