
"Lain kali jangan kamu lakukan pada laki-laki lain seperti itu!" wajah Wei terlihat datar. Sebenarnya dibalik itu dia sangat khawatir kalau dirinya diperlakukan sama dengan laki-laki yang lain.
"Aku bukan wanita murahan!" Riana mendelik.Dia tahu betul maksud dari perkataan Wei. Wei pastinya menyangka kalau Riana akan berani berbuat itu pula dengan laki-laki lain. Padahal walaupun begitu, ini kali pertama Riana melakukan hal yang nekad sekaligus mempermalukan dirinya sendiri, dengan sikap agresif dan arogannya.
"Setidaknya kau harus bersabar! Sampai laki-laki yang harus melakukannya terlebih dahulu." Wei mengambil minuman yang tadi dia simpan di atas meja, lalu membuka penutup kaleng itu dengan cara menarik nya. Dia menyodorkan minuman itu pada Riana. Wajah Riana terlihat cemberut merasa tersinggung terhadap perkataan Wei barusan.
Riana yang masih cemberut karena mendapat nasehat dari Wei tentang sikapnya barusan berangsur mulutnya kembali normal setelah mendapatkan minuman dari Wei. Sikap Riana yang mudah marah tapi dia pun mudah pula memaafkan. Riana bukan tipe wanita pendendam. apalagi harus membenci Wei berlama-lama. Rugi rasanya ketika dia harus marah sama Wei, maksud hati mendekati bisa jadi malah Wei meninggalkan nya. RAda rasa takut yang Riana lakukan jika sampai Wei menjauhinya.
Riana menenggak minuman yang diberikan Wei lalu menyimpan minuman kaleng itu di atas meja kembali. Tenggorokan nya agak segar setelah meminum minuman kaleng dingin yang diberikan Wei.
"Aku mau mengambil kunci mobilku. Aku ada meeting dengan beberapa model untuk fashion show. Apa kamu mau ikut denganku?" Pinta Riana pada Wei. Dia berharap Wei mau mengantarkannya. Riana sengaja membuat alasan mengambil mobilnya, padahal koleksi mobilnya tidak hanya satu. Tapi demi pedekate pada Wei dia sengaja membuat alasan itu berharap Wei bisa mengantarkannya dan pertemuan itu bisa dia gunakan untuk bisa lebih dekat dengannya. Setelah bertemu dengan ibunya Wei Riana cukup berhasil membuat kesan baik dimata ibunya Wei. Dia seolah sudah mendapatkan lampu hijau setelah mendapat izin dari Ibunya Wei untuk bisa lebih dekat.
"Maaf aku tak bisa mengantarkan mu. Besok aku harus mengantar Steve ke bandara." Terang Wei menjelaskan pada Riana alasan dia tak bisa mengantarkannya. Walaupun bisa, malam itu Wei sudah merasa sangat lelah sekali. Dia ingin istirahat untuk mengembalikan stamina tubuhnya untuk bekerja esok hari. Apalagi pekerjaannya sangat menumpuk setelah Steve tak lagi jadi asistennya. Wei belum menemukan asisten baru saat ini. Dia sedang mencari orang yang cocok dan bisa menjaga rahasia perusahaan dengan baik.
"Baiklah, aku akan berangkat sekarang." Riana tak bisa memaksa Wei untuk kembali mengantarkannya. Riana memperhatikan wajah Wei sepertinya sedang kelelahan. Jadi Riana tak mau ambil pusing dengan penolakan Wei saat ini. Yang penting hubungannya tidak terganggu dan merasa baik-baik saja. Apalagi Riana tahu karakter Wei keras juga cool.
"Sebentar aku bawakan kuncinya dulu." Wei berdiri lalu berjalan ke arah meja kerjanya yang kebetulan ruangannya tak jauh dari ruangan tamu. Tak lama kemudian Wei membawa kunci itu dan memberikan pada Riana.
"Berhati-hatilah! Jangan pulang dalam keadaan mabuk!" Pesan Wei pada Riana. Wei tahu kebiasaan Riana jika pergi malam dengan penampilan seperti itu. Pastinya pertemuan dengan para model tidak di dalam kantornya. Mereka biasa memilih tempat nonformal.
