Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Janji Setia


__ADS_3


ini penampakan Hana ya... Kira-kira kamu suka ga?


Aku pinjem wajah artis di tetangga sebelah😁


Deg


Sandi menatap Hana. Dalam maniknya yang bulat dia melihat kekosongan. Datar


"Kamu tahu siapa aku?" Sandi ingin menguji ingatan Hana.


Hana menggelengkan kepala.


"Oh my God... "


Sandi menatap Hana lamat-lamat. Seolah sedang membaca apa yang ada dalam pikiran Hana. Namun tatapan Hana tetap datar.


"Ya ampun, maafin aku sayang!" Sandi spontan memeluk Hana atau yang dikenalnya dengan nama Restu. Ada perasaan bersalah pada Hana yang sudah membentak dan membuatnya susah. Padahal baru kemarin dia berjanji akan melindunginya.


"Eh lepasin! Jangan begini!" Hana mendorong dada Sandi agar menjauh dari tubuhnya. Dia terlihat tak nyaman.


"Eh iya sorry.. " Sandi salah tingkah. Sekarang dalam pikirannya dipenuhi banyak penasaran. Dia terlihat bukan seperti wanita yang dikenalnya.


Tapi Sandi segera menyadari bahwa wanita yang ada dihadapannya masih merasa asing akan dirinya.


"Kamu pasti lapar." Sandi menarik tangan Hana berdiri. Dia tak ingin Hana merasa tertekan. Sandi ingin mencairkan suasana yang baru saja dia buat mencekam. Hana bukan hanya syok tapi dia juga pastinya lapar karena sudah sore.


"Ih.. lepasin! Kamu bisa sopan ga? Terlepas siapa kamu. Saya pernah menamparmu dua kali. Pasti ada alasan kenapa aku bisa berbuat seperti itu. Lagian kita beda umur." Hana kesal dengan perlakuan Sandi.


"Iya bukan masalah buatku, walau kamu nenek-nenek, aku tetap menganggap kamu wanita dewasa. Dan aku tetap menyukaimu. Apa ada yang salah?" Sandi memperhatikan Hana lebih dekat. Baru kali ini Sandi merasa lebih bebas menatap Hana. Karena tak dipungkiri waktu masih sekolah kadang ada rasa canggung yang harus dia jaga. Ya, profesi Hana sebagai guru tak boleh tercoreng.


"Jangan mengelabui ku!" Hana berkata ketus. Dia tak sepenuhnya mempercayai orang yang ada di depannya.


"Memang siapa yang telah mengelabui mu? Bukankah laki-laki yang bersamamu itu juga sudah menipumu? ck.. ck.. ck. " Sandi memalingkan muka, marah dikatakan seperti itu. Dia tak bisa menerima apa yang baru saja dituduhkan Hana padanya.


"Hei... sebentar lagi kamu akan dicari polisi, karena sudah menculik aku. Makanya kamu harus sopan! Kalau tidak, aku akan mengadukan sikapmu padaku." Hana meninggikan nada suaranya seolah mengancam sebagai pembelaan diri.


"Aku senang kalau kita ditangkap polisi. Biar kamu tahu sebenarnya, siapa kamu?" Sandi tak mau kalah berdebat. Dia tak suka siapapun mengancam dirinya.


"Panggil aku kakak. Kalau tidak!" Hana bingung untuk melanjutkan bicaranya. Matanya bergerak kesana-kemari- kemari. Berfikir bagaimana caranya untuk menghindari bocah laki-laki ini.


"Kalau tidak kenapa? Aku akan panggil sekalian Restu sayang... darling ku... sayangku... my love...mau pilih mana? Yang jelas tidak akan memanggilmu kakak! Emang emak kita sama apa?" Sandi tertawa kecil menertawakan Hana yang sedang bingung.


Dia berpikir wanita tetap wanita. Meski beda umur wanita tetap saja manja. Sandi tak melepaskan genggamannya. Dia terus berjalan dan menaiki mobilnya kembali. Dan mendorong Hana masuk di kursi depan.


"Hei kamu, siapa nama kamu?" Hana kehabisan kata-kata. Dia mencoba mengalah dulu. Dia pikir daripada berdebat terus, mending mengumpulkan informasi.


