
ini penampakan Daniel ya
Sori ya baru nongol. Dia muncul akhir-ahir ini
Daniel menatap Wei, pastinya dia sudah tahu kalau Riana memang menyukai Wei sudah sejak lama. Tapi ada apa ibunya mengadakan pertemuan dengan keluarga Riana. Meski mereka mengenal satu sama lain, antara Daniel dan Riana tak ada hubungan apapun. Sebatas hanya pertemanan biasa.
"Baik. Tolong kirimkan alamatnya." Daniel tahu betul sifat ibunya yang sulit mendapat penolakan, lebih baik dia mengiyakan terlebih dahulu daripada harus berdebat di telpon.
Tak lama kemudian Daniel menutup telponnya.
"Wei... Sepertinya aku sudahi dulu pembicaraan kita. Aku ada janji dengan ibuku. Masalah Hana aku akan bantu semampuku. Tapi... aku harus mencari jalan untuk menemukan kepastian, apakah ibuku terlibat atau tidak. Jadi aku minta waktu untuk mengabarimu."
"He'em." jawab Wei pendek. Dia mengerti betul beratnya Daniel untuk menemukan bukti kejahatan ibunya sendiri.
Daniel bangkit dari kursi sofa, lalu mereka saling berpelukan melepaskan pertemuan yang baru saja dimulai. Wei mengantar Daniel sampai pintu.
Daniel berjalan ke luar dari gedung perkantoran perusahaan Wei dengan seribu pertanyaan.
Dari mana aku harus memulainya? Ya Tuhan tolonglah aku... Semoga urusanku dilancarkan. Mana yang terbaik menurutmu.
Daniel memanjatkan doa sepanjang perjalanan. Sedikit banyak hati dan pikirannya yang sedang berkemelut agar menjadi tenang.
Tak lama kemudian Daniel sampai di sebuah restoran yang sudah dijanjikan ibunya untuk bertemu keluarga Riana. Setelah menanyakan pada resepsionis Daniel diantar ke sebuah ruangan VIP yang sudah di pesan.
"Bu.. " Daniel menyapa ibunya. Terlihat ruangan itu masih kosong. Hanya baru ibunya yang sudah datang lebih dahulu dengan memesan teh.
"Duduklah! Sengaja ibu mengajakmu kesini lebih awal, biar kita bicara dahulu sebelum bertemu keluarga Riana." Dia menatap anaknya lekat, dia sedang merencanakan sesuatu terhadap Daniel.
"Ada yang mau ibu sampaikan?" Daniel duduk mendekati ibunya, menatapnya sambil menggeser kursi bantal yang ada sandarannya. Kebetulan restoran ala Jepang ini lebih ke arah lesehan, tapi ada bangku sandaran yang bisa digerakkan bebas.
"Hhmmm. Begini, kemarin ibu bertemu dengan ibunya Riana di salon langganan ibu. Ya sambil nunggu antrian pelanggan ibu ngobroo-ngobrol dikit sama ibunya Riana. Ya ngobrol santai lah. Kebetulan ada satu pandangan yang menurut ibu cocok." Ibunya Daniel yang dikenal Nyonya Tessa menyeruput teh yang sudah dihidangkan sebelum memesan menu utama.
"Maksud ibu?" Daniel menatap manik ibunya, ada hal yang direncanakan ibunya bersama ibunya Riana.
"Begini, umurmu sudah cukup untuk berkeluarga, tahun ini kamu menginjak 30 an. Kamu juga terlihat tidak mempunyai calon untuk dijadikan seorang istri."
"Jadi ibu berniat menjodohkan aku dengan Riana?" Daniel memotong pembicaraannya tak sabar menebak rencana ibunya.
"Ibu sih.. ingin memperkenalkan saja. Bukan berarti menjodohkan." jawab nyonya Tessa sedikit membelokkan maksudnya, dia sendiri takut putranya menolak mentah-mentah. Karena dia melihat sendiri Daniel tidak dekat dengan perempuan manapun, terlebih membawa calon untuk dijadikan istrinya.
"Ah ibu, sama saja. Ujung-ujungnya perjodohan. Ibu gak tau kalau Riana... " Daniel terhenti bicara. Suara pintu diketuk, lalu muncullah Riana bersama ibunya dari balik pintu setelah diantar pelayan restoran.
