
"Kalau laki-laki baik kan bisa menerima kita apa adanya kak?" Caterina lebih aktif bertanya ketimbang Hana yang banyak menyimak.
"Yang mau menikah itu kamu atau kak Hana sih?" Steve mencubit gemas hidung Caterina.
"Aww.. kakak nakal. Sakit ih!"
"Habis gemes kamu!" Steve malah memeluk Caterina gemas.
"Tolong kak.. kak Steve." Caterina dengan manja meminta ampun karena digelitik oleh Steve.
Hana tersenyum melihat tingka keduanya.
"Ha ha.. ampun kan? Jangan sampai suami kamu tahu kelemahan kamu Caterina! Habis nanti digelitik sama dia. Cukup kakak saja yang menggelitik kamu!" Steve terbaring di kasur Hana.
"Ih sana kakak.. jangan tidur disini! Sempit ah!" Caterina mendorong Steve menyingkir dari kasur Hana.
"Ah cukup! Kita malam ini akan tidur bareng bertiga. Kasur ini besar. Sengaja kakak beli yang besar-besar biar nanti bisa dipakai bersama." Steve malah menggeser tidurnya ke sebelah Hana.
"Ih kakak! Sana ah! Kasian kak Hana nanti ketiban kakak Steve kan tidurnya rusuh!" Pekik Caterina yang mengkhawatirkan Hana.
"Wah beneran kak Steve tidurnya kaya gitu?" Hana melebarkan matanya melihat Caterina.
"Kakak gak tahu aja! Makanya dia alasan beli kasur gede ya takut tidurnya jatoh kak!" Jelas Caterina.
"Ya ampun!" Hana melihat Steve dengan wajah heran.
"Jangan lihat aku kaya gitu Hana! Aku janji malam. ini tidak akan rusuh!" Steve mengacungkan dua jarinya sambil nyengir karena dia merasa memang benar apa adanya.
"Ah kakak... Aku gak bebas bercerita!" Keluh Caterina melihat Steve malah mengambil bantal. lalu tidur di samping Hana.
"Ya udah kalian cerita saja! Kakak mau tidur disini. bersama kalian. Besok-besok kita kan mau pisah. Seumur kakak belum pernah tidur sama Hana. Tahu-tahu ketemu udah gede kaya pacar kakak. Kalau kamu kan sudah sejak kecil bareng tidur sama kakak. Mumpung kalian sekarang ada disini kakak mau tidur bareng kalian. Kalian mau cerita, cerita aja! Kakak numpang tidur doang kok!" Steve yang sudah agak mengantuk langsung memejamkan matanya dan tak lama kemudian sudah pergi ke alam mimpi.
"Tuh kak Steve memang mudah sekali tidur kak! Dalam hitungan detik saja sudah off!" Caterina melongok. ke arah Steve yang sudah tertidur pulas.
"Ya udah kita tidur saja! Kasian kak Steve butuh istirahat karena besok dia harus pergi kerja. Dan pekerjaannya pasti banyak sekali." Hana mengusap bahu Caterina mengajaknya tidur.
"Kak Hana pasti sempit. Apalagi ditambah kak Steve malah tidur disini. Tidurnya gak anggun kak!" Keluh Caterina dengan sedikit manyun.
"Cukuplah! Tempat tidur ini cukup besar kok! Kan sengaja kak Steve tadi bilang. Dia sengaja beli yang gede-gede persiapan rusuh. He. he he." Hana terkekeh tertawa sambil melihat Steve.
"Ya udah kak Hana tidur miring ke arah aku aja! Biar tidak ketiban kak Steve." Saran Caterina mulai membaringkan tubuhnya menyamping. Disusul Hana yang mengkondisikan dirinya juga tidur menyamping.
"Kak.. Kalau di Islam katanya kalau mau tidur ada doanya khusus lho!" Caterina tiba-tiba berkata seperti itu. Dia mengingat kata-kata Nadia yang waktu itu pernah menerangkan waktu ceramah di Mushola.
"Oh iya?" Hana masih heran mendengar Caterina berbicara seperti itu.