"Sandi, sayangmu!" Sandi kembali tersenyum kecil. Rasanya gemas ingin menggodanya. Sandi yang tadi dibakar api cemburu seolah menemukan celah. Dia mengencangkan sabuk pengaman Hana, lalu mengecup pipinya dengan cepat.


"Ihhh.. kamu apaaan sih... Gak sopan! nyebelin banget!" Wajah Hana berubah jadi garang. tangannya sibuk mengelap-ngelap pipinya yang baru saja kena sentuhan Sandi.


"Marah?" Sandi malah tersenyum lebar. Semua gigi depannya jadi terlihat jelas. Dia menutup pintu mobil. Senyumnya belum hilang, terus berkembang.


Terlihat wajah Hana cemberut karena Sandi sudah mencuri pipinya. Dia memalingkan wajahnya ke samping kiri. Merasa bocah ingusan yang pantas jadi adiknya itu telah tidak sopan. Apalagi dia merasa sudah berstatus istri. Bagaimana kalau suaminya tahu. Mungkin dia akan dicap wanita tak benar.


Tak lama kemudian mobil itu berhenti di depan satu pintu pagar tinggi. Terlihat Sandi mengeluarkan handphone nya menekan angka-angka mirip seperti kode. Tak lama kemudian pintu itu terbuka.


Mobil melaju ke dalam. "Ya ampun, ini rumah apa hotel?" Hana bergumam dalam hati. Hana yang tadinya cemberut wajahnya berubah jadi takjub melihat bangunan yang baru saja dilihatnya. Ini luar biasa bagus dan luas.


Sandi membuka pintu mobilnya dan memutar ke arah pintu disebelah nya.


"Ini dimana?" Hana kembali bertanya. Matanya berkeliaran mengamati sekelilingnya. Dan tak bergegas turun.

__ADS_1


"Ini rumahku." Sandi bergerak akan membuka sabuk pengaman yang masih terpasang melingkar ditubuh Hana Sementara pandangan Hana masih menatap kekaguman. .


Secepat kilat Hana meraih sabuk pengamannya setelah sadar Sandi mendahuluinya. Tapi malangnya tangan mereka bersentuhan. Dan tiba- tiba Sandi mendekatkan wajahnya dengan miring mengecup ringan di bibir Hana. Hana terdiam, dia selalu kalah cepat dari bocah laki-laki itu.


Entah kenapa Sandi ingin terus menggodanya. Dia kembali melebarkan senyumnya. Hatinya senang terdengar irama gembira di hatinya sudah lama dia tidak merasakan senang seperti ini.


Dan Hana terdiam dalam kekakuan. Otaknya menjadi beku untuk berpikir. Dia tak mampu untuk marah, energinya terlampau capek. Kenapa bocah ingusan ini begitu berani menyentuhnya. "Apakah sebelumnya dia pun seperti itu?" Pikiran Hana menerka-nerka.


"Ayo turun! Atau mau kugendong sampai ke dalam?" Lagi-lagi Sandi menggodanya. Semakin gemas saja melihat Hana. Mungkin keberaniannya sekarang lebih bebas ketimbang dulu sewaktu sekolah.


"Tidak. Aku bisa turun sendiri. Aku peringatkan jangan mengambil keuntungan dari orang lemah sepertiku!" Hana bicara tegas. Dia memperingatkan Sandi agar tidak terlampau dekat dan mencari cara untuk mengancamnya lebih serius.


"Ya udah.. turunnya hati-hati!" Sandi berhenti menggoda. Dia melihat wajah muram Hana menelan kekesalan. Dia tak tega kalau sudah melihat wajahnya yang seperti itu.


Dia berjalan lebih dahulu memasuki rumahnya diikuti Hana dari belakang.


"Hei... siapkan makanan! Aku lapar nih...Sekalian bawa ke atas! Sandi memerintahkan pelayan rumahnya agar menyiapkan makanan. Sandi berniat makan di ruangan atas. Sedari tadi perutnya sudah keroncongan karena belum sempat terisi makanan.


Terlihat datang seorang perempuan dengan tampilan rapih dari ruangan lain. Kalau dilihat sekilas, umurnya sekitaran emat puluh tahunan. Dia tampil lebih muda dari umurnya. Memakai rok setengah betis dengan rumbai dan atasan lengan pendek seksi, menampilkan kulitnya yang mulus dan kaki jenjang. Dia nampak cantik dan anggun.