"Daniel.. " Riana menatap Daniel, wajahnya terlihat kaget, tak menyangka ibunya merencanakan bertemu dengan Daniel. Mereka berjalan lalu duduk dihadapan Daniel.
Daniel dan Riana saling memberi hormat pada ibunya masing-masing sebagai etika sopan santun.
"Apa kabar tante?" Daniel menyapa lebih dulu.
"Baik, Daniel? Wah mama gak nyangka sekarang kamu ganteng banget kalau mama masih muda pastinya naksir sama kamu." Ibunya Riana terkekeh-kekeh memuji ketampanan Daniel.
__ADS_1
"Sudah lama ya kita tidak bertemu. Tau-tau anak kita udah pada gede ya?" ibunya Daniel menjawab pujian Ibunya Riana.
Selamat ya Daniel katanya kamu baru menang tender ke Korea buat fashion tahun ini!" Ibunya Riana tersenyum ramah. Tidak Sia-sia dirinya sekarang bertemu Daniel. Apa yang diceritakan ibunya Daniel tidak mengecewakan.
"Iya tante, terimakasih!" Daniel mengangguk sambil tersenyum, merasa senang atas sanjungan Ibunya Riana.
"Apa kabar tante?" giliran Riana memberi hormat, dan menyapa ibunya Daniel. Wajah Riana nampak agak sedikit gusar. Sepertinya dia sedang menebak-nebak maksud tujuan ibunya mengajaknya makan bersama dengan keluarga Daniel. Karena sebelumnya tidak diceritakan padanya dia bakal bertemu siapa dan mau apa. Ibunya Riana tahu betul karakter putrinya yang suka memberontak. Kalau diberitahu lebih awal, bisa dipastikan makan bersama Daniel akan gagal.
"Baik, sayang. Duduklah!"
Sedari datang ibunya Riana tak lepas menilai penampilan Daniel, sesekali Daniel merasa malu diperhatikan intensitas seperti itu. Dia mengalihkan pandangan pada Riana, matanya agak sedikit memberi tahu kalau dia agak kurang senang. Daniel tersenyum tipis, tidak bisa menunjukkan langsung apa ekspresi sebenarnya.
"Ayo sayang mau pesan apa?" Nyonya Tesaa menatap Riana sambil tersenyum, menawari menu makanan.
Stelah menu dipesan, tidak lama kemudian semua pesanan terhidang di meja.
"Mari kita makan!" Para orangtua tentunya lebih dulu menyentuh makanan, disusul anak muda Daniel dan Riana menyendok menu ke dalam piring. Sesekali terdengar basa-basi disela mereka menyuapkan makanan.
Dalam hati Riana dan Daniel masing-masing bergemuruh, antara tak sabar dan tak siap mendengar sesuatu yang tak diinginkannya.
Beberapa hidangan sudah mereka cicipi, walau memang hanya sekedarnya. Tentu untuk para tetua bukan hanya sekedar makan tapi ada yang mesti mereka sampaikan untuk kedua putra putrinya.
"Daniel, sebenarnya tante ingin sekali kamu sering main ke rumah tante, ya sekalian ngajak jalan Riana juga. Kebetulan minggu depan ada acara pertunangan keluarga kami, ya tepatnya sepupunya Riana." Ibunya Riana tersenyum dalam hatinya dia berharap Daniel bisa lebih dekat dengan Riana.
"Mama apa-apa an sih? Daniel orangnya sibuk banget, lagian kalau dia datang disangkanya kita ada apa-apa nya!" Riana agak sedikit kecewa. Perkiraannya tidak meleset sepertinya pertemuan ini diatur untuk mendekatkan dia pada Daniel. Tapi Riana sendiri sebenarnya telah ada seseorang yang dia sukai, tepatnya sahabatnya Daniel yaitu Wei.
"Memangnya kenapa kalau ada apa-apa bukanlah kamu juga sudah cukup umur untuk mencari calon suami? Apa yang kurang dari Daniel? Dari rupa dia ganteng, dia juga lebih dewasa dari kamu. Mama senang kalau punya menantu Daniel." Ibunya menatap Daniel sambil tersenyum.