"Aku hafal kok kak. Tapi aku ambil doa. yang pendek aja. Soalnya kalau yang panjang belum sempat menghafal. Ini doanya kak 'Bismika Allohumma Ahya WA Amut' artinya dengan menyebut nama Allah aku hidup dan ketika aku mati."
"Wah kamu hebat Caterina. Kamu sudah bisa hafal. Tapi.. " Hana menghentikan bicaranya.
"Tapi apa kak?" Caterina penasaran.
"Bukankah itu doanya orang Islam." Hana berhenti sampai disitu. Tidak berani membicarakan lebih lanjut.
"Aku tertarik sama ajarannya mereka kak. Gak apa-apa kan kalau aku mempelajarinya. Aku ingin mempelajarinya lebih dalam. Dan aku juga akan berusaha memperbaiki kekurangan aku selama ini. Agar aku gak ragu kak ketika aku memutuskan salah satu diantara keduanya." Jelas Caterina.
"Maksud kamu bagaimana?" Ada ketakutan dalam diri Hana atas pemikiran adiknya.
"Sambil aku mendalami Islam aku juga akan memperbaiki kepercayaan aku pada Kristen kak! Jadi kata kakak Steve biar ada pembanding. Kalau suatu hari aku mengambil salah satu dari keduanya, aku tidak menyesal
Sampai sekarang saja sebenarnya hati aku sudah agak condong ke Islam kak. Rasanya ada yang damai di hati aku. Aku juga gak mau gegabah mengambil keputusan hal itu. Makanya aku harus lebih banyak belajar kak. Biar tidak menyesal." Jelas Caterina dengan pemikirannya yang lumayan cerdas.
"Yah.. kakak senang kamu bisa lebih dewasa! Sekarang kita tidur yuk! Udah malam." Ajak Hana pada Caterina.
Mereka pun tidur sambil berpelukan. Tak lama kemudian ada tangan dan kaki yang menumpang pada badan Hana.
__ADS_1
"Ya ampun. Kak Steve." Keluh Hana.
"Bener kan? Dia tidurnya rusuh kak! Dikira guling kali. He he." Caterina merasakan kaki dan tangannya Steve sampai pada dirinya sudah tidak aneh.
"Sudahlah. Kamu sudah berdoa. Jangan ada obrolan lagi setelah doa tidur!" Hana berbicara lalu memejamkan matanya sambil mendekap Caterina.
"Lah kakak tahu dalil itu?" Caterina masih saja mengoceh.
"Kakak juga denger ceramah itu walau dari dalam. kamar. Kamu sekarang jadi ngobrol lagi. Jadi mesti doa lagi." Bela Hana.
"Iya aku doa lagi ah. Biar afdol." Bahwa Caterina mulai sudah campur-campur.
Mereka tertidur pulas bertiga satu kasur saling berpelukan satu sama lain. Bermimpi dengan mimpi masing-masing yang menghiasi tidur mereka.
Tuan Hans yang mengamati Steve yang tadi masuk kamar Hana tak melihatnya keluar lagi merasa curiga dengan apa. yang sedang dilakukan mereka bertiga di dalam kamar.
"Ma.. aku mau lihat mereka dulu. Kok. Steve gak keliatan keluar dari tadi." Tuan Hans beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju kamar Hana.
Klek.
Pintu kamar terbuka. Tuan Hans mengedarkan pandangan. di sekitar kamar Hana. Lalu masuk ke dalam kamar Hana yang diikuti langkah istrinya yang sama ikut penasaran.
"Ya ampun. Gak salah? Kok malah bertumpuk disini?" Wajah tuan Hans terlihat heran melihat kasur Hana padat penghuni.
"He he he." Maria malah tertawa sambil menutup mulutnya.
"Biarin aja yah. Mungkin mereka kangen kebersamaan. Apalagi setelah kita melewati banyak masalah. Ada baiknya mereka saling menguatkan sesama saudara.
"Iya. Tapi aku khawatir. Steve tidurnya pasti muter ma!' Tuan Hans yang sudah tahu kebiasaan Steve, agak mengkhawatirkan anak laki-laki nya kalau sudah tidur suka bikin rusuh sendiri.