"Baik! Aku pergi dulu." Riana berdiri lalu berjalan diiringi Wei yang mengantarnya sampai pintu apartemen nya.
Setelah mengantarkan Riana, Wei bergegas ke kamar tidur. Sejak tadi rasa lelah dan kantuk sudah menjadi satu. Wei juga mengingat besok harus bangun lebih pagi agar bisa mengantar Steve tepat waktu. Tak menunggu lama Wei pun terlelap tidur.
###
Terlihat Steve menatap lama layar handphonenya. Tak banyak kenangan bersama Hana yang dia simpan dilayar handphonenya. Hanya beberapa pesan tak begitu penting yang masih ada dalam layarnya. Perasaan berat meninggalkan tempat yang telah diisi kebersamaannya dengan Hana juga Sandi. Antara sedih dan merasa bersalah yang besar sudah hadir sejak kepergian Hana dari tempat itu. Bahkan karena perasaan itu Steve yang terkenal ceria pernah bertekad bunuh diri.
"Steve." Ayahnya menepuk pundaknya. Steve menoleh dengan tatapan yang sendu. Ayahnya Steve tersenyum kecil menatap wajah anaknya yang dipenuhi kesedihan.
"Kau sudah bersiap? Mamamu sudah menunggumu di luar. Bahkan di luar Wei sudah siap mengantarmu juga." Ayahnya mengajak Steve untuk segera pergi. Karena jadwal penerbangan Jakarta-Paris sudah tak lama lagi akan tiba. Untuk menghindari kemacetan mereka memilih berangkat lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan. Maklumlah kondisi Jakarta rawan kemacetan.
"Baik." Steve berjalan ke luar kamar setelah mengamati seluruh isinya. Ada perasaan yang berat meninggalkan nya. Steve mencoba mengubur kenangan semuanya. Walaupun pertemuan nya singkat, tapi sangat membekas. Bukan hanya membekas, tapi memang kenangan bersama sudah lama ada sejak mereka masih kecil. Hanya waktu yang memisahkan kenangan meraka.
Steve berjalan diikuti ayahnya. Beberapa hari ini selera makannya drastis menurun. Otomatis Steve lebih kelihatan tirus.
"Steve apa kabar." Wei memeluk Steve. Mereka saling merekatkan pelukan seperti teman yang sudah lama tidak bertemu. Dari wajahnya Steve terlihat rapuh jauh dari biasanya yang selalu energik dan ceria.
"Semangat bro!" Wei menepuk Steve menyemangati sahabatnya yang satu ini. Steve tersenyum tipis. Steve masuk ke dalam mobil Wei sedangkan kedua orangtuanya masuk ke mobil Steve diantar sopir. Mereka berangkat bersama menuju bandara.
Tak lama kemudian mereka sampai di bandara Soekarno-hatta. Mereka menurunkan beberapa tas dari dalam bagasi, lalu mendorongnya menuju tempat tunggu.
Setelah sampai di tempat tunggu mereka duduk santai sejenak sebelum menuju tempat pemeriksaan.
kring
kring
kring
Terdengar suara handphone Wei berbunyi. Wei menatap layar handphonenya, tertera sebuah nama yang dikenalnya. Dia tak segera mengangkatnya, sampai nada itu berhenti. Sekelebat terlintas dalam pikiran Wei untuk mengabaikan panggilan itu. Tak lama kemudian sebuah notifikasi masuk, masih dari nomer yang sama. Wei tetap mengabaikannya, dia lebih memilih diam tak merespon cepat.
__ADS_1
kring
kring
kring
Suara bunyi handphonenya kembali berdering.
"Kenapa tidak mengangkatnya?" Steve menoleh pada Wei yang sejak tadi duduk disampingnya. Steve penasaran kenapa Wei mengabaikan panggilan yang masuk tadi. Bahkan sudah terdengar dua kali berbunyi.
"Tidak. Mungkin salah alamat." Bohong Wei menutupi penasaran Steve. Dia tak ingin pikirannya terganggu saat ini dengan telpon yang dianggapnya tidak terlalu penting.
Steve masih menatap Wei, dia tak percaya apa yang baru dikatakan Wei. Steve tahu karakter Wei yang sulit terbuka. Bahkan ketika dia jadi asistennya saja, Wei masih banyak tertutup untuk urusan pribadinya.