Daniel hanya tersenyum tipis lalau melirik pada Ibunya sejurus kemudian dia menunduk. Bukannya dia tak senang Daniel pun merasa sama dengan Riana, hatinya sudah ada seseorang yang sudah lama dia sukai. Tentu akan tidak terasa nyaman jika keduanya saling menyakiti.
"Begini... tidak ada salahnya kalau kalian saling kenal lebih dekat. Siapa tahu kalian cocok satu sama lain. Kalau tidak dicoba mana tahu kalian cocok? Setidaknya kalian saling mengenal lah!" Ibunya Daniel berusaha lebih lemah lembut. Dia tahu karakter Riana lebih keras dari anaknya sendiri. Dalam pikirannya sekarang, bukan hanya masalah perjodohan yang harus terlaksana, tapi tak lebih bagaimana menggabungkan dua aset besar menjadi satu. Ya bukankah keluarga Riana juga punya perusahaan besar di bidang fashion. Riana satu-satunya ahli waris dari perusahaan keluarganya. Tentu kalau perjodohan ini berhasil, Daniel mampu menguasai dua aset sekaligus. Serakah
"Maaf tante, sepertinya aku harus berbicara berdua dengan Daniel. Saya permisi duluan pergi." Riana segera berdiri dan mengedipkan mata ke arah Daniel, isyarat dia mengajaknya ke luar.
"Maaf tante, bu..saya ikut sama Riana, silahkan jika kalian mau melanjutkan ngobrol-ngobrol nya. Saya izin permisi dahulu!" Daniel ikut bangkit mengikuti langkah Riana.
'Ya.. " Kompak ibunya Daniel dan mamanya Riana menjawab. Mungkin pikir mereka, Daniel dan Riana membutuhkan waktu berdua tanpa mereka untuk mendiskusikan apa yang baru saja dibicarakannya.
"Duh mohon maaf nyonya Tessa, kalau Riana orangnya kurang sopan. Maklum sifatnya keras kadang suka terburu-buru." Mamanya Riana terlihat tidak enak hati melihat Riana meninggalkan tempat begitu cepat.
"Tak apa, ada baiknya juga kalau mereka berbicara berdua." Ibunya Daniel tersenyum tipis. Ya bukan ibunya Daniel yang gampang menyerah. Kalau memang perjodohan mereka tidak berhasil, dia harus merencanakan planing B, yang akan memaksa keluarga Riana menikahkan Riana pada akhirnya. Otaknya yang serakah dan licik sudah biasa menghalalkan segara cara.
Kedua ibu itu akhirnya ngobrol kesana kemari tanpa ada putra-putrinya.
Sementara Riana yang berjalan dengan membawa perasaan kesal dan wajahnya yang masam berhenti di area parkir.
"Aku tadi datang dengan ibuku dengan satu mobil." Riana berbalik ke belakang menatap Daniel dengan wajah cemberutnya.
"Naiklah!" Daniel tahu apa yang harus dilakukannya. Dia akan membawa Riana dalam satu mobil dengannya. Riana tadi sudah meninggalkan kunci mobilnya di meja agar ibunya tak harus naik taxi.
Dengan wajahnya yang masih sama Riana naik ke mobil Daniel. Sebenarnya kalau ibunya sejak awal berbicara mengenai pertemuannya ini, mungkin Riana akan sedikit menerima. Tapi karena ibunya hanya mengatakan ada pertemuan penting, seolah-olah dia sedang ditipunya. Masalahnya ini berkaitan dengan ibunya Daniel. Sedikit banyak Riana juga banyak mengorek informasi tentang siapa Daniel dan keluarganya. Menurutnya berhubungan dengan keluarga itu sangat membahayakan. Penuh intrik yang licik selama menjalani bisnisnya.
__ADS_1
"Kita akan pergi kemana?" Daniel mulai memutar stir ke luar area parkir restoran.
"Ke kantorku saja, itu lebih aman, jawab Riana ketus.
Daniel melirik sebentar melihat Riana, lalu kembali fokus ke depan. Daniel tahu betul sifat Riana yang mudah marah dan keras. Jadi dia lebih baik diam tidak melayaninya untuk berdebat.