Baru saja diomongin langsung terdengar suara yang mengagetkan.
Bruk
"Ma ambilin air minum! Steve kaget." Tuan Hans menyuruh istrinya mengambilkan air minum di atas nakas.
"Maria menyodorkan segelas air minum pada Steve yang masih merasakan kekagetan luar biasa.
Steve segera meneguk air minumnya. Perlahan irama jantungnya mulai stabil.
"Sudah pindah ke kamarmu! Sudah tahu suka muter masih saja mau gabung disini." Tuan Hans menyuruh Steve untuk pergi ke kamarnya.
Steve mengangguk pelan. Dia masih mengumpulkan kesadarannya yang masih baru saja masuk ke alam mimpi.
Tuan Hans menggandeng Steve dan menuntunnya ke kamar Steve. Tuan Hans dan Maria hanya tersenyum melihat sikap anak-anaknya yang lucu dan masih saja terlihat kekanak-kanakan.
"Segede gini masih saja becanda. Tidak terasa anak-anak kita tumbuh besar ya ma!Tuan Hans menyelimuti Steve yang sudah pindah ke kasurnya.
"Iya mungkin sebentar lagi mereka akan menikah dan sibuk dengan pasangannya. Kita bersyukur bisa berkumpul lagi yah setelah lama kita berpisah dengan semua aktivitas masing-masing." Maria menimpali.
"Kita bersyukur bisa berkumpul walau dalam keadaan yang serba darurat. Tapi waktu yang sebentar ini terasa lebih sempurna buat ayah ma." Tuan Hans menggandeng tangan Istrinya keluar dari kamar Steve.
"Iya mama juga merasa begitu. Mama bersyukur punya suami baik dan anak-anak yang baik. Itu semua berkat Tuhan dan Karunia-Nya yang maha besar." Maria sangat bersyukur bisa mempunyai suami sebaik tuan Hans dan anak-anak yang baik seperti Steve, Hana juga Caterina. Walau keduanya tidak lahir dari rahimnya mereka begitu sayang dan hormat pada Maria. Karena Maria juga menyayangi mereka semua layaknya anak sendiri seperti Caterina.
"Sudah malam ma. Kita istirahat. Besok kita akan belanja untuk Hana sebelum kita meninggalkannya ke Perancis." Tuan Hans mengajak istrinya untuk segera istirahat.
"Iya baik." Maria mengangguk.
Malam terus berjalan menuju peraduan. Penghuni bumi pun masing-masing telah terlelap dengan dunia mimpinya masing-masing. Hanya orang gelisah yang masih membuka mata pada tengah malam seperti yang dilakukan ibunya Daniel. Selain menangisi anaknya yang telah pergi. Dai pun sudah tidak punya harapan apa-apa lagi. Apalagi sebentar lagi akan menghadapi persidangan.
Semua saksi dan bukti akan memberatkan dirinya. Dia sedang memikirkan lamanya hukuman yang akan diterima atas kesalahannya pada kasus Danil. Apalagi kalau ditambah jika Hana mengadukan semua kesalahannya selama ini. Ada kemungkinan dia akan meringkuk seumur hidup di balik jeruji.
Pikirannya yang kacau balau. Membuat emosinya tidak stabil. Dalam keheningan malam dia masih membuka mata dengan pikiran yang kacau balau.
Diambilnya seutas tali dibawah kasur bekas tali jemuran yang dia sengaja potong di tempat cucian. Dia mengingatkan tali itu ke atas lalu membelitkan nya ke leher. Dia bertekad untuk mengakhiri hidupnya yang sudah tidak mempunyai harapan lagi. Pelan-pelan dia naik di atas bangku dan menjatuhkan dirinya.
__ADS_1
Suara tercekik membuat rekan sekamar membuka mata melihat asal suara.
"Tolong.. pak. Ada yang bunuh diri!" Suara teriakan membangunkan penghuni sel tahanan. Dan petugas segera menghampiri sel yang meminta pertolongan. Petugas segera membuka pintu sel segera menahan tubuh yang menggantung. Dan beberapa rekan petugas segera naik ke atas bangku guna memotong tali yang telah mencekik tubuh wanita paruh baya itu.