"Hhmm." Steve menjawab pendek. Steve pun tak ambil pusing dengan urusan Wei. Apalagi sekarang dia sudah bukan asistennya lagi.
"Hei... kamu ditelpon, malah mengabaikan." Wei kaget sekali tiba-tiba Sandi sudah ada dibelakang kursi tempat menunggu. Sandi lalu duduk di samping Wei, sontak menjadi perhatian beberapa orang yang sedang ada di dekatnya. Diantaranya Steve dan orang tuanya.
"Kamu sedang apa disini?" Wei melihat Sandi yang sedang duduk di sampingnya.
"Kamu sendiri?" Sandi malah balik bertanya. Sejak mereka turun dari mobil Sandi sudah melihat Wei juga Steve dan keluarganya. Keberadaan mereka membuat Sandi penasaran dan ada sesuatu yang ingin ditanyakan pada Wei dan Steve.
"Issh.. kamu masih belum berubah juga." Wei agak kesal mendengar jawaban Sandi yang selalu cuek dan bahkan selalu menjawab semaunya.
"Lah kenapa harus berubah? Apa ada yang salah denganku?" Sandi mengubah duduknya menjadi agak menyamping ke arah Wei. Wei menatap datar wajah Sandi lalu menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah! Aku mendekatimu ada yang ingin kukatakan padamu. Bisakah kita berdua bicara empat mata?" Sandi kali ini serius mengajak Wei bicara berdua.
"Hhmm.. " Wei berdiri dari kursinya.
Keduanya lalu berdiri dan berjalan beriringan menuju salah satu cafe yang ada di bandara Soekarno-hatta. Mereka memesan dua cangkir kopi lalu duduk di kursi pelanggan.
"Apa yang akan kamu bicarakan?" Wei memulai dengan pertanyaan. Pertemuan yang tak disengaja dengan Sandi membuat Wei sebenarnya agak kurang nyaman. Entah dia takut Sandi tahu bahwa Hana sudah tak ada bersamanya ataupun Sandi akan meminta pertanggungjawaban padanya.
"Hhmm.. biasanya kalian bersama Hana? Kemana dia?" Sandi bertanya Wei sambil menyeruput kopi yang telah dipesannya. Tampak wajah Wei yang sedikit gelisah ketika dugaannya tidak meleset.
"Ada." jawab Wei pendek. Dia harus pandai menyembunyikan kebohongannya, takut Sandi menginterogasi nya lebih jauh.
"Syukurlah! Aku senang kalau Hana dalam pantau an kalian. Setidaknya dia sekarang bebas memilih harus bersama siapa dia tinggal." Sandi menatap Wei dengan inten setelah tadi menyeruput kopi kesukaannya.
Wei terdiam.
"Aku mungkin akan lama tinggal di Australia. Untuk saat ini aku hanya bisa mengandalkan dirimu Wei untuk menjaga Hana. Apalagi sekarang Hana ada di kota B mungkin kalian agak kesulitan menjaganya karena jarak jauh." Sandi masih belum tahu kalau Wei tidak mengetahui keberadaan Hana saat ini. Dia menyangka keberadaan Hana di kota B ada dalam pengawasan Wei.
Mata Wei agak sedikit membesar mendengarkan penjelasan Sandi barusan. Dalam hatinya dia terkejut mendengar keberadaan Hana. Sementara ini Wei sedang mencarinya. Dalam hatinya Wei bertanya-tanya, kenapa Sandi bisa tahu keberadaan Hana saat ini? Ingin sekali Wei menanyakan alasan pada Sandi, tapi Wei berusaha menyembunyikan rasa keinginan tahunya pada Sandi. Dia sedang menunggu Sandi lebih jelas berbicara sehingga Wei bisa melacak keberadaan Hana saat ini.
"Lalu teman-teman apakah mereka melanjutkan ke Australia juga?" Wei sepertinya sedang menjebak Sandi dengan pertanyaan ini. Padahal Dia sedang mencari informasi keberadaan Hana lebih detail lagi.
"Tidak. Raffa malah bimbel bersama Hana di kota B untuk bisa lulus di Universitas I di kota B. Dan Vania lebih memilih seleksi di kota S." Jelas Sandi tanpa curiga dengan pertanyaan Wei.
"Jadi Rafa tinggal dekat dengan tempat bimbelnya?"