Rambutnya seperti habis dari salon, terawat rapih, bergelombang hitam mengkilap. Riasannya pun tampil memukau bah artis mau show.


"Bu Restu... " wajahnya menatap lurus bahkan tanpa jeda. Merasa kaget dimana wanita yang selalu didambakan putranya sekarang ada di rumahnya.


Apakah mereka sudah jadian?


Ibunya Sandi menatapnya begitu dalam. Tapi tak lama kemudian dari ujung bibirnya tersungging seulas senyum yang ditujukan kepada tamunya.


Hana membalas dengan senyuman kembali dengan sedikit merendahkan kepalanya memberi hormat. Walau sekelumit dalam pikirannya, belum mengetahui siapa wanita yang ada di depannya.


"Mih... aku bawa Restu kesini gak pa-pa?" Sandi melangkahkan kakinya mendekati wanita yang dipanggil mamih sambil cipika cipiki.


"He... iya." Ibunya Sandi terpaksa tersenyum kecil, sambil melirik pada Hana. Dia menarik lengan anaknya agak menjauh dari Hana. Lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Sandi.


"Kenapa bu Restu ada disini?" Dia berbisik.


"Lalu apa bedanya?" Dia kembali berbisik.


"Dulu kan dia masih mengajar, makanya aku panggil bu Restu. Kalau sekarang sudah tidak mengajar, makanya aku panggil Restu."


"Sejak kapan mamih ngajarin kamu tidak sopan?" ibunya mencubit kecil pinggang Sandi.


"Mamih tau sendiri kan kalau aku pacaran sama Bu Restu, apa aku gak boleh panggil namanya saja?"


"Issss... " ujung bibir ibunya sedikit terangkat mendengar jawaban Sandi.


"Ehem.. ehem" Hana sengaja berdehem mengingatkan mereka. Karena tidak enak juga dirinya jadi kambing conge yang dibiarkan sendirian. Melihat keduanya sedang berbisik-bisik agak lama. Dia merasa risih didiamkan mematung dan tidak nyaman.


"Oh... maafin mamih ya!" Ibunya Sandi tiba-tiba mengubah raut wajahnya menjadi ramah membaca ketidaknyamanan tamunya. Dia berjalan mendekati Hana lalu memeluk erat.


Hana membalas dengan ragu pelukan ibunya Sandi yang dipanggilnya mamih.


"Wah sepertinya Restu tambah cantik aja nih.. " Ibunya Sandi tersenyum memberikan pujian sambil mengamati penampilan Hana yang agak sedikit ada perubahan.


Dulu penampilannya sederhana, bahkan dengan pakaian murah juga wajahnya tanpa pulasan make up. Tapi sekarang dilihat sekilas saja bajunya terlihat branded dan semua yang dipakainya bermerk. Dan kalau dihitung dari harganya lumayan mahal. Dan satu lagi baru kali ini ibunya Sandi melihat Hana wajahnya terawat dengan baik.


Dia tak bisa menolak keinginan anaknya yang semata wayang ini untuk berpacaran dengan wanita yang ada di depannya itu. Apalagi ketika anaknya jatuh cinta sama perempuan yang dulunya adalah gurunya sendiri, bahkan umurnya terpaut lima tahun.


Hadeuh


Hana hanya mengernyitkan matanya, dia semakin bingung dengan tatapan wanita yang ada di depannya. Tapi dia tak mampu menolak apa yang baru saja terjadi. Dia sedang berusaha mencari tahu siapa dirinya. Dia pikir orang-orang ini pasti mengenalnya. Walau dia tidak tahu apakah mereka akan berkata benar atau salah tentang dirinya.


"Kalian lapar kan? Biar mamih siapin deh makanannya! Kalian istirahat dulu aja ya! Mamih ke belakang dulu." Dia terlihat antusias begitu melihat anak semata wayangnya pulang ke rumah.

__ADS_1


"Lihatkan! Mamih aja kenal sama kamu. Jadi tenang aja, yuuk kita ke atas!" Sandi melangkah ke tangga lantai dua.


Hana termenung. Sekelas ibunya saja bisa mengenalnya. Mungkinkah mereka bisa dipercaya?


"Hei... nama kamu siapa?" Hana terhenti, sebelum naik ke tangga. Dia terasa canggung jika tiba-tiba harus menjadi akrab tanpa mengenalinya.


