
Wei masuk ke dalam ruang kerjanya. Diikuti Reihan. Wei membaca kertas-kertas dokumen yang harus dipelajari terlebih dahulu. Sesekali matanya melirik Reihan. Yang dilirik terlihat tenang. Bukan namanya Reihan yang pandai sekali menyembunyikan masalah. Dia bukan tipe orang gampang terintimidasi.
"Apa kamu tadi berdiri disana cukup lama?" Wei menatap tajam Reihan.
"Ya tuan Wei?" Reihan pura-pura tidak tahu. Wajahnya dibuat setenang mungkin. Wei sedang membaca Reihan apakah dia jujur atau bohong.
"Kamu pasti tahu harus berbuat apa, dan harus bagaimana bersikap kalau masih ingin bekerja." Wei kembali melihat bagian mana saja yang harus ditandatangani.
"Iya baik. Saya mengerti." Kata-kata itu memperjelas bahwa Reihan tahu apa yang sudah tadi dibicarakannya.
Wei berdiri lalu keluar dari ruangan kerjanya menuju mobil yang sudah siap mengantarkannya. Reihan mungkin tahu bagaimana harus bersikap, dan bisa menutup mulutnya rapat-rapat agar posisinya bisa aman. Apalagi dengan posisi sekarang tak mudah sembarang orang meraihnya. Sekertaris utama dan menjadi kepercayaan Wei dengan gajih dan fasilitas yang lebih dibandingkan karyawan-karyawan lainnya memang yang selama ini diincar banyak orang.
Wei masuk ke dalam mobil setelah Reihan membuka pintunya. Reihan memutar lalu masuk di samping supir pribadi yang biasa mengantarkan Wei ke kantor. Semenjak Steve resign Reihan mendapatkan kepercayaan dari Wei menjadi sekertaris utama. Tentu karena selama ini Reihan mempunyai kemampuan hampir banding dengan Steve. Dia mampu berkomunikasi dengan baik, Intelegensinya pun cukup bagus. Bahkan kemampuan menghandle pekerjaan pun dia lebih cekatan.
"Halo Steve? Bagaimana kabar Hana?" Wei menanyakan kabar Hana sepeninggal dia pergi ke Jakarta.
"Pagi Ini harus diisolasi, karena depresi. " Steve berkata lirih. Dia tak tega melihat Hana kini terbaring dengan ikatan di tangannya.
"Apa? Hana depresi? Apa kata dokter?" Wei kaget mendengar kabar Hana.
"Ya, aku lagi menunggu visit sebentar lagi dokter datang. Eh Wei.. sudah dulu ya dokternya datang. Aku harus tetap mendampinginya.
"Iya, nanti aku telepon lagi!" Steve menutup teleponnya.
Wei menatap keluar kaca jendela mobil. Wajahnya seperti lemas. Tatapan kosong sangat jelas terlihat. Apalagi setelah barusan mendengar berita dari Steve mengenai Hana. Bayangan itu masih melekat di pikirannya,ketika dia menabrak Hana dan dia terkejut melihat Hana yang sudah lama menghilang kini dia tepat ada dihadapnya. Rasa bersalahnya kini sedang menyergap. Dia berharap ibunya mau merestui permintaan Wei untuk menikahi Hana. Tak terbayang kalau Steve menuntut atas kelalaiannya menabrak Hana. Apalagi Steve tahu betul dia telah bersikap cuek.
Tak lama kemudian Wei sampai di gedung tinggi milik perusahaannya yang berada di pusat kota Jakarta. Dia turun dari mobil langkanya diikuti Reihan.
"Maaf tuan Wei, sepertinya nona Riana sudah ada di dalam ruangan anda. Barusan saya mendapatkan kabar dari sekertaris Winda." Reihan mengabari kedatangan Riana. Wei tahu kenapa Riana selalu datang tanpa kabar. Karena takut Wei menghindarinya.
"Hhmm.Kapan kita mulai rapat dengan bagian marketing?" Wei menanyakan jadwal rapat yang sengaja diawal pagi. Karena setelah istirahat siang dia ada pertemuan dengan patner bisnisnya dari Hongkong.