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Mungkin keduanya berniat akan membicarakan tentang perjodohan itu nanti selepas sampai di kantor Riana. Karena ini harus dibicarakan sampai tuntas, apalagi berhubungan dengan ibunya Daniel.
Tak lama kemudian mereka sampai di area basement perusahan Riana. Keduanya turun dari mobil lalu melangkah bersama memalui lift khusus para petinggi perusahaan.
Penampilan Riana yang modis juga didukung dengan wajah cantik tentu laki-laki mana yang tak menyukainya. Apalagi dia sekarang menjabat seorang desainer di perusahaan ayahnya sekaligus sebagai pewaris tunggal yang digadai-gadai akan menggantikan posisi ayahnya kelak sangat menarik untuk dibicarakan. Ya seperti sekarang gerak-geriknya sangat menjadi bahan pembicaraan di perusahaan ataupun para relasinya.
Sepanjang mereka berjalan beriringan tak luput dari perhatian para karyawan. Apalagi yang di samping Riana seorang laki-laki yang cukup tampan juga mempesona setiap orang melihatnya, tentu menjadi gosip hangat, karena selama ini tak terlihat Riana membawa seorang pria secara khusus ke kantornya kalau bukan relasi bisnisnya.
Riana maupun Daniel sebenarnya sudah saling mengenal satu sama lain. Selain mereka berteman ada juga proyek kerjasama yang mereka lakukan dalam bidang fashion. Mereka juga sering bertemu di acara club atau terkadang bertemu di acara- acara formal yang diadakan perusahan masing-masing.
Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Riana. Riana jarang sekali membawa seorang pria ke rumah ataupun ke tempat tinggalnya yang sekarang yang satu lantai dengan tempat kerjanya. Sengaja dia tinggal di lantai itu memudahkan dia bekerja juga malas untuk terlalu jauh pulang pergi ke kantor apalagi kecintaannya pada dunia pekerjaannya menuntut totalitas bekerja sampai larut malam.
"Sorry aku membawa kamu ke kantorku. Apa hari ini ada acara penting dalam pekerjaanmu?" Riana melihat ke arah Daniel.
Daniel menghela nafas. "Ada, beberapa meeting sudah dicancel dan dihandle asistenku."
"Hhmm. Aku sengaja membawa kamu kesini aku pikir kantorku lebih aman yang tidak mudah dikendalikan ibumu. Aku sebenarnya kecewa kenapa mama sama kamu tak memberitahu mengenai pertemuan ini?" Wajah Riana serius menatap Daniel,
Daniel tak berani menatap langsung dia mengalihkan pandangan dari beradu mata. Rasanya agak kurang nyaman kalau bertemu Riana, tatapan selalu mengintimidasi.
"Aku juga tidak tahu akan bertemu kamu, tadi aku hanya diberitahu dadakan ketika sedang di kantor Wei." jawab Daniel sebagai pembelaannya.
"Wei? Apa yang kamu lakukan di sana?" Wajah Riana mendadak sumeringah ketika mendengar kata 'Wei'
Hadeuuh, giliran mendengar kata Wei saja langsung semangat.
Hanya ngobrol-ngobrol antar lelaki, sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
"Kamu sendiri tahu di hati aku sudah ada seseorang. Aku harap kamu tak berharap lebih padaku. Aku tak ingin ibumu menjodohkan mu padaku!" Riana to the point.
"Aku pun begitu, memangnya hanya kamu saja yang memiliki seseorang." Daniel sedikit melirik melihat Riana dari ujung kelopak matanya.
"Ishhh... Kalau kamu ada calon kenapa kamu gak buru-buru menikah, biar bisa menghindari perjodohan ini?"
"Masalahnya menunggu waktu. Aku butuh meyakinkan seseorang dan juga ibuku."
"Aku kurang suka dengan ibumu yang selalu mengatur kehidupan orang lain. Terkadang suka memaksakan diri. "
"Daripada kamu mengurus ibuku, mending kamu urus saja pernikahanmu! Agar ibumu juga tak menerima perjodohan ini."
"Masalahnya aku pun butuh waktu."
"Masalahnya bukan waktu, tapi kamu menerima penolakan secara halus."
"Ishh," Mata Riana berkeliling salah sudut bibirnya terangkat ke atas.
__ADS_1