"Hei... kan sudah kubilang namaku Sandi, Sandi prakoso Wadiatama." Sandi menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Hana yang masih mematung dibawah tangga.


"Aku mau pulang!" Hana tertunduk lalu melangkah menuju pintu.


"Eit.. kemana? Jangan dulu pulang! Aku janji akan membantu kamu setelah kamu makan dulu. Ya.. please...!"


"Janji kamu bakal sopan?"


"Iya aku janji!" Sandi mengacungkan dua jarinya.


"Eh, ini mau makan dimana sayang?" Suara ibunya Sandi menyadarkan mereka.


"Di atas aja mih!" Sandi kembali naik ke tangga.


"Ayo bu Restu... jangan sungkan! Anggap aja rumah sendiri! Ibunya Sandi merapatkan pada bahu Hana lalu menuntunnya menuju lantai dua, diiringi para pelayan yang sudah siap dengan aneka hidangan.


"Wah mamih seneng banget kalau tiap hari kaya gini." Ibunya Sandi tersenyum bahagia. Merasakan adanya kehangatan di rumahnya dengan datangnya Sandi dan Hana. Dia tidak merasakan kesepian lagi. Sudah lama ibunya Sandi mendambakan suasana keramaian di rumahnya. Maklumlah suaminya jarang ada di rumah karena dinas dan sibuk dengan bisnisnya.


"Ayo Bu Restu kita makan!" Ibunya Sandi dengan ramah menyodorkan piring.


"Baik tante.. "


"Eh jangan panggil tante.. panggil aja mamih atau mama! Bu Restu sudah saya anggap anak sendiri ko. Pacar anak saya berarti anak saya juga."


"Hah? Pacar?" Apa benar aku pacaran dengan bocah ingusan itu?" Hana bergumam sendiri. Hana tidak menjawab apapun, semuanya terasa canggung, Hana melongo.


"Maafin Sandi ya bu Restu! Sandi suka gak sopan ya? Ini salah mamih tidak bisa mendidiknya dengan baik. Sandi ayo minta maaf sama bu Restu!' Ibunya Sandi mengedipkan mata sebagai isyarat pada Sandi.


"Baik mamih ku yang terbaik ke dua sedunia!" Sandi gemas ingin menggoda dua wanita yang ada dihadapannya.


"Ko kedua sih?" Ibunya Sandi mengerutkan dahinya.


"Kan yang ke satu nya sudah digeser sama Restu mih... " Sandi tertawa kecil.


"Jangan panggil saya Restu, panggil saya Hana!"


"Hah?? Hana??" Sandi dan ibunya sontak saling berpandangan.


Keduanya tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Kenapa bu Restu tiba-tiba harus dipanggil Hana. Apa yang terjadi dengan dia?


"Ah angin apa yang barusan lewat?"Ibunya Sandi seperti sedang bermimpi. Orang yang sudah lama dikenalnya sebagai bu Restu gurunya Sandi, sekarang meminta dipanggil Hana.


"Hah.. Baiklah. Hana ya?" Ibunya Sandi menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar. Kepalanya geleng-geleng. Ini harus cepat mendapat penjelasan Sandi. Apa yang sedang terjadi sebenarnya.


Sandi mengamati dua wanita yang sedang ada dihadapannya. Hari ini perasaannya begitu senang. Setelah beberapa waktu kebelakang dia merasa begitu tak tenang kehilangan Hana.


Sandi mencuri-curi pandang pada Hana. Sesekali dia memperhatikan ibunya juga yang terlihat kurang fokus dengan makanan yang ada di piringnya. Mungkin dia masih merasa canggung dengan keadaan Hana.


Acara makan ditutup dengan makanan penutup.


Ibunya Sandi rupanya tak sabar untuk bertanya.


"Ehem.. ehem.. " Dia sengaja berdehem. Mengambil nafas lalu membuangnya dengan perlahan.


"Begini ya bu Restu... eh Hana... "


"Setahu mamih dari dulu memang anda gurunya Sandi. Tapi... nama anda bu Restu kan? Kenapa berubah jadi Hana?" Ibunya Sandi menoleh ke arah Hana.

__ADS_1


"Iya tante?" Hana mengangkat alisnya belum mengerti dengan maksud pertanyaannya.


"Apakah anda bermaksud mengganti nama dari Restu menjadi Hana?" Ibunya Sandi menatap Hana menunggu jawaban


__ADS_2