"Rei.. siapkan materi rapat. Jangan lupa juga bahan untuk meeting setelah jam istirahat makan siang. Hhmm setelah itu kamu siapkan baju-baju ganti saya. Saya ada rencana ke luar kota. Kamu handle sisanya untuk party nightnya.
"Baik tuan Wei. Tapi anda akan berapa lama di luar kota?" Reihan perlu jelas berapa lama bosnya akan ke luar kota. Karena pastinya ada agenda-agenda yang mesti direschedul lagi.
"Sekitar dua hari." Wei tak bicara kembali. Keduanya masuk lift ketika suara 'ting' berbunyi dan pintu lift khusus para eksekutif terbuka. Mereka berdua masuk.
"Baik, Tuan Wei. Saya akan persiapkan. Apakah anda akan berangkat sendiri?" Reihan memastikan bosnya yang irit bicara ini, agar dia tahu apa saja yang harus dipersiapkan. Reihan berdiri tegap di belakang bosnya menatap lurus ke arah pintu.
"Hhmm." Pandangan Wei menatap kosong ke luar lift. Kebetulan dinding lift ini dibuat transparan. Wei bukan hanya memikirkan Hana yang sekarang mengalami kelumpuhan tapi dia sedang memikirkan apakah keputusan yang akan diambilnya nanti akan tepat atau tidak untuk kelangsungan perusahaannya.
Suara 'ting' kembali berbunyi. Keduanya berjalan keluar dari lift menuju ruangan kerja Wei. di lantai ini ada ruangan meeting, ruang kerjanya, dan ruang khusus sekertaris. Ya.. cukup luas memang, bahkan di ruangan ini dilengkapi segala fasilitas. Di ruangan Wei ada toilet khusus, ada ruang beristirahat, juga pantry yang dilengkapi bartender. Cukup nyaman dan elegan.
Semua sekertaris yang jumlahnya ada 4 menunduk menghormati kedatangan Wei. Reihan membukakan pintu lalu Wei masuk terlebih dahulu dan diikuti Reihan di belakangnya.
Seorang wanita dengan pakaian diatas lutut dengan posisi tumpang kaki memperlihatkan kaki jenjangnya. Dia duduk di sofa ruangan Wei. jari-jari lentiknya sedang membuka halaman tablet kerjanya yang sesekali dia menyeruput teh herbal yang dimintanya dari sekertaris Wei. Matanya langsung menatap ke arah pintu begitu handle terdengar dibuka.
"Wei, numben kamu terlambat." Riana dengan bibir seksinya dengan warna merah menyala menaruh cangkir dan tabletnya di atas meja. Lalu berdiri mendekati Wei. Reihan berjalan mundur lalu meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah. Apa ada hal penting yang akan kamu bicarakan denganku?" Wei duduk di kursi kebesarannya. Melihat Riana yang duduk di atas mejanya memperlihatkan paha mulusnya tanpa canggung. Itu yang mungkin selama ini Wei hindari. Mata lelaki mana yang tak tergoda dengan paras cantik, body aduhai dan style yang selalu fashionable.
"Memangnya setiap kali aku datang harus ada yang penting?" Riana menyibakkan rambut setengah pinggangnya yang sudah ditata dengan sedikit bergelombang ke arah belakang pundaknya
"Aku mau rapat, tiga puluh menit lagi. Jika kamu ada yang mau dibicarakan, lebih cepat lebih baik." Wei berbicara sambil memilah dan memeriksa dokumen-dokumen yang sudah ditata rapih di atas mejanya.
"Kemarin kamu tak masuk kantor? Kata sekertaris mu tak ada agenda kerja ke luar kota. Aku datang ke mansion malah mamamu juga tidak tahu. Aku telepon malah tak aktif. Sebenarnya kamu kemana? Apa mengantar ke bandara harus sampai dua hari?" Riana begitu posesif, padahal hubungan dengan Wei belumlah jelas. Entahlah kalau mereka jadi menikah. Mungkin posesifnya bertambah level.
"Apa aku harus laporan tiap kali ada kepentingan lain?" Wei bicara ketus. Dia merasa Riana sudah berani posesif.
"Ya tidak sih. Cuman aku hanya penasaran. Barangkali saja kamu jalan sama wanita lain." Nada bicara Riana agak melemah. Dia tahu Wei kurang suka dengan sikapnya barusan.
Wei menatap Riana. "Kalau iya, mau apa?" Wei sudah berani menyindir. Dia tak mau memberikan harapan pada Riana. Jika ke depannya memang Wei harus menikahi Hana.
"Serius?" Mata Riana menatap tajam manik Wei. Mereka beradu pandang. Riana pikir Wei bukan tipe laki-laki playboy atau cengengesan. Biasanya apa yang diungkapkannya adalah benar.
"Hhmm." Wei tanpa ragu mengatakan 'hhmm'.
Ada sesuatu yang menusuk hati Riana. Apalagi Wei mengatakan 'Hhmm', Hhmm nya Wei seribu makna iya. Riana yang sudah tahu betul karakter Wei, pernyataan sikapnya benar-benar tak bisa dianggap main-main.
Seketika wajah Riana seperti layu seperti daun kena panas. Dia diam, pikiran nya sedang berbicara dengan hatinya.
"Baik, aku tak akan percaya begitu saja. Selama janur kuning belum terlihat, itu artinya, aku masih ada kesempatan hidup bersamamu." Riana melengos. Dia berjalan mengambil tas dan tabletnya yang tadi disimpannya di atas meja. Dia keluar dari ruangan Wei.
"Hhhmm. Wanita yang kuat dan tak mudah menyerah." Wei menggeleng-geleng kan kepala melihat sikap Riana yang begitu percaya diri dan tak pantang menyerah.
Reihan yang sejak tadi duduk di tempatnya sedang menunggu Riana keluar dari ruangan big bos nya. Begitu wanita seksi itu keluar dia langsung siaga.
Reihan mengetuk pintu.
Tok
tok
tok
"Masuk!" Wei melihat ke arah pintu.
Setelah mendapat perintah masuk Reihan pun membuka pintu. Dia berjalan mendekati Wei.
"Maaf tuan Wei. Tim marketing sudah berkumpul di ruang rapat."
"Mari kita ke sana." Wei berdiri lalu berjalan menuju ruang rapat. Semua dokumen sudah ditenteng Reihan. Keduanya berjalan lalu masuk ke ruangan meeting.
Di dalam ruangan sudah berkumpul divisi marketing. Mulai dari manager dan staf-staf nya.
Beberapa pasang sedang memperhatikan Reihan. Ya cowok nyentrik ini sudah lama menjadi pusat perhatian karyawan di perusahaan Wei. Selain tampilannya yang selalu glowing. Duh muka playboy bikin para cewek salah arti. Apalagi di divisi marketing ini banyak para staf yang bukan hanya pintar tapi dandannya itu super memukau. Baju dan gayanya yang seksi sudah terkenal di seluruh perusahaan Wei.
Ya memang tidak sedikit perusahaan membutuhkan orang-orang yang body aduhai untuk melancarkan misi dan visi perusahaan. Selain cantik mereka juga harus punya wawasan yang cukup agar ketika bernegosiasiasi dengan klien bisa nyaman membantu memenangkan tender.
__ADS_1
Rupanya setiap wanita yang ada di ruangan ini sedang berlomba memenangkan perhatian dua laki-laki yang sedang ada di depan mereka. Satu kerlingan mata sudah berhasil menembak Reihan. Reihan memalingkan Wajah.
"Sial, dia berani sekali nakal seperti itu."
Wei menoleh ke arah Reihan. Reihan hanya tersenyum palsu menyembunyikan apa yang sudah terbaca Wei.
"Silahkan rapat bisa dimulai!" Suara Wei yang berwibawa, mampu membuat seluruh anggota rapat terkesima.
Seseorang maju, yaitu kepala divisi marketing, Pak Kevin dengan wajah blasterannya. Dia kepala divisi yang terkenal paling serius dan paling smart diantara para manager-manager yang ada di perusahaan Wei. Jadi jangan heran secantik apapun orang marketing tidak main-main dibawah kepala pak Kevin. Dia yang akan melakukan presentasi tentang produk fashion untuk pasar Hongkong.
Di bagian marketing memang penampilan para karyawannya membutuhkan ekstra menarik karena pekerjaan mereka memang berhubungan langsung dengan banyak klien. Apalagi yang dipasarkan adalah produk fashion. Mulai dari pakaian underware, sporty, juga pakaian musiman.
Setelah beres presentasi, para staff melakukan diskusi dan pembagian kerja juga misi visi ke depan untuk pemasaran produk di pasar Hongkong. Karena pasar Hongkong adalah pusat pemasaran yang mempunyai pasar global di Asia yang bisa memberikan pasar lebih luas lagi selain Asia sampai jaringan Eropa dan Afrika. Makanya pasar ini adalah market yang potensial untuk membidik dan memasarkan produk apa saja, terutama di bidang fashion.
Setengah jam sebelum istirahat siang. Rapat sudah beres. Mereka bubar tinggal. Wei dan Reihan dalam rapat.
"Jangan main Api Rei jika kamu tak ingin kebakaran." Tiba-tiba Wei bicara dengan bahasa halus untuk menasehati Reihan yang sejak tadi menjadi pusat perhatian para staf dari divisi marketing.
"Ya?" Seperti biasa wajah tanpa dosa Reihan kembali muncul di depan Wei yang sejak masuk ke dalam rapat sudah mengamati apa yang terjadi. Wei kembali menoleh menatap wajah Reihan yang pura-pura. Reihan mengeri dengan tatapan bos yang super irit bicara.
"Tidak bos saya lebih suka main air, mengalir seperti air." Reihan kembali membereskan dokumen-dokumen yang baru saja dipakai rapat.
"Sekarang kita makan di luar saja. Agar meeting dengan klien tak terlalu menyita waktu. Cari restoran yang paling dekat dengan gedung tempat meeting!" Wei berjalan lebih dahulu lalu diikuti Reihan.
Setelah rapat Reihan menyimpan dokumen-dokumen penting di ruang sekertaris. Dan menyiapkan bahan dan materi untuk dibicarakan dengan klien.
Mereka menaiki mobil lalu berhenti di restoran yang posisinya tak jauh dari tempat meeting.
Keduanya memesan makanan berat untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai keroncongan. Dan mengisi batre kembali untuk persiapan meeting.
"Aku lihat kamu tak ada beban Rei." Di sela-sela makan Wei mengisi dengan obrolan ringan.
"Maksud tuan?" Reihan belum bisa menjawab pertanyaan Wei karena belum tahu arahnya.
"Aku lihat kamu banyak fansnya. Apa pacar kamu tidak cemburu?" Wei sedang ingin berdiskusi tentang para dunia lelaki.
"Oh. Saya tak pernah menjalani hubungan serius, bahkan selalu memberi penegasan sikap buat semua wanita."
"Maksudmu?"
"Saya bukan tipe laki-laki yang menyukai wanita serius seperti nona Riana. Bahkan jika saya dekat dengan seseorang saya sudah menjelaskan terlebih dahulu komitmen bahwa saya hanya menikmati hubungan tidak serius. Saya lebih menyukai wanita yang tidak posesif. Semuanya aman."
Wei hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Memangnya seumur kamu gak pernah ketemu sama wanita yang benar kamu cintai?"
"Justru itu, saya pernah bertemu dengan wanita yang membuat hidup saya setengah gila. Dan akhirnya saya yang rugi. Makanya saya tidak ingin hubungan seperti itu kembali terulang membuat hidup kita berantakan. Jadi sebelum saya siap ke jenjang pernikahan, saya tidak berhubungan dengan wanita yang serius juga. Ya nikmati saja dulu. Nanti juga taqdir akan mendekat." Reihan tanpa canggung mengatakan hal itu pada Wei.
"Jadi selama ini kamu main dengan banyak wanita?"
__ADS_1
"Ya begitulah. Mereka juga menikmatinya dan saya juga tidak terbebani. Jadi jalani saja. Belum ada wanita yang betul-betul menyentuh sampai saat ini."