Salah satu petugas memeriksa leher dan urat nadinya.
"Dia sudah tak tertolong." Salah satu petugas mengabarkan pada rekannya.
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun." Semua yang mendengar kabar bahwa perempuan itu telah mati serempak mengucapkan kalimat ta'ziah.
"Kabari tim kesehatan untuk membawanya ke rumah sakit!" Salah satu petugas memerintahkan bawahannya untuk memanggil tim kesehatan dan membawa jasadnya untuk dibawa ke rumah sakit.
"Taka lama kemudian sebuah tandu masuk ke sel tahanan dan membawa jasad itu keluar. Sebuah mobil ambulan segera membawanya ke rumah sakit polri untuk pemeriksaan terlebih dahulu. Lalu setelah selesai visum jasad itu dimasukkan ke dalam lemari es khusus pengawetan jenazah.
"Apakah kita akan mengabari keluarga korban?" Salah satu petugas melapor pada atasannya apakah harus melaporkan kejadian bunuh diri korban pada keluarganya sekarang.
"Disini tak ada keluarga yang tertera. Siapa yang akan kita kabari? Atasannya sedang membaca laporan mengenai identitas korban.
"Ada ini salah satu korbannya dia anak tiri korban. Hanya itu saja yang tertera di lembaran ini." Petugas masih mempertimbangkan keputusannya. Dia lalu menekan sambungan untuk melaporkan kejadian yang ada sindiran sel pada atasannya yang lebih tinggi.
"Sesuai prosedur kamu harus melaporkan kejadian ini segera mungkin pada keluarga terdekat. Agar tidak ada tuntutan dari pihak mana pun atas instansi yang kita pimpin. Kalau tidak kamu bisa dituduh karena kelalaian bertugas." Salah satu atasannya menyarankan agar segera melaporkan kejadian itu pada pihak keluarga terkait.
"Baik Pak laksanakan!" Sambungan telepon segera ditutup. Dia segera menekan nomor yang ada pada lembaran identitas korban.
Tut
Tut
Tut
Suar handphone Hana terdengar menyala. Tapi Hana dan Caterina terlelap tidur.
Tut
Tut
Tut
Caterina mengucek matanya lalu perlahan bangkit dari tidurnya. Dia melihat jam yang ada di atas nakas. Baru menunjukkan jam 2 sini hari.
"Siapa yang menelpon malam-malam begini? Itu telepon kak Hana." Caterina melihat handphone Hana menyala.
Caterina turun dari atas kasur lalu mengambil handphone Hana.
Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar. Caterina tidak mau mengangkatnya. Dia malah membangun Hana dengan menggerakkan badannya.
"Kak bangun! Ada telepon buat kakak."
Hana mengerjap-ngerjapkan matanya dengan pandangan menyipit.
"Ada apa?" Hana yang masih belum sadar seratus persen tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Caterina.
"Ini ada telepon untuk kakak." Caterina langsung menyodorkan handphonenya pada Hana. Dengan pandangan yang masih kurang jelas Hana menggeser tanda hijau di layar handphonenya. Dia mengangkat panggilan.
"Halo." Suara Hana masih terdengar parau karena baru bangun
"Apakah benar ini nona Hana. Saya dari kantor rutan ingin melaporkan." Suara petugas langsung jelas memperkenalkan diri.
"Oh iya Pak. Ada apa?" Hana walau masih mengantuk berusaha menajamkan telinganya.
"Ibu tiri anda sudah meninggal lima belas menit yang lalu karena melakukan bunuh diri di dalam selnya dengan seutas tali jemuran."
"Ya ampunn." Hana terperanjat jantungnya langsung berdegup tak karuan.
"Iya saya petugas rutan melaporkan. Dan jasadnya sudah dibawa ke rumah sakit polri di alamat xxx. Jika pihak keluarga ingin melihat atau mau membawanya. Kami sudah proses pemeriksaan dan visum korban sebagai landasan prosedur kami.
__ADS_1