__ADS_1
"Tidak juga. Dia punya rumah di kota B sekitar daerah C. Kalau tempat bimbelnya kan daerah G." Jelas Sandi tanpa ragu memberitahu letak tempat bimbel dimana Hana mengajar.
"Aku tak bisa lama berbicara denganmu, karena sebentar lagi penerbangan Steve akan tiba." Wei mengakhiri pembicaraannya dengan Sandi. Menurutnya informasi keberadaan Hana sudah cukup.
"Baiklah. Aku juga mau berpamitan juga sama Steve." Sambung Sandi sambil berdiri.
"Ngomong-ngomong sebenarnya Steve mau pergi kemana? Tadi aku lihat dia tidak sendiri?" Sandi penasaran dengan keberangkatan Steve.
"Dia akan kembali ke Perancis bersama keluarganya," jawab Wei sambil berjalan ke luar cafe diikuti langkah Sandi.
"Oh jadi dia orang Perancis?" Sandi agak terkejut mendengar kabar asal Steve.
"Hhhmm."
Dari kejauhan terlihat Steve mengamati langkah dua orang yang sedang mendekatinya. Tak lama mereka sampai di kursi duduk di samping Steve.
Wei tersenyum. Dia mendekati ayahnya Steve.
"Maaf paman, ini saya perkenalkan muridnya Hana." Wei Mengenalkan Sandi pada ayahnya Steve.
"Perkenalkan ayah.. saya kekasihnya Hana?" Sandi dengan polos dan percaya diri memperkenalkan diri sebagai kekasihnya Hana.
"Wah calon mantu ayah ganteng banget, masih muda banget." Senyum ayahnya Steve terlihat jelas mengembang. Dia merasa lucu kalau ada murid Hana yang masih muda memperkenalkan dirinya sebagai kekasih. Dia ingin menggoda anak muda yang ada dihadapannya.
"Calon mantu?" Kening Sandi mengerut. halisnya bertaut. Dia sedang memikirkan sesuatu.
"Maaf ayah, anak ini suka becanda!" Steve tiba-tiba menyela. Mukanya sedikit cemberut melihat tingkah laku Sandi.
"Tidak apa-apa, malah ayah senang kalau Hana sudah punya calon. Ayah akan segera punya menantu. Berarti sebentar lagi ayah bakal punya cucu donk!" terang ayah Steve mengungkapkan kegembiraannya.
"Sebentar-sebentar.. saya masih tidak mengerti. Apa hubungan kalian dengan Hana?" Sandi menatap ayah Steve dengan inten.
"Sandi... " Seseorang terengah-engah mendekati Sandi. Rupanya pengawal ayahnya dari tadi mencari-cari keberadaan Sandi yang tiba-tiba hilang.
"Sebentar paman Andri. Aku masih ada urusan!"
"Maaf Tuan Sandi, papihmu sedang menunggumu."
"Baiklah ayah. Saya pamit dulu." Sandi mengulurkan tangan berpamitan. Tak lupa Sandi menyalami Wei dan Steve sebagai perpisahan. Dia berjalan mengikuti pengawal pribadinya untuk segera masuk ke tempat pemeriksaan. Kebetulan jadwal pemberangkatan Sandi lebih awal dari Steve.
"Benarkah anak itu pacarnya Hana?" Ayah Steve melihat pada Wei.
"Fans mungkin." Wei lebih senang menjawabnya seperti itu. Karena Sandi lebih cocok sebagai fans berat Hana bukan sebagai kekasih. Karena Wei tahu Hana tak pernah menganggapnya begitu.
"Dia mau kemana tadi?" Ayah Steve masih mengamati kemana tadi Sandi dan pengawalnya pergi.
"Australia," jawab Wei.
"Tapi anak itu lucu juga ya yah?" Ibunya Steve yang sedari mengamati tingkah laku Sandi akhirnya memberikan komentarnya.
"Steve... " Semua mata tertuju pada Steve. Steve yang tiba-tiba saja pingsan di atas kursi tunggu bandara. Semua terkejut dengan keadaan Steve yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Biar saya yang akan menghubungi tim medis bandara untuk sementara." Wei buru-buru mengambil keputusan. Terlihat ayahnya Steve dan ibunya begitu sangat cemas.
"